Karunia yang Murni
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 4 Okt 2026
Anjing Air menyodorkan sebotol air jernih kepada Macan Tanah
agar diberikan kepada Kerbau Air yang sedang memainkan botol kosongnya. Ketika
menerima air tersebut, tentu saja Kerbau Air tidak langsung meminumnya.
Sebenarnya ketiga karakter itu mengetahui bahwa Kerbau Air tidak
suka air jernih. Kerbau Air lebih suka air kuning kehijauan atau air kuning
kecoklatan. Namun, saat itu di depan mereka hanya ada air jernih. Anjing Air
pun ingin melihat efektivitas air bersih itu.
Sementara langit mulai menghitam, Kerbau Air berkata kepada
Macan Tanah dan Anjing Air, "Apapun agamanya, baik Budha, Kristen, atau
apapun, tidak ada yang bersih. Jadi, berbuat kotor juga tidak masalah,
asalkan tidak terlalu banyak." Anjing Air bete mendengar perkataan
tersebut yang tak jua berubah dari dulu hingga sekarang.
"Menyebalkan. Sedikit versinya itu sudah terlalu
banyak bagiku. Jika memang sedikit, seteguk air hidup bisa langsung menyingkirkan
niat kotornya, tetapi faktanya tidak demikian. Mengapa dia harus mengatakan
hal-hal seperti itu di depan calon CEO? Mengapa Macan Tanah diam saja? Semua
pria sama saja. Kalau demi Mamon, segalanya dihalalkan. Pembicaraan seperti ini
selalu membuat jiwaku kering."
Mazmur 86:11 (TB) Tunjukkanlah
kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah
hatiku untuk takut akan nama-Mu.
Namun, tiba-tiba Anjing Air sadar bahwa dia salah membuat
generalisasi. Belum tentu Macan Tanah seide dengan Kerbau Air yang suka
kotoran. Meskipun demikian, Macan Tanah tidak akan mengemukakan pikirannya.
Jadi, Anjing Air hanya bisa bertanya-tanya. "Teratai bisa tetap
bersih di lingkungan yang kotor, tetapi apakah teratai bisa mengubah lingkungan
yang kotor menjadi bersih? 🤔 Mungkin bisa ya selama polutan di sana masih dalam batas
toleransi. 🪷"
Seperti biasa, Macan Air diam tak bicara karena dia terlihat
masih ingin menyenangkan semua orang. Namun, Anjing Air tak mau ambil pusing.
Dia memilih untuk bernyanyi hingga jiwanya yang dahaga kembali dialiri air
hidup. Lantas dia terlelap dalam mimpi.
Dia melihat ada sebuah truk besar yang memuat puluhan anak
remaja. Anjing Air menutup bak tersebut lalu bergegas duduk di bangku depan (di
samping sopir). Rupanya si sopir adalah Macan Tanah yang sejak tadi
menemaninya. Namun, salah satu anak perempuan yang ada di bak belakang
merengek-rengek minta turun.
Seketika Anjing Air menoleh ke belakang, bergegas turun, dan
membuka pintu bak truk. Macan Tanah juga mengikuti langkahnya. Rupanya anak itu
ingin duduk di depan bersama Anjing Air. Namun, di atas bak truk itu dia
menemukan secarik kertas putih bergaris yang bertuliskan, "Jangan pilih
kasih." Kalimat ini ditulis dengan tinta bolpoin hitam dan diberi
lingkaran spidol biru.
Amos 3:3 (TB) Berjalankah
dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?
Jika mimpi itu benar, seharusnya Macan Tanah memiliki nilai
yang sama dengan Anjing Air. Jika tidak, Anjing Air pasti melarang dia
mengemudikan truk itu. Namun, di dalam mimpi mereka telah sepakat untuk
mengantar anak-anak itu ke tempat yang aman.
Meskipun demikian, di dalam dunia nyata Anjing Air tak
bosan-bosannya menasihati Macan Tanah (titi ketemu gede) dan Macan Api (titi
sedarah). Sepertinya Macan Tanah kurang makan asam garam kehidupan sehingga
Anjing Air suka menyiraminya dengan cerita hidupnya... hahaha... Kadang kala
dia nyebelin, tetapi seringkali malah bikin tertawa.
Eh, siapa sangka tiba-tiba hari ini Tikus Api (meme
sedarah) di kota nun jauh di mato memberi kabar bahwa Macan Api mau
ke gerejanya. Padahal, telah sekian purnama dia menjauh dari gereja karena luka
yang ditorehkan oleh saudara seimannya. Wah, semoga ini pertanda baik.
LUBUK HATIKU (GMS)
Kau melukis wajahku di hadapan-Mu dan
mengukir namaku di telapak tangan-Mu. Sampai masa tuaku, Kau tetaplah Tuhanku, yang akan selalu menggendong hingga
putih rambutku.
Kemurahan-Mu itu membuatku tertegun. Kubulatkan hatiku mengikut-Mu.
Kuangkat tanganku Yesus, Memuji perbuatan-Mu. Sungguh tiada terukur kasih
setia-Mu.
Dalam naungan sayap-Mu kumau terus menyembah-Mu.
Kasih-Mu terukir di lubuk hatiku. Kasih-Mu terukir di lubuk hatiku. Kasih-Mu
terukir… di lubuk hatiku.











