Sunday, May 10, 2026

Kamu Bangun Jam Berapa?

The Divine Frequency
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 10 Mei 2026

Dhuar.
Aku tetap bekerja di depan laptop.

DHUAR.
Aku langsung berdiri dan menoleh ke kanan sambil berkata, "Kenapa ledakannya makin parah?" Kulihat di dalam ruang kerja itu hanya ada aku dan seorang bawahan cowok yang tetap duduk diam di kursinya sambil melihat ke arahku. Dia tidak melakukan apapun.

Aku pun terjaga dari tidurku, tetapi mataku tetap terpejam. Kudengarkan suara-suara di luar. Tampak tenang. Tidak ada kegaduhan. Sepertinya aman dan hanya mimpi. Apakah akan terjadi ledakan kebangunan rohani yang besar dan dahsyat?

Kubuka mata dan kulihat masih jam 5 pagi. Hari itu hari Kamis, 7 Mei 2026. Aku tidak mendengar bunyi alarmku karena belum waktunya berbunyi. Karena tidur larut malam, aku berpikir untuk bangun agak siang. Namun, sepertinya aku sengaja dibangunkan oleh Roh dengan suara ledakan yang super dahsyat. Karena sudah beberapa hari ini susah bangun pagi, aku pun tidak sempat membaca Alkitab.

Matius 26:41 (BIMK): "Berjaga-jagalah, dan berdoalah supaya kalian jangan mengalami cobaan. Memang rohmu mau melakukan yang benar tetapi kalian tidak sanggup, karena tabiat manusiamu lemah."

Ah, tubuh ini lemah karena masih perlu tidur, tetapi Roh benar-benar kuat. Entah apa sumber ledakannya hingga bunyinya super nyaring. Untung aku cukup tenang dalam hadirat Tuhan sehingga tidak langsung lari, tetapi berpikir dulu. Jika rohku lemah, mungkin aku akan langsung jatuh dari tempat tidur karena berusaha lari, padahal hanya karena mimpi.

Cowok di dalam mimpiku adalah salah satu sosok yang telah terinfeksi virus Ratu Drama. Karena hal ini, aku bertambah sibuk dan lelah. Anak muda yang seperti dia bukan hanya satu pula. Cewek pun bisa berulah yang sama. Seperti tergambar dalam mimpiku, cowok itu tidak bekerja sungguh-sungguh dan hanya menunggu jam pulang. Ah, dia cocok menjadi anaknya Ratu Drama.

Rasanya capek sekali berurusan dengan para pelaku drama seperti mereka. Kemudian aku teringat lagu "Bangkit dan bersinar bagi-Mu, serukan nama-Mu atas kemenanganku." Maka, sambil bangkit dari tempat tidur, aku bergumam, "Iya, aku sudah menang. Virusnya sudah kutangani." Lalu hari itu aku membaca Alkitab lebih banyak daripada hari-hari sebelumnya karena bangun sejam lebih awal daripada biasanya.

TERANGI DUNIA ~ GMS Live
Woo, o, o, wo, o, ow (x3). Woo, o, o, wo, o, ow (x3).
Bangkit, kumau bangkit bagi-Mu. Bersinar dan memuliakan-Mu. Maju, kumau maju bagi-Mu. Berjalan dengan kuat imanku.
Pre Chorus: Kumau hidup jadi terang-Mu. Terangi dunia di sek'lilingku.
Chorus: Bangkit dan bersinar bagi-Mu. Serukan nama-Mu atas kemenanganku. Maju dan tinggikan nama-Mu. Saksikan kemenangan. Nyatakan Kaulah Tuhan di hidupku. Woo, o, o, wo, o, ow (x3)

Di tempat kerjaku masalah gaji tidak bersifat personal, tetapi publik. Pada awalnya semua orang Indonesia terkejut dengan sistem ini, tetapi lama-lama terbiasa. Jadi, semua orang langsung mengetahui ketika gaji seseorang dinaikkan. Sayangnya, setelah cowok itu mendapat kenaikan gaji karena pura-pura lembur di depan pimpinan, dia justru menurunkan kualitas kerjanya dengan cara pura-pura sibuk. Jadi, banyak orang membicarakan dia.

Aku pun menyadari hal yang sama dan telah berulang kali mengingatkannya, tetapi dia tidak berubah. Dulu rajin ketika hanya memiliki satu keahlian. Namun, setelah kuajari keahlian baru, dia merasa sudah bisa semuanya.

>> Baru pintar sedikit, dia sudah ngelunjak. <<
Ini menggambarkan situasi di mana seseorang merasa sombong, bertingkah seenaknya, atau melampaui batas setelah mendapatkan sedikit pengetahuan atau pencapaian baru. Fenomena ini sering dikaitkan dengan Dunning-Kruger effect, yaitu kondisi psikologis di mana seseorang merasa lebih pintar atau mampu daripada sebenarnya karena pengetahuan mereka masih terbatas, sehingga tidak menyadari ketidakmampuannya sendiri.

Dia pikir posisinya tak bisa digantikan sehingga dia masih berani meminta tambahan reward lagi ketika diminta belajar hal baru lagi. Padahal, dia mendapat kenaikan gaji karena drama yang memancing kasih karunia, bukan karena hasil kerjanya sangat memuaskan. Bahkan, dia pelupa. Selain itu, aku sudah pernah memberitahunya bahwa ilmu itu mahal. Seharusnya dia bersyukur jika diberi kesempatan untuk belajar hal baru karena kuliah saja bayar.

Nah, di tempat kerja kita bisa belajar dan dibayar. Kok bisa dia malah malas setelah diberi kenaikan gaji? Kok bisa malah minta gaji di depan sebelum belajar hal baru lagi? Sungguh tidak tahu bersyukur. Maka, aku terpaksa memberinya surat peringatan pula karena tidak mengerjakan tugas. Lalu dia bertanya, "Tugas apa yang tidak kukerjakan?" Aku pun menyebutkannya satu per satu. Dia hanya menjawab, "Oh iya ya" dan diulang hingga tiga kali.

Amsal 6:6 (TSI) Hai orang malas, semut-semut pun lebih baik daripadamu! Perhatikanlah cara hidup mereka dan belajarlah menjadi bijak!

Mungkin dia berpikir bahwa aku tidak bisa mengawasinya selama delapan jam kerja karena tidak duduk di sebelahnya. Jadi, aku tidak akan tahu kelakuannya. Namun, informasi gaji yang serba terbuka dan transparan seringkali cukup membantu.

Mereka yang rajin tidak akan tinggal diam jika melihat seseorang tiba-tiba malas, terutama setelah gajinya dinaikkan karena drama picisan. Para pelaku drama pasti menjadi bahan pergunjingan karena sifat tidak tahu malunya itu. Jadi, pengawasan sosial amat berguna untuk memantau para pemalas. Mereka selalu mendapat sanksi sosial ketika berulah sok sial.

The Divine Frequency ~ Ps. Frederick Abel

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 10 Mei 2026

Yohanes 4:23-24 (TB) Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Minggu lalu kebenarannya sudah dibahas. Jadi, minggu ini akan membahas tentang roh. Ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia terlebih dahulu menciptakan tubuh. Agar tubuh manusia menjadi hidup, Tuhan menghembuskan nafas atau Roh ke dalam tubuh. Roh tidak memiliki batasan ruang dan waktu, sedangkan tubuh memiliki batasan. Contoh: Sekalipun pintu gereja ditutup, Roh tetap bisa masuk.

Sebenarnya Roh dan tubuh tidak bisa bersatu karena perbedaan karakteristik tersebut. Namun, di dalam tubuh manusia juga ada jiwa. Jiwa merupakan penghubung antara tubuh dan Roh. Ini seperti televisi yang membutuhkan konektor untuk menghubungkan AV dengan HDMI.

Di dalam jiwa ada pikiran, perasaan, dan kehendak. Ketiganya disebut hati. Jadi, hati (bukan liver) terletak di dalam jiwa. Salah satu cara berhubungan langsung dengan Tuhan adalah melalui Roh.

Amsal 20:27 (TB) Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.

Roh adalah cahaya Tuhan yang bisa menyelidiki seluruh diri kita. Jika kita tidak menjaga kekuatan Roh dengan berdoa, menyembah, dan mendengarkan firman Tuhan, Roh kita akan lemah. Jika Roh kita lemah, ada selubung yang membuat kita tidak bisa mendengar suara Tuhan. Nah, iblis tidak suka kita terhubung dengan Tuhan. Jadi, dia akan berusaha mencuri atau membunuh iman kita. Namun, Tuhan datang memberi kita hidup dalam segala kelimpahan.

Amsal 4:23 (TB) Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Menurut bahasa Indonesia sehari-hari, ayat tersebut berpesan, "Jagalah hatimu baik-baik karena hatimu akan menentukan jalan hidupmu." Jika tidak mengisi hati kita dengan firman Tuhan, doa, dan penyembahan, iblis bisa menyerang kita dengan mudah.

Cara iblis menyerang kita adalah melalui panca indera. Contoh: Kita melihat orang lain membeli mobil baru lalu kita iri kepadanya. Namun, jika hati kita sudah dipenuhi oleh Roh, tentulah hal-hal jahat tidak bisa mempengaruhi kita. Jika hati kita jahat, jahatlah perbuatan kita. Namun, jika hati kita baik, tentu baik jugalah perbuatan kita.

Jika hatimu dipenuhi kepahitan, jangan minta pendeta untuk mendoakanmu. Justru ini tugasmu untuk menyembuhkannya sendiri dengan cara berdoa dan menyembah Tuhan.

Roh bisa menembus jiwa. Bahkan, bagi beberapa orang, Roh bisa memasuki tubuhnya hingga mereka jatuh atau rebah pada saat mengalami jamahan-Nya. Namun, Roh tidak bisa memenuhi kita jika kita tidak mau mengisi hati kita dengan doa dan penyembahan yang benar kepada Tuhan. Memang sebagai manusia kita tidak bisa benar di hadapan Tuhan. Namun, karena darah Kristus, kita menjadi orang yang dibenarkan.

1 Korintus 14:4 (TB) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.

Andrew B. Newberg meneliti dan melihat bahwa orang yang berbahasa roh tidak menggunakan pikirannya sendiri. Ketika diminta berkata, "Na na na", otak akan memikirkan ini. Namun, ketika berbahasa roh, tidak ada aktivitas otak. Hal ini membuktikan bahwa bahasa roh bukan berasal dari pikiran manusia.

Tanpa roh yang kuat, kita tidak akan punya kuasa. Jam berapa kamu bangun? Mungkin jam 10 sehingga tidak sempat berdoa. Padahal, kita bisa berdoa dimana saja. Kita pun bisa berdoa sambil bekerja. Namun, tentu lebih baik jika kita meluangkan waktu khusus untuk berdoa dan menyembah Tuhan.

Cara Menjaga Roh, yaitu:
1. Super jaga hati dari semua hal yang masuk.
2. Menyembah dan berdoa dengan sungguh-sungguh secara konsisten.

Ketika kita sedang sedih lalu mendengar lagu rohani yang tepat, seringkali kita menangis. Apakah kita menangis karena lirik lagunya sangat tepat dengan situasi kita? Apakah kita menangis karena musiknya melow? Apakah kita menangis karena merasakan jamahan Tuhan? Jika kita tidak bisa merasakan jamahan Tuhan, tidak akan ada yang berubah. Namun, jika kita sungguh-sungguh menyembah Tuhan, ketika keluar dari ruang doa, kita tidak akan pernah sama lagi.

SAAT KUMENYEMBAH-MU
Saat kumenyembah-Mu, Roh-Mu bekerja. Saat kumemuji-Mu, Kau bertahta di atas pujian.
Chorus: Kuangkat hatiku, kupandang kekudusan-Mu. Saat kusembah, kupuji-Mu, kurasakan kehadiran-Mu Tuhan.
Ending: Kurasakan kehadiran-Mu Tuhan. Kurasakan kehadiran-Mu Tuhan.

Kamu Bangun Jam Berapa?

Sunday, May 3, 2026

Belum Ada Buku Panduannya

Kami Tidak Mengerti
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 3 Mei 2026

Jadi, pak tukang berjanji untuk kembali besok siang setelah membeli MCB 6A dan kotaknya. Sebelum pulang dia pun memasang solasi pada kabel yang terbuka dengan bantuan gunting. Namun, solasinya tidak sempurna dan kabel itu tetap berbahaya jika disentuh.

Eh, besoknya si tukang tidak datang. Ketika ditanya, dia menjawab, "Motorku meletus." Oalah... ada-ada saja sih. Oh Tuhan, kenapa calon penolong kami malah berhalangan? Kapan masalahnya selesai? Kapan kegelapan itu sirna?

Ujarku, "Pokoknya papa mama jangan masuk ke gedung belakang yang gelap. Ada kabel terbuka yang berbahaya jika disentuh." Jadi, hanya aku yang tetap masuk ke gedung belakang karena lemari bajuku di sana. Namun, tiap kali memasukinya, kuingatkan diriku untuk waspada terhadap kabel terbuka. Agar tidak khawatir, aku juga mengingatkan diriku bahwa sertifikat wisuda papa sudah kuambil sehingga tidak bisa diproses oleh petugas dalam mimpiku itu.

Menjelang pagi aku seperti mendengar seseorang berkata, "Allah bertindak. Tiada mata yang melihat apa yang Tuhan lakukan." Lantas aku teringat lagu Allah Bangkit. Maka, aku berkata, “Karena Allah bangkit, aku juga bangkit.” Kemudian kucari ayat Alkitab terkait hal itu karena sepertinya pernah kubaca di Alkitab.

Yesaya 64:4 (TB) Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian.

ALLAH BANGKIT
Kerahkanlah kekuatan-Mu Ya Allah. 🙏Tunjukkanlah kuasa-Mu Ya Tuhan. 💪
Serakkan musuh-Mu.
👊 S'lamatkanlah umat-Mu. 🫶 Allah dahsyat di tempat kudus-Nya. 🫰
Chorus: Allah bangkit, bersoraklah.
🥳Allah bangkit, bernyanyilah. 💃 Musuh dikalahkan, umat-Nya dibebaskan. 😇 Allah dahsyat di tempat kudus-Nya. 👏
#AllahBangkit #AllahBertindak #AllahDahsyat

Mazmur 68:29 (TB) Kerahkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, tunjukkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, Engkau yang telah bertindak bagi kami.

Nah, hari itu tukang datang pagi sesuai janjinya. Dia datang bersama keponakan laki-lakinya. Ternyata keponakannya ahli dalam memperbaiki kerusakan alat-alat listrik. Maka, dalam waktu sekitar tiga jam, MCB telah diperbaiki, beberapa saklar lampu yang rusak karena semut juga diganti, kipas angin rusak pun turut dibersihkan dan diperbaiki. Bahkan, cetakan kue dan sambungan kabel yang rusak juga dibenahi. Lampu-lampu yang mati atau redup juga diganti.

Hahaha... ketika Allah bertindak, semua beres. Namun, kekhawatiran kembali muncul ketika kulihat MCB terpasang tuh 10A, bukan 6A sesuai permintaan papa dan informasi dari tukang. Namun, tukang itu mengatakan bahwa dia sudah bertanya kepada orang PLN dan MCB yang dipasang sudah sesuai dengan MCB yang rusak. Katanya, orang PLN juga tidak menyarankan MCB diturunkan jadi 6A.

Alhasil, MCB yang sudah dibuang di pohon keres segera diambil lagi oleh mama. Kulihat MCB rusak memang 10A. Ternyata papa yang salah membaca tulisan pada MCB. Dia melihat tulisan 6000 yang tercetak besar sebagai 6A padahal angka 6000 ini tidak terkait dengan ampere. Mungkin hanya kode produksi atau ada arti lain. Justru tulisan kecil mungil (C10) yang menunjukkan jumlah ampere-nya, tetapi papa tidak bisa melihatnya tanpa kacamata. Fiuh… untung tidak salah pasang MCB.

Setelah itu barulah aku mencari tahu di Google, "Kenapa MCB bisa hangus tanpa membakar area sekitarnya?" Ternyata MCB tuh dibuat tahan api. Jika area sekitarnya tidak mudah terbakar, api di MCB tidak akan sampai menyebar.

Namun, katanya MCB harus diganti jika telah berusia lebih dari 10 tahun. Ada yang menulis kisaran usia MCB hanya 15-20 tahun. MCB kami yang hangus tuh usianya sudah lebih dari 18 tahun. Ketika memasangnya, kami tidak pernah diberi buku panduan penggunaan MCB dan masa kadaluarsanya.

Om Google pun mengatakan bahwa MCB yang hangus tidak boleh dinaikkan tuasnya. Lha... informasi sepenting ini juga tidak pernah diberikan pada saat pemasangan MCB. Untung loh saat tuasnya kunaikkan, hanya muncul bunga api sekali saja.

Saat itu aku pun tidak tahu jika MCB sudah hangus karena tempatnya gelap. Seharusnya kuambil senter dulu sebelum ke tempat MCB. Namun, aku tidak berpikir bahwa MCB telah hangus karena aku tidak mencium bau terbakar. Mama hanya mengatakan bahwa sehari sebelumnya dia sempat mencium bau terbakar. Namun, dia mencari sumber bau itu di dapur dan tidak menemukannya. Oh, syukurlah apinya jinak.

Nah, peristiwa semacam ini bisa menyadarkan kita betapa rapuhnya manusia. Pengetahuan kita terbatas. Keahlian kita pun terbatas. Buku panduan yang kita butuhkan juga terbatas. Bahkan, ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, jika kita tetap berpegang teguh pada Sang Pengendali Hidup, kejutan-kejutan tak menyenangkan ini masih bisa kita tanggung bersama-Nya.

Kami Tidak Mengerti

Renungan Akhir-akhir Ini
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 3 Mei 2026

Sabtu minggu lalu aku bertanya kepada IT, "Tumben belum pulang. Biasanya kamu selalu pulang tepat waktu." Dia menjawab sambil menunjuk layar monitor yang sedang diperbaikinya." Lantas tiba-tiba dia berkata, "Dulu rumahku di TPI, tak jauh dari rumahmu sekarang." Dia pindah dari sana karena mencari rumah yang lebih murah.

Seketika aku bersaksi, "Iya, di sana iuran rumahnya mahal. Dulu aku pernah tinggal di sana setelah rumahku terbakar sekitar akhir tahun 2007. Itu rumahnya ketua Konghucu. Kami dipinjami dan iurannya pun dibayar sendiri oleh mereka. Banyak mujizat kualami setelah kebakaran itu."

Lalu aku bercerita singkat tentang mujizat yang kami alami sambil bertanya, "Apa saat itu kamu juga melihat kebakarannya?" Dia mengatakan bahwa saat itu dia masih SMP dan dia hanya mendengar cerita itu dari ibunya. Kataku sambil tertawa, "Selama aku tinggal di sana selama sekitar dua bulan, aku juga belum pernah melihatmu."

Eh, saat malam tiba kulihat gedung belakang rumahku diliputi kegelapan pekat. Seketika kusadari ada yang tidak beres karena biasanya papa tidur sambil menyalakan lampu lorong. Lantas kutekan saklar lampu kamar mandi. Benar saja. Kegelapan tidak sirna. Aku bergegas ke tempat MCB. Kulihat tuasnya tidak turun, tetapi kupikir tuasnya kurang ke atas. Jadi, kudorong sedikit untuk memastikan posisi tuasnya benar-benar di atas.

Seketika timbul percikan bunga api sehingga secara spontan aku mundur selangkah. Bunga api merupakan salah satu bunga yang tak kusukai. Namun, sekalipun tak suka kepadanya, mataku tak mau berkedip menyaksikan kepergiannya. Kupandangi MCB itu sambil harap-harap cemas, "Semoga tidak ada api lanjutan yang keluar dari dalam MCB."

Nah, setelah 1-2 menit yang mencekam, aku pun merasa aman. Lalu pergi mengambil senter dan kembali ke tempat MCB. "Siapa di dalam sana?" Teriakku. Oh bukan, bukan seperti itu. Seketika aku berteriak, "Ma, kemarilah! MCB rusak. Lihatlah kotak MCB sedikit hangus dan sedikit terbuka. Besok kita harus panggil tukang."

Lantas mama melihatnya dan berkata, "Turunkan saja tuas MCBnya." Jawabku, "Tadi tuasnya sudah kunaikkan, tetapi malah keluar bunga api. Kalau mau, mama saja yang turunkan tuasnya." Mama juga tidak berani. Lantas kuminta ortu pindah ke kamar depan yang masih terang karena terhubung dengan MCB lain.

Mama berpesan, "Sering-seringlah kamu melihat MCBnya karena mungkin ada apinya." Jawabku, "Tidak ada. Kalau mau, mama aja yang tidur dekat MCB." Mama pun tidak mau dan hanya berkata lagi, "Nanti kalau ke kamar mandi, kamu lihat saja MCBnya." Kujawab ya, tetapi saat ke kamar mandi, aku lupa melihatnya lagi.

Di depan MCB kugantung selimut anti api (kata penjual) yang belum pernah kubuktikan kebenarannya dan tidak ingin kubuktikan, kecuali terpaksa. Ketika melihat bunga api, aku pun tidak bersiaga membuka selimut itu. Aku hanya bisa tertegun sambil harap-harap cemas seperti pada saat meteran listrik terbakar. Ah, kupikir aku hanya bisa menangani hal-hal yang kupahami.

Tadi siang aku baru saja bersaksi tentang mujizat Tuhan. Masa karena hal tersebut, iblis ingin membungkamku? Jika dia gagal mencuri, seringkali dia ingin membinasakan. Namun, kalau ada hal-hal di luar kendali, biarlah Tuhan yang mengambil alih. Aku yakin Dia ada di sini. Lalu aku tersenyum dalam kegelapan karena teringat lagu yang sangat tepat.

KIRI KANANKU ADA TUHAN
Kuselalu memandang Tuhan. Kuselalu memuji Dia. Kupercaya kepada Tuhan. Kuberpasrah kepada-Nya. Siang malam kuingat Tuhan kar'na Tuhan pelindungku. Dengan Dia ku takkan gentar menghadapi semua musuh.
Chorus: Kiri kananku ada Tuhan, sek'lilingku ada Tuhan. Dalam hidupku ada Tuhan, Yesus s'lalu bersamaku.

Yesaya 26:3 (TB) Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.

Kata papa, "Tidak usah panggil tukang. Aku bisa perbaiki sendiri semuanya." Kata mama, "Aku juga tahu kamu bisa perbaiki semuanya, tetapi ingat usia." Matanya sudah tak bisa melihat dengan jelas. Sering pula dia hilang keseimbangan. Maka, aku pun menimbrung percakapan mereka, "Sudah waktunya regenerasi. Biarkan yang muda yang beraksi. Panggil tukang saja."

Keesokan harinya semua tukang libur karena Minggu. Diam-diam papa melihat MCBnya. Untung dia tidak berusaha memperbaikinya dan hanya berkata, "MCBnya yang rusak." Lalu aku ke gereja dengan tenang. Senin beberapa tukang yang mau dimintai bantuan justru sedang ada pekerjaan di tempat lain. Selasa salah satu tukang bersedia datang pada malam hari setelah selesai bekerja di tempat lain.

Lantas malam itu dia melepas MCB untuk mengetahui kerusakannya. Wuih... bagian dalam MCB telah hangus sampai menghitam. Namun, dia tidak bisa langsung menggantinya karena tidak ada kotak MCB pengganti. Papa minta MCB 6A, tetapi di rumah hanya ada MCB 10A. Kata pak tukang, jika MCB terlalu besar, bahaya untuk dipasang karena jika terlalu panas, MCB tidak bisa jeglek (turun) dan bisa menimbulkan kebakaran.

Belum Ada Buku Panduannya

Renungan Akhir-akhir Ini

Rooted in The Word
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 3 Mei 2026

Aku berdiri di depan meja resepsionis sebuah kampus. Di dalam ruangan terlihat meja resepsionis yang elegan. Lampu ruangan pun terang benderang dengan cahaya putih yang cerah. Beberapa kursi tunggu tersedia di seberang resepsionis.

Beberapa pot tanaman juga tampak terlihat di beberapa sudut ruangan. Lantas seorang wanita muda dengan rambut hitam lurus berkata kepadaku dari balik meja resepsionis, "Hari ini papamu bisa diwisuda setelah dia menerima sesuatu dan menandatangani sertifikat ini." Namun, sesuatu yang dijanjikan itu belum diterima oleh papa.

Lantas wanita berseragam kemeja dan celana panjang navy itu sedang menunggu sesuatu dari petugas lain yang ada di belakangnya. Jadi, aku pergi keluar pintu. Di depan pintu kulihat taman yang indah dan jalanan paving yang bersih tertata. Kemudian kulihat gerbang besi bercat putih dengan ukiran indah melindungi seluruh isi taman dan kampus tersebut. Langit sudah gelap, tetapi beberapa cahaya lampu kuning menerangi kegelapan itu.

Gerbang itu terbuka dan kulihat beberapa orang masuk ke dalamnya, termasuk papa dan adiknya. Mereka tersenyum bahagia. Papa yang hampir 75 tahun terlihat kembali muda seperti masih berumur 40 tahun. Rambutnya yang memutih tampak kembali hitam. Tanpa bicara mereka berdua berjalan melewatiku dan masuk ke dalam ruang resepsionis.

Setelah terdiam sejenak, aku bergegas menyusul mereka kembali ke dalam. Petugas tadi berkata kepadaku, "Papamu telah menandatangani sertifikat wisuda ini." Seketika aku segera menarik kertas sertifikat berwarna kuning tersebut sambil berkata dengan keras, "Apa dia sudah menerima sesuatu itu? Jika belum, ini tidak sah. Seharusnya dia menerima itu dulu sebelum menandatangani ini."

Lantas petugas itu membalikkan badannya untuk berbicara dengan beberapa petugas lain yang wajib menyiapkan sesuatu itu. Sementara itu, dengan sudut mataku kulihat papa dan adiknya berada tak jauh dariku. Namun, karena terlalu lama menunggu petugas tadi, akhirnya aku keluar dari alam mimpi sambil membawa sertifikat wisuda papa. Ketika kubuka mata, kudapati tanganku kosong.

Apa sudah waktunya papa wisuda? Tanyaku dalam hati. Namun, Tuhan belum menepati janji keselamatan-Nya. Jika Tuhan mewisuda papa sebelum menepati janji-Nya, ini curang. Namun, Tuhan tidak mungkin melakukan kecurangan.

Sertifikat wisudanya juga sudah kusita dari petugas tadi. Jadi, pasti belum waktunya. Jika Tuhan bisa mengubah Saulus menjadi Paulus, seharusnya Dia juga bisa menyelamatkan papa karena papa tidak sekeras dan tidak sekejam Saulus. Dia pasti menepati janji-Nya.

JANJI-MU (GMS Live) ( youtu.be/-R66m76HwY8 )
Lebih dari para penjaga mengharap fajar pagi, segenap asaku dan relung hati berharap pada-Mu. Walau ku tak dapat melihat jalan-Mu, namun kumemilih ‘tuk percaya penuh pada-Mu Yesus.
Reff: Kupercaya akan janji-Mu. Tak sedetik pun aku ragu. Satu hal kutahu bahwa janji-Mu tak akan pernah lekang oleh waktu, pasti digenapi.
Bridge: Karena Kau yang berjanji adalah SETIA. Engkau yang lebih tahu...

Kami Tidak Mengerti

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.