Sunday, August 2, 2026

Anak-anak Tuhan

Tidak Ada Bedanya
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 2 Agustus 2026

Meskipun demikian, di tempat yang suram ini aku sempat berjumpa dengan seorang titi yang memulihkan kepribadianku.

Tadi pak Antoni mengatakan bahwa kejadian 5-20 tahun lalu masih bisa diingat, tentu saja jika ada kejadian menyenangkan, lebih sulit dilupakan. Oh, jangankan 5-20 tahun, kejadian sekitar 32 tahun lalu pun masih kuingat. Itu pertama kalinya kulihat iblis berwajah malaikat. Setelah melukaiku, cowok itu berpura-pura meminta maaf kepadaku di depan suster asrama putra.

Namun, di belakang suster, dia berkata, “Jangan harap aku akan meminta maaf kepadamu.” Lalu dia membalasku lewat suster kepala sekolah yang selalu diskriminatif terhadap anak perempuan. Pengikut Kristus sejati tidak akan melakukan hal ini.

Karena kejadian itu, aku tidak mudah percaya kepada orang lain, termasuk orang baik. Jadi, aku tidak mau memulai pembicaraan terlebih dahulu. Biasanya aku akan mengamati orang asing terlebih dahulu untuk membaca dan banyak mendengar tentang mereka. Jika terlihat aman, aku baru bisa berbicara lebih banyak kepada mereka.

Eh, setelah dibaptis Kristen, aku malah dipertemukan dengan seorang titi yang SKSD (Sok Kenal Sok Dekat). Dialah orang pertama yang memancing kesaksianku sebagai Kristen. Meskipun dia seperti pemeran figuran dalam kisahku, tetapi dialah orang asing pertama yang mendengar kesaksianku… wkwwk… Nah, setelah dia menyelesaikan tugasnya, kami sama-sama resign dari perusahaan Kristen abal-abal itu. Dia kembali ke kampung halamannya di Jawa Tengah.

Beberapa hari lalu aku teringat dia lagi ketika harus bersaksi kepada titi yang baru kukenal. Kupikir jika aku bisa bercerita kepadanya tanpa lebih dulu mengenal kepribadiannya, seharusnya aku juga bisa melakukannya kepada titi lain. Setidaknya titi itu juga sudah mengetahui usiaku sehingga tidak akan salah paham terhadapku.

Mulanya kukirim pesan kepada seorang raja kecil, “Kamu sibuk? Jika tidak, kemarilah sebentar saja.” Tak lama berselang dia mendatangiku dan langsung mengambil kursi untuk duduk di sampingku. Saat itu aku hanya membatin, “Kenapa dia duduk padahal aku berencana bicara sebentar saja, tidak sampai satu menit.”

Lalu aku menceritakan masalahku kepadanya dan meminta bantuannya. Meskipun dia tidak bisa membantuku, pembicaraan tetap berlanjut. Tiba-tiba aku sadar lalu bertanya di dalam hati, “Mengapa aku ceritakan semua ini kepadanya? Aku belum lama mengenalnya. Bagaimana jika dia bukan orang baik?” Namun, karena sudah terlanjur basah, aku basahi sekalian. Aku ceritakan kesaksianku tentang mujizat saat kebakaran dan mujizat keselamatan.

Lalu pembicaraan berakhir dengan ucapan terima kasihnya. Aku bingung dan hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, “Apa yang sudah kulakukan? Mengapa dia yang berterima kasih kepadaku? Apa dia punya masalah dan kesaksianku menjawab masalahnya? Seharusnya aku yang berterima kasih kepadanya karena dia mau meluangkan waktunya untuk mendengarkanku.”

Tak lama berselang masalahku selesai. Tanpa diketahui penyebabnya, tiba-tiba pembuat masalah berubah pikiran dan mengubah keputusannya. Aku bertanya kepada beberapa orang, termasuk dia, tetapi tak ada yang tahu penyebabnya. Aneh. Pasti karya Tuhan lagi nih karena hanya Dia yang bisa mengubah orang.

Beberapa waktu kemudian salah satu Ai-ku di Makasar mengirimkan cerita tentang Martin Luther. Cerita ini membuatku teringat akan kesulitan para jemaat pada masa itu dalam membaca Alkitab. Namun, gerakan reformasi biarawan tersebut membuat kita bisa membaca Alkitab sendiri di masa kini. Sayangnya, hak istimewa ini tidak dinikmati oleh kebanyakan orang Kristen, terutama Katolik.

Jadi, kuberikan cerita itu kepada si raja kecil sebagai sarapan. Namun, malam sebelumnya dia sudah kuberi appetizer tentang pentingnya membaca Alkitab dari cuplikan video khotbah Ps. Philip Mantofa. Setelah itu aku melanjutkan kesaksianku secara ringkas tentang latar belakang kumembaca Alkitab, kekecewaanku pada Tuhan karena hal yang tak kumengerti, jalan sempit yang kupilih, dan kebebasanku dari bos Kristen.

Lalu kututup dengan kata-kata, “Selamat membaca Alkitab dan ditunggu kisahmu bersama Yesus.” Hehehe… raja Ahasyweros mengulurkan tongkat emas kepada Ester. Namun, raja kecil itu mengulurkan tangannya kepadaku. Jika Ester mengundang raja Ahasyweros untuk menyantap makanan jasmani, kuundang raja kecil itu untuk menikmati makanan surgawi… xixixi…

Apakah raja kecil itu mau menyantapnya? Aku sih tidak yakin. Sebenarnya aku juga sempat ragu dan bertanya-tanya, “Kenapa aku harus bersaksi kepadanya? Bersaksi tuh seperti membongkar kelemahan diri sambil memuliakan Tuhan. Jika dia bukan orang baik dan mau memanfaatkan kelemahanku, bahaya donk. Selain itu, tampangnya tak seperti domba yang terhilang. Jadi, aku tidak mengerti kenapa aku harus bersaksi kepadanya.”

Setelah pesan kukirim, tandanya hanya centang satu padahal sebelumnya tidak pernah begitu. Mungkinkah dia memblokirku? Sempat terpikir olehku untuk menarik kembali kesaksianku sebelum dia membacanya. Apa ada gangguan sinyal? Kubuka Facebook dan lancar. Hal pertama yang kulihat adalah cuplikan video khotbah Pdt. Niko Njotorahardjo tentang kebiasaan membaca Alkitab.

Yeremia 20:9 BIMK Tapi bila dalam hatiku aku berkata, “Biarlah TUHAN kulupakan saja, tak mau lagi aku berbicara atas nama-Nya,” maka pesan-Mu bagaikan api yang membara di hati sanubari. Telah kucoba menahannya, tapi ternyata aku tak kuasa.

Wah, kebetulan sekali. Akhirnya kubiarkan pesanku terkirim. Lalu video pak Niko kubagikan sebagai status WA. Jika raja kecil menolak hidangan rohaniku, tak masalah. Toh aku sudah biasa ditolak, termasuk ditolak titi-titi yang kuajak ke gereja. Bahkan, firman Tuhan sering kubagikan kepada cowok-cowok usil agar mereka berhenti menggangguku dan biasanya cara ini berhasil… wkwwk… Ah, setidaknya aku sudah melakukan bagianku. Selanjutnya, biar Tuhan yang selesaikan. Aku tunggu saja hasilnya… hahaha…

MASA PENANTIAN
Masa penantian, masa yang indah. Walau tak mudah, namun kumau bersabar. Bersama Tuhan semua ‘kan indah.
Bila ku tak mampu, Tuhan ‘kan mampukan. Kuasa-Nya sempurna, mampukan ku dapat bertahan. Bersama Tuhan semua ‘kan indah.
Chorus: Ku ‘kan tetap menabur dalam masa penantian. Walau penuh air mata, namun ku tak 'kan menyerah. Perjuanganku ‘kan jadi tuaian indah. Tuhan memampukan aku pasti menang. Tuhan memampukan.. Tuhan memampukan.. Tuhan memampukan.. Aku pasti menang.

Tidak Ada Bedanya

Identitas Baru
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 2 Agustus 2026

Bukan hanya karyawan Kristen dan non Kristen yang tidak ada bedanya, bos Kristen dan non Kristen pun tidak ada bedanya. Maka dari itu, kita harus waspada dan meminta karunia membedakan roh. Beberapa hari lalu ada seorang gadis yang tiba-tiba berkata, "Aku terpaksa harus resign karena akan menikah dengan teman sekantor. Ketika mencari pekerjaan, aku selalu teringat padamu. Kapan lagi aku bisa mendapatkan atasan sebaik dirimu?"

Hehehe... dia mengingatkanku pada perkara salah transfer yang telah berakhir dengan baik. Namun, bos Katolik kami saat itu tidak mau bersyukur dan justru terus bersungut-sungut. Akhirnya kami resign bersama. Lalu bos itu harus menelan pil yang sangat pahit karena masalah yang sama terulang kembali dengan akhir yang buruk.

Kataku, "Wah, seharusnya itu kabar bagus. Akhirnya ada yang menafkahi dirimu." Namun, dia mengatakan bahwa dia masih membutuhkan pekerjaan setelah menikah nanti. Lalu ujung-ujungnya dia bercerita bahwa sebenarnya dia sudah mendapat pekerjaan baru.

Namun, situasi kerja di sana terkesan aneh. Dia tidak diberi pekerjaan dan hanya diminta untuk belajar sendiri. Dia juga tidak boleh berbicara dengan rekan-rekan sekerjanya. Namun, diam-diam dia bisa mendapatkan nomer WA salah satu rekan kerjanya. Nah, rekannya itu memberitahu dia bahwa bos selalu mengutus seseorang untuk membuntuti setiap orang baru, mulai dari rumahnya sampai ke kantor. Tujuannya untuk memastikan orang itu tidak berbicara dengan rekan kerja lainnya.

Karena pernah memiliki pengalaman serupa dengannya di Kerajaan Cabe, dia pun memberitahu gadis itu bahwa dia hanya sebulan di sana dan langsung diusir ketika mengajukan resign. Padahal, di ruang tamunya, bos Katolik itu memasang patung Yesus disalib. Kesannya rohani, tetapi ternyata kelakuannya seperti iblis.

Lalu gadis itu berkata, "Sama. Bosku juga memasang stiker Luke (Lukas) di kamar mandi pribadinya, tetapi kelakuannya toxic."
"Ah! Mereka semua hanya pencitraan," kataku kepadanya.

Beberapa bulan kemudian dia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari sana. Seketika dia pun langsung diusir sepertiku. Hehehe... ketika pertama kali bekerja, kami sama-sama mendapatkan atasan yang baik. Namun, ketika kami sudah punya pengalaman, kami sama-sama harus belajar menghadapi gilanya bos, kerasnya atasan, dan rekan kerja yang aneh. Sekalipun dia muslim, dia juga harus menghadapi proses yang sama. Jadi, proses pembentukan Tuhan berlaku untuk semua orang, termasuk mereka yang non Kristen.

Matius 15:25-27 (TB) Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."

Ketika belum Kristen, aku seperti memakan remah-remah roti. Namun, beberapa orang Kristen malah menyia-nyiakan roti yang diberikan dengan cuma-cuma karena status kelahiran mereka di dalam keluarga Kristen.

Dulu aku dan seorang teman Katolik sampai melakukan pengejaran terhadap anak pendeta Kristen yang mencuri uang kecil dengan cara memalsukan nota bensin dan air minum. Nilainya tak seberapa sih, tetapi kalau tidak dihentikan, mungkin dia bisa ketagihan dengan nilai yang lebih besar.

Kami mengejarnya karena tidak ingin kehilangan barang bukti. Kami sama-sama naik motor. Dia sendirian, sedangkan aku dibonceng oleh temanku. Ini tanggung jawab temanku sebagai kasir. Aku hanya menemaninya karena dia takut jika sendirian menangkap cowok itu. Namun, hal itu cukup berbahaya karena temanku itu sedang hamil. Untunglah semua berakhir dengan baik. Cowok itu mau mengakuinya dan tidak sampai melakukan kekerasan.

Sekalipun bos Kristen kami saat itu juga tidak baik, kami tidak membiarkan mereka ditipu. Jadi, kami memberitahu bos sehingga dia dikeluarkan. Kami pun tidak disukai oleh cewek Kristen yang ingin melindungi cowok itu karena nilai pencuriannya memang tidak materiil.

Jadi, kami membiarkan cewek itu memberikan konfirmasi positif kepada calon pemberi kerja yang baru agar cowok itu mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Lantas dia diterima di sana dan memulai pekerjaan baru di kota lain. Ya, mudah-mudahan dia tidak mengulangi kejahatan yang sama.

Setelah itu, aku dan teman-teman Kristen lain juga mulai mengundurkan diri satu per satu dari perusahaan itu karena tidak tahan dengan bos toxic tersebut. Rencana teman-temanku sangat lancar. Namun, aku sempat tertahan hingga akhirnya Tuhan turun tangan.

Ah, itulah salah satu contoh perusahaan Kristen yang paling Kristen karena bos dan sebagian besar karyawannya adalah orang-orang Kristen dan Katolik. Tiap Selasa juga diadakan persekutuan doa di kantor. Namun, bos perusahaan ini justru membuat suasana selalu mencekam.

ALLAH yang SETIA
Sekalipun kuberjalan lewat lembah kelam, namun tangan-Mu selalu menopang hidupku. Saat ku dalam ketakutan, Kau hadir di sisiku.
Kau berkata, "jangan takut". Kau b'ri ku kemenangan. Kaulah Tuhan yang berjanji, tak sekalipun Kau ingkari.
Kesetiaan-Mu sungguh terbukti di sepanjang hidupku. 'tuk s'lamanya ku 'kan setia melayani mengasihi-Mu. Tiada Tuhan seperti-Mu Yesus. Kau Allahku yang setia.

Anak-anak Tuhan

Identitas Baru - Ps. Antoni Moelyono

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 2 Agustus 2026

Efesus 1:5-6 (TB) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

Kota Efesus saat ini ada di Selçuk, Turki. Tempat ini telah menjadi puing-puing. Namun, dulunya tempat ini merupakan pusat peradaban Romawi. Saat itu penduduknya menyembah Dewi Artemis - dewi kesuburan. Mereka bukan hanya menyembah berhala, tetapi juga melakukan perzinahan.

Tiap kali ke kuil, di sana sudah disiapkan 1000 imam wanita untuk pelacuran atau 1000 imam pria untuk semburit bakti. Para pengikut Kristus pada masa itu harus bertahan agar tidak terpengaruh oleh budaya tersebut. Jadi, keadaan saat itu hampir mirip seperti kondisi kita sekarang. Di tengah situasi ini Paulus menulis surat kepada jemaat Efesus dari dalam penjara. Paulus ingin mengingatkan mereka akan identitas baru mereka sebagai pengikut Kristus.

Pada mulanya gereja bukan berbicara tentang organisasi, melainkan organisme atau orang. Semula Kristen hanyalah merupakan ejekan bagi pengikut Kristus. Ini karena cara hidup mereka berbeda dengan cara hidup penyembah berhala. Ada banyak jemaat Efesus yang kehilangan pekerjaan, kekayaan, bisnis, dan kenyamanan dunia karena mereka memilih untuk mengikut Kristus. Mereka tidak mau menyembah Dewi Artemis.

Namun, orang Kristen sekarang berbeda. Ketika pak Antoni bertanya kepada seorang pengusaha Kristen, "Mengapa tidak mempekerjakan orang Kristen?" Dia menjawab, "Kristen atau non Kristen tidak ada bedanya." Seharusnya tidak demikian. Orang Kristen adalah kristus-kristus (Kristus kecil) yang hidupnya serupa dengan Kristus. Jadi, dalam bekerja harus lebih baik daripada orang non Kristen. Jika Kristus tidak mencuri, orang Kristen seharusnya juga tidak mencuri.

Saat ini di media sosial terjadi banyak perdebatan tentang keselamatan. Kebenarannya adalah:
* Saat ini kita SUDAH diselamatkan. Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita sudah diselamatkan. Kita harus yakin akan hal ini.
* Saat ini kita SEDANG diselamatkan. Ini artinya kita sedang dikuduskan secara terus menerus. Dalam proses ini kita masih bisa jatuh, tetapi kita akan terus menerus dikuduskan. Ini proses yang terpenting.
* Nanti kita AKAN diselamatkan. Hal ini terjadi ketika kita sudah diberi tubuh kemuliaan.

Ada seorang ibu yang sakit. Sebelumnya dia rajin melayani. Namun, ketika dia sakit dan dokter sudah angkat tangan, dia mulai meragukan Tuhan. Dia bertanya, "Apa Tuhan sungguh ada?" Dia hampir saja kehilangan keselamatannya pada akhir hidupnya. Di sisi lain ada orang yang senasib dengan ibu itu, tetapi dia berkata, "Jika Tuhan tidak menyembuhkanku di dunia ini, Dia akan menyembuhkanku di surga."

Keselamatan kita bukanlah hasil usaha kita. Jadi, tak ada yang bisa memastikan bahwa kita akan mampu mempertahankan iman hingga akhir usia. Kedua pengalaman tersebut seharusnya membuat kita sadar bahwa kita membutuhkan belas kasih Tuhan. Hanya karunia Tuhan yang akan memampukan kita untuk beroleh keselamatan.

Kita tidak berhak menghakimi sesama. Ketika ada pelacur yang mau dilempari batu sampai mati, secara terus terang Yesus berkata, “Siapa yang tidak pernah memakai wanita ini, silahkan melempar batu terlebih dahulu.” Maka, satu per satu pergi dari sana karena mereka semua pernah memakai wanita tersebut.

Ketika kita menginjili orang berusia 50 tahunan, mungkin dia tetap tidak mau berubah. Tetap doakan saja karena hanya Roh Kudus yang bisa mengubahnya. Bukan kepandaian atau kehebatan kita yang bisa menyelamatkan orang. Ketika salah satu anggota keluarga kita tiba-tiba berkata, "Aku mau baptis", padahal sebelumnya tidak mau, inilah karya Roh Kudus. Keselamatan adalah karya Roh Kudus.

Hal yang Harus Dilakukan:
1. Tinggalkan Identitas Lama.
2. Hidup sebagai anak Tuhan.
3. Melayani Tuhan.

SETIA SAMPAI AKHIR
Kubersyukur Kau memilihku menjadi hamba-Mu, melayani-Mu. Seg'nap hidupku kuserahkan untuk kemuliaan-Mu.
Chorus: Kumau setia sampai akhir, melayani seumur hidupku, sampai kudapatkan mahkota kehidupan di dalam k'rajaan-Mu.

Sunday, July 26, 2026

Apa Hanya Aku yang Aneh Sendiri?

Ciri Hati yang Berserah
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 26 Juli 2026

Berdandan? Baik siap hidup maupun siap mati, aku tidak suka berdandan. Hehehe... apa hanya aku yang aneh sendiri? Jelas tidak karena beberapa remaja muda juga seperti ini. Jika bisa dipermudah, kenapa harus mempersulit diri sendiri sih? Ketika ada undangan pesta dari keluarga kaya dan mereka rela merogoh koceknya untuk mendandaniku, ah ini merupakan berkat sekaligus salib.

Untunglah aku bukan Ester. Tak bisa kubayangkan jika tiap hari harus berdandan. Hal paling menyiksaku adalah saat harus memakai eyeliner dan fake eyelashes. Aduh, untung deh aku hanya rakyat jelata sehingga setiap hari tak wajib memakainya kemana-mana... hahaha...

Nah, karena tak suka berdandan, beberapa orang mengira usiaku masih dua bebek. Padahal, tahun ini usiaku sudah dua kursi. Sebenarnya sih merupakan suatu berkat terindah diberi karunia awet muda. Namun, hidup selalu seperti sekeping koin yang memiliki dua wujud. Di balik hal buruk, ada hal baik. Di balik hal baik, ada efek sampingnya.

Jika hanya ciwi-ciwi atau emak-emak yang salah paham dengan usiaku, tentu tak masalah. Namun, jika titi-titi yang salah paham dengan usiaku, wah ini bisa menjadi pertanda akan adanya perkara aneh bin ajaib.

Beberapa waktu lalu ada tetangga baru. Kami pun berkenalan. Dia menjabat tanganku erat-erat. Seumur hidupku jarang sekali ada orang yang berbuat hal ini. Biasanya jabat tangan seperti ini hanya diberikan oleh beberapa orang yang merasa berhutang budi atas kebaikanku.

Ketika dia menjabat tanganku, aku langsung teringat kepada kisah yang serupa. Sekalipun orang-orang itu tak bicara dan hanya menjabat tanganku, aku bisa merasakan ucapan terima kasihnya lewat gerakan dan bahasa tubuh mereka. Namun, kali ini seharusnya agak berbeda. Dia tidak mungkin berhutang budi kepadaku karena kami baru berkenalan.

Jika hal itu hanya untuk menunjukkan rasa percaya dirinya, jabat tangannya juga terasa berbeda. Aku pernah berjabat tangan dengan beberapa pendeta. Jabat tangan mereka juga erat dan mantap. Dari jabat tangan tersebut aku bisa merasakan kepercayaan diri mereka yang tinggi.

Jadi, sekalipun jabat tangannya sama-sama erat, rasanya tuh berbeda. Namun, perbedaan rasanya tuh tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Jabat tangan tidak hanya melibatkan tangan, tetapi juga kontak mata, gerak bibir, dan posisi tubuh. Jika kombinasinya sama, maknanya bisa sama. Jika kombinasinya sedikit berbeda, maknanya bisa berbeda. Aku sih lebih suka menjabat tangan orang lain, seperti kebanyakan orang yang biasa-biasa saja agar tidak meninggalkan kesan apapun… semoga saja ya.

Singkat cerita, pada suatu hari dari jarak lebih dari lima meter kudengar dia dan sesama titi sedang membahas tahun kelahiran mereka. Rata-rata mereka lahir pada tahun 1990-an. Lalu kudengar mereka mulai menyebut beberapa nama lain yang juga lahir pada tahun 1990-an. Nah, kudengar dia menyebut namaku lalu temannya menjawab, "Tidak termasuk. Bu Rully sudah tua." Hahaha... aku berpura-pura tidak mendengarnya dan tidak mau ikut campur. Toh kebenaran sudah diungkapkan.

Namun, agar makin meyakinkan dia, pada suatu kesempatan aku bersaksi kepadanya tentang mujizat Tuhan yang membawaku masuk Kristen dan batal baptis Katolik. Eh, ternyata dia Katolik sejak lahir. Lantas ketika dia menanyakan tempat kerjaku, kuundang dia untuk melihat profil Linkedin-ku. Nah, di sana dia bukan hanya bisa melihat riwayat pekerjaanku, dia juga bisa melihat riwayat pendidikanku.

Jika temannya hanya bisa mengatakan kepadanya bahwa aku sudah tua, dari Linkedin terlihat jelas perbedaan usianya tuh 15 tahun. Bahkan, sebenarnya berbeda 16 tahun karena pada tahun 1980-an aku tidak boleh masuk TK sebelum genap 5 tahun. Namun, pada tahun 1990-an umur 3-4 tahun pun boleh sekolah.

Nah, setelah hari itu, dia terkesan menjaga jarak dan pendiam. Sebagai spons emosi, aku bisa merasakan sepertinya dia ingin marah, tetapi tak tahu harus marah kepada siapa. Dia tidak mungkin marah kepadaku karena aku selalu berpenampilan polos apa adanya, tanpa riasan tebal untuk menutup kerutan, dan tanpa topeng atau masker. Itu semua menunjukkan bahwa aku tidak berniat memalsukan umurku.

1 Timotius 2:9-10 (TB) Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.

Masa dia mau memarahi dirinya sendiri karena telah salah menilai buku dari sampulnya? Jelas tidak mungkin juga karena pada dasarnya setiap orang tuh mencintai dirinya sendiri. Mau marah kepada Tuhan yang telah merias wajahku secara natural? Tidak mungkin juga toh karena Dia pasti tahu bahwa Tuhan berhak atas segalanya.

Maka dari itu, dia hanya bisa memendam kekesalannya. Namun, beberapa hari kemudian dia sudah mulai terlihat normal kembali. Mungkin dia sudah mendapat pencerahan ilahi... xixixi... Kuanggap jabat tangannya saat itu adalah ucapan terima kasih yang diberikan di depan.

KU TAK AKAN MENYERAH
Dalam s'gala perkara Tuhan punya rencana yang lebih besar dari semua yang terpikirkan. Apapun yang Kau perbuat tak ada maksud jahat s'bab itu kulakukan semua dengan-Mu Tuhan.
Chorus: Ku tak akan menyerah pada apapun juga sebelum kucoba semua yang kubisa tetapi ku berserah kepada kehendak-Mu. Hatiku percaya Tuhan punya rencana.
Ending: Hatiku percaya, Tuhan punya rencana. Hatiku percaya, Tuhan punya rencana.

Ciri Hati yang Berserah - Ps. Hendra Haryanto

Tongkat Emas untuk yang Berserah
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 26 Juli 2026

Tiga Ciri Hati yang Berserah:

1. Tenang dan Tidak Panik. Ketika terancam mati, Ester tenang dan berdoa. Dia berserah kepada Tuhan, "Jika harus mati, biarlah aku mati."

Setelah berpuasa dan siap mati, Ester berdandan. Jika kita mau mati, akankah kita masih berdandan? Namun, Ester tetap tenang dan berdandan dulu sebelum menghadap raja. Lantas raja mengulurkan tongkat emas kepadanya. Jadi, Ester tidak mati setelah berserah kepada Tuhan.

Jika kita mengalami krisis keuangan, apa tidak panik? Tenang dan berdoalah. Tuhan akan memeliharamu. Jika kita kehilangan pekerjaan, tetap tenang dan berdoa. Tuhan sanggup membuka jalan.

Taat kepada Tuhan itu seperti ini. Ketika kita sedang mengemudi lalu diminta belok kiri, kita pun belok kiri. Tidak taat berarti ketika diminta belok kiri, kita justru belok kanan. Ketika taat, kita masih mengetahui arahnya.

Sementara itu, berserah seperti diminta melepaskan setir. Kita tidak tahu hasil akhirnya, apakah akan menabrak, masuk jurang, atau selamat?  Namun, kita tidak perlu khawatir karena Tuhan yang akan memelihara kita. Bawa semua ketakutan kita kepada Tuhan.

Filipi 4:6 (TB) Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

2. Percaya kepada kehendak Tuhan dengan segenap hati. Seringkali kita ingin memaksa Tuhan untuk mengikuti rencana kita. Padahal, kita bukan Tuhan dan kita tidak akan sepintar Tuhan. Justru Tuhan serba tahu dan Dia memegang kendali atas hidup kita.

Amsal 3:5-6 (TB) Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Kita harus mengakuinya di setiap langkah kita sehingga ketika salah jalan, Tuhan bisa meluruskannya.

3. Menerima jawaban Tuhan. Jawaban Tuhan ada tiga macam.
* Ketika dijawab YA, tentu kita akan senang.
* Ketika dijawab TIDAK, tentu kita merasa sakit hati. Namun, jika kita masih percaya kepada-Nya, rasa sakit ini akan segera hilang dan kita kembali memuji-Nya.
* Hal yang paling tidak enak ketika dijawab TUNGGU. Pada momen seperti ini Tuhan mengajar kita untuk bersabar dan percaya dengan waktu-Nya.

Selanjutnya, mari kita renungkan isi koper kita. Apakah isinya sarat dengan kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, atau kemarahan? Serahkan kopermu kepada Yesus. Biarkan Dia memulihkanmu.

BERSERAH kepada YESUS
Bait 1: Berserah kepada Yesus, Tubuh, roh, dan jiwaku. Kukasihi, kupercaya, Kuikuti Dia t'rus.
Reff: Aku berserah, aku berserah pada Yesus, Juru Selamat, aku berserah.
Bait 2: Berserah kepada Yesus di kaki-Nya 'ku sujud. Nikmat dunia kutinggalkan. Tuhan, t'rima anak-Mu.
Bait 3: Berserah kepada Yesus 'ku jadi milik-Mu. B'rilah Roh-Mu meyakinkan bahwa Kau pun milikku.
Bait 4: Berserah kepada Yesus kuberikan diriku. B'ri kasih-Mu dan kuasa-Mu. Ya, berkati anak-Mu.
Bait 5: Berserah kepada Yesus, Kurasakan api-Nya. Kar'na s'lamat yang sempurna, Puji, puji nama-Nya.

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.