Kuasa dalam Kasih Karunia
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 13 Okt 2026
Poodle, "Cane tidak setuju kamu menggunakan cara ini.
Kalau kamu mau mengusir ular, mengapa tidak dilakukan pada saat itu juga ketika
mereka ketahuan melakukan kejahatannya? Kamu juga bisa melakukannya dengan cara
alternatif ini."
Golden Retriever, "Aku masih memberi mereka kesempatan
untuk memperbaiki diri atau mencari cara lain untuk menjalani hidup yang
baik." Siapa sangka mereka bukan hanya tidak mau berubah. Mereka juga
menyia-nyiakan kesempatan baik yang kuberikan dengan bertindak licik. Mereka
membalas air susu dengan air tuba.
Poodle, "Sekarang pasangan ular berbisa telah
menebarkan racun dimana-mana. Banyak orang telah membicarakan hal itu."
Golden Retriever menjawab dengan nada agak tinggi,
"Biarkan saja mereka bicara. Aku tidak peduli perkataan orang lain."
Memang begitulah ular. Ular akan selalu menggigit orang yang berusaha
menolong mereka. Namun, aku bukan ular seperti mereka. Itu sebabnya kuberi
mereka banyak kesempatan untuk berubah. Mengapa kamu tidak mengerti dan
terkesan memojokkanku?
Poodle, "Bagaimana mungkin kamu tidak peduli?
Ini berkaitan dengan kepentingan orang banyak."
Ups... seketika Golden berusaha menahan senyum sambil
menatap Poodle yang ada di hadapannya. Untunglah Poodle tidak menatapnya
sehingga dia tidak menyadari perubahan emosi Golden selama beberapa detik. Golden
tidak menyangka bahwa Poodle masih berani bicara dan ajaibnya dia tidak
meninggikan suaranya. Padahal, jelas terlihat jika dia juga sedang kesal.
Lantas Golden berpikir, "Aku tidak peduli dengan
perkataan orang lain, tetapi aku peduli dengan kepentingan orang lain.
Jika pasangan ular licik itu berpotensi merugikan banyak orang, terpaksa aku
harus tega terhadap mereka dengan menerima cara alternatif yang lebih
menyakitkan bagi mereka."
Suka tidak suka, Golden memutuskan untuk berhenti
mengasihani pasangan ular. Jadi, dia akan membiarkan mereka menuai hasil
perbuatan jahat mereka. Namun, cara alternatif tersebut dianggapnya terlalu
lama.
Habakuk 2:3 (TB) Sebab
penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya
dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu
sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.
Namun, dia berkata kepada Raja Damai, "Mengapa Kau harus melibatkan Poodle di dalam masalahku? Dia terlalu kecil dan aku tidak mau melibatkan dia. Dia berpotensi memancing sisi kanak-kanak di dalam diriku."
Raja Damai, "Kamu ingat lirik lagu ultah yang kamu
sampaikan kepadanya? >> Jadi kalau nanti kau merasa kecil, ingatlah Tuhan tidak salah memilihmu."
Golden, "Ah, tentu saja aku ingat, tetapi saat itu
kusampaikan kepadanya karena kupikir Kau sedang mengutusnya untuk membantu
adiknya, bukan membantuku. Sebagai cece, tak mungkin kuminta bantuan kepada
titi kecil, kecuali dia dewasa. Memang sih dia dewasa secara emosi. Namun, apa
Kau yakin dia dewasa dalam menyelesaikan masalah? Apa Kau yakin dia tidak akan
kabur ketika keadaan menjadi sulit?"
Mazmur 46:10 (TB)
(46-11) "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di
antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!"
>> Tuhan menghancurkan
rencanamu agar rencanamu tidak menghancurkanmu. Setiap masalah yang terjadi
bertujuan untuk menyingkapkan hal-hal yang ingin kalian ketahui. <<
Setelah keributan itu, Golden berusaha mengabaikan Poodle
dengan menyibukkan dirinya. Namun, dia tetap bisa 'melihat' Poodle
mondar-mandir nun jauh di sana dari suaranya yang bergerak-gerak. Tampaknya
Poodle sedang gelisah dan sesekali melihat ke arah Golden. Meskipun demikian,
Golden tak mau peduli karena Poodle tidak mau mengerti dirinya.
Tadi di akhir ibadah ada pendeta yang berkata, "Jangan
berpikir bahwa tak ada yang mengerti dirimu..." Ya, tentu saja
masih ada yang mau mengerti Golden. Pada hari itu, setelah ribut dengan Poodle,
Golden tak bisa tidur. Lantas dia menulis semua keluh kesahnya di dalam catatan
ponsel. Keesokan paginya catatan itu dia kirimkan kepada Mr. Bright di negeri
Formosa.
Mr. Bright telah teruji dalam menyelesaikan masalah
sekalipun dia tiga tahun lebih muda dari Golden. Jadi, Golden tidak ragu
meminta bantuannya untuk mengurai kekusutan pikirannya. Seperti biasa, Mr.
Bright memberikan perspektif berbeda secara netral.
Nah, ketika mendengar penjelasannya, Golden pun bisa
memahami sikap Poodle yang mewakili Cane. Pada akhirnya, Golden kembali lagi ke
doa masa anak-anak, "Tuhan semoga aku ingin ... memahami daripada dipahami ..." Sekalipun Poodle tidak memahaminya, setidaknya dia sudah paham. Maka, Golden
terlebih dahulu memulai pembicaraan dengan Poodle, seolah-olah tak pernah
terjadi keributan di antara mereka.
ANDAIKAN KUHARUS MEMILIH
Kasih setia-Mu Tuhan lebih dari hidupku.
Jalan-jalan-Mu ya Tuhan terbaik bagiku. Dari semua yang Kau katakan,
tiada dusta kutemui. Dari semua yang Kau janjikan, tiada yang tak terpenuhi.
Chorus: Andaikan kuharus memilih, tetap hatiku pada-Mu. Tak satupun
dapat menggantikan-Mu. Hanya Kau yang berarti bagiku. Lebih dari semua
yang ada, Kaulah segalanya bagiku. Tak ingin kuberpaling dari-Mu. Selamanya ku
akan menyembah-Mu, Tuhan.










