Tidak Mau Menikah
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 11 Okt 2026
Beberapa orang menuntut kita untuk segera menikah bukan
karena mereka sayang dengan kita. Sebaliknya, mereka iri dengan kita. Ada
beberapa istri yang jujur berkata:
* Andai aku punya keberanian untuk tidak menikah, tiap hari aku bisa menikmati
hari kemerdekaan.
* Dulu kupikir suamiku adalah orang yang tepat, tetapi makin ke sini, rasanya
makin tidak tepat.
* Sebenarnya pernikahan lebih menguntungkan pria daripada wanita karena setelah
menikah, pria tetap menjalankan satu profesi untuk mencari nafkah. Sementara
itu, wanita bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga menjadi asisten rumah
tangga, babysitter (saat punya anak), koki, dan perawat lansia.
Biasanya ketika beberapa teman mulai mengeluhkan hal-hal
tersebut, aku hanya bisa meminta mereka untuk fokus kepada hal-hal baik yang
ada pada suami mereka. Karena nasi sudah menjadi bubur, kuminta mereka
menambahkan topping (bawang goreng, cakue udang, dll.) ke dalam bubur
tersebut, yaitu rasa syukur dan rasa syukur.
Sedari kecil aku menyadari bahwa pengajar tak selalu
benar, terutama saat mengajarkan tentang pernikahan dini. Hal ini merupakan
salah satu hal yang kutentang dari bapak guruku. Sekalipun
dulu tak ada internet dan tidak bisa melihat berita di televisi, guru lain
memberitahuku bahwa pernikahan sebaiknya tidak dilakukan setelah lulus SD.
Namun, banyak orang desa, seperti satu guruku itu menganut budaya yang salah.
Alhasil, pendidikan seks sudah kami terima saat menjelang
lulus SD. Eh, ketika aku pindah sekolah ke kota besar, pendidikan seks baru
diberikan menjelang lulus SMP karena maraknya pergaulan bebas di kalangan
remaja. Meskipun demikian, tetap saja ada temanku yang hamil di luar nikah
hingga sempat cuti kuliah. Jadi, guru atau pendidikan yang baik tidak menjamin
muridnya menjadi baik karena hanya firman Tuhan yang bisa menjaga langkah
kita.
Mazmur 119:9 (TB) Dengan
apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai
dengan firman-Mu.
PENOLONG yang SETIA
Saat kuberjalan kasih-Mu menerangi langkahku. Tak kutakut, tak kubimbang kar'na
kutahu Kau bersamaku.
Kau lebih tahu yang terbaik bagiku. Kau lebih sanggup pulihkan hidupku.
Kuberserah, kupercaya. Hanya Yesus penolong yang setia.
Lantas kuposting foto pertanyaan itu di grup keluarga dengan
tambahan pertanyaan, "Ada yang mau bakcang?" Hahaha... tentu saja
banyak yang mau. Akhirnya pulang dari gereja malah bawa bakcang babi. Ternyata
aku hanya mau bakcang babi... wkwwkw...
Oh, ya ampun, aku jadi ingat dulu raja kecil juga pernah memberiku
bakcang babi. Saat itu dia menerima banyak bakcang dari orang yang tidak
kuketahui. Namun, aku hanya mau satu sekalipun dia menawarkan lebih. Aku tidak
memberitahunya bahwa bakcang depan GMS lebih enak daripada bakcang gratis itu.
Meskipun begitu, aku tetap berterima kasih kepadanya. Jarang sekali dia
berbagi. Ini hanya terjadi saat dia menerima. Jadi, patut disyukuri pula.
Nah, kata orang, koko papa itu sulit bertemu jodoh karena
pelit. Namun, aku tidak percaya karena dia tidak pelit makanan kepada
keponakannya ini. Maka, aku yakin raja kecil sebenarnya juga tidak pelit,
tetapi dia punya banyak pertimbangan sebelum mulai memberi. Selain itu, sebenarnya
papaku juga pelit sehingga untuk berbagi, kami harus sembunyi-sembunyi darinya.
Kok bisa dia menikah? Jadi, penilaian orang tuh bisa salah. Pada akhirnya
tak seorang pun bisa menyelami rencana Tuhan. Iya apa iya?











