Sunday, May 3, 2026

Belum Ada Buku Panduannya

Kami Tidak Mengerti
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 3 Mei 2026

Jadi, pak tukang berjanji untuk kembali besok siang setelah membeli MCB 6A dan kotaknya. Sebelum pulang dia pun memasang solasi pada kabel yang terbuka dengan bantuan gunting. Namun, solasinya tidak sempurna dan kabel itu tetap berbahaya jika disentuh.

Eh, besoknya si tukang tidak datang. Ketika ditanya, dia menjawab, "Motorku meletus." Oalah... ada-ada saja sih. Oh Tuhan, kenapa calon penolong kami malah berhalangan? Kapan masalahnya selesai? Kapan kegelapan itu sirna?

Ujarku, "Pokoknya papa mama jangan masuk ke gedung belakang yang gelap. Ada kabel terbuka yang berbahaya jika disentuh." Jadi, hanya aku yang tetap masuk ke gedung belakang karena lemari bajuku di sana. Namun, tiap kali memasukinya, kuingatkan diriku untuk waspada terhadap kabel terbuka. Agar tidak khawatir, aku juga mengingatkan diriku bahwa sertifikat wisuda papa sudah kuambil sehingga tidak bisa diproses oleh petugas dalam mimpiku itu.

Menjelang pagi aku seperti mendengar seseorang berkata, "Allah bertindak. Tiada mata yang melihat apa yang Tuhan lakukan." Lantas aku teringat lagu Allah Bangkit. Maka, aku berkata, “Karena Allah bangkit, aku juga bangkit.” Kemudian kucari ayat Alkitab terkait hal itu karena sepertinya pernah kubaca di Alkitab.

Yesaya 64:4 (TB) Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian.

ALLAH BANGKIT
Kerahkanlah kekuatan-Mu Ya Allah. 🙏Tunjukkanlah kuasa-Mu Ya Tuhan. 💪
Serakkan musuh-Mu.
👊 S'lamatkanlah umat-Mu. 🫶 Allah dahsyat di tempat kudus-Nya. 🫰
Chorus: Allah bangkit, bersoraklah.
🥳Allah bangkit, bernyanyilah. 💃 Musuh dikalahkan, umat-Nya dibebaskan. 😇 Allah dahsyat di tempat kudus-Nya. 👏
#AllahBangkit #AllahBertindak #AllahDahsyat

Mazmur 68:29 (TB) Kerahkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, tunjukkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, Engkau yang telah bertindak bagi kami.

Nah, hari itu tukang datang pagi sesuai janjinya. Dia datang bersama keponakan laki-lakinya. Ternyata keponakannya ahli dalam memperbaiki kerusakan alat-alat listrik. Maka, dalam waktu sekitar tiga jam, MCB telah diperbaiki, beberapa saklar lampu yang rusak karena semut juga diganti, kipas angin rusak pun turut dibersihkan dan diperbaiki. Bahkan, cetakan kue dan sambungan kabel yang rusak juga dibenahi. Lampu-lampu yang mati atau redup juga diganti.

Hahaha... ketika Allah bertindak, semua beres. Namun, kekhawatiran kembali muncul ketika kulihat MCB terpasang tuh 10A, bukan 6A sesuai permintaan papa dan informasi dari tukang. Namun, tukang itu mengatakan bahwa dia sudah bertanya kepada orang PLN dan MCB yang dipasang sudah sesuai dengan MCB yang rusak. Katanya, orang PLN juga tidak menyarankan MCB diturunkan jadi 6A.

Alhasil, MCB yang sudah dibuang di pohon keres segera diambil lagi oleh mama. Kulihat MCB rusak memang 10A. Ternyata papa yang salah membaca tulisan pada MCB. Dia melihat tulisan 6000 yang tercetak besar sebagai 6A padahal angka 6000 ini tidak terkait dengan ampere. Mungkin hanya kode produksi atau ada arti lain. Justru tulisan kecil mungil (C10) yang menunjukkan jumlah ampere-nya, tetapi papa tidak bisa melihatnya tanpa kacamata. Fiuh… untung tidak salah pasang MCB.

Setelah itu barulah aku mencari tahu di Google, "Kenapa MCB bisa hangus tanpa membakar area sekitarnya?" Ternyata MCB tuh dibuat tahan api. Jika area sekitarnya tidak mudah terbakar, api di MCB tidak akan sampai menyebar.

Namun, katanya MCB harus diganti jika telah berusia lebih dari 10 tahun. Ada yang menulis kisaran usia MCB hanya 15-20 tahun. MCB kami yang hangus tuh usianya sudah lebih dari 18 tahun. Ketika memasangnya, kami tidak pernah diberi buku panduan penggunaan MCB dan masa kadaluarsanya.

Om Google pun mengatakan bahwa MCB yang hangus tidak boleh dinaikkan tuasnya. Lha... informasi sepenting ini juga tidak pernah diberikan pada saat pemasangan MCB. Untung loh saat tuasnya kunaikkan, hanya muncul bunga api sekali saja.

Saat itu aku pun tidak tahu jika MCB sudah hangus karena tempatnya gelap. Seharusnya kuambil senter dulu sebelum ke tempat MCB. Namun, aku tidak berpikir bahwa MCB telah hangus karena aku tidak mencium bau terbakar. Mama hanya mengatakan bahwa sehari sebelumnya dia sempat mencium bau terbakar. Namun, dia mencari sumber bau itu di dapur dan tidak menemukannya. Oh, syukurlah apinya jinak.

Nah, peristiwa semacam ini bisa menyadarkan kita betapa rapuhnya manusia. Pengetahuan kita terbatas. Keahlian kita pun terbatas. Buku panduan yang kita butuhkan juga terbatas. Bahkan, ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, jika kita tetap berpegang teguh pada Sang Pengendali Hidup, kejutan-kejutan tak menyenangkan ini masih bisa kita tanggung bersama-Nya.

Kami Tidak Mengerti

Renungan Akhir-akhir Ini
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 3 Mei 2026

Sabtu minggu lalu aku bertanya kepada IT, "Tumben belum pulang. Biasanya kamu selalu pulang tepat waktu." Dia menjawab sambil menunjuk layar monitor yang sedang diperbaikinya." Lantas tiba-tiba dia berkata, "Dulu rumahku di TPI, tak jauh dari rumahmu sekarang." Dia pindah dari sana karena mencari rumah yang lebih murah.

Seketika aku bersaksi, "Iya, di sana iuran rumahnya mahal. Dulu aku pernah tinggal di sana setelah rumahku terbakar sekitar akhir tahun 2007. Itu rumahnya ketua Konghucu. Kami dipinjami dan iurannya pun dibayar sendiri oleh mereka. Banyak mujizat kualami setelah kebakaran itu."

Lalu aku bercerita singkat tentang mujizat yang kami alami sambil bertanya, "Apa saat itu kamu juga melihat kebakarannya?" Dia mengatakan bahwa saat itu dia masih SMP dan dia hanya mendengar cerita itu dari ibunya. Kataku sambil tertawa, "Selama aku tinggal di sana selama sekitar dua bulan, aku juga belum pernah melihatmu."

Eh, saat malam tiba kulihat gedung belakang rumahku diliputi kegelapan pekat. Seketika kusadari ada yang tidak beres karena biasanya papa tidur sambil menyalakan lampu lorong. Lantas kutekan saklar lampu kamar mandi. Benar saja. Kegelapan tidak sirna. Aku bergegas ke tempat MCB. Kulihat tuasnya tidak turun, tetapi kupikir tuasnya kurang ke atas. Jadi, kudorong sedikit untuk memastikan posisi tuasnya benar-benar di atas.

Seketika timbul percikan bunga api sehingga secara spontan aku mundur selangkah. Bunga api merupakan salah satu bunga yang tak kusukai. Namun, sekalipun tak suka kepadanya, mataku tak mau berkedip menyaksikan kepergiannya. Kupandangi MCB itu sambil harap-harap cemas, "Semoga tidak ada api lanjutan yang keluar dari dalam MCB."

Nah, setelah 1-2 menit yang mencekam, aku pun merasa aman. Lalu pergi mengambil senter dan kembali ke tempat MCB. "Siapa di dalam sana?" Teriakku. Oh bukan, bukan seperti itu. Seketika aku berteriak, "Ma, kemarilah! MCB rusak. Lihatlah kotak MCB sedikit hangus dan sedikit terbuka. Besok kita harus panggil tukang."

Lantas mama melihatnya dan berkata, "Turunkan saja tuas MCBnya." Jawabku, "Tadi tuasnya sudah kunaikkan, tetapi malah keluar bunga api. Kalau mau, mama saja yang turunkan tuasnya." Mama juga tidak berani. Lantas kuminta ortu pindah ke kamar depan yang masih terang karena terhubung dengan MCB lain.

Mama berpesan, "Sering-seringlah kamu melihat MCBnya karena mungkin ada apinya." Jawabku, "Tidak ada. Kalau mau, mama aja yang tidur dekat MCB." Mama pun tidak mau dan hanya berkata lagi, "Nanti kalau ke kamar mandi, kamu lihat saja MCBnya." Kujawab ya, tetapi saat ke kamar mandi, aku lupa melihatnya lagi.

Di depan MCB kugantung selimut anti api (kata penjual) yang belum pernah kubuktikan kebenarannya dan tidak ingin kubuktikan, kecuali terpaksa. Ketika melihat bunga api, aku pun tidak bersiaga membuka selimut itu. Aku hanya bisa tertegun sambil harap-harap cemas seperti pada saat meteran listrik terbakar. Ah, kupikir aku hanya bisa menangani hal-hal yang kupahami.

Tadi siang aku baru saja bersaksi tentang mujizat Tuhan. Masa karena hal tersebut, iblis ingin membungkamku? Jika dia gagal mencuri, seringkali dia ingin membinasakan. Namun, kalau ada hal-hal di luar kendali, biarlah Tuhan yang mengambil alih. Aku yakin Dia ada di sini. Lalu aku tersenyum dalam kegelapan karena teringat lagu yang sangat tepat.

KIRI KANANKU ADA TUHAN
Kuselalu memandang Tuhan. Kuselalu memuji Dia. Kupercaya kepada Tuhan. Kuberpasrah kepada-Nya. Siang malam kuingat Tuhan kar'na Tuhan pelindungku. Dengan Dia ku takkan gentar menghadapi semua musuh.
Chorus: Kiri kananku ada Tuhan, sek'lilingku ada Tuhan. Dalam hidupku ada Tuhan, Yesus s'lalu bersamaku.

Yesaya 26:3 (TB) Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.

Kata papa, "Tidak usah panggil tukang. Aku bisa perbaiki sendiri semuanya." Kata mama, "Aku juga tahu kamu bisa perbaiki semuanya, tetapi ingat usia." Matanya sudah tak bisa melihat dengan jelas. Sering pula dia hilang keseimbangan. Maka, aku pun menimbrung percakapan mereka, "Sudah waktunya regenerasi. Biarkan yang muda yang beraksi. Panggil tukang saja."

Keesokan harinya semua tukang libur karena Minggu. Diam-diam papa melihat MCBnya. Untung dia tidak berusaha memperbaikinya dan hanya berkata, "MCBnya yang rusak." Lalu aku ke gereja dengan tenang. Senin beberapa tukang yang mau dimintai bantuan justru sedang ada pekerjaan di tempat lain. Selasa salah satu tukang bersedia datang pada malam hari setelah selesai bekerja di tempat lain.

Lantas malam itu dia melepas MCB untuk mengetahui kerusakannya. Wuih... bagian dalam MCB telah hangus sampai menghitam. Namun, dia tidak bisa langsung menggantinya karena tidak ada kotak MCB pengganti. Papa minta MCB 6A, tetapi di rumah hanya ada MCB 10A. Kata pak tukang, jika MCB terlalu besar, bahaya untuk dipasang karena jika terlalu panas, MCB tidak bisa jeglek (turun) dan bisa menimbulkan kebakaran.

Belum Ada Buku Panduannya

Renungan Akhir-akhir Ini

Rooted in The Word
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 3 Mei 2026

Aku berdiri di depan meja resepsionis sebuah kampus. Di dalam ruangan terlihat meja resepsionis yang elegan. Lampu ruangan pun terang benderang dengan cahaya putih yang cerah. Beberapa kursi tunggu tersedia di seberang resepsionis.

Beberapa pot tanaman juga tampak terlihat di beberapa sudut ruangan. Lantas seorang wanita muda dengan rambut hitam lurus berkata kepadaku dari balik meja resepsionis, "Hari ini papamu bisa diwisuda setelah dia menerima sesuatu dan menandatangani sertifikat ini." Namun, sesuatu yang dijanjikan itu belum diterima oleh papa.

Lantas wanita berseragam kemeja dan celana panjang navy itu sedang menunggu sesuatu dari petugas lain yang ada di belakangnya. Jadi, aku pergi keluar pintu. Di depan pintu kulihat taman yang indah dan jalanan paving yang bersih tertata. Kemudian kulihat gerbang besi bercat putih dengan ukiran indah melindungi seluruh isi taman dan kampus tersebut. Langit sudah gelap, tetapi beberapa cahaya lampu kuning menerangi kegelapan itu.

Gerbang itu terbuka dan kulihat beberapa orang masuk ke dalamnya, termasuk papa dan adiknya. Mereka tersenyum bahagia. Papa yang hampir 75 tahun terlihat kembali muda seperti masih berumur 40 tahun. Rambutnya yang memutih tampak kembali hitam. Tanpa bicara mereka berdua berjalan melewatiku dan masuk ke dalam ruang resepsionis.

Setelah terdiam sejenak, aku bergegas menyusul mereka kembali ke dalam. Petugas tadi berkata kepadaku, "Papamu telah menandatangani sertifikat wisuda ini." Seketika aku segera menarik kertas sertifikat berwarna kuning tersebut sambil berkata dengan keras, "Apa dia sudah menerima sesuatu itu? Jika belum, ini tidak sah. Seharusnya dia menerima itu dulu sebelum menandatangani ini."

Lantas petugas itu membalikkan badannya untuk berbicara dengan beberapa petugas lain yang wajib menyiapkan sesuatu itu. Sementara itu, dengan sudut mataku kulihat papa dan adiknya berada tak jauh dariku. Namun, karena terlalu lama menunggu petugas tadi, akhirnya aku keluar dari alam mimpi sambil membawa sertifikat wisuda papa. Ketika kubuka mata, kudapati tanganku kosong.

Apa sudah waktunya papa wisuda? Tanyaku dalam hati. Namun, Tuhan belum menepati janji keselamatan-Nya. Jika Tuhan mewisuda papa sebelum menepati janji-Nya, ini curang. Namun, Tuhan tidak mungkin melakukan kecurangan.

Sertifikat wisudanya juga sudah kusita dari petugas tadi. Jadi, pasti belum waktunya. Jika Tuhan bisa mengubah Saulus menjadi Paulus, seharusnya Dia juga bisa menyelamatkan papa karena papa tidak sekeras dan tidak sekejam Saulus. Dia pasti menepati janji-Nya.

JANJI-MU (GMS Live) ( youtu.be/-R66m76HwY8 )
Lebih dari para penjaga mengharap fajar pagi, segenap asaku dan relung hati berharap pada-Mu. Walau ku tak dapat melihat jalan-Mu, namun kumemilih ‘tuk percaya penuh pada-Mu Yesus.
Reff: Kupercaya akan janji-Mu. Tak sedetik pun aku ragu. Satu hal kutahu bahwa janji-Mu tak akan pernah lekang oleh waktu, pasti digenapi.
Bridge: Karena Kau yang berjanji adalah SETIA. Engkau yang lebih tahu...

Kami Tidak Mengerti

Rooted in The Word ~ Ps. Alvi Radjagukguk

 Catatan Ibadah ke-1 Minggu 3 Mei 2026

Banyak orang Kristen tidak tahu atau tidak suka atau malas membaca Alkitab. Padahal, Alkitab merupakan buku panduan atau petunjuk hidup. Jika ada orang yang bertanya kepada pak Alvi, "Apa yang Tuhan katakan tentang saya?" Dia akan menjawab, "Bacalah Alkitabmu."

Alkitab berguna untuk mengarahkan, mengajar, dan memerintah kita dalam melakukan kehendak Tuhan. Jika tidak pernah membaca Alkitab, kita tidak akan memahami kehendak Tuhan atas kita. Seharusnya kita lebih menyukai firman Tuhan melebihi orang yang berkhotbah.

Mazmur 119:1-3 (TB) Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya.

Mazmur 119 merupakan pasal terpanjang di Alkitab. Di dalam setiap mazmurnya, semua dikaitkan dengan Tuhan. Di dalam Mazmur 119 Tuhan mengatakan orang yang berbahagia adalah orang yang hidup taat menurut perintah dan jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya.

Namun, tidak pernah ada kata mengerti di dalamnya. Seringkali kita ingin mengerti dulu sebelum taat. Namun, justru kita harus taat dulu. Setelah taat melangkah atau melakukan, nantinya kita akan mengerti. Manusia terdiri dari roh, jiwa, dan tubuh. Jika kita memberi nutrisi kepada tubuh, tubuh kita akan sehat. Apa yang kita beri makan, itulah yang sehat. Jika kita tidak pernah memberi nutrisi kepada jiwa, pikiran, dan kehendak kita dengan firman Tuhan, jiwa kita bisa lemah.

Jika hanya memberi makan tubuh, kita tidak bisa melawan keinginan daging dan akan melakukan segala cara untuk memuaskan kedagingan kita. Agar bisa hidup sesuai tuntunan Roh Kudus, kita harus konsisten dalam membaca Alkitab. Jika konsisten melakukan hal yang kita sukai, kita akan berhasil. Konsisten berarti kita tetap belajar sekalipun tidak ingin belajar. Konsisten berarti kita terus melakukannya setiap hari, bukan hanya pada saat ada masalah.

Galatia 5:16-17 (TB) Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging — karena keduanya bertentangan — sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

Banyak orang ingin segala usahanya berhasil. Namun, kata berhasil diletakkan paling akhir. Sebelum berhasil, ada hal utama yang harus dilakukan, yaitu merenungkan firman Tuhan siang dan malam serta tidak bersama-sama dengan orang berdosa. HP ada buku panduannya dan kita membacanya. Nah, kita pun harus membaca Alkitab sebagai buku panduan dalam kehidupan ini. #BacaAlkitab

Apa yang kalian renungkan akhir-akhir ini? Ada yang berpikir sudah bersaat teduh ketika sudah membaca beberapa ayat Alkitab di Tiktok. Ada pula yang berpikir sudah beribadah setelah melihat cuplikan khotbah. Ini tidak benar. Jika ingin bahagia, kita harus membaca dan merenungkan firman Tuhan sendiri.

Mazmur 1:1-3 (TB) Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Cara Berakar dalam Firman, yaitu:
1. Baca dan Renungkan Firman Tuhan secara konsisten. #BacaAlkitab
2. Jadikan firman sebagai pelita atau cahaya yang menuntun ke jalan kehidupan.

Mazmur 119:105 (TB) Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

3. Perhatikan lingkaran orang terdekatmu. Jika senantiasa bersama dengan orang yang mudah panik, kita bisa kehilangan iman dan mudah panik pula. Firman Tuhan harus diajarkan berulang-ulang dan dimanapun kita berada.

Ulangan 6:6-7 (TB) Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

AKU MENGASIHI ENGKAU YESUS
Aku mengasihi Engkau Yesus dengan segenap hatiku. Aku mengasihi Engkau Yesus dengan segenap jiwaku. Kurenungkan Firman-Mu siang dan malam. Kupegang p'rintah-Mu dan kulakukan. Engkau tahu ya Tuhan tujuan hidupku, hanyalah untuk menyenangkan hati-Mu.

Renungan Akhir-akhir Ini

Sunday, April 26, 2026

Menggali Sumur

Set Apart
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 26 April 2026

Banyak orang dunia seringkali iri melihat kesuksesan orang lain lalu mereka ingin merebutnya dengan beragam cara. Jika ada orang yang sukses dengan cara positif, jarang sekali ada yang menirunya. Namun, jika ada orang yang sukses dengan cara negatif, seperti menjilat atau drama, dengan cepat mereka menirunya.

Keluaran 20:17 (TB) Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu."

Ketika melihat Ishak di Kejadian 26 selalu sukses menggali sumur, mereka langsung merebutnya. Mereka tidak mau tahu bahwa Ishak berhasil karena dia selalu bekerja sepenuh hati, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Orang dunia tidak mau bekerja keras untuk menggali sumur yang terlihat kering. Mereka hanya mau hasil instan, langsung menikmati air sumur setelah mengusir Ishak yang telah bekerja keras untuk mendapatkannya.

Bahkan, sekelompok orang, termasuk orang Kristen pun bisa memfitnah dan menyebarkan gosip demi memuluskan rencana pengusiran semacam itu. Namun, orang-orang seperti Ishak tidak menjadi pahit hati karena hal-hal seperti itu. Mengapa? Ya, jelas-jelas arena pertandingannya berbeda. Tujuannya pun berbeda. Orang dunia melakukan segala cara untuk mendapatkan harta yang fana. Namun, Ishak berlari untuk mendapatkan hadiah yang kekal. Ishak mengikuti tuntunan ilahi.

1 Korintus 9:25 (TB) Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

Nah, mahkota abadi hanya bisa diperoleh dengan ucapan syukur karena Tuhan bertahta di atas pujian umat-Nya. Ada kuasa Tuhan dalam ucapan syukur. Jika kita melihat orang lain tampak diberkati, jangan buru-buru iri kepadanya, tetapi lihatlah dulu cara dia menggali semua sumur itu. Jika dia memperolehnya dengan cara halal, ikuti caranya.

Matius 5:41 (TB) Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.

Memberi lebih dari yang diminta merupakan salah satu cara yang dikenan Tuhan. Jika masih staf dan ingin gaji supervisor, bekerjalah seperti supervisor dengan gaji staf. Jika ingin gaji manajer, bekerjalah seperti manajer sekalipun belum mendapat gaji manajer. Jika ingin gaji direktur, bekerjalah seperti direktur sebelum mendapat gaji direktur. Ketika kita sudah memantaskan diri, sumur kita pasti berbual-bual airnya.

Jika kita selalu bekerja sepenuh hati atau memberi lebih dari yang diminta oleh pemberi kerja, Tuhan pasti mempromosikan kita. Bahkan, jika pemberi kerja tidak mengetahui hal tersebut, Tuhan pun tetap mempromosikan kita di tempat kerja baru. Ladang Tuhan sangat luas. Sumur Tuhan juga banyak. Oleh karena itu, Ishak tidak perlu mati-matian mempertahankan sebuah sumur tua.

Ishak yakin bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Walaupun kehilangan sumur, dia tidak kehilangan kemampuan menggali sumur. Seiring berjalannya waktu, kemampuannya makin terasah. Makin lama, kerjanya makin cepat. Lantas jika pemberi kerja memecat kita karena dia lebih percaya pada penjilat, ini merupakan kesempatan bagi kita untuk melihat karya Tuhan yang luar biasa menakjubkan.

Amsal 12:2 (TB) Orang baik dikenan TUHAN, tetapi si penipu dihukum-Nya.

Jadi, kalau kalian melihat karyawan bergaji tinggi padahal dia malas dan hanya modal menjilat bos, jangan iri kepadanya. Daripada ingin mendapatkan gaji setinggi dirinya dengan cara haram yang sama, justru kita harus bersyukur. Jika mau melihat secara mendalam, ada banyak hal yang bisa kita syukuri dari satu peristiwa tersebut, antara lain:
* Syukurlah aku masih memiliki hati nurani yang menjagaku agar tidak menjadi seperti dia.
* Syukurlah aku bukan bosnya sehingga bukan aku yang ditipu atau dijilat olehnya.
* Syukurlah aku bisa belajar dari kesalahan orang lain sehingga biaya belajarnya gratis..tis..tis.
* Syukurlah masa depanku tak akan sesuram penjilat itu. Pada akhirnya, setiap bos akan meninggal dunia atau digantikan penerusnya. Bila saat itu tiba, penjilat yang tidak mengasah keterampilan lain (selain menipu), tentulah akan tersisih dan harus mencari bos lain yang juga mudah ditipu.

Amsal 22:1 (TB) Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.

Bahkan, jika sampai tertipu, kita pun masih bisa bersyukur, seperti Ayub. Kita bersyukur bukan untuk kehilangannya. Kita bersyukur karena kita mengetahui sumber berkatnya. Kita bersyukur karena orang lain bisa mengambil berkat kita, tetapi mereka tidak bisa mengambil Sang Pemberi Berkat.

Ayub 1:21 (TB) katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

Bahkan, kita pun bisa bersyukur untuk berkat yang belum tiba. Seringkali kita harus melepaskan sumur lama sebelum Tuhan memberikan sumur baru yang lebih kekinian dan lebih dalam (upgrade kapasitas)... wkwwkw... Puji Tuhan!

YESUS KAU SUNGGUH BAIK
Yesus Kau sungguh baik. Yesus nama-Mu indah. Yesus kucinta Kau selalu. Kutinggikan, kuagungkan s'lamanya.
Kumau memuji-Mu, kus'lalu puji-Mu. Kumau menyembah-Mu, kus'lalu sembah-Mu.
Kau yang layak t'rima semua pujian. Kemuliaan hanya bagi Tuhan.

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.