Sunday, June 28, 2026

Aturan Tidak Jelas

Hidden Gem in The Family
Catatan Ibadah ke-1 Minggu, 28 Juni 2026

Ketika berlibur di Bali, kami berniat mencoba permainan ATV. Namun, harganya terlalu mahal. Maka, kami baru bisa mencoba permainan ini ketika berada di Bandung. Di sini instrukturnya menyampaikan petunjuk penggunaan ATV. Katanya kepadaku secara singkat, "Gagang setirnya tinggal diputar ke depan. Kanan gas, kiri rem."

Seketika aku langsung tancap gas dan meninggalkan memeku yang merasa terhalang oleh bebatuan di sepanjang jalan. Namun, bagiku bebatuan itu bukanlah halangan yang merintangi selama jalan di depanku masih lurus. Kemudian aku mulai berbelok ke kiri. Pada setengah perjalanan ini kulihat dinding kawat berada di depanku. Namun, tampaknya kali ini agak susah buatku untuk berbelok ke kiri lagi dalam kecepatan terkini.

Kucoba menekan rem tanpa melepas gas, tetapi remnya seperti tak berfungsi. Belakangan kuketahui dari titiku kalau gas harus dilepas jika mau mengerem. Ketika sadar ada bahaya mengintai di depan, biasanya orang lain akan berteriak. Namun, secara spontan kulepaskan pegangan tanganku dari kedua setir ATV sambil membatin, "Ya Tuhan, sepertinya aku akan menabrak."

Amsal 3:6 (TB) Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Bruak. Kutrabrak tumpukan ban di dekat pagar kawat. Seketika penjaga permainan ATV menghampiriku dan menanyakan keadaanku. Dengan tersenyum aku turun dari ATV dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Lalu dia membantuku untuk memutar ATV berat itu agar kembali ke jalan yang benar.

Tak lupa penjaga pagar ATV berpesan, "Gasnya jangan ditekan terus. Gas sekali. Kalau sudah jalan, dilepas saja." Ooo... kenapa aku tidak diberitahu dari awal oleh si instruktur? Lantas kuikuti saran penjaga itu dan permainanku menjadi lebih aman.

Memeku berkata, "Setiranmu itu mengerikan. Bisa-bisanya kamu langsung tancap gas. Pantas nabrak." Dia pun tidak mau lagi bermain ATV karena melihat resikonya padahal sewaktu di Bali dialah yang sangat ingin bermain ATV dan yakin aman.

Namun, di Bali aku justru menolak permainan ATV karena medannya melewati sungai. Ah, menyetir motor tak bisa. Berenang pun tak bisa. Lebih baik lupakan ATV. Jatuh di darat masih mudah ditolong, tetapi jika ditambah jatuh ke air, penolongnya akan kewalahan.

Nah, di Bandung memeku kembali ingin naik ATV. Ketika kulihat medannya hanya tanah kering dan jaraknya tidak terlalu panjang, aku pun setuju untuk mencobanya pula. Eh, siapa sangka memeku jadi enggan bermain ATV lagi setelah melihat permainan pertamaku yang memacu adrenalin itu.

Banyak hal di dunia ini ada aturannya. Bermain pun ada aturannya. Jika aturan ini tidak diikuti dengan benar, permainan pun bisa berubah menjadi petaka, terutama jika pengamannya (baik orang maupun alat) kurang diperhatikan.

Kemudian keponakan perempuanku memberitahu bahwa dari awal dia sudah diberi penjelasan lengkap oleh instrukturnya. Tanyaku heran, "Lha, kenapa hanya aku yang tidak dijelaskan dengan detail?"

Jawab titiku, "Mungkin kamu dianggap sudah bisa menyetir motor. Gas dan remnya seperti motor matic. Kalau di Bali, kamu pasti sudah jatuh karena medannya lebih berbahaya." Wah, padahal aku tidak bisa menyetir motor loh. Tak terbayang deh kalau sampai ditimpa ATV dan terkena knalpot. Untung saat menabrak pagar, ATVnya tidak jatuh sehingga aku tidak ikut jatuh.

Namun, kasihan keponakan laki-lakiku yang dibonceng papanya. Kakinya malah terkena knalpot padahal dia tidak jatuh. Dari awal dia sudah diberitahu agar tidak menyentuh area knalpot, tetapi karena keasyikan, jadi lupa deh. Ah, ternyata ATV memang cukup berbahaya bagi yang tidak bisa menyetir motor, seperti yang dikatakan oleh temanku.

Di dalam keluarga beberapa orang tua juga seringkali bersikap seperti instruktur ATV. Mereka tidak selalu memberikan aturan yang jelas karena mereka berasumsi anaknya sudah diajari detailnya di sekolah atau tempat kursus. Ini sebabnya ada beberapa anak yang melakukan tabrak lari karena mabuk. Nah, ketika anaknya salah langkah, mereka baru menyadari bahwa anaknya kurang memahami aturan berlalu lintas. Misalnya: dilarang menyetir dalam keadaan mabuk atau mengantuk.

Ada pula keluarga yang memberikan aturan sepihak, yaitu untuk anaknya saja. Anak dilarang merokok, tetapi bapaknya sendiri malah merokok. Ada pula bapak yang melarang anaknya berbohong, tetapi dia sendiri justru sering memberikan janji palsu kepada anak dan selalu membela orang-orang tidak jujur. Bagaimana anak bisa mengikuti aturan seperti ini?

Yonadab bin Rekhab tentulah memberikan aturan yang jelas (bukan dengan asumsi) dan disertai teladan. Bahkan, dia juga memberitahu dampak ketaatannya kepada keturunannya. Jadi, tidak heran jika keturunannya tetap menghormati dan menaatinya.

MENGIKUTI-MU
Tak ada ketakutan di dalam hidup ini setelah aku mengenal-Mu. Tak ada keraguan di dalam hati ini 'tuk tinggalkan masa laluku.
Dan mengikuti-Mu di s'panjang hidupku. Tak 'kan berpaling, kar'na aku tahu Kau sangat berharga dalam hidupku. Pengorbanan-Mu Yesus s'lamatkanku.
Dan mengiring-Mu sampai akhir hidupku. Kumau setia dan mengasihi-Mu, oh Yesus Tuhanku. Dunia tak bisa palingkanku dari-Mu.
Semua yang benar, suci, dan mulia, yang 'kan selalu di benakku.
Semua perintah-Mu dan ketetapan-Mu kutaati dan kulakukan. I will follow you, every single day. I want more of you. I will follow you, never turn away. Coz you are My Jesus.

Hidden Gem in The Family - Ps. Robert Tedjasukmana

Catatan Ibadah ke-1 Minggu, 28 Juni 2026

Jika kita berlibur di luar kota, luar pulau, atau luar negeri, tentu kita ingin menikmati pemandangannya. Namun, manusia hidup pasti perlu makan. Biasanya kita akan wisata kuliner dengan mencoba makanan yang khas dan unik dari daerah tersebut.

Sekalipun harus antri dan jalan menuju ke sana juga sempit, kita akan mendatanginya. Jika ada restoran yang menyajikan menu dengan resep turun temurun, kita pasti ingin mencobanya pula. Ini seperti menemukan hidden gem (permata tersembunyi).

Nah, di dalam keluarga juga ada permata tersembunyi. Resep rahasia untuk menikmati citarasa keluarga ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Kita bisa temukan di dalam keluarga Rekhab.

Yeremia 35:1-2 (TB) Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia di zaman Yoyakim bin Yosia, raja Yehuda, bunyinya: "Pergilah kepada kaum orang Rekhab, bicaralah dengan mereka dan bawalah mereka ke rumah TUHAN, ke dalam salah satu kamar, kemudian berilah mereka minum anggur!"

Yehuda sering mengecewakan Tuhan sehingga mereka diminta belajar kepada keluarga Rekhab. Keluarga ini masih merupakan orang Israel. Selama hidupnya mereka selalu menghormati dan mengikuti perintah leluhurnya. Nah, Tuhan ingin menunjukkan hal ini kepada Yehuda.

Hidden Gem 1: Menghormati dan Mengikuti Perintah Tuhan.

Yeremia 35:5 (TB) Di depan anggota-anggota kaum orang Rekhab itu aku meletakkan piala-piala penuh anggur dan cawan-cawan, lalu aku berkata kepada mereka: "Silakan minum anggur!"

Tuhan meminta Yeremia untuk mengundang keluarga Rekhab ke dalam bait Allah. Di sana mereka dibawa ke dalam suatu ruangan khusus. Lalu mereka diminta untuk meminum anggur yang sudah dihidangkan. Namun, keluarga Rekhab tidak mau meminum anggur tersebut. Mereka pun menyebutkan pancasila keluarga mereka yang telah ditetapkan dan diwariskan oleh Yonadab bin Rekhab.

Di dalam Yeremia 35:6-7 (TB) kita akan menemukan pancasila keluarga Rekhab, sebagai berikut:
1. Janganlah kamu atau anak-anakmu pun minum anggur sampai selama-lamanya;
2. Janganlah kamu mendirikan rumah,
3. Janganlah kamu menabur benih;
4. Janganlah kamu membuat atau mempunyai kebun anggur,
5. Haruslah kamu diam di kemah-kemah selama hidupmu,
supaya lama kamu hidup di tanah, di mana kamu tinggal sebagai orang asing!

Jadi, keluarga Rekhab tidak punya rumah. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu kemah ke kemah lain. Mereka juga bukan petani, tetapi gembala ternak. Kita bisa meniru keluarga Rekhab dengan mulai menentukan dan mewariskan aturan bagi keluarga kita. Kita bisa menggunakan pancasila atau dasasila yang memuat prinsip dan nilai-nilai kebenaran.

Mungkin ada aturan yang sudah berjalan, tetapi tidak tertulis. Kita bisa menyepakatinya dengan anggota keluarga. Jika ada ketidaksepakatan, kita bisa berdoa bersama hingga akhirnya beroleh kesepakatan. Contoh prinsip yang bisa kita terapkan, yaitu:
* Sekalipun ada konflik, tidak boleh kabur dari rumah. Sesama pasangan tidak boleh mengucapkan cerai karena Tuhan tidak berkenan dengan perceraian.
* Jika ke luar rumah, harus berpamitan sehingga tidak dicari-cari.
* Sesama anggota keluarga harus saling terbuka sehingga bisa saling memahami.
* Saat makan bersama, letakkan gadget. Biasakan berbincang secara langsung.
* Jika orang tua sudah mulai pikun atau tidak kuat berjalan, janganlah kita memarahinya atau berhenti mengajaknya pergi. Serumah atau tidak serumah, kita harus tetap memperhatikan orang tua.

Hidden Gem 2: Melayani Tuhan Seumur Hidup.

Yeremia 35:18-19 (TB) Tetapi berkatalah Yeremia kepada kaum orang Rekhab: "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Oleh karena kamu telah mendengarkan perintah Yonadab, bapa leluhurmu, telah berpegang pada segala perintahnya dan telah melakukan tepat seperti yang diperintahkannya kepadamu, maka beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Keturunan Yonadab bin Rekhab takkan terputus melayani Aku sepanjang masa."

Keluarga Rekhab melayani Tuhan dengan cara:
* Bersaksi melalui gaya hidup mereka yang sederhana.
* Menggunakan talenta mereka untuk melayani Tuhan.

Nehemia 3:14 (TB) Pintu gerbang Sampah diperbaiki oleh Malkia bin Rekhab, penguasa wilayah Bet-Kerem. Ia membangunnya kembali dan memasang pintu-pintunya dengan pengancing-pengancing dan palang-palangnya.

Di dalam bait Allah ada area yang kurang bagus jika dilihat sesuai namanya. Namun, orang Rekhab mau memperbaiki gerbang sampah sekalipun hal ini bukanlah pelayanan yang spektakuler dan juga kurang terlihat.

Jika ingin seperti keluarga Rekhab, kita bisa menghindari flexing (suka pamer kekayaan), terutama jika masih berhutang. Jangan biasakan diri berhutang atau pinjol karena ini memalukan. Jika tidak punya uang, kerjakan apa saja walaupun hasilnya hanya sedikit.

Kita pun harus berterima kasih kepada para usher yang mau melayani orang lain padahal dalam kesehariannya ada yang menjadi CEO dan biasa dilayani. Ada pula yang melayani dengan menyediakan kursi roda. Pelayanan ini pun bisa memuliakan Tuhan sekalipun bukan di atas mimbar.

BERKAT bagi KELUARGAKU
Kiranya Tuhan berkenan memberkati rumah k'luargaku. Apa yang t'lah Tuhan berkati, diberkatilah untuk selamanya.
Reff: Sebab Tuhan melindungi, Tuhan menyinari dengan wajah-Nya, Memb'ri kasih karunia, damai sejahtera. Tuhan Yesus, berkati.
Bridge: Tuhan baik untuk selamanya. Berkat-Nya melimpah seumur hidupku. (2x)

Aturan Tidak Jelas

Sunday, June 21, 2026

Kesepian dalam Keluarga

Keluarga Rohani Beda Casing
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 21 Juni 2026

Ketika aku tiba di rumah, tante yang setahun lebih tua dari mama itu langsung mengirim pesan WA, "Ini saya yang tadi ketemu di Galaxy Mall." Kupikir dia akan menanyakan alamat kerjaku untuk putrinya. Eh, ternyata dia membahas rujak Shultan yang sempat kami beli sendiri-sendiri. Kulihat di ulasan Google, harganya hanya Rp20.000, tetapi di bazar itu harganya Rp50.000,- Memeku juga salah info sehingga aku ikut antrian panjang nasi jukut. Ketika antrian di depanku tersisa tiga orang, aku baru sadar jika aku antri nasi jukut.

Seketika aku berpindah ke stand rujak di sebelahnya yang ternyata tak perlu antri. Awalnya aku ingin tidur, tetapi mama ingin lihat bazar karena termakan video tiktok. Maka, aku temani dia sambil menunggu memeku nonton film di bioskop bersama suami dan anak-anaknya. Jadi, kami senyumin aja ketika salah antri. Bukankah hari itu merupakan harinya buang-buang waktu dengan keluarga? Hahaha…

Untung rasanya enak, unik, segar, tetapi mehong nih sehingga nama Shultan cocok deh. Sesekali beli boleh lha. Berikutnya bisa buat sendiri yang lebih enak buahnya… hahaha… Jadi, saat di food court kami sempat saling bercerita kalau kami jarang ke mall, tetapi hari itu kami sama-sama ke mall karena ingin melihat bazar. Lebih tepatnya mamaku dan mama cowok itu yang sama-sama ingin melihat bazar. Kami hanya menemani mereka.

Maka, dia mengawali WA dengan bertanya tentang rujak Shultan tersebut. Selanjutnya, dia pasti penasaran dengan rahasia awet muda kami sehingga bertanya, "Jika kalian jarang ke mall, hiburannya apa? Apa tidak sumpek jika bekerja terus?"

Yohanes 5:17 (TB) Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga."

Loh, Bapaku bekerja terus sampai sekarang. Jadi, selesai bekerja aku masih belajar hal-hal baru untuk menambah keahlianku. Namun, tak mungkin deh kujawab begini karena dia pasti membutuhkan hiburan dunia. Maka, kujawab, "Di rumah lihat youtube atau tiktok. Kalau mama, suka karaoke." Hehehe... kalau dia tahu yang kulihat di youtube bukan hanya drama, tetapi juga video khotbah, belum tentu dia merasa terhibur.

Katanya lagi, "Karaoke dimana? Suka bernyanyi? Sendirian? Pantas wajahnya ceria."

Jawabku, "Ya, mamaku bernyanyi setiap hari dengan aplikasi StarMaker. Nyanyi sendiri, direkam sendiri, dan didengarkan sendiri untuk senam pagi… xixixi... Kalau aku, lebih suka mendengar lagu rohani di youtube sambil nyanyi-nyanyi." Tante itu berkata, "Aku juga suka bernyanyi dan senam sambil mendengarkan lagu. Nanti kuminta anakku pasang aplikasi juga karena aku kesepian. Di rumah hanya ditemani pembantu sehingga aku lebih banyak tidur."

Wah, enak loh kalau bisa tidur. Aku ini malah kurang tidur hingga mata pun berkantong… hehehe… Namun, lansia di GMS merah pernah berkata kepadaku, "Sendiri berarti berdua dengan Tuhan." Namun, kok bisa lansia di GMS hitam merasa kesepian? Rumahnya sama, casingnya beda, mungkin kedalamannya juga berbeda. Walau sama-sama Kristen, ternyata belum tentu seiman. Ada yang sepenuhnya beriman kepada Tuhan Yesus hingga sanggup berserah kepada-Nya.

Namun, ada yang beriman kepada pendeta, teman, orang tua, saudara, pasangan, gereja, dan kurang mengenal Tuhan Yesus. Alhasil, kebahagiaannya bergantung kepada orang lain. Padahal, kita ini pemegang kunci Kerajaan Sorga.

Matius 16:19 (TB) Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Jika ingin suasana Sorga, mengapa harus menunggu orang lain yang membuka pintunya? Orang lain bisa sibuk. Orang lain bisa lupa. Jika kuncinya di tangan orang lain, wajar kita menunggu orang itu mendatangi kita. Namun, kunci Sorga ada di tangan kita. Jadi, kita bisa membukanya sendiri untuk mengikat sukacita sembari melepas kesepian atau masalah. Enak toh. Mantap toh. Hohoho…

KAMI T'RIMA BERKAT-MU (GMS Live)
Kami datang dengan nyanyian, Memuji kebesaran-Mu, Ditinggikan atas segalanya, Lawatlah kami umat-Mu.
Kau bertahta atas pujian. Kemuliaan-Mu di sini. Datanglah kerajaan-Mu. Jadi kehendak-Mu.
Chorus: Kami t'rima berkat-Mu Bapa. Kasih setia dari Tuhan Yesus. Pengurapan dari Rohul Kudus Sampai selamanya.

Keluarga Rohani Beda Casing

Keluarga Tak Sempurna
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 21 Juni 2026

Kemudian kutanyakan nama gereja mereka setelah tante itu menyebut nama Yesus ketika bercerita tentang gendam. Putranya langsung menjawab, "GMS rooftop" dan mamanya berkata, "Dia melayani di sana." Seketika mamaku langsung berkata, "Gerejamu juga GMS." Jawabku, "Beda. Aku ikut yang pusat, bukan rooftop."

Ah, sekalipun mereka mengaku dari GMS rooftop, tetap saja aku harus waspada terhadap mereka. Aku masuk GMS tuh lewat jalan salib via dolorosa dan mereka yang membuatku pikul salib kebanyakan pindah ke GMS hitam, termasuk GMS rooftop.

Anak-anak tante itu khawatir menikah dengan orang yang salah. Jika mendapatkan pasangan yang tepat, bisa seperti surga. Namun, jika salah memilih pasangan, bisa seperti neraka. Katanya, "anak zaman sekarang memilih tinggal di panti jompo saat tua nanti, yang penting ikut Tuhan."

Aku tertawa dalam hati karena aku pun pernah ditanya oleh lansia lain, "Jika tidak menikah, saat tua ikut siapa?" Jawabku, "ikut Tuhan." Ketika muda, ikut Tuhan. Ketika tua, masa ikut anak? Seharusnya tetap ikut Tuhan toh karena lagunya "Sekali Yesus, selamanya Yesus."

Nah, lansia lain yang menanyakan hal itu sudah memiliki tiga orang anak. Namun, ketiganya tak ada yang bisa menemani orang tuanya. Salah satu anaknya menikah dan tinggal di Jakarta. Dua anak lainnya di Taiwan juga. Ketika suaminya akan operasi glaukoma, dia harus melakukan pendaftaran di rumah sakit secara online. Karena tidak ada anak yang menemani mereka di rumah, terpaksa dia meminta bantuanku sekalipun aku bukan anaknya.

Jadi, jangan menikah dengan harapan punya anak yang mau menemani di hari tua. Tidak semua anak, seperti Yusuf yang mau bersama orang tuanya hingga mereka lansia. Berharap tuh kepada Tuhan saja karena semua yang terbaik datang dari Tuhan.

Lantas putranya mengutarakan kekhawatirannya jika menikah dengan wanita pesolek. Hahaha... lagi-lagi aku harus menahan tawa. Mengenali wanita pesolek tuh jauh lebih mudah daripada mengenali iblis bertampang malaikat yang sering mencari mangsa di gereja. No comment ah...

Lantas tante itu menanyakan gajiku lalu berkata, "Gaji segitu masa cukup? Apa kamu bisa menabung? Apa kamu tidak beli baju?" Jawabku, "Cukup dan aku bisa menabung. Aku juga jarang beli baju. Jika baju tidak rusak, untuk apa beli? Beli seperlunya saja."

Hehehe... dia tak tahu bahwa aku punya jaket dan celana jeans yang kubeli saat SMP. Hingga kini masih bisa kupakai walau berat badanku sudah melebihi masa remaja itu. Walau tak bermerk, awetnya tuh melebihi baju bermerk terkenal.

Bahkan, sekalipun jarang beli baju, keluarga kami sering menjadi penyalur baju bekas. Beberapa orang sering memberi kami baju. Karena kami tidak bisa memakai semuanya, kami berikan pula kepada juru parkir, sepupu, dan gereja terdekat. Jadi, Tuhan telah memberi kami baju lebih dari cukup.

Berkat Tuhan selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, tak akan pernah cukup untuk memenuhi gaya hidup. Hiburan tak harus mahal di mall. Hiburan bisa didapat di rumah. Beberapa saat kemudian kami pun berpisah. Mereka pulang lebih dulu.

Keluarga Tak Sempurna

Keluarga yang Diberkati
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 21 Juni 2026

"Ini boleh dibersihkan?" Tanya seorang pelayan kepada seorang tante yang sedang duduk di kursi roda. Dia langsung menjawab dengan nada tersinggung, "Ini makanan yang mau saya bawa pulang." Seketika pelayan pria di food court Galaxy Mall itu pergi.

Ah, seketika aku menyesal sudah setuju dengan mama untuk pindah ke meja makannya yang besar karena di meja itu hanya ada dia saja. Aku berpura-pura tidak mendengar dan melihatnya. Namun, mama justru melihat ke arahnya. Maka, tante itu menjelaskan kepada mama perihal ucapannya kepada pelayan. Lalu dia bertanya, "Kalian kakak adik atau mama anak? Wajah kalian mirip." Dengan terpaksa aku melihat ke arahnya dan menjawab, "Mama anak."

Tak lama berselang putranya kembali ke meja makan kami. Tante itu memberitahu kami bahwa suaminya telah meninggal empat tahun lalu, anak pertamanya perempuan dan anak keduanya laki-laki. Katanya, "Aku punya putri di Taiwan. Usianya sekitar 34 tahun dan sampai sekarang belum menikah. Dia suka berpetualang. Tahun depan maunya ke Australia. Aku selalu menangis tiap kali mengantarnya ke bandara."

"Wah, bosku juga orang Taiwan," ujarku.
"Kalau begitu, boleh minta nomer WAmu ya? Siapa tahu anakku mau bekerja di tempatmu sehingga tak perlu kembali ke Taiwan."
"Kerjaku di Mojokerto. Jauh dari rumahku dan tentu lebih jauh lagi jika ke (Graha Family) Surabaya."

Putranya nimbrung, "Dulu dia bekerja di Probolinggo dan tiap hari pulang pergi ke Surabaya."
"Oo... sewaktu kecil aku tinggal di asrama Probolinggo sejak usia 4 - 12 tahun, memeku sejak usia 3 tahun (hingga 15 tahun, titiku pun 3-6 tahun di asrama putri dan dilanjutkan 7-12 tahun di asrama putra)."
"Wah, aku sih tidak tega berpisah dengan anak-anakku. Lebih baik mereka susah bersamaku daripada berpisah. Tapi, beruntung sekali anakmu ini mau peduli dengan orang tuanya padahal dulu dimasukkan asrama."

Batinku, "Masa aku harus balas dendam? Sejak kecil aku merasa hampir senasib dengan Yusuf, tetapi menurutku dia jauh lebih menderita dariku karena sampai dijual sebagai budak. Namun, Yusuf tidak membalas saudara-saudaranya. Jika Yusuf yang lebih malang dariku bisa begitu, kenapa aku harus membalas orang tuaku?"

Kejadian 50:20 (TB) Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Lantas dia mengingatkan putranya lagi untuk meminta nomer WAku. Dengan berat hati kuberikan nomerku kepada putranya dan kutanya balik, "Berapa nomermu?" Kulihat dia mengetik nomer HPku di dalam pesan WA yang akan dikirimnya lalu dia menjawab, "Nanti mamaku yang akan menghubungimu."

Hehehe... aku berusaha menahan tawa. Kataku dalam hati, "Aku pun tidak tertarik untuk menghubungimu. Aku tidak tertarik untuk berbincang dengan orang asing. Dasar titi. Jika kau tahu nomerku, sudah sewajarnya aku juga tahu nomermu supaya aku bisa mengenali pengirim pesan. Ya, jangan salahkan aku jika nanti aku tidak mengenali pesan kalian."

Setelah itu tante tersebut menanyakan usia kami dan usia adik-adikku. Seketika dia terperangah menatapku dan berkata, "Kamu terlihat jauh lebih muda dari usiamu."

Hehehe... aku sudah biasa mendengarnya sehingga aku tersenyum saja sambil berkata dalam hati, "Belum tahu dia rambut ini baru kusemir. Namun, tanpa semir pun masih ada pria yang 12 tahun lebih muda dariku sempat terkecoh dengan usiaku. Dia kira aku lebih muda darinya. Untung aku tidak pernah berniat memalsukan umurku, kecuali sedang iseng kepada sesama gender."

Keluarga Rohani Beda Casing

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.