Tuesday, August 18, 2026

Perubahan Rencana

Pada suatu sore yang cerah sekelompok anjing berkumpul bersama di sebuah gudang beraroma tembakau. Karena tak tahan dengan aromanya, Golden Retriever terpaksa menjadi satu-satunya anggota yang mengenakan masker. Tentu hal ini tak masalah baginya karena dia sudah terbiasa menjadi berbeda atau aneh.

Dia bukan hanya terlalu peka dalam mencium aroma tembakau, dia juga peka dalam menyerap emosi yang ada di sekitarnya. Namun, dia tidak mau mengutarakannya. Saat itu semua anjing telah menempati semua kursi yang tersedia. Lalu datanglah si jantan Cane Corso dan dia melihat bahwa satu-satunya kursi yang tersisa adalah di samping kanan Golden Retriever.

Maka, Cane mulai mengatur ulang posisi duduk semua anjing, kecuali posisi Golden dan Shih Tzu. Mereka berdua sudah sering menentang Cane yang suka mengintimidasi anjing-anjing lemah sehingga Cane tidak mau mengusik mereka.

Golden juga tak mau ambil pusing. Dia tidak mau melihat pengaturannya. Dia berpura-pura sibuk sendiri. Dia berpura-pura tidak mendengar dan tidak tahu menahu tentang semua kebisingan gerakan yang tak perlu itu. Cane lebih banyak menggunakan isyarat tangan untuk mengatur posisi mereka. Dengan sudut matanya Golden melihat bahwa Cane sibuk tunjuk sana sini dan semua anjing yang dikode olehnya segera berpindah posisi.

Poodle kesayangannya pun harus pindah posisi. Dia diminta olehnya untuk duduk di samping kanan Golden. "Dasar tidak peka," pikir Golden. Namun, dia diam saja dan berlagak tak peduli padahal dia tahu Poodle grogi jika harus berada di dekatnya. Poodle tahu bahwa Golden bisa berubah menjadi Doberman jika sedang marah.

Meskipun demikian, mau tak mau Poodle menuruti Cane karena dia lebih segan kepada Cane daripada Golden. Namun, ketika Poodle melihat kursi kosong di samping kanan Cane, dia segera pindah lagi ke samping Cane. Ah, lagi-lagi Cane memintanya untuk kembali duduk di samping kanan Golden.

Dengan kemampuannya menyerap emosi, Golden bisa merasakan kebingungan si jantan Poodle. Namun, Golden justru memasang muka sedatar dinding alias tanpa ekspresi padahal hatinya tertawa geli. "Aneh-aneh saja sih Cane ini. Apa dia ingin Poodle mengawasiku? Salah penempatan lha."

Lantas dia merasakan kegelisahan Poodle yang ada di samping kanannya. Rasanya dia sedang menoleh ke arahnya. Benar saja. Beberapa detik kemudian Poodle bertanya kepadanya, "Bisakah kita bertukar tempat duduk?" Tanpa bicara, Golden langsung berdiri dari kursinya sehingga mereka bisa bertukar posisi.

Di tengah-tengah acara Poodle pun mulai berpindah-pindah posisi. Dia merasa tak nyaman berada di antara dua anjing betina (Golden dan Shih Tzu) yang pernah menentang Cane. Maka, dia mulai menyusup di antara Golden dan si jantan Border Collie untuk berbicara dengan Border dan Golden.

Beberapa menit kemudian dia sudah pindah ke samping kanan si jantan Cane lagi. Selanjutnya, acara pertemuan hari itu berjalan dengan lancar karena Cane sibuk berbincang dengan Poodle. Dia pun tidak banyak melibatkan diri dengan anjing-anjing lain sehingga suasana tetap aman terkendali.

Nah, ketika gelap mulai menyapa, tiba-tiba Merpati berkata kepada Golden, "Bersaksilah kepada Poodle tentang perpindahan kursi". Seketika Golden menjawab, "Ah, hahaha... yang benar saja. Mengapa tidak bilang dari tadi sih?"

Amsal 16:9 (TB) Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.

Meskipun begitu, Golden tak mampu menolak permintaan Merpati yang telah begitu baik kepadanya. Sekalipun harus malu, sekalipun takut, sekalipun tak nyaman, sekalipun tak sesuai dengan kepribadiannya, dia akan berusaha mewujudkan permintaan Merpati. Jadi, dia mulai mengirim pesan kepada Poodle.

"Akhir-akhir ini rasanya ada hal-hal yang serba tidak masuk akal. Padahal, sudah kubilang kepada Merpati kalau aku masih suka yang normal dan serba masuk akal.

Tadi masuk akal sih sewaktu Cane tidak mau duduk di sebelahku karena kami emang bagaikan musuh bebuyutan sejak kasus manipulasinya kubongkar.

Tapi, tiba-tiba jadi tidak masuk akal karena Cane berlagak seperti wali kelasku yang suka mengatur tempat duduk orang lain.

Dulu aku sampai dihukum guruku itu cuma gara-gara pindah tempat duduk. 😄"

Lantas Golden dan Merpati tertawa geli. Kata Golden, "Sia-sialah aku berlagak jaim tadi. Sekarang malah membongkar kemampuan rahasiaku dalam menyerap emosinya... hahaha... Bikin malu saja." Namun, tak masalah bagi Golden karena dia sudah terbiasa memasang wajah sedatar dinding… wkwkw…

OLEH DARAH ANAK DOMBA
Sekarang t'lah tiba kes'lamatan dan kuasa dan pem'rintahan Allah kita. Kuasa Dia yang diurapi-Nya kar'na t'lah dilemparkan-Nya para pendakwa kita.
Chorus: Oleh darah anak domba, oleh kesaksian kita iblis dikalahkan. Kuasanya dihancurkan oleh darah Anak Domba.

Golden masih ingat bahwa Poodle pernah jatuh sakit ketika harus pulang malam. Bahkan, ketika Golden meminta Poodle membantunya dalam hal-hal kecil, Poodle juga tidak bisa menuntaskannya. Jadi, sekalipun Golden sudah terbiasa menghadapi hal-hal yang tidak masuk akal, dia tidak mau melibatkan Poodle. Jika Poodle terlihat berteman baik dengan Cane, mungkin saja Cane, si jantan Rottweiler, dan beberapa serigala betina akan menekannya.

Nah, Poodle belum tentu sanggup menghadapi tekanan tersebut. Ketika tekanan itu datang, kemungkinan besar Poodle akan menyalahkan Golden, seperti kebanyakan anjing kecil lainnya. Jadi, untuk saat ini, lebih baik Poodle tetap menjadi anak kesayangan si galak Cane… hehehe…

Yesaya 26:3 (TB) Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.

Sunday, August 16, 2026

Sebab Itu Aku Menasihatkan

Saling Membantu
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 16 Agustus 2026

Fiuh... sudahlah, tak penting dia sampaikan kemarin atau hari ini, yang penting sudah disampaikan olehnya. Namun, aku enggan meminta bantuannya lagi dan enggan bicara dengannya lagi. Eh, bangun tidur aku diberi lagu oleh Roh Kudus.

SETIA DAN BERKENAN (Living Worship ft. Sidney Mohede)
Bapa kudatang dengan penuh kerinduan. Kunaikan syukur atas kebaikan-Mu. Segala yang kuperlu Kau sediakan bagiku. Kini saatnya kuberikan yang terbaik bagi-Mu.
Chorus: Ini aku, Tuhan. Kubawa hidupku s'bagai persembahan yang kudus dan berkenan pada-Mu. Pakailah hidupku sesuai rencana-Mu yang indah. Kumau setia, berkenan pada-Mu.
Bridge: Kumau hidup dalam rencana-Mu. Seumur hidupku menyenangkan-Mu.

Sepanjang hari lagu tersebut terus kusenandungkan di dalam hati hingga kekesalanku hilang. Dia punya kekurangan. Aku pun punya kekurangan. Aku tidak sempurna. Mana mungkin menuntutnya sempurna? Jika aku mau meminta bantuannya, aku hanya perlu aktif meminta umpan balik darinya.

Aku juga memberitahu dia untuk tidak segan menjawab, "Tidak". Aku tidak mau melihat senyuman arwah lagi. Lebih baik dia menjawab, "Tidak" daripada tersenyum sebagai isyarat penolakan. Lalu aku mulai memanggilnya lagi dan meminta bantuannya lagi. Kali ini dia langsung menjawab, "Tidak mau." Hehehe... beginilah salah satu ciri murid yang pintar. Sekali kuajari, langsung bisa dia praktekkan. Good.

Kemudian ada kejadian lain lagi dan kuminta penjelasannya. "Kudengar kamu beberapa kali dekat dengan istri orang lain. Ada apa denganmu?" Dia menjawab, "Aku tidak ada apa-apa. Saat itu kami bertiga. Kami sedang bersama temanku lainnya. Aku tidak bisa mengontrol mulut orang lain. Aku anggap hal itu sebagai angin lewat. Aku juga tidak peduli dengan opini seperti itu, tetapi aku begini dan begitu."

Kataku, "temanmu tuh bestimu. Dia bisa membantumu menutupi hal itu." Namun, dia berkata, "Tidak ada yang perlu ditutupi." Wah, cara jawabnya cukup dewasa. Hahaha... aku pernah belajar cuek sehingga aku tahu dia masih ada kepedulian. Jika dia benar-benar tidak peduli, dia pasti tidak menjelaskan apapun."

Ketika aku digosipkan hamil, aku benar-benar tidak peduli sehingga aku tidak mau menjelaskan apapun. Pikirku, "Orang yang mengenalku tidak perlu penjelasan. Orang yang tidak mengenalku juga tidak akan percaya sekalipun kujelaskan." Namun, pada saat itu Tuhan justru mengajariku untuk berperang. Aku pun bangkit pada hari ketiga dan menjadi lebih dari pemenang.

Beberapa tahun kemudian beberapa pelaku tersebut menghubungiku kembali. Namun, aku hanya bertanya, "Maaf, siapa ya? Aku tidak ingat kalian." Kejujuran itu mahal dan tidak pantas diberikan kepada mereka yang tidak menyukai kejujuran.

Karena raja kecil masih agak peduli dengan opiniku, aku masih bisa memberi nasihat singkat, "Kalau memang tidak ada apa-apa, ya berhati-hatilah agar kamu tidak terpengaruh oleh pergaulan yang serba bebas. Jangan sampai kamu dimanfaatkan oleh mereka pula."

Galatia 6:10 (TB) Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Beberapa hari lalu mobilku nyaris mengalami tabrakan lagi hingga tiga kali. Eh, kemarin juga nyaris menabrak lagi. Jeritan ngeri pun sempat tak terhindarkan. Ah, iblis selalu merancangkan kecelakaan. Namun, seingatku telah puluhan kali Tuhan meluputkanku dari kecelakaan, musibah, dan sakit penyakit.

Aku tidak tahu cara pengawal Tuhan bekerja sehingga iblis sering gagal mencelakaiku. Namun, kutahu selama masih ada kesempatan hidup, aku harus menghalangi rencana iblis dan bersaksi bagi Tuhan. Setidaknya aku tidak akan membiarkan iblis menang dengan mudah.

Mazmur 118:17 (TB) Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.

Selama ini aku belum pernah berhasil memenangkan jiwa atau minimal bawa orang ke gereja. Ditinjau dari hasil kerjaku, seharusnya aku bukan ancaman bagi kerajaan kegelapan. Bahkan, sesama orang Kristen ingin menghalangiku hidup dalam kebenaran dengan menyebutku naif, aneh, dan suka ikut campur urusan orang lain karena mereka juga tidak suka kutegur dan kunasihati. Mereka lebih suka cara hidup dunia.

Orang Budha pun heran dan berkata, "Kupikir kamu hanya menerapkan nilai-nilaimu untuk dirimu sendiri, tetapi kamu juga menerapkannya untuk orang lain." Loh, itu bukan nilai-nilai pribadiku. Jika aku ingin orang lain menjadi warga Kerajaan Allah, tentu saja aku akan menyampaikan nilai-nilai yang harus diikuti selama hidup di dalamnya. Jika mereka memang tidak mau menjadi warga Kerajaan Allah, aku juga tidak memaksa karena setiap orang punya kehendak bebas.

Namun, kenapa rasanya aku terus menerus ditarget oleh Kerajaan kegelapan? Nyaris celaka kok bolak balik sih?

1 Petrus 4:12-13 (TB) Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.

Karena iblis tidak meremehkanku, aku juga tidak akan meremehkannya. Aku telah meminta bantuan teman non-Kristen untuk mengawasi raja kecil. Jika dia memang tidak salah bergaul, tentu saja dia tidak keberatan jika diawasi. Namun, semoga dia tidak sadar jika nanti diawasi karena iblis juga mengintainya.

Saling Membantu

Hidup yang Berkenan
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 16 Agustus 2026

Efesus 4:2 (TB) Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

Kata 'saling membantu' terdengar indah, tetapi prakteknya tak bisa langsung seindah itu. Bulan ini aku dan raja kecil terpaksa saling membantu. Walaupun sebenarnya kami sempat sama-sama kesal, kami tak bisa menghindarinya. Dalam kekesalanku, aku hanya bisa berdoa.

Anak: "Bapa, masa raja kecil itu Kau bilang sudah dewasa? Apa Kau tidak salah? Dia masih sangat imut. Aku sudah sering bertemu bos dan anak bos yang menua tanpa pernah dewasa. Mana mungkin anak seimut itu bisa lebih dewasa daripada mereka? Lihatlah tiap kali kuminta bantuannya, dia akan menjawab, "Siap", tetapi setelah itu dia tidak pernah memberiku umpan balik, kecuali kutanya lagi. Masa itu dewasa?"

Beberapa waktu lalu kuminta raja kecil menyampaikan pesanku kepada orang asing dalam bahasa asing yang dia kuasai. Eh, dia hanya tersenyum, seperti tersipu malu. Loh, apa aku salah bicara? Ada apa dengannya? Apa arti senyumnya? Ya, tidak, atau bagaimana sih? Bukankah satu senyuman bisa berjuta makna? Mungkin artinya "Ya" sehingga kutunggu kabarnya.

Lalu dua hari kemudian aku bermimpi engkongku. Dia sudah lama meninggal sehingga di dalam mimpiku dia hanya tersenyum menatapku. Ketika terbangun, aku langsung sadar, "Arti senyum raja kecil adalah "Tidak", tetapi dia tidak berani menolakku secara langsung."

Semasa hidupnya engkong tuh dewasa. Jika aku dan adik-adikku ribut dengan emak karena rebutan acara televisi, engkong yang menengahi. Jika ada anak cucu yang sakit, engkong selalu memberi perhatian. Jadi, kami merasa kehilangan ketika engkong tiada.

Sementara itu, kami kasihan dengan emak karena dia menua tanpa pernah dewasa hingga akhir hidupnya. Nah, jika engkong muncul di dalam mimpiku dan hanya tersenyum, pasti bukan karena dia enggan membantuku, tetapi dia tidak bisa membantuku. Dunia kami sudah jauh berbeda.

Maka, aku segera mengirim pesan kepada raja kecil untuk konfirmasi. Ternyata benar. Dia belum melakukan yang kuminta. Lantas kukatakan kepadanya, "Ya sudah, tidak perlu membantuku. Aku akan meminta bantuan orang lain."

Ketika meminta bantuan serupa lagi, dia juga memberikan jawaban yang menggantung. Karena mulai kesal, aku berkata kepadanya, "Tolong pastikan. Dia mau yang lama atau yang baru? Kalau dia ragu dengan yang baru, mungkin tetap mau yang lama. Minta jawaban yang pasti. Jangan digantung seperti ini."

Eh, lagi-lagi dia hanya tersenyum. Aduh. Walaupun senyumnya jauh lebih indah dan hidup daripada lukisan Monalisa, aku ini bukan pengagum lukisan. Saat ini aku membutuhkan jawaban pasti dari pangeran di negeri seberang dan bukan senyumnya.

Karena marah, akhirnya aku memiliki energi ekstra untuk mengerjakannya sendiri. Daripada energi kemarahan disalurkan untuk merusak, lebih baik kusalurkan untuk bekerja. Makin marah, aku makin kuat kerja berjam-jam... wkwwk... Biasanya aku hanya berkata kepadanya, "Tidak perlu kamu bantu, aku kerjakan sendiri." Namun, kadang kala kukerjakan sendiri tanpa memberitahunya terlebih dulu.

Setelah aku mendapat jawaban pasti, kuberitahu dia, "Pangeran di negeri seberang mengatakan bahwa dia telah meminta asistennya untuk mengambil keputusan. Jadi, tolong kamu bertanya kepada asistennya." Seperti biasa, dia menjawab, "Siap", tetapi aku tidak diberi umpan balik lagi.

Kejadian semacam itu terulang hingga beberapa kali. Ketika meminta bantuannya lagi dan dijawab, "Siap" lagi, aku kirimkan gambar tiga pose dengan kata, "Bersedia", "Siap", "Ya". Lalu tanyaku, "Kamu masih berada di pose siap ini?" Dia menjawab, "Sudah kusampaikan." Karena tak percaya, aku bertanya lagi, "Boleh?" Dia online, tetapi tidak menjawabku sehingga aku curiga dia bohong.

Keesokan harinya dia baru menjawabku. Karena kesal, aku ingin berpura-pura dibohongi olehnya. Aku tidak menjawabnya lagi. Tegur Bapa, "Hanya karena hal itu kamu enggan bicara dengannya? Komunikasikan isi hati dan pikiranmu kepadanya. Jangan disimpan sendiri. Lihatlah dia lebih dewasa emosi daripada kamu."

Jawab anak: "Hehehe... benar juga sih. Sekalipun nada suaranya juga terdengar kesal, dia tetap berusaha baik." Mungkin dia kesal karena aku meminta bantuannya lalu membatalkan sepihak. Aku datang dan pergi sesuka hatiku karena aku memang paling tidak suka ketidakjelasan sikapnya.

Maka, aku berkata kepadanya, "Ya, aku baru diberitahu oleh temanmu. Kamu baru menyampaikan pesanku hari ini toh? Ini sebabnya kemarin kamu tidak bisa menjawabku." Dia hanya menjawab singkat, "Tidak, sudah kusampaikan kemarin." (Tanpa penjelasan lain.)

Sebab Itu Aku Menasihatkan

Hidup yang Berkenan - Bu Gina Dharmawan

Hidup Berkenan
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 16 Agustus 2026

Efesus 4:2-3 (TB) Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

Rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Rendah hati juga tidak bisa kita akui dan hanya orang lain yang bisa menyatakannya. Ketika kita berkata, "Saya orang yang rendah hati," saat itu pula kita telah menjadi sombong. Bahkan, ahli taurat pun direndahkan sehingga ada kesetaraan dengan kita.

Semuanya harus tetap belajar rendah hati. Orang yang rendah hati tidak suka pamer karena dia punya daya juang. Orang yang suka pamer hanya punya daya jual. Orang yang rendah hati juga mau dinasihati.

Lemah lembut dan sabar juga harus ditunjukkan dalam setiap tindakan kita. Ketika kita sabar menunggu jawaban doa, ini disebut iman. Sekalipun doa belum dijawab dan kita tetap percaya Tuhan hingga akhir usia, inilah iman. Ketika Tuhan datang, inilah yang dia cari.

Lukas 18:8b (TB) Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"

Ketika kita sabar terhadap orang tua, ini disebut hormat. Ketika kita sabar terhadap keluarga, ini disebut cinta. Hal ini hanya bisa dipraktekkan ketika kita berinteraksi dengan sesama. Kita mengasihi Tuhan (hubungan vertikal) dan sesama (hubungan horizontal) sehingga terbentuk salib yang sempurna. Selain itu, kita harus saling membantu.

2. Mengenakan Manusia Baru. Ini bukan seperti mengenakan outer. Jika pakaian kita hitam lalu diberi outer putih, dalamnya tetap hitam. Seringkali orang Kristen kadang hitam dan kadang putih karena mereka mengenakan manusia baru tanpa menanggalkan manusia lama.

Efesus 4:21-23 (TB) Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,

Jadi, untuk mengenakan manusia baru, kita harus telanjang lebih dulu di hadapan Tuhan. Harus, berarti bukan pilihan. Jika kita sudah menanggalkan manusia lama, barulah kita bisa mengenakan manusia baru.

Efesus 4:24 (TB) dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Berapa usia lahir baru kita? Ini bukan usia fisik karena usia fisik dihitung dari sejak kita dilahirkan. Namun, usia lahir baru dimulai sejak kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Jika sudah lahir baru, seharusnya kita telah mengenakan manusia baru agar makin serupa dengan Kristus.

3. Menghidupi Identitas sebagai Anak Terang. Setelah lahir baru, kita menerima identitas baru agar bisa hidup seperti Kristus. Kristus ini seperti cermin. Jika kita bercermin dan melihat ada jerawat, yang kita bersihkan bukan cerminnya, tetapi wajah kita.

Demikian pula, saat ada yang salah dengan diri kita, yang seharusnya kita bersihkan adalah kesalahan di dalam diri kita. Kristus seperti cermin yang menunjukkan terang agar kita bisa berbuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran.

Efesus 5:8-10 (TB) Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.

Seperti bejana di tangan Tuhan, Dia bebas membentuk kita. Kadang kala mungkin akan menekan kita. Pada akhirnya, Dia akan membuat kita makin serupa dengan-Nya.

BAGAIKAN BEJANA
Bagaikan bejana siap dibentuk, demikian hidupku di tangan-Mu. Dengan urapan kuasa Roh-Mu kudibaharui selalu.
Jadikanku alat dalam rumah-Mu. Inilah hidupku di tangan-Mu. Bentuklah s’turut kehendak-Mu. Pakailah sesuai rencana-Mu.
Kumau s’perti-Mu Yesus disempurnakan selalu. Dalam segenap jalanku memuliakan nama-Mu.

Saling Membantu

Hidup Berkenan - Bu Gina Dharmawan

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 16 Agustus 2026

Agar mengalami perubahan karakter kita harus mengalami pembaruan akal budi. Ada dua cara untuk hidup dalam roh, yaitu:
1. Pikiran terbuka untuk menerima perubahan.
2. Hati yang terluka sehingga akan mencari cara untuk pemulihan.

Efesus 4:1 (TB) Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

Pada usia 81 tahun Indonesia telah memiliki unsur berdaulat, adil, dan makmur. Adil dan makmur seringkali merupakan satu kesatuan tak terpisahkan, tetapi jika dipisah per kata, ada tiga kata.
* Berdaulat: merdeka (bebas dari segala penjajahan), tetapi kebebasan ini jangan sampai kebablasan (melebihi batas).
* Adil: proporsional dan tidak memihak.
* Makmur. Kita tidak perlu mengejar kemakmuran. Asalkan kita bisa bersikap adil, kemakmuran pasti datang.

Indonesia merupakan negara yang kaya raya dengan ribuan suku bangsa yang tinggal di dalamnya. Jika ada persatuan tanpa dasar perseteruan, tentu segalanya akan baik. Ini sebabnya kita semua harus senantiasa berdoa untuk Indonesia.

1 Timotius 2:1-2 (TB) Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.

Dengan menjadi negara yang berdaulat, adil, dan makmur, tujuan kita adalah hidup tenang dan tenteram. Inilah standar hidup kebanyakan orang. Namun, sebagai pengikut Kristus, kita harus menetapkan tujuan yang lebih tinggi, yaitu hidup berkenan.

1 Timotius 2:3-4 (TB) Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

Tentu mudah untuk membedakan antara baik dan tidak baik. Namun, untuk membedakan antara baik, berkenan, dan sempurna, kita perlu belajar. Tuhan ingin menyelamatkan semua orang. Jika semua orang bisa hidup dalam kebenaran, inilah hidup yang berkenan.

Efesus 4:17-18 (TB) Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.

Jika berdasarkan kitab Efesus saja, ada tiga cara untuk hidup berkenan, yaitu:
1. Memelihara Kesatuan Gereja.

Kita pasti memelihara mereka yang kita kasihi. Kita tidak akan memberikan opini kepada gereja lain, tetapi memberikan review. Jika mengasihi Indonesia, kita juga tidak akan memberikan opini tentang Indonesia, tetapi review. Opini kita seringkali berbeda dengan opini orang lain sehingga bisa menimbulkan perseteruan.

Namun, review berarti memeriksa hati kita sendiri. Kita perlu meminta Tuhan menyelidiki hati kita untuk memastikan kita tetap berada di jalan yang benar. Dalam proses ini Tuhan akan menggeledah hati kita, yang artinya mengacak-acak, bukan sekedar memeriksa sehingga Dia dapat menemukan kesalahan kita dan memperbaikinya.

TETAP SETIA
Selidiki aku, lihat hatiku. Apakah ku sungguh mengasihi-Mu Yesus. Kau yang maha tahu dan menilai hidupku. Tak ada yang tersembunyi bagi-Mu.
Chorus: T'lah kulihat kebaikan-Mu yang tak pernah habis di hidupku. Kuberjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia.

Hidup yang Berkenan

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.