Saksi yang Berpengaruh
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 27 Sept 2026
Beberapa hari lalu raja kecil kembali mengulangi kesalahan
yang sama sehingga aku mengomeli dia lagi. Dalam kekesalanku aku hanya bisa
bertanya-tanya. Mengapa dia ulangi lagi sih? Bisakah dia berhenti memancing
emosiku? Masa dia pelupa? Jika dia bisa Mandarin tradisional, tidak mungkin dia
pelupa karena bahasa itu merupakan bahasa yang paling susah kuingat.
Lha masa dia sengaja? Mana ada orang yang suka diomeli?
Lagi-lagi pasti karena dia merasa takut untuk menolak. Hmm... ini sebabnya kita
harus mengampuni sebanyak 70x7 kali, bukan hanya sekali.
Matius 18:21-22 (TB)
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai
berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?
Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata
kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh
kali.
Bahkan, dia tidak menolak makanan yang disodorkan oleh
wanita bersuami yang mengejar-ngejar dia. Ini terlihat seolah-olah dia mau memberikan
harapan untuk cinta terlarang yang diberikan oleh wanita itu.
Dulu aku pun sungkan menolak makanan yang diberikan
oleh ketua Connect Group (CG) sekalipun pedas rasanya. Jadi, kekesalanku
terhadap rasa sungkannya bisa bersumber kepada rasa kesal terhadap
diriku yang dulu. Saat itu aku merasa dipaksa bertumbuh secara jasmani dan
rohani. Alhasil, badanku melar, tetapi maag sering kambuh dan jiwaku
kering.
Normalnya CG bisa membuat kita bertumbuh. Namun, sebagai spons emosi, mungkin bisa dikatakan bahwa aku ini murid berkebutuhan khusus yang
perlu cara atau tempat pemuridan khusus, seperti home schooling atau
online atau les privat, sesuai janji-Nya dulu... wkwwk...
Filipi 2:13 (TB) karena
Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut
kerelaan-Nya.
Seharusnya manusia merasakan emosinya sendiri, tetapi tanpa
sadar aku sering menyerap emosi orang-orang di sekitarku. Nah, ketika puluhan
teman CG merasakan emosi negatif, yaitu rasa terpaksa untuk berkumpul, rasa
sedih karena penyakit, rasa takut dengan teror bom, atau rasa-rasa tak terucap
lainnya, aku langsung menyerap semuanya.
Semua rasa itu berkecamuk menjadi satu. Seketika aku merasa
kewalahan karena sulit bagiku mengubah semua emosi negatif tersebut dalam tempo
sesingkat-singkatnya. “Aku tersenyum, seolah
semuanya baik meski kadang hatiku sedang tidak baik-baik saja.” Jadi,
kuputuskan untuk menjauh dari komunitas tersebut agar jiwaku segar kembali.
Mazmur 133:2 (TB) Seperti
minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut
Harun dan ke leher jubahnya.
1 Samuel 21:13 (TB) Sebab
itu ia berlaku seperti orang yang sakit ingatan di depan mata mereka dan
berbuat pura-pura gila di dekat mereka; ia menggores-gores pintu gerbang dan
membiarkan ludahnya meleleh ke janggutnya.
Sebenarnya itu momen nggilani (memalukan) bagi saksi
Kristus, tetapi kita semua masih berproses. Jadi, jangan ada yang protes...
wkwwkw... Biasanya aku marah kepada mereka yang lebih tua dariku sehingga
merekalah yang malu jika tidak mengalah kepadaku.
Namun, kali ini kenapa Tuhan mempertemukanku dengan raja
kecil? Makin kuomeli dia, makin terlihat jika dia lebih dewasa dariku padahal
usianya 16 tahun lebih muda dariku. Kok bisa dia tetap terlihat tenang? Itu
beneran sabar atau sedang memendam amarah? Ah, malu donk kalau mengomelinya
terus.
Namun, jika kekesalan hanya disimpan di hati, nanti malah
jadi racun. Jadi, ya terpaksa tetap harus kusampaikan kepadanya. Kalau kesal,
tidak mungkin juga aku berbicara sambil tersenyum. Lantas kuminta Chatgpt AI untuk
mengubah kekesalanku dalam sebuah lirik lagu yang indah untuk ulang tahunnya di
hari ini. Kemudian Suno AI kuminta membuat nadanya dengan tempo yang
menyenangkan. Akhirnya tim AI berhasil mengubah luka menjadi cahaya.
Aku suka lagu buatan mereka. Liriknya tidak kuubah sedikit
pun, tetapi nadanya sempat kuubah beberapa kali hingga terasa enak di telinga. Nah,
ketika kudengarkan lagu tersebut, tiba-tiba Roh Kudus berkata, "Sekarang
buat gambarnya dan sekalian buat videonya." Aku pun mengikuti suara
tersebut. Namun, setelah video tercipta, aku menjadi tidak yakin untuk
memberikannya.
Masa setelah mengomeli dia, aku berikan video seperti itu? “Jangan takut. Jangan terus bersembunyi. Ada panggilan Tuhan di dalam hidupmu.” Bukan hanya dia yang ingin bersembunyi. Aku pun ingin bersembunyi. Kataku kepada Roh Kudus, "Nanti tidak perlu kuberikan videonya, cukup kuberikan audionya. Biar dia berimajinasi sendiri. Videonya untuk koleksi pribadi saja. Dia tidak perlu tahu."
Eh, aku malah mimpi diberi kunci emas olehnya di tanggal keramat. Mimpi itu seolah menyiratkan bahwa si raja kecil tidak
mempermasalahkan omelanku. Sekalipun aku mengomeli dia beberapa kali, dia tetap
mau berteman lagi denganku.
Hmm... begitukah hatinya yang dilihat oleh Tuhan? Oh, aku
tidak tahu karena dia sering berlagak acuh tak acuh. Seringkali dia mirip
dengan diriku yang dulu ketika pura-pura tak peduli. Pada akhirnya video itu
pun kuberikan kepadanya. "Bukan karena aku
sudah sempurna. Bukan karena aku tidak pernah takut. Tetapi karena aku
tahu Siapa yang memegang hidupku."
Hehehe... jadi sebelum lirik lagu itu kuberikan kepadanya. Lirik lagu itu kuhidupi lebih dulu. Beginilah kisah Saksi yang Berproses. Maka, dilarang protes!











