Sunday, April 19, 2026

Menghadapi Kenyataan

Biblical Hope
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 19 April 2026

"Tuhan, apa Kau tidak salah menempatkanku di sini? Kau tahu aku benci drama, tetapi dari awal berada di sini kulihat banyak drama. Drama pertama diawali dengan permintaan 400 juta Rupiah dari Raja Stone. Lalu dilanjutkan dengan drama-drama picisan lainnya. Kapan dramanya selesai?"

Bukan hanya pimpinan yang bisa drama, bawahan pun bisa drama. Suatu hari ada sepasang muda-mudi yang dimabuk asmara. Karena ingin kenaikan gaji tanpa belajar lebih banyak dan tanpa menerima tanggung jawab lebih besar, mereka sengaja menunda-nunda tugas yang kuberikan.

Lalu menjelang deadline yang kuberikan, mereka lembur sampai malam. Setelah itu mereka minta kompensasi atas lemburnya. Bagus sekali dramanya, tetapi mereka salah memilih sutradara. Karena mereka minta kompensasi, kuberikan kompensasi berupa surat peringatan.

Ya, lebih baik menjadi seperti mawar berduri daripada kebaikanku dimanfaatkan oleh mereka. Ratu drama juga keterlaluan. Dia sudah kuajari cara menggunakan AI agar bisa berkomunikasi dengan orang Taiwan, eh dia malah menggunakan AI untuk merancang penipuan.

Kejadian 26:21 (TB) Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna.

Pencapaian tertinggi dalam hidup
Oh, bete sekali aku. Dulu mudah bagiku untuk berpindah-pindah seperti Ishak di Kejadian 26. Tiap kali Ishak menemukan sumur, ada orang yang merebutnya sehingga Ishak pindah. Dia terus berpindah-pindah hingga tak ada lagi yang merebut sumurnya. Dulu aku pun bisa berpindah-pindah seperti Ishak. Ini karena selalu ada orang-orang yang mau menerima sumur berkatku sepaket dengan tugasku sehingga aku bisa mendapat berkat dan tugas yang baru.

Namun, kali ini berbeda. Sekalipun ada beberapa orang yang menginginkan berkatku, mereka tidak mau menerima tugasku. Padahal, berkat selalu sepaket dengan tugas. Nah, ketika frustasi aku bertanya kepada temanku, "Kenapa sumber daya manusia di wilayah ini parah sekali? Kalau ada yang pintar, etos kerjanya buruk hingga lebih banyak drama daripada kerja. Kalau etos kerjanya baik, tidak pintar. Sampai kapan aku terjebak di sini?"

Suara hatiku berkata, "Minimal sepuluh tahun, tetapi kuncinya ada di perubahan hati Tuan Atas. Kamu di sini untuk misi penyelamatan."

Jawabku, "Oh, mana bisa menyelamatkan orang yang tidak mau diselamatkan? Tuan Atas tuh seperti orang yang memakai topeng berlapis-lapis hingga wajahnya tak bisa kubaca. Ehm, jika demikian, bagaimana bisa melihat karakter aslinya? Syusyahlah."

Nah, ketika ratu drama berulah, target utamanya adalah mengambil semua berkatku, tanpa menerima tugasku dan mendapat diskon atas tugasnya. Dia pernah mengaku sebagai orang Indigo yang bisa melihat mahkluk halus dan merasakan energi negatif mereka. Namun, indigo asli seharusnya rendah hati, memiliki rasa empati tinggi, dan tidak suka pamer. Dia tidak memiliki semua ciri ini.

Dia bukan hanya membohongi 1-2 orang, tetapi dia membohongi satu wilayah demi kepentingan pribadi. Orang Indonesia tahu persyaratan masuk kerja di BUMN tidaklah mudah untuk dipenuhi. Sekalipun ada kenalan orang dalam, ratu drama tetap harus melewati proses seleksi selama hampir setahun lamanya. Jadi, tidak bisa semudah bualannya itu.

Namun, orang Taiwan yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan tidak paham situasi di Indonesia tentulah bisa menjadi makanan empuknya. Ratu drama tahu bahwa orang Indonesia yang berani berbicara apa adanya kepada orang Taiwan hanyalah aku. Para penerjemah masih sangat muda dan tak berani berbicara karena menghindari keributan.

Sebelum beraksi, ratu drama telah memastikan aku dan orang Taiwan mencapai pertengkaran final hingga tak akan pernah saling bicara lagi. Rencanaku memang begitu karena aku lebih suka pergi seperti Ishak daripada berperang seperti Daud.

Namun, pada saat-saat terakhir rencana kami buyar karena interupsi ilahi. Tiba-tiba perang dinginku dengan Tuan Atas berakhir lagi. Mau tak mau aku pun memaafkan dan melupakan kemarahanku kepadanya. Otomatis rencana ratu drama juga hancur berantakan.

Amsal 16:9 (TB) Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.