Sunday, February 8, 2026

F-nya Berarti Apa?

Berproses Sambil Protes
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 8 Februari 2026

Pengkhotbah 7:2 (TB) Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.

"Mungkin besok aku ke rumah duka," WA Merpati kepada temannya. (Kebetulan dipaksa libur lagi oleh Herder.)

Sekitar setengah jam kemudian, "Ce, Tacik sudah tidak ada," bunyi pesan WA pembantu engkim.

"Beneran? Apa sudah dicek oleh dokter? Apa mau dibawa ke rumah duka?" Tanya Merpati. Ah, ternyata memang benar dia harus ke rumah duka. Rupanya undangan ke rumah duka dari teman masa kecilnya hanya undangan awal. Undangan utama dari engkunya.

Tiba-tiba pesan WA dari saingan Herder masuk pula, "Laporan sudah selesai. Apa besok tidak bisa membatalkan liburannya?"

"Bisa saja kubatalkan liburan para bawahanku, tetapi silahkan diproses sendiri. Aku tidak bisa kerja karena aku harus melayat engkimku. Bagaimana?" Tanya Merpati pula.

"Tidak boleh diproses jika tidak ada tanda tanganmu. Kalau begitu, Senin saja." Tulisnya lagi.

Oalah... seharusnya cukup tanda tangan bos. Andai saja bisa diproses tanpa tanda tangannya, Senin pun dia tidak akan masuk kerja. Biasa lha prosesi kedukaan tuh tiga hari. Namun, okelah dua hari juga cukup karena Tuhan cukup bagi kita semua.

Andaikata Merpati belum memberitahu temannya bahwa dia akan datang, tentu dia akan membatalkan libur paksaan itu. Lalu dia cukup meminta maaf atas ketidakhadirannya di rumah duka dan meminta nomer rekening temannya saja.

Namun, karena sudah terlanjur mengatakan bahwa dia akan datang, dia tidak mungkin menarik ucapannya demi pekerjaan. Jika meminta izin tidak masuk kerja demi teman, hal ini tidak lazim pula. Nah, kebetulan engkim juga tiada. Jadi, ada alasan kuat untuk menunda pekerjaan. Ini berarti Tuhan memang mau dia pergi ke rumah duka. Padahal, mimpinya diundang ke pesta pernikahan VIP loh.

Eh, realitanya Sabtu itu dia menghadiri undangan di rumah duka. Pertama-tama ke tempat temannya dulu. Setelah selesai mengikuti ibadah pemberangkatan mama angkat temannya, dia pun berpamitan lalu bergegas ke tempat engkimnya untuk mengikuti ibadah penutupan peti.

Temannya itu telah kehilangan ortu sejak kecil. Maka, dia dibawa ke asrama oleh adik mamanya. Nah, setelah keluar dari asrama, dia kembali dirawat oleh adik mamanya. Ini sebabnya adik mamanya sudah dianggap sebagai mamanya sendiri.

Jadi, bisa dikatakan bahwa sebenarnya proses dari Tuhan sudah dimulai sejak kecil. Proses ini pun terus menerus berlanjut secara bertahap. Jadi, kita tidak diproses secara tiba-tiba. Semua sudah Tuhan lakukan sedini mungkin. Hanya saja prosesnya makin lama terasa makin sulit karena Tuhan mau memperbesar kapasitas kita. Sudahkah kita menyadarinya?

Ps. Robert, "Bulan ini sudah Februari. F-nya berarti apa?"

Merpati, "F? Bukankah ini salah satu nomer ruangan VIP di rumah duka yang kudatangi kemarin dan akan kudatangi lagi hari ini? Untuk apa menanyakannya? F ya Februari."

Ps. Robert, "Kenapa malah berpikir? F artinya Fruit of the Spirit (buah Roh)."

Merpati, "Oh, jadi itu maksud Tuhan di rumah duka? Buah kemurahan, kebaikan, kasih, sukacita. Ehm, tak pernah terpikirkan olehku untuk mengunjungi 2 ruangan duka pada 1 hari yang sama. Namun, ini lebih baik daripada menghadapi Herder yang mulai merancang tipu muslihat baru."

Mazmur 57:8-9 (TB) Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!

TUNTUNAN ILAHI
Verse 1: Bila Roh-Mu bekerja, tak ada yang mampu menahannya. Pribadi yang Agung nan Mulia tercurah 'tuk hati yang terbuka.
Verse 2: Bila Roh-Mu berkarya, hati yang keras dilembutkan. Tak ada yang mampu hentikan kuasa-Mu bekerja.
Chorus: Ini waktu-Mu Roh Kudus penuhi setiap hati yang haus akan-Mu. Kulakukan perkara yang mustahil. Setiap hari bergerak dengan tuntunan ilahi.
(Nyatakan Keajaiban-Mu)
Chorus: Nyatakan keajaiban-Mu. Nyatakan dalam hidupku. Nyatakan.. Nyatakan.. Nyata di sini saatku Menyembah-Mu Tuhan.

Berproses Sambil Protes

Berproses dengan Roh Kudus
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 8 Februari 2026

Kata Herder, "Besok semua karyawan bulanan harus libur lagi dan gaji dipotong seperti karyawan harian, tetapi gaji saya tidak boleh dipotong karena saya warga pendatang."

"Sebenarnya Herder itu melakukan efisiensi atau membuat bom waktu?" Tanya Merpati kepada Kerbau yang selalu memuji kehebatan Herder.

"Memotong gaji karyawan bulanan secara sepihak bukanlah tindakan efisiensi, melainkan tindakan premanisme yang disebut pemalakan atau pungutan liar secara paksa karena tindakannya tidak sesuai dengan aturan ketenagakerjaan." Jelasnya pula.

Namun, Kerbau tidak menanggapinya. Jika dia sudah yakin kepada seseorang, sekalipun keyakinannya salah, tetap saja akan dia perjuangkan. Karena dia tidak mau memercayai intuisi Merpati, dia akan selalu lambat menyadari kesalahannya.

Padahal, intuisi selalu mendahului data. Intuisi tuh sudah bisa melihat hasil sebelum ada data (tinggal mencari atau menunggu data), tetapi logika masih membutuhkan tren data yang baru terbentuk minimal tiga bulan kemudian. Namun, percuma berdebat dengan shio Kerbau. Bahkan, jika harus berdebat dengan dinding, Kerbau akan menang. Meskipun demikian, Merpati selalu lebih dari pemenang... wkwwkw...

Ketika nasi sudah menjadi bubur, biasanya:
* Kerbau akan berkata, "Mengapa tidak ada yang memberitahuku lebih awal?"
* Merpati akan menjawab, "Aku sudah memberitahumu sedini mungkin. Inilah bukti jejak digitalku pada percakapan kita. Sayangnya, kamu tidak mau mendengarnya dan tetap membela para penjilat dengan menyatakan bahwa aku hanya berasumsi."

Lalu seperti biasanya Kerbau akan terdiam 1000 bahasa. Inilah bukti bahwa logika selalu menang, tetapi intuisi bisa selalu lebih dari pemenang... wkwwkw... Intuisi yang akan tertawa paling akhir, tetapi dia jugalah yang paling geregetan sejak awal karena logika tidak bisa langsung paham.

Teriak Herder, "Apa kamu tidak punya otak? Apa kamu tidak bisa berpikir?"
Kata intuisi, "Tanyakan pada hatimu apa itu pantas diucapkan oleh seorang pemimpin?"
Jawab Kerbau, "Jangan melibatkan perasaan. Menurut data, Kolonel Sanders bisa sukses dengan cara berkata-kata sekasar itu."

Begitulah shio Kerbau, mereka akan menyajikan fakta sesuai versi mereka sendiri. Padahal, sukses dengan cara dunia bukanlah kesuksesan sejati karena manusia adalah buatan Tuhan yang diciptakan untuk melakukan perbuatan baik, bukan perbuatan kasar.

Seorang produsen kursi ingin membuat kursi yang nyaman untuk diduduki. Suatu hari produsen itu mencoba duduk di atas salah satu kursinya yang tampak mengkilap, tetapi jarinya berdarah ketika menyentuh pegangan kursi tersebut. Rupanya kursi itu belum diamplas (diproses) dengan baik sehingga masih ada kayu yang kasar. Sekalipun sukses di mata, kursi ini sudah gagal memenuhi tujuan produsennya.

Manusia pun sama. Sekalipun performanya tampak memukau mata, jika dia melukai sesama (tidak berbuat baik), dia sudah gagal memenuhi tujuan Penciptanya.

Mazmur 57:4-5 (TB) Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. Sela Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya. Aku terbaring di tengah-tengah singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam.

Karena kebijakan Herder, tak ada lagi yang mau lembur. Merpati pun tidak mau lagi lembur seperti dulu. Lagipula laporannya juga dimanipulasi oleh Herder. Jadi, untuk apa capek-capek lembur agar laporan hasil manipulasi data Herder bisa disajikan tepat waktu? Toh, kalau Merpati sampai sakit atau stres, resiko juga ditanggung sendiri, bukan ditanggung Herder atau Kerbau.

Mazmur 57:7 (TB) Mereka memasang jaring terhadap langkah-langkahku, ditundukkannya jiwaku, mereka menggali lobang di depanku, tetapi mereka sendiri jatuh ke dalamnya. Sela

Ah, daripada kesal dengan Herder dan Kerbau pendukungnya, Merpati pun memutuskan untuk menghadiri undangan teman masa kecilnya di rumah duka. Kebetulan nomer ruangannya juga sama dengan tanggal dan bulan lahirnya. Jadi, di dalam perjalanan pulang, dia memikirkan hal itu sambil bertanya-tanya, "Mengapa rasanya aku harus ke sana? Apa rencana-Mu Tuhan? Ah, aku tidak mengerti, tetapi okelah aku akan ke sana."

Berproses dengan Roh Kudus ~ Ps. Levi Supit

Berproses Bersama Roh Kudus
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 8 Februari 2026

Ciri-ciri Buah Roh:
1. Buah selalu mencerminkan karakter pohonnya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Buah apel ada di pohon apel. Buah jeruk ada di pohon jeruk. Nah, agar kita bisa menghasilkan buah Roh, kita harus melekat kepada Roh Kudus.
2. Buah selalu bisa dilihat. Ketika pohon berbuah, banyak orang bisa melihatnya. Buah selalu menarik perhatian untuk dipetik.
3. Buah bisa dinikmati oleh orang lain. Jika kita melekat kepada Roh Kudus, buah karakter kita akan manis. Makin manis, makin banyak orang yang menikmatinya.

Anak bungsu bu Levi berusia 18 tahun. Sementara menunggu sekolah lanjutan dimulai, dia menjadi asisten guru bagi anak berkebutuhan khusus. Suatu hari guru utama harus mendampingi salah satu anak berkebutuhan khusus di kelas umum. Maka, secara mendadak dia harus menjadi guru utama.

Sesuai dugaannya, ada anak yang langsung membuat kekacauan karena mengetahui bahwa di kelas tidak ada guru utama yang biasanya. Maka, anak bu Levi berdoa agar bisa sabar menghadapinya. Jika tidak, dia akan mengusirnya keluar kelas. Nah, setelah berdoa dia memiliki kekuatan untuk menghadapi anak tersebut. Dia pelototi anak itu dan minta dia duduk. Seketika anak itu menurut.

Saudara bu Levi juga mengalami proses. Dia terlihat sehat dan aktif. Dia dipercaya oleh banyak pemilik hotel. Dia sering diminta bepergian kemana-mana. Namun, suatu hari dia terkena penyakit kanker.

Bu Levi pun mengalami proses. Pada masa awal pelayanan, dia pernah keguguran. Namun, dia tidak kepahitan dan memilih untuk tetap melayani. Gereja yang dia dirikan bersama suaminya juga pernah mengalami kesulitan keuangan hingga disegel.

Bahkan, keluarganya pun ikut berproses. Semula dia dan suaminya aktif melayani banyak pasangan sehingga banyak pasangan batal bercerai. Namun, setelah 20 tahun pernikahan, bu Levi diuji. Tiba-tiba suaminya menganut nilai-nilai lain dan berteman dengan orang-orang yang mendukung nilai tersebut. Dia tidak bisa dinasihati lagi.

Suaminya memiliki luka masa lalu karena fatherless. Sekalipun lukanya sudah sembuh, tetapi iblis tidak tinggal diam dan mencari cara untuk menariknya kembali. Karena pernikahan mereka bisa menjadi berkat, iblis ingin menghancurkannya.

Biasanya mereka selalu berdua kemanapun pergi. Biasanya mereka sangat mesra. Namun, karena perubahan nilai suaminya, banyak orang mengira mereka sudah bercerai. Sekalipun air mata harus tercurah, ketika dia dimarahi suami, dia memilih untuk tetap mengampuni suaminya. Lantas Tuhan mengutus orang tua rohaninya untuk mendoakan dan menguatkannya.

Tiap hari dia dan anak-anaknya akan berkumpul bersama untuk berdoa. Bu Levi mengajar anak-anaknya untuk tetap mengasihi papanya sehingga mereka tidak sampai kepahitan. Pada akhirnya mereka menang dan menjadi lebih dari pemenang.

PENOLONG HIDUPKU
Saat kudalam kesesakan, yang kuharap hanya Kau, Tuhan. Saat badai hidup menerpa, masih ada Tuhan bagiku.
Saat semua jalan tertutup, tiada yang sanggup menolong. Saat air mata tercurah, masih ada Tuhan bagiku.
Penolongku hanyalah diri-Mu. Penghiburku hanya Engkau, Bapaku. Selalu menyertai hidupku, Kau Bapaku yang setia.

Berproses Bersama Roh Kudus ~ Ps. Levi Supit

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 8 Februari 2026

Suatu hari bu Levi meminta sopirnya untuk mengantar dia ke gereja. Sebelum itu dia meminta pembantunya memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil. Setelah pembantunya memberitahu bahwa semua barang sudah dimasukkan ke dalam mobil, dia pun keluar dan membuka pintu mobil. Ternyata dia tidak bisa masuk ke dalam mobil lewat pintu tersebut karena penuh barang.

Maka, dia menutup pintu mobil dan berputar ke arah pintu satunya. Eh, sopirnya mengira dia sudah berada di dalam mobil sehingga langsung melajukan mobilnya. (Wah, ternyata kisah seperti ini masih ada lagi padahal lokasi dan tokohnya berbeda. Rupanya ada sopir yang satu frekuensi dengan sopir yang sudah resign itu. Pssst... mungkin alasan sopirnya tidak berani melihat ke belakang juga sama... hahaha..., red.)

Bu Levi berteriak sekencang-kencangnya untuk memanggil sopirnya sambil melambai-lambaikan tangan di belakang mobilnya. Namun, sopirnya tetap melaju. Dia tidak bisa langsung menelepon sopirnya karena ponsel rusak. Perjalanan ke gereja akan memerlukan waktu sekitar sepuluh menit. Maka, bu Levi kembali ke dalam rumah dan menelepon satpam gereja. Dia berpesan, "Jika sopirku sampai di sana, tolong minta dia langsung kembali karena ada yang ketinggalan."

"Siapa yang ketinggalan?" Tanya satpam. Tentu saja bu Levi yang tertinggal. Ketika sopir tiba di gereja, dia pun langsung diminta kembali oleh satpam karena bu Levi tertinggal. Namun, dia tidak percaya dan tetap mengatakan bahwa bu Levi ada di dalam mobil. Lantas dari luar dia berusaha melihat melalui kaca jendela mobil. Karena tidak melihat bu Levi, dia pun bergegas kembali.

Galatia 5:19-21 (TB) Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Nah, selama menunggu sopir kembali, bu Levi memiliki pilihan untuk marah atau tertawa. Karena dia ingin menghasilkan buah Roh, tentu saja dia memilih bersukacita.

Galatia 5:22-23 (TB) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Ketika sopir kembali, bu Levi bertanya, "Kenapa kamu meninggalkan saya?" Jawab sopir, "Di mobil saya dengar bu Levi batuk-batuk" lalu saya bertanya, "Apa bu Levi batuk? Saya dengar Ibu menjawab ho.o." Bu Levi tertawa dan berkata, "Makanya jangan meninggalkan saya. Kalau meninggalkan saya, nanti malah ditempati oleh makhluk lain."

Untuk menghasilkan buah Roh, kita semua akan mengalami proses. Setiap orang akan mengalami proses yang berbeda-beda. Karena tidak bisa memprediksi proses yang harus kita lewati, sebaiknya kita selalu berdoa dan membaca firman Tuhan.

Berproses dengan Roh Kudus

Sunday, February 1, 2026

Bebas Takut - Ps. Lukas Wibisono

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 2 Jan 2026

Yesus disalib untuk menggantikan kita yang berdosa karena seharusnya kitalah yang disalib. Namun, karya keselamatan Tuhan tidak berhenti di kayu salib. Selanjutnya, Dia membuat kita mengalami kelahiran kembali dan memberikan Roh Kudus kepada kita.

2 Timotius 1:7 (TB) Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

Apakah semua orang Kristen pasti bebas dari ketakutan? Sekalipun Roh Kudus berdiam di dalam diri kita, tetap saja orang Kristen, termasuk kita sendiri masih bisa merasa takut. Rasa takut timbul karena kita tidak membiarkan Roh Kudus menuntun hidup kita. Jadi, kalau mau bebas takut, ijinkan Dia menuntun hidup kita.

Spektrum pandangan kita ada tiga, yaitu:

1. Ada. Hal ini sering dilakukan oleh suami yang lebih suka meminta maaf daripada meminta izin. Contoh: Pak Lukas suka ikan. Jika dia meminta izin istri untuk membeli ikan lagi, tentu saja dijawab tidak boleh. Maka, dia membeli ikan dan minta dikirim pada malam hari saat istri tidak ada. Ketika pagi tiba dan istri melihat ikan bertambah banyak, dia akan berkata, "Ikannya melahirkan anak." Jadi, mungkin saja ada benda-benda di rumah yang tidak terlihat. Padahal, ada di sana.

2. Terlihat. Semua hal yang bisa dilihat.

3. Fokus. Ketika pria mengendarai motor lalu melihat 'malaikat', fokus pandangannya bisa berubah ke arah wanita itu karena itulah yang penting baginya. Jadi, fokus seringkali diarahkan kepada hal-hal yang kita anggap penting.

Cara Bebas Takut, yaitu:

1. Fokus menggunakan kuasa yang Tuhan berikan.

Matius 14:28-29 (TB) Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

Petrus bisa berjalan di atas air karena fokus kepada firman Tuhan. Jangan fokus kepada masalah, tetapi fokuslah kepada firman Tuhan.

Matius 14:28-30 (TB) Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"

Ketika fokus Petrus beralih kepada masalah, dia baru merasakan angin. Kok kasep? (Mengapa terlambat menyadarinya?) Angin badai sudah ada sejak dia berada di dalam perahu.

2. Fokus mengasihi di atas kepentingan pribadi. Jika hanya memikirkan diri sendiri, kita akan merasa takut. Agar bebas takut, kita harus fokus mengasihi.

1 Yohanes 4:18 (TB) Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

3. Fokus melakukan hal yang berguna sekalipun tidak nyaman. Contoh: Saat malam harus tidur, bukan memikirkan hal lain atau tetap bekerja. Ini tertib.

1 Korintus 6:12 (TB) Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.

Olahraga tidak nyaman, tetapi berguna. Diet juga tak nyaman, tetapi berguna. Jika hidup kita berguna, tentu tidak akan berakhir dengan penyesalan.

Hakim-hakim 16:30 (TB) ... Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya.

Kemungkinan besar Simson menyesal karena tidak memanfaatkan hidupnya dengan baik. Dari ayat tersebut terlihat bahwa Simson lebih produktif menjelang kematiannya.

Jangan sampai kita seperti dia. Lebih baik hidup berguna selama puluhan tahun daripada berguna selama lima menit sebelum kematian. Jika ada potensi keturunan diabetes, jangan hanya mengurangi gula, tetapi potong gulanya. Lalu serahkan kepada Tuhan agar tidak terkena diabetes.

Jadi, lakukan bagianmu lalu serahkan kepada Tuhan. Dengan demikian, kita bisa hidup tanpa penyesalan karena masa depan sudah kita kerjakan hari ini. Namun, banyak orang lebih suka mengejar kenyamanan daripada memuliakan Tuhan. Padahal, kita harus melakukan kebenaran dengan sangkal diri dan pikul salib atau mati dari diri sendiri.

Jika sudah mati dari diri sendiri, tentu kita tidak akan marah ketika dihina, diabaikan, atau tidak dihormati. Hal ini seperti orang mati. Sekalipun orang mati dihina, dia akan tetap tidur dengan tenang. Tidak mungkin dia akan bangkit dan marah-marah.

Jika kita marah ketika tidak dihormati oleh tukang parkir, berarti kita menyerahkan remote hati kita kepadanya. Jika kita tersinggung karena tidak disapa, berarti kita mengizinkan orang lain mengendalikan hati kita. Biarlah Roh Kudus yang menuntun dan mengendalikan hati kita, bukan orang lain. Niscaya kita akan bebas takut dan memuliakan Tuhan melalui hidup kita.

Filipi 4:13 (TB) Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

TUNTUNAN-MU ROH KUDUS (GMS Live)
Setiap saat, setiap waktu kuperlu Kau Roh Kudus. Genggamlah erat tanganku. Kumau hidup dalam kebenaran. Tuntunan-Mu Roh Kudus, Roh Kudus yang kuperlu. Kumau s’lalu mendengar suara-Mu, Hidup dalam pengurapan-Mu.

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.