Sunday, August 16, 2026

Sebab Itu Aku Menasihatkan

Saling Membantu
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 16 Agustus 2026

Fiuh... sudahlah, tak penting dia sampaikan kemarin atau hari ini, yang penting sudah disampaikan olehnya. Namun, aku enggan meminta bantuannya lagi dan enggan bicara dengannya lagi. Eh, bangun tidur aku diberi lagu oleh Roh Kudus.

SETIA DAN BERKENAN (Living Worship ft. Sidney Mohede)
Bapa kudatang dengan penuh kerinduan. Kunaikan syukur atas kebaikan-Mu. Segala yang kuperlu Kau sediakan bagiku. Kini saatnya kuberikan yang terbaik bagi-Mu.
Chorus: Ini aku, Tuhan. Kubawa hidupku s'bagai persembahan yang kudus dan berkenan pada-Mu. Pakailah hidupku sesuai rencana-Mu yang indah. Kumau setia, berkenan pada-Mu.
Bridge: Kumau hidup dalam rencana-Mu. Seumur hidupku menyenangkan-Mu.

Sepanjang hari lagu tersebut terus kusenandungkan di dalam hati hingga kekesalanku hilang. Dia punya kekurangan. Aku pun punya kekurangan. Aku tidak sempurna. Mana mungkin menuntutnya sempurna? Jika aku mau meminta bantuannya, aku hanya perlu aktif meminta umpan balik darinya.

Aku juga memberitahu dia untuk tidak segan menjawab, "Tidak". Aku tidak mau melihat senyuman arwah lagi. Lebih baik dia menjawab, "Tidak" daripada tersenyum sebagai isyarat penolakan. Lalu aku mulai memanggilnya lagi dan meminta bantuannya lagi. Kali ini dia langsung menjawab, "Tidak mau." Hehehe... beginilah salah satu ciri murid yang pintar. Sekali kuajari, langsung bisa dia praktekkan. Good.

Kemudian ada kejadian lain lagi dan kuminta penjelasannya. "Kudengar kamu beberapa kali dekat dengan istri orang lain. Ada apa denganmu?" Dia menjawab, "Aku tidak ada apa-apa. Saat itu kami bertiga. Kami sedang bersama temanku lainnya. Aku tidak bisa mengontrol mulut orang lain. Aku anggap hal itu sebagai angin lewat. Aku juga tidak peduli dengan opini seperti itu, tetapi aku begini dan begitu."

Kataku, "temanmu tuh bestimu. Dia bisa membantumu menutupi hal itu." Namun, dia berkata, "Tidak ada yang perlu ditutupi." Wah, cara jawabnya cukup dewasa. Hahaha... aku pernah belajar cuek sehingga aku tahu dia masih ada kepedulian. Jika dia benar-benar tidak peduli, dia pasti tidak menjelaskan apapun."

Ketika aku digosipkan hamil, aku benar-benar tidak peduli sehingga aku tidak mau menjelaskan apapun. Pikirku, "Orang yang mengenalku tidak perlu penjelasan. Orang yang tidak mengenalku juga tidak akan percaya sekalipun kujelaskan." Namun, pada saat itu Tuhan justru mengajariku untuk berperang. Aku pun bangkit pada hari ketiga dan menjadi lebih dari pemenang.

Beberapa tahun kemudian beberapa pelaku tersebut menghubungiku kembali. Namun, aku hanya bertanya, "Maaf, siapa ya? Aku tidak ingat kalian." Kejujuran itu mahal dan tidak pantas diberikan kepada mereka yang tidak menyukai kejujuran.

Karena raja kecil masih agak peduli dengan opiniku, aku masih bisa memberi nasihat singkat, "Kalau memang tidak ada apa-apa, ya berhati-hatilah agar kamu tidak terpengaruh oleh pergaulan yang serba bebas. Jangan sampai kamu dimanfaatkan oleh mereka pula."

Galatia 6:10 (TB) Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Beberapa hari lalu mobilku nyaris mengalami tabrakan lagi hingga tiga kali. Eh, kemarin juga nyaris menabrak lagi. Jeritan ngeri pun sempat tak terhindarkan. Ah, iblis selalu merancangkan kecelakaan. Namun, seingatku telah puluhan kali Tuhan meluputkanku dari kecelakaan, musibah, dan sakit penyakit.

Aku tidak tahu cara pengawal Tuhan bekerja sehingga iblis sering gagal mencelakaiku. Namun, kutahu selama masih ada kesempatan hidup, aku harus menghalangi rencana iblis dan bersaksi bagi Tuhan. Setidaknya aku tidak akan membiarkan iblis menang dengan mudah.

Mazmur 118:17 (TB) Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.

Selama ini aku belum pernah berhasil memenangkan jiwa atau minimal bawa orang ke gereja. Ditinjau dari hasil kerjaku, seharusnya aku bukan ancaman bagi kerajaan kegelapan. Bahkan, sesama orang Kristen ingin menghalangiku hidup dalam kebenaran dengan menyebutku naif, aneh, dan suka ikut campur urusan orang lain karena mereka juga tidak suka kutegur dan kunasihati. Mereka lebih suka cara hidup dunia.

Orang Budha pun heran dan berkata, "Kupikir kamu hanya menerapkan nilai-nilaimu untuk dirimu sendiri, tetapi kamu juga menerapkannya untuk orang lain." Loh, itu bukan nilai-nilai pribadiku. Jika aku ingin orang lain menjadi warga Kerajaan Allah, tentu saja aku akan menyampaikan nilai-nilai yang harus diikuti selama hidup di dalamnya. Jika mereka memang tidak mau menjadi warga Kerajaan Allah, aku juga tidak memaksa karena setiap orang punya kehendak bebas.

Namun, kenapa rasanya aku terus menerus ditarget oleh Kerajaan kegelapan? Nyaris celaka kok bolak balik sih?

1 Petrus 4:12-13 (TB) Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.

Karena iblis tidak meremehkanku, aku juga tidak akan meremehkannya. Aku telah meminta bantuan teman non-Kristen untuk mengawasi raja kecil. Jika dia memang tidak salah bergaul, tentu saja dia tidak keberatan jika diawasi. Namun, semoga dia tidak sadar jika nanti diawasi karena iblis juga mengintainya.

Saling Membantu

Hidup yang Berkenan
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 16 Agustus 2026

Efesus 4:2 (TB) Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

Kata 'saling membantu' terdengar indah, tetapi prakteknya tak bisa langsung seindah itu. Bulan ini aku dan raja kecil terpaksa saling membantu. Walaupun sebenarnya kami sempat sama-sama kesal, kami tak bisa menghindarinya. Dalam kekesalanku, aku hanya bisa berdoa.

Anak: "Bapa, masa raja kecil itu Kau bilang sudah dewasa? Apa Kau tidak salah? Dia masih sangat imut. Aku sudah sering bertemu bos dan anak bos yang menua tanpa pernah dewasa. Mana mungkin anak seimut itu bisa lebih dewasa daripada mereka? Lihatlah tiap kali kuminta bantuannya, dia akan menjawab, "Siap", tetapi setelah itu dia tidak pernah memberiku umpan balik, kecuali kutanya lagi. Masa itu dewasa?"

Beberapa waktu lalu kuminta raja kecil menyampaikan pesanku kepada orang asing dalam bahasa asing yang dia kuasai. Eh, dia hanya tersenyum, seperti tersipu malu. Loh, apa aku salah bicara? Ada apa dengannya? Apa arti senyumnya? Ya, tidak, atau bagaimana sih? Bukankah satu senyuman bisa berjuta makna? Mungkin artinya "Ya" sehingga kutunggu kabarnya.

Lalu dua hari kemudian aku bermimpi engkongku. Dia sudah lama meninggal sehingga di dalam mimpiku dia hanya tersenyum menatapku. Ketika terbangun, aku langsung sadar, "Arti senyum raja kecil adalah "Tidak", tetapi dia tidak berani menolakku secara langsung."

Semasa hidupnya engkong tuh dewasa. Jika aku dan adik-adikku ribut dengan emak karena rebutan acara televisi, engkong yang menengahi. Jika ada anak cucu yang sakit, engkong selalu memberi perhatian. Jadi, kami merasa kehilangan ketika engkong tiada.

Sementara itu, kami kasihan dengan emak karena dia menua tanpa pernah dewasa hingga akhir hidupnya. Nah, jika engkong muncul di dalam mimpiku dan hanya tersenyum, pasti bukan karena dia enggan membantuku, tetapi dia tidak bisa membantuku. Dunia kami sudah jauh berbeda.

Maka, aku segera mengirim pesan kepada raja kecil untuk konfirmasi. Ternyata benar. Dia belum melakukan yang kuminta. Lantas kukatakan kepadanya, "Ya sudah, tidak perlu membantuku. Aku akan meminta bantuan orang lain."

Ketika meminta bantuan serupa lagi, dia juga memberikan jawaban yang menggantung. Karena mulai kesal, aku berkata kepadanya, "Tolong pastikan. Dia mau yang lama atau yang baru? Kalau dia ragu dengan yang baru, mungkin tetap mau yang lama. Minta jawaban yang pasti. Jangan digantung seperti ini."

Eh, lagi-lagi dia hanya tersenyum. Aduh. Walaupun senyumnya jauh lebih indah dan hidup daripada lukisan Monalisa, aku ini bukan pengagum lukisan. Saat ini aku membutuhkan jawaban pasti dari pangeran di negeri seberang dan bukan senyumnya.

Karena marah, akhirnya aku memiliki energi ekstra untuk mengerjakannya sendiri. Daripada energi kemarahan disalurkan untuk merusak, lebih baik kusalurkan untuk bekerja. Makin marah, aku makin kuat kerja berjam-jam... wkwwk... Biasanya aku hanya berkata kepadanya, "Tidak perlu kamu bantu, aku kerjakan sendiri." Namun, kadang kala kukerjakan sendiri tanpa memberitahunya terlebih dulu.

Setelah aku mendapat jawaban pasti, kuberitahu dia, "Pangeran di negeri seberang mengatakan bahwa dia telah meminta asistennya untuk mengambil keputusan. Jadi, tolong kamu bertanya kepada asistennya." Seperti biasa, dia menjawab, "Siap", tetapi aku tidak diberi umpan balik lagi.

Kejadian semacam itu terulang hingga beberapa kali. Ketika meminta bantuannya lagi dan dijawab, "Siap" lagi, aku kirimkan gambar tiga pose dengan kata, "Bersedia", "Siap", "Ya". Lalu tanyaku, "Kamu masih berada di pose siap ini?" Dia menjawab, "Sudah kusampaikan." Karena tak percaya, aku bertanya lagi, "Boleh?" Dia online, tetapi tidak menjawabku sehingga aku curiga dia bohong.

Keesokan harinya dia baru menjawabku. Karena kesal, aku ingin berpura-pura dibohongi olehnya. Aku tidak menjawabnya lagi. Tegur Bapa, "Hanya karena hal itu kamu enggan bicara dengannya? Komunikasikan isi hati dan pikiranmu kepadanya. Jangan disimpan sendiri. Lihatlah dia lebih dewasa emosi daripada kamu."

Jawab anak: "Hehehe... benar juga sih. Sekalipun nada suaranya juga terdengar kesal, dia tetap berusaha baik." Mungkin dia kesal karena aku meminta bantuannya lalu membatalkan sepihak. Aku datang dan pergi sesuka hatiku karena aku memang paling tidak suka ketidakjelasan sikapnya.

Maka, aku berkata kepadanya, "Ya, aku baru diberitahu oleh temanmu. Kamu baru menyampaikan pesanku hari ini toh? Ini sebabnya kemarin kamu tidak bisa menjawabku." Dia hanya menjawab singkat, "Tidak, sudah kusampaikan kemarin." (Tanpa penjelasan lain.)

Sebab Itu Aku Menasihatkan

Hidup yang Berkenan - Bu Gina Dharmawan

Hidup Berkenan
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 16 Agustus 2026

Efesus 4:2-3 (TB) Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

Rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Rendah hati juga tidak bisa kita akui dan hanya orang lain yang bisa menyatakannya. Ketika kita berkata, "Saya orang yang rendah hati," saat itu pula kita telah menjadi sombong. Bahkan, ahli taurat pun direndahkan sehingga ada kesetaraan dengan kita.

Semuanya harus tetap belajar rendah hati. Orang yang rendah hati tidak suka pamer karena dia punya daya juang. Orang yang suka pamer hanya punya daya jual. Orang yang rendah hati juga mau dinasihati.

Lemah lembut dan sabar juga harus ditunjukkan dalam setiap tindakan kita. Ketika kita sabar menunggu jawaban doa, ini disebut iman. Sekalipun doa belum dijawab dan kita tetap percaya Tuhan hingga akhir usia, inilah iman. Ketika Tuhan datang, inilah yang dia cari.

Lukas 18:8b (TB) Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"

Ketika kita sabar terhadap orang tua, ini disebut hormat. Ketika kita sabar terhadap keluarga, ini disebut cinta. Hal ini hanya bisa dipraktekkan ketika kita berinteraksi dengan sesama. Kita mengasihi Tuhan (hubungan vertikal) dan sesama (hubungan horizontal) sehingga terbentuk salib yang sempurna. Selain itu, kita harus saling membantu.

2. Mengenakan Manusia Baru. Ini bukan seperti mengenakan outer. Jika pakaian kita hitam lalu diberi outer putih, dalamnya tetap hitam. Seringkali orang Kristen kadang hitam dan kadang putih karena mereka mengenakan manusia baru tanpa menanggalkan manusia lama.

Efesus 4:21-23 (TB) Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,

Jadi, untuk mengenakan manusia baru, kita harus telanjang lebih dulu di hadapan Tuhan. Harus, berarti bukan pilihan. Jika kita sudah menanggalkan manusia lama, barulah kita bisa mengenakan manusia baru.

Efesus 4:24 (TB) dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Berapa usia lahir baru kita? Ini bukan usia fisik karena usia fisik dihitung dari sejak kita dilahirkan. Namun, usia lahir baru dimulai sejak kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Jika sudah lahir baru, seharusnya kita telah mengenakan manusia baru agar makin serupa dengan Kristus.

3. Menghidupi Identitas sebagai Anak Terang. Setelah lahir baru, kita menerima identitas baru agar bisa hidup seperti Kristus. Kristus ini seperti cermin. Jika kita bercermin dan melihat ada jerawat, yang kita bersihkan bukan cerminnya, tetapi wajah kita.

Demikian pula, saat ada yang salah dengan diri kita, yang seharusnya kita bersihkan adalah kesalahan di dalam diri kita. Kristus seperti cermin yang menunjukkan terang agar kita bisa berbuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran.

Efesus 5:8-10 (TB) Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.

Seperti bejana di tangan Tuhan, Dia bebas membentuk kita. Kadang kala mungkin akan menekan kita. Pada akhirnya, Dia akan membuat kita makin serupa dengan-Nya.

BAGAIKAN BEJANA
Bagaikan bejana siap dibentuk, demikian hidupku di tangan-Mu. Dengan urapan kuasa Roh-Mu kudibaharui selalu.
Jadikanku alat dalam rumah-Mu. Inilah hidupku di tangan-Mu. Bentuklah s’turut kehendak-Mu. Pakailah sesuai rencana-Mu.
Kumau s’perti-Mu Yesus disempurnakan selalu. Dalam segenap jalanku memuliakan nama-Mu.

Saling Membantu

Hidup Berkenan - Bu Gina Dharmawan

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 16 Agustus 2026

Agar mengalami perubahan karakter kita harus mengalami pembaruan akal budi. Ada dua cara untuk hidup dalam roh, yaitu:
1. Pikiran terbuka untuk menerima perubahan.
2. Hati yang terluka sehingga akan mencari cara untuk pemulihan.

Efesus 4:1 (TB) Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

Pada usia 81 tahun Indonesia telah memiliki unsur berdaulat, adil, dan makmur. Adil dan makmur seringkali merupakan satu kesatuan tak terpisahkan, tetapi jika dipisah per kata, ada tiga kata.
* Berdaulat: merdeka (bebas dari segala penjajahan), tetapi kebebasan ini jangan sampai kebablasan (melebihi batas).
* Adil: proporsional dan tidak memihak.
* Makmur. Kita tidak perlu mengejar kemakmuran. Asalkan kita bisa bersikap adil, kemakmuran pasti datang.

Indonesia merupakan negara yang kaya raya dengan ribuan suku bangsa yang tinggal di dalamnya. Jika ada persatuan tanpa dasar perseteruan, tentu segalanya akan baik. Ini sebabnya kita semua harus senantiasa berdoa untuk Indonesia.

1 Timotius 2:1-2 (TB) Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.

Dengan menjadi negara yang berdaulat, adil, dan makmur, tujuan kita adalah hidup tenang dan tenteram. Inilah standar hidup kebanyakan orang. Namun, sebagai pengikut Kristus, kita harus menetapkan tujuan yang lebih tinggi, yaitu hidup berkenan.

1 Timotius 2:3-4 (TB) Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

Tentu mudah untuk membedakan antara baik dan tidak baik. Namun, untuk membedakan antara baik, berkenan, dan sempurna, kita perlu belajar. Tuhan ingin menyelamatkan semua orang. Jika semua orang bisa hidup dalam kebenaran, inilah hidup yang berkenan.

Efesus 4:17-18 (TB) Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.

Jika berdasarkan kitab Efesus saja, ada tiga cara untuk hidup berkenan, yaitu:
1. Memelihara Kesatuan Gereja.

Kita pasti memelihara mereka yang kita kasihi. Kita tidak akan memberikan opini kepada gereja lain, tetapi memberikan review. Jika mengasihi Indonesia, kita juga tidak akan memberikan opini tentang Indonesia, tetapi review. Opini kita seringkali berbeda dengan opini orang lain sehingga bisa menimbulkan perseteruan.

Namun, review berarti memeriksa hati kita sendiri. Kita perlu meminta Tuhan menyelidiki hati kita untuk memastikan kita tetap berada di jalan yang benar. Dalam proses ini Tuhan akan menggeledah hati kita, yang artinya mengacak-acak, bukan sekedar memeriksa sehingga Dia dapat menemukan kesalahan kita dan memperbaikinya.

TETAP SETIA
Selidiki aku, lihat hatiku. Apakah ku sungguh mengasihi-Mu Yesus. Kau yang maha tahu dan menilai hidupku. Tak ada yang tersembunyi bagi-Mu.
Chorus: T'lah kulihat kebaikan-Mu yang tak pernah habis di hidupku. Kuberjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia.

Hidup yang Berkenan

Sunday, August 9, 2026

Sudah Tuhan Persiapkan

Kesatuan Tubuh Kristus
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 2 Agustus 2026

Ada pemuda Katolik yang suka pindah-pindah gereja sehingga tiap kali kutanya, dia tak pernah menyebutkan nama gerejanya. Katanya, "Walaupun beda gereja, satu dunia gereja Katolik semua isi liturginya sama, hanya berbeda isi khotbah dan bahasanya."

Hahaha... rupanya Tuhan telah mempersiapkanku untuk hal seperti ini. Siapa sangka aku tidak berpindah-pindah gereja hingga sekarang. Oh, tahu-tahu 12 tahun sudah terlewati. Padahal, awalnya semua terasa berat dan beberapa kali ingin pindah gereja. Hal paling menyebalkan ketika kujumpa saudara-saudara seimanku yang berubah rupa di marketplace. Di gereja sih semuanya manis, tetapi di luar gereja, hanya kami dan Tuhan yang tahu.

Jadi, aku tidak perlu menggurui pemuda itu dan hanya perlu menceritakan kisahku. Kemarin aku bertanya kepadanya, "Besok kamu mau ke gereja mana?"
Jawabnya, "Lihat nanti aku mau ke daerah mana dulu."
Dengan tertawa aku bertanya, "Masa pindah-pindah gereja seperti wisata kuliner? Kamu ikut orang tuamu saja."

Lalu dia berpikir untuk melakukannya setelah aku bercerita kepadanya bahwa dulunya aku juga mau pindah-pindah gereja. Namun, sekalipun masih satu denominasi dan satu aliran, Yesus melarangku pindah-pindah gereja.

"Bahkan, semasa hidupnya engkuku yang Katolik juga selalu ke gereja yang sama dengan keluarganya. Ketika dia meninggal, istri bersama anak, cucu, dan menantunya juga tetap ke gereja yang sama." Begitu ceritaku kepadanya.

Karena firman dan rasa empati yang Tuhan berikan, akhirnya aku pun tetap bertahan di gereja yang sama. Padahal, titi yang dulu mengajakku ke gereja juga sudah tak mau ke gereja lagi setelah dia dikhianati tunangannya yang merupakan penari di gereja. Ehm... saat itu rasanya ingin bernyanyi, "Kisah sedih di hari itu, yang s’lalu menyiksanya. Kutakut ini dia bawa sampai mati..." Namun, dorongan Roh Penghibur membuatku tetap ke gereja yang sama.

ROH KUDUS, KAU HADIR DI SINI
Roh Kudus, Kau hadir di sini. Roh Kudus, kumengasihi-Mu. Kau lembut, Kau manis. Kaulah penghiburku, penolongku diutus Bapaku.
Kubuka hati untuk Roh-Mu, Tuhan. Kubuka hati menyembah-Mu, Yesus. Jamahlah kami, penuhi kami dengan kuasa Allah Maha Tinggi.

Ada saja cara Tuhan untuk mempersiapkan transportasiku. Ketika bemo makin langka, Dia beri aku kemampuan untuk menggaji sopir online hingga teman-temanku hanya bisa geleng-geleng kepala. Ketika sopir online mulai bertanya-tanya tentang gerejaku yang jauh, aku pun mulai bersaksi pula.

Kemudian kuberitahu pemuda itu bahwa dulunya selama delapan tahun di asrama, aku juga ke kapel yang sama. Saat itu aku tidak pernah pindah gereja karena memang tidak ada pilihan lain. Alhasil, selama di sana kupunya lagu favorit, "Semua Bunga Ikut Bernyanyi." 😄

Amsal 27:17 (TB) Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

Biasanya kita suka pindah gereja karena ingin menghindari orang-orang yang mengecewakan kita. Maka, kuberikan ayat itu kepadanya dengan pesan, "Kalau kabur dari mereka, pasti bertemu lagi dengan mereka. Setelah lulus, tidak perlu bertemu mereka lagi. 😄" Padahal, kadang kala masih bisa bertemu mereka lagi loh. Namun, kalaupun bertemu lagi, pasti sudah tidak ada masalah lagi. Lalu dia malah bertanya, "Setelah lulus itu maksudnya apa? 🤣"

Kujawab singkat saja, "Lulus proses pembentukan, sudah beres semua urusan dengan mereka. Ini seperti ceritaku beberapa hari lalu tentang mantan bosku yang menahan gajiku atau mantan atasanku yang sempat menjadi batu sandungan. Setelah kuampuni mereka, tak kulihat mereka lagi karena mereka pindah ke GMS lain untuk mengikuti pendeta favorit mereka. Namun, aku hanya nge-fans sama Yesus, bukan pendeta."

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.