Tidak Ada Bedanya
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 2 Agustus 2026
Meskipun demikian, di tempat yang suram ini aku sempat
berjumpa dengan seorang titi yang memulihkan kepribadianku.
Tadi pak Antoni mengatakan bahwa kejadian 5-20 tahun lalu
masih bisa diingat, tentu saja jika ada kejadian menyenangkan, lebih sulit
dilupakan. Oh, jangankan 5-20 tahun, kejadian sekitar 32 tahun lalu pun masih
kuingat. Itu pertama kalinya kulihat iblis berwajah malaikat. Setelah
melukaiku, cowok itu berpura-pura meminta maaf kepadaku di depan suster asrama
putra.
Namun, di belakang suster, dia berkata, “Jangan harap aku akan
meminta maaf kepadamu.” Lalu dia membalasku lewat suster kepala sekolah yang
selalu diskriminatif terhadap anak perempuan. Pengikut Kristus sejati tidak
akan melakukan hal ini.
Karena kejadian itu, aku tidak mudah percaya kepada orang
lain, termasuk orang baik. Jadi, aku tidak mau memulai pembicaraan terlebih
dahulu. Biasanya aku akan mengamati orang asing terlebih dahulu untuk membaca dan
banyak mendengar tentang mereka. Jika terlihat aman, aku baru bisa berbicara lebih
banyak kepada mereka.
Eh, setelah dibaptis Kristen, aku malah dipertemukan dengan seorang
titi yang SKSD (Sok Kenal Sok Dekat). Dialah orang pertama yang
memancing kesaksianku sebagai Kristen. Meskipun dia seperti pemeran figuran
dalam kisahku, tetapi dialah orang asing pertama yang mendengar kesaksianku…
wkwwk… Nah, setelah dia menyelesaikan tugasnya, kami sama-sama resign
dari perusahaan Kristen abal-abal itu. Dia kembali ke kampung halamannya di
Jawa Tengah.
Mulanya kukirim pesan kepada seorang raja kecil, “Kamu
sibuk? Jika tidak, kemarilah sebentar saja.” Tak lama berselang dia mendatangiku
dan langsung mengambil kursi untuk duduk di sampingku. Saat itu aku hanya
membatin, “Kenapa dia duduk padahal aku berencana bicara sebentar saja,
tidak sampai satu menit.”
Lalu aku menceritakan masalahku kepadanya dan meminta
bantuannya. Meskipun dia tidak bisa membantuku, pembicaraan tetap berlanjut. Tiba-tiba
aku sadar lalu bertanya di dalam hati, “Mengapa aku ceritakan semua ini
kepadanya? Aku belum lama mengenalnya. Bagaimana jika dia bukan orang
baik?” Namun, karena sudah terlanjur basah, aku basahi sekalian. Aku ceritakan
kesaksianku tentang mujizat saat kebakaran dan mujizat keselamatan.
Lalu pembicaraan berakhir dengan ucapan terima kasihnya. Aku
bingung dan hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, “Apa yang sudah kulakukan?
Mengapa dia yang berterima kasih kepadaku? Apa dia punya masalah dan kesaksianku
menjawab masalahnya? Seharusnya aku yang berterima kasih kepadanya karena dia
mau meluangkan waktunya untuk mendengarkanku.”
Tak lama berselang masalahku selesai. Tanpa diketahui penyebabnya,
tiba-tiba pembuat masalah berubah pikiran dan mengubah keputusannya. Aku
bertanya kepada beberapa orang, termasuk dia, tetapi tak ada yang tahu penyebabnya.
Aneh. Pasti karya Tuhan lagi nih karena hanya Dia yang bisa mengubah orang.
Beberapa waktu kemudian salah satu Ai-ku di Makasar
mengirimkan cerita tentang Martin Luther. Cerita ini membuatku teringat
akan kesulitan para jemaat pada masa itu dalam membaca Alkitab. Namun, gerakan
reformasi biarawan tersebut membuat kita bisa membaca Alkitab sendiri di masa
kini. Sayangnya, hak istimewa ini tidak dinikmati oleh kebanyakan orang
Kristen, terutama Katolik.
Lalu kututup dengan kata-kata, “Selamat membaca Alkitab dan
ditunggu kisahmu bersama Yesus.” Hehehe… raja Ahasyweros mengulurkan tongkat
emas kepada Ester. Namun, raja kecil itu mengulurkan tangannya kepadaku. Jika
Ester mengundang raja Ahasyweros untuk menyantap makanan jasmani, kuundang raja
kecil itu untuk menikmati makanan surgawi… xixixi…
Apakah raja kecil itu mau menyantapnya? Aku sih tidak
yakin. Sebenarnya aku juga sempat ragu dan bertanya-tanya, “Kenapa aku harus
bersaksi kepadanya? Bersaksi tuh seperti membongkar kelemahan diri sambil
memuliakan Tuhan. Jika dia bukan orang baik dan mau memanfaatkan kelemahanku,
bahaya donk. Selain itu, tampangnya tak seperti domba yang terhilang. Jadi, aku
tidak mengerti kenapa aku harus bersaksi kepadanya.”
Setelah pesan kukirim, tandanya hanya centang satu padahal
sebelumnya tidak pernah begitu. Mungkinkah dia memblokirku? Sempat terpikir
olehku untuk menarik kembali kesaksianku sebelum dia membacanya. Apa ada
gangguan sinyal? Kubuka Facebook dan lancar. Hal pertama yang kulihat adalah cuplikan
video khotbah Pdt. Niko Njotorahardjo tentang kebiasaan membaca Alkitab.
Yeremia 20:9 BIMK Tapi
bila dalam hatiku aku berkata, “Biarlah TUHAN kulupakan saja, tak mau lagi aku
berbicara atas nama-Nya,” maka pesan-Mu bagaikan api yang membara di hati
sanubari. Telah kucoba menahannya, tapi ternyata aku tak kuasa.
Wah, kebetulan sekali. Akhirnya kubiarkan pesanku terkirim.
Lalu video pak Niko kubagikan sebagai status WA. Jika raja kecil menolak
hidangan rohaniku, tak masalah. Toh aku sudah biasa ditolak, termasuk ditolak titi-titi yang kuajak ke gereja. Bahkan, firman Tuhan sering kubagikan kepada cowok-cowok usil agar mereka berhenti
menggangguku dan biasanya cara ini berhasil… wkwwk… Ah, setidaknya aku sudah
melakukan bagianku. Selanjutnya, biar Tuhan yang selesaikan. Aku tunggu saja
hasilnya… hahaha…
MASA PENANTIAN
Masa penantian, masa yang indah. Walau
tak mudah, namun kumau bersabar. Bersama Tuhan semua ‘kan indah.
Bila ku tak mampu, Tuhan ‘kan mampukan. Kuasa-Nya sempurna, mampukan ku dapat
bertahan. Bersama Tuhan semua ‘kan indah.
Chorus: Ku ‘kan tetap menabur dalam masa penantian. Walau penuh air mata,
namun ku tak 'kan menyerah. Perjuanganku ‘kan jadi tuaian indah. Tuhan
memampukan aku pasti menang. Tuhan memampukan.. Tuhan memampukan.. Tuhan
memampukan.. Aku pasti menang.













