Kami Tidak Mengerti
Catatan Ibadah ke-1
Minggu 3 Mei 2026
Jadi, pak tukang
berjanji untuk kembali besok siang setelah membeli MCB 6A dan kotaknya. Sebelum
pulang dia pun memasang solasi pada kabel yang terbuka dengan bantuan gunting.
Namun, solasinya tidak sempurna dan kabel itu tetap berbahaya jika disentuh.
Eh, besoknya si tukang
tidak datang. Ketika ditanya, dia menjawab, "Motorku meletus."
Oalah... ada-ada saja sih. Oh Tuhan, kenapa calon penolong kami malah
berhalangan? Kapan masalahnya selesai? Kapan kegelapan itu sirna?
Ujarku, "Pokoknya papa mama jangan masuk ke gedung belakang yang gelap. Ada kabel terbuka yang berbahaya jika disentuh." Jadi, hanya aku yang tetap masuk ke gedung belakang karena lemari bajuku di sana. Namun, tiap kali memasukinya, kuingatkan diriku untuk waspada terhadap kabel terbuka. Agar tidak khawatir, aku juga mengingatkan diriku bahwa sertifikat wisuda papa sudah kuambil sehingga tidak bisa diproses oleh petugas dalam mimpiku itu.
Menjelang pagi aku
seperti mendengar seseorang berkata, "Allah bertindak. Tiada mata yang
melihat apa yang Tuhan lakukan." Lantas aku teringat lagu Allah Bangkit.
Maka, aku berkata, “Karena Allah bangkit, aku juga bangkit.” Kemudian kucari
ayat Alkitab terkait hal itu karena sepertinya pernah kubaca di Alkitab.
Yesaya 64:4 (TB) Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata
yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan
dia; hanya Engkau yang berbuat demikian.
ALLAH BANGKIT
Kerahkanlah
kekuatan-Mu Ya Allah. 🙏Tunjukkanlah kuasa-Mu Ya Tuhan. 💪
Serakkan musuh-Mu. 👊 S'lamatkanlah umat-Mu. 🫶 Allah
dahsyat di tempat kudus-Nya. 🫰
Chorus: Allah bangkit, bersoraklah. 🥳Allah bangkit, bernyanyilah. 💃 Musuh dikalahkan, umat-Nya dibebaskan. 😇 Allah dahsyat di tempat kudus-Nya. 👏
#AllahBangkit
#AllahBertindak #AllahDahsyat
Mazmur 68:29 (TB) Kerahkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, tunjukkanlah
kekuatan-Mu, ya Allah, Engkau yang telah bertindak bagi kami.
Nah, hari itu tukang
datang pagi sesuai janjinya. Dia datang bersama keponakan laki-lakinya.
Ternyata keponakannya ahli dalam memperbaiki kerusakan alat-alat listrik. Maka,
dalam waktu sekitar tiga jam, MCB telah diperbaiki, beberapa saklar lampu yang
rusak karena semut juga diganti, kipas angin rusak pun turut dibersihkan dan
diperbaiki. Bahkan, cetakan kue dan sambungan kabel yang rusak juga dibenahi.
Lampu-lampu yang mati atau redup juga diganti.
Hahaha... ketika Allah bertindak, semua beres. Namun, kekhawatiran kembali muncul ketika kulihat MCB terpasang tuh 10A, bukan 6A sesuai permintaan papa dan informasi dari tukang. Namun, tukang itu mengatakan bahwa dia sudah bertanya kepada orang PLN dan MCB yang dipasang sudah sesuai dengan MCB yang rusak. Katanya, orang PLN juga tidak menyarankan MCB diturunkan jadi 6A.
Alhasil, MCB yang sudah dibuang di pohon keres segera diambil lagi oleh mama. Kulihat MCB rusak memang 10A. Ternyata papa yang salah membaca tulisan pada MCB. Dia melihat tulisan 6000 yang tercetak besar sebagai 6A padahal angka 6000 ini tidak terkait dengan ampere. Mungkin hanya kode produksi atau ada arti lain. Justru tulisan kecil mungil (C10) yang menunjukkan jumlah ampere-nya, tetapi papa tidak bisa melihatnya tanpa kacamata. Fiuh… untung tidak salah pasang MCB.Setelah itu barulah
aku mencari tahu di Google, "Kenapa MCB bisa hangus tanpa membakar area
sekitarnya?" Ternyata MCB tuh dibuat tahan api. Jika area sekitarnya tidak
mudah terbakar, api di MCB tidak akan sampai menyebar.
Namun, katanya MCB harus
diganti jika telah berusia lebih dari 10 tahun. Ada yang menulis kisaran usia
MCB hanya 15-20 tahun. MCB kami yang hangus tuh usianya sudah lebih dari 18
tahun. Ketika memasangnya, kami tidak pernah diberi buku panduan penggunaan MCB
dan masa kadaluarsanya.
Om Google pun
mengatakan bahwa MCB yang hangus tidak boleh dinaikkan tuasnya. Lha...
informasi sepenting ini juga tidak pernah diberikan pada saat pemasangan MCB.
Untung loh saat tuasnya kunaikkan, hanya muncul bunga api sekali saja.
Saat itu aku pun tidak
tahu jika MCB sudah hangus karena tempatnya gelap. Seharusnya kuambil senter
dulu sebelum ke tempat MCB. Namun, aku tidak berpikir bahwa MCB telah hangus
karena aku tidak mencium bau terbakar. Mama hanya mengatakan bahwa
sehari sebelumnya dia sempat mencium bau terbakar. Namun, dia mencari sumber
bau itu di dapur dan tidak menemukannya. Oh, syukurlah apinya jinak.
Nah, peristiwa semacam ini bisa menyadarkan kita betapa rapuhnya manusia. Pengetahuan kita terbatas. Keahlian kita pun terbatas. Buku panduan yang kita butuhkan juga terbatas. Bahkan, ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, jika kita tetap berpegang teguh pada Sang Pengendali Hidup, kejutan-kejutan tak menyenangkan ini masih bisa kita tanggung bersama-Nya.













