Sunday, June 14, 2026

Bicara Berputar-putar

Kamu Anak Siapa?
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 14 Juni 2026

Suatu hari aku membutuhkan bantuan temanku untuk servis laptop dan minta dia menentukan tarifnya. Dia berkata, "Siap. Bawa saja ke sini dan aku akan melihatnya dulu." Namun, ketika kubawa ke tempatnya, dia berkata, "Maaf, aku lupa jika obengku masih dipinjam orang lain." Keesokan harinya kutanya lagi dan dia berkata, "Aku masih sibuk bekerja". Ketika kuminta untuk memperbaikinya selesai bekerja, dia berkata, "Rumahku jauh."

Tanpa karunia profetik, aku langsung bisa membaca isi hati dan pikirannya, "Aku malas membantumu. Sekalipun dibayar, aku juga tidak mau karena aku malas. Namun, aku tetap ingin terlihat baik di matamu." Orang-orang seperti ini akan sering kita jumpai di sekitar kita. Jadi, kita akan memahami mereka karena sudah terbiasa dengan cara penolakan mereka yang halus, tetapi hatinya tentu saja tak sehalus perkataannya.

Amsal 12:24 (TB) Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa.

Jadi, tanpa bicara lebih lanjut, aku meminta bantuan orang kedua. Sat set cuan. Orang itu langsung bertindak dan kami sama-sama senang. Jadi, jika tidak mau membantu seseorang, sebaiknya kita langsung menolaknya daripada memberikan harapan palsu. Sekalipun ingin terlihat baik di mata orang lain, kita bisa tetap terlihat buruk jika perkataan kita hanyalah omong kosong.

Matius 5:37 (BIMK) Katakan saja ‘Ya’ atau ‘Tidak’ -- lebih dari itu datangnya dari si Iblis.”

Tindakan nyata jauh lebih bermakna daripada perkataan baik yang tidak pernah ditepati. Orang yang kedua justru bisa lebih dipercaya daripada orang yang pertama. Orang yang terakhir justru bisa menjadi yang terdahulu karena tindakannya sejalan dengan perkataannya. Jika aku membutuhkan bantuan lagi, tentu kucari orang yang kedua.

Sementara itu, ada pahlawan kesiangan yang tiba-tiba memberikan solusi idealis untuk mencegah masalah. Namun, solusinya tidak tepat sasaran karena tidak sesuai realita. Meskipun demikian, dia bersikukuh bahwa dia sudah memutuskannya setelah berdiskusi secara mendalam dengan chat gpt berjalan.

Ah, pantas saja solusinya tidak bisa diterapkan karena chat gpt berjalan bukanlah praktisi di bidang tersebut. Dia hanya copy paste (copas) tulisan chat gpt tanpa melihat realita. Jika melihat hasil pembicaraan mereka, kuyakin mereka tidak berdiskusi secara mendalam. Mereka pasti berdiskusi panjang lebar dan berputar-putar hingga hubungan manipulasi mereka terasa makin mendalam.

Hasil diskusi mereka tuh tidak menyentuh akar permasalahan dan hanya sebatas teori idealis. Mereka tidak pernah bertanya kepada para praktisi di lapangan:
* Kendala apa saja yang kalian hadapi?
* Apa saja yang telah kalian lakukan untuk menyelesaikannya?
Setelah bertanya kepada para praktisi tersebut, barulah dia bisa melihat kesenjangan yang jauh antara harapan dan realita. Jadi, tidak bisa jika dia tiba-tiba memberi solusi tanpa melihat realita. Hasilnya ya hanya khayalan belaka.

Si pahlawan kesiangan tidak punya waktu untuk melihat ke bawah dan terlalu sibuk mendongak ke atas. Lalu percaya begitu saja dengan perkataan chat gpt berjalan. Jadi, dia seperti orang yang menyiramkan air garam ke atas luka terbuka. Maka, kusajikan realita yang menyakitkan, “Lihatlah fakta-fakta ini. Semua hasil diskusimu yang mendalam dengan chat gpt berjalan tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Kami sudah berusaha menanganinya, tetapi hasilnya masih jauh dari harapan.”

Aku pernah merekrut dosen sebagai akuntan perusahaan. Secara teori, dia sangat baik, tetapi dia tidak bisa mempraktekkan teorinya. Jadi, kalau ada masalah dalam suatu bidang, aku lebih suka mencari bantuan praktisi daripada guru atau dosen. Contoh: Ketika laptop bermasalah, aku lebih suka mencari teknisi daripada dosen atau guru komputer. Teknisi lebih mampu menyelesaikan masalah laptop daripada dosen atau guru komputer.

Sayangnya, si pahlawan kesiangan berbeda pola pikir denganku. Dia lebih suka menyelesaikan masalah dengan meminta bantuan orang-orang yang pintar berteori dan malas, seperti chat gpt berjalan. Ah, berkomunikasi dengan orang yang sangat jauh berbeda dengan kita tuh termasuk pikul salib. Berat rasanya. Jika tidak bisa menghindari hubungan dengan orang-orang seperti mereka, kita hanya bisa berdoa, "Terjadilah seturut kehendak Tuhan."

Matius 26:42 (TB) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"

主祷文
们在天上的父, 愿人都尊祢的名为圣,
愿祢的国降, 愿祢的旨意行在地上, 如同行在天上.
们日用的饮食, 今日赐给我们,
免我们的债, 如同我们免了人的债,
不叫我们遇见试探, 救我们脱离凶恶.
为国度, 权柄, 荣耀, 全是祢的, 直到永.
!

Kamu Anak Siapa?

Membangun Komunikasi yang Baik
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 14 Juni 2026

Beberapa waktu lalu ada bos besar bertanya, "Apa bos kecil sudah menaikkan gajimu?"
Jawabku, "Belum, dia tidak peduli dengan gaji. Hanya bos besar yang pernah memberiku kenaikan gaji."
Tanyanya lagi, "Jika demikian, kamu anak siapa?"
"Anak Tuhan," jawabku.

Tuhan mengetahui bahwa aku tidak pernah meminta kenaikan gaji bagi diriku sendiri. Sebagai penopang tulang punggung keluarga, gaji pertamaku tidak cukup hingga aku seperti sapi perah. Meskipun demikian, saat itu aku tidak pernah meminta kenaikan gaji dan tetap bekerja sepenuh hati. Hanya Tuhan tempatku mengaduh… huhuhu…

Bahkan, ketika tempat tinggalku terbakar dan aku membutuhkan uang lebih banyak, aku juga tidak meminta kenaikan gaji dari bos atau atasan. Namun, Tuhan sendiri yang membuatku keluar dari sana sehingga aku mendapat kenaikan gaji dan posisi di tempat lain.

Ketika aku sakit dan harus berobat tiap bulan, aku juga tidak pernah meminta kenaikan gaji dari bos atau atasan. Aku pun tetap bekerja sepenuh hati, bukan sepenuh gaji. Namun, tiba-tiba atasanku bertanya, "Sekali berobat, kamu habis berapa? Tak lama berselang gajiku dinaikkan sebesar biaya berobatku.

Aku pun tidak pernah meminta kenaikan gaji, baik dari bos besar maupun bos kecil. Namun, suatu hari bos besar tiba-tiba menjanjikan kenaikan gaji secara tertulis. Biasanya dia hanya berjanji secara lisan dan tidak pernah ditepati hingga aku tidak percaya kepadanya.

Ketika janjinya ditulis, aku mulai sedikit percaya kepadanya. Namun, ternyata dia berusaha mencari alasan untuk tidak menepati janjinya. Di dalam perjanjian tertentu biasanya ada tulisan kecil yang nyaris tak terbaca, "Syarat dan ketentuan berlaku", tetapi syarat dan ketentuan ini tidak pernah disampaikan sejak awal.

Lalu Tuhan memintaku untuk memberitahu bos kecil perihal janji bos besar. Setelah itu bos besar baru menepati janjinya. Jadi, jika dia bertanya, "Kamu anak siapa?" Tentu saja kujawab, "Aku anak Tuhan" karena aku tidak pernah meminta kenaikan gaji dari para bos, baik bos besar maupun bos kecil.

Jika mereka kuanggap sebagai papaku, tentu aku tidak akan segan meminta dari mereka. Namun, aku tidak pernah meminta dari mereka karena aku tahu bahwa hubunganku dengan mereka hanyalah sebatas hubungan transaksional. Aku tidak bisa sepenuhnya percaya dengan janji-janji lisan mereka yang sering tak terbukti. Bahkan, tiap kali aku meminta bagi orang lain, sekalipun mereka mampu, mereka sering menolak permintaanku dan mempersulitku. Jadi, mereka bukanlah bapaku.

Jika aku membutuhkan uang yang tidak bisa diberikan oleh papa biologisku, aku pasti memintanya kepada Bapaku di surga. Aku tidak akan segan meminta dari-Nya karena aku tahu Dia mampu dan Dia benar-benar peduli denganku. Hubungan kami tidak bersifat transaksional, tetapi keluarga, seperti yang dinyatakan oleh Yesus.

Matius 7:7-11 (TB) "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Nah, Tuhan itulah yang akan menggerakkan para bos atau atasan untuk menaikkan gajiku jika mereka bisa. Jika mereka tidak bisa, tentu saja Tuhan akan cari orang lain yang bisa, terutama jika aku memerlukannya.

Amsal 21:1 (TB) Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.

BAPA yang KEKAL
Kasih yang sempurna telah kut'rima dari-Mu. Bukan kar'na kebaikanku, hanya oleh kasih karunia-Mu. Kau pulihkan aku, layakkanku 'tuk dapat memanggil-Mu Bapa.
Reff: Kau b'ri yang kupinta. Saat kumencari kumendapatkan. Kuketuk pintu-Mu dan Kau bukakan s'bab Kau Bapaku, Bapa yang kekal. Tak 'kan Kau biarkan aku melangkah hanya sendirian. Kau selalu ada bagiku s'bab Kau Bapaku, Bapa yang kekal.

Membangun Komunikasi yang Baik - Pdt. Leonardo Sjiamsuri

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 14 Juni 2026

Tema bulan ini tentang keluarga. Membangun keluarga berarti membangun hubungan. Untuk membangun hubungan, diperlukan komunikasi yang baik. Tanpa komunikasi, kita tidak akan mengenal keluarga kita. Ada pasangan yang tiba-tiba bercerai padahal terlihat baik-baik saja. Sebenarnya hal itu tidak terjadi tiba-tiba. Semua terjadi karena ada masalah yang sama-sama dipendam dan tidak pernah disampaikan. Istri berjuang sendiri. Suami berjuang sendiri. Lalu bom waktu meledak dan berakhir dengan perceraian.

Jarang sekali ada yang mengenal pasangannya sejak kecil. Mungkin ada yang baru bertemu saat kuliah. Mungkin ada yang bertemu saat bekerja. Mungkin pula ada yang bertemu di pasar. Karena tidak mengenal pasangan sejak kecil, mungkin kita akan terkejut terhadap mereka. Mungkin istri akan terkejut karena baru tahu suaminya begitu. Suami pun mungkin baru tahu jika istrinya bisa seperti itu. Maka, komunikasi menjadi hal yang penting.

Amos 3:3 (TB) Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?

Tanpa janji yang dikomunikasikan, tidak akan ada hubungan. Mungkin ada yang berkata, "Saya ini pendiam sehingga tidak bisa berkomunikasi." Lalu kenapa bisa menikah? Setiap orang yang sudah menikah pasti bisa berkomunikasi. Mungkin ada yang berkata, "Dulu saya bisa berkomunikasi, tetapi sekarang malas." Ini masalahnya.

Tidak semua orang memiliki karunia profetik hingga bisa membaca isi hati dan pikiran orang lain. Nah, komunikasi akan membantu kita untuk mengenali isi hati dan pikiran pasangan kita. Lewat komunikasi kita bisa bertukar pikiran, nilai, gagasan, cara pandang, dan keyakinan kita.

Ada seorang gembala sidang yang mengalami masalah komunikasi dengan istrinya. Sekalipun serumah, mereka sudah tidak sehati dan tidak sepikir. Lantas istrinya menceritakan masalah keluarganya kepada jemaat. Lambat laun gembala sidang mendengar hal itu. Dia langsung memukul istrinya. Terjadilah KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga). Ini semua terjadi karena komunikasi yang terhambat.

Manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan dari debu tanah adalah laki-laki. Dari penciptaan hari pertama hingga hari keenam Tuhan berkata, "Semua baik, baik sekali." Namun, pada satu titik Tuhan berkata, "Tidak baik jika manusia hidup seorang diri saja." Ini berarti manusia adalah mahkluk sosial yang membutuhkan orang lain.

Selanjutnya, wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Jadi, laki-laki adalah sumber awalnya yang bisa berkomunikasi dengan Tuhan karena laki-laki ditempatkan di taman Eden setelah diciptakan. Taman Eden berarti hadirat Tuhan. Maka, tidak wajar jika suami berkata, "Istriku adalah tiang doa di rumah". Bukan. Tiang doa seharusnya laki-laki.

Mungkin ada yang pernah mendengar, "Laki-laki mengandalkan logika, sedangkan wanita mengandalkan emosi. Jika berbicara tentang kasih, ini hanya milik ibu." Salah. Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih Bapa kita di surga. Jadi, sumber kasih adalah Bapa.

Bukan hanya ibu yang harus mengasihi. Bapak pun harus mengasihi sehingga ada ayat yang meminta para bapa untuk tidak membangkitkan amarah anak. Seorang bapak harus mendidik anaknya dengan kasih. Jika kenakalan anak meningkat, ini karena kenakalan bapaknya yang tidak pernah punya waktu untuk berkomunikasi dengan anaknya.

Karena pertamax naik, bapak-bapak sibuk cari uang sehingga tidak ada waktu untuk berbicara dengan anak. Inilah sumber masalahnya. Masa depan para bapak tidak ditentukan oleh harga pertamax. Jadi, sekalipun harga pertamax naik, tetap luangkan waktu untuk keluargamu.

Biasakan mendengar dengan hati, bukan hanya dengan telinga. Jika istri mulai berbicara berputar-putar, jangan langsung memarahinya. Biasanya seseorang akan berbicara berputar-putar karena mencari cara untuk tidak melukai lawan bicara. Karena belum menemukan caranya, bicaranya jadi berputar-putar.

Pilihlah perkataan yang baik. Ada seorang suami yang memiliki istri pendek dan gemuk. Suami berkata kepada istrinya, “Kamu ini seperti risoles. Jika disentil sedikit saja, kamu langsung jatuh dan menggelinding.” Hal ini membuat istrinya marah. Seorang suami seharusnya tidak mengucapkan kata-kata yang kasar. Istri bisa terluka. Suami juga bisa terluka. Karena sama-sama bisa terluka, pilihlah perkataan yang baik.

Di sisi lain ada CEO yang memperhatikan kehidupan spiritualnya. Dia bekerja di perusahaan pertambangan batu bara. Suatu hari dia memiliki masalah dan istrinya juga tidak paham masalah teknis batu bara. Namun, dia berkata kepada istrinya, "Mari kita berdoa bersama karena aku memiliki masalah dengan pekerjaanku."

Lantas mereka berdoa dalam bahasa roh dan bahasa Indonesia secara bersama-sama. Tiba-tiba istrinya mengucapkan doa yang membuat dia menemukan solusi. Dia terkejut karena istrinya bisa mengatakan hal itu padahal dia tidak paham batu bara. Lalu dia memberitahu istrinya tentang masalah yang dihadapinya. Jadi, komunikasi membantu mereka mengatasi masalah dan tantangan secara bersama-sama.

BERTUMBUH BERSAMA
Na~ na~ na~ na na na...
Bersatulah, mari kita bersatu. Bersehati sepikiran runtuhkan tembok yang merintangi. Bekerjalah, mari kita bekerja. Junjung kasih dan karunia. Gapai panggilan tertinggi. Tetaplah menyala. Layani sesama. Terus bertumbuh bersama.
Reff: Dalam kasih kita bergerak bersama memenangkan jiwa, menjadi harapan bagi dunia. Dalam iman, kita 'kan menang bersama. B'ritakan nama-Nya. Bertumbuh dalam Kristus dan G'reja-Nya.

Kamu Anak Siapa?

Sunday, May 31, 2026

Kata Kunci Pembuka Kesaksian

Curhat tentang Orang Tua
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 31 Mei 2026

2 Petrus 1:5 (TB) Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,

Karena penasaran dengan bos aneh yang tidak peduli dengan kata ‘tidak cocok’, aku pun terpaksa mempelajari beberapa ilmu psikologi untuk mencari tahu penyebab keanehannya. Mengapa dia harus berpura-pura cocok denganku padahal sudah jelas jika nilai-nilai kami tidak cocok?

Mengapa dia selalu baik, murah hati, dan penuh belas kasih kepada penipu, pembohong, dan pemalas, tetapi selalu menjadi raja tega nan pelit kepada orang jujur dan rajin? Hehehe... ini seperti cerita perkataan istri pak Johan tadi, "Mengapa kamu selalu baik kepada orang lain, tetapi tidak baik kepadaku?"

Kata chat gpt, "Biasanya karena penipu pandai mengambil hati orang lain lewat perkataannya, sedangkan orang jujur lebih suka bertindak daripada bicara dan hasil dari tindakan tidak langsung terlihat." Ah, aku tidak percaya ada orang sebodoh itu hingga rela ditipu berulang kali. Kemungkinan besar dia memiliki fixed mindset sehingga tidak pernah belajar dari kesalahannya. Padahal, jika dia mau belajar, dia bisa melihat wujud asli para lelembut itu... wkwwkw...

Mungkin pula karena bahasa kasihnya adalah words of affirmation (kata-kata penegasan) sehingga tiap kali mendengar perkataan manis bak gulali, dia langsung merasa terbang di awan-awan. Jadi, tanpa dicek kebenarannya, dia langsung percaya begitu saja.

Namun, aku lebih cocok dengan orang yang menggunakan bahasa kasih berupa acts of service (tindakan pelayanan). Jadi, sekalipun ada yang memberiku puisi seindah surga, aku tidak akan memercayainya sebelum dia menunjukkan tindakan nyatanya. Hahaha... dari sini makin terlihat jika mereka memang tidak cocok.

Meskipun demikian, aku hanya bisa menebak-nebak karena dia merupakan salah satu misteri di dunia yang aneh tetapi nyata. Aku pun teringat kepada salah satu lagu favorit masa kecilku, "Mengapa begini, mengapa begitu? Aku ingin tahu semua ini itu. ... Kini kutahu."

Hehehe... sekalipun aku bukan lagi anak kecil, rasa ingin tahuku masih seperti anak kecil loh. Maka, aku akan terus menerus mencari tahu motif tindakannya itu. "Mengapa begini, mengapa begitu? Aku ingin tahu semua ini itu.” Aku akan merobek setiap topeng yang ada di wajahnya hingga laguku berakhir dengan kalimat, ”Kini kutahu”.

Kemudian setelah libur Idul Fitri kemarin, aku pun mulai bersaksi kepada beberapa sopir gojek yang mengucapkan kata kunci "jauh". Agar aku tidak perlu mengulang-ulang cerita yang sama, kuketik panggilan awal kekristenanku di selembar kertas bolak balik berukuran setengah A4.

Kertasnya pun kulipat hingga seukuran saku baju. Maka, tiap kali ada yang menyebutkan kata kunci, "Kok jauh?", "Jauh ya...", “Jauh sekali”, atau semacam ini, aku akan memberinya kertas itu dengan pesan, "Gerejaku jauh karena ini. Silahkan dibaca di rumah."

Hehehe... daripada menyuapi orang-orang dengan cerita tentang Yesus, lebih baik kuberi kail untuk mengetahui ceritaku. Jika pak Johan kehabisan waktu ketika harus menceritakan semua kesaksiannya, aku pun bisa kehabisan energi jika harus mengulang-ulang cerita yang sama.

Jika mereka memang penasaran, minimal mereka harus mau sedikit usaha untuk membaca, meminta orang lain untuk membaca, mengunjungi blog ini, atau mencari tahu lebih banyak tentang Yesus, Roh Kudus, GMS, dan Philip Mantofa. Sama seperti pak Johan, aku juga tidak mempermasalahkan mereka akan mencari gereja yang warna merah atau hitam. Hal yang terpenting adalah niat hatinya harus sama-sama putih agar bisa berjumpa dengan Tuhan.

Matius 6:33 (TB) Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

MENGIKUT YESUS
Verse: S’mua kar’na anug’rah-Mu hari ini ada. Bukan kar’na kuatku namun kar’na Roh-Mu.
Pre Chorus: Kubawa hatiku, penyembahanku. Ku s’makin berkurang. Yesus s’makin bertambah.
Chorus: Mengikut Yesus, itulah kesukaan hatiku. Kulepas semua hakku untuk mengenal kehendak-Nya di hidupku. Mengiring Yesus, itulah kekuatan hidupku. Kuyakin anug’rah-Nya mampu jadikanku hamba yang berkenan s’lalu.

Curhat tentang Orang Tua

Saksi Kristus
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 31 Mei 2026

"Ternyata mamaku masih dendam terhadapku. Aku mendengar dia bercerita kepada sepupuku tentang perkataanku beberapa waktu lalu." Ucap seseorang.

"Mungkin kata-katamu memang menyakitkan dia." Ujarku.

Jawabnya, "Dia mengusirku dari rumah karena kubilang aku tidak cocok dengannya dan lebih cocok dengan papaku. Masa orang tua sampai mengusir anaknya? Padahal, aku sudah berbaik hati menjaga dan merawatnya."

Jawabku, "Salahmu sendiri. Kenapa kamu harus mengatakan hal itu kepadanya? Semua ibu di dunia ini pasti akan tersinggung jika anaknya mengatakan hal itu. Jika tidak percaya, silahkan saja bertanya kepada ibu-ibu lain."

Ujarku pula, "Dia telah merawatmu sebagai ibu tunggal sejak papamu meninggal. Kamu pikir menjadi ibu tunggal itu mudah? Sebaik-baiknya kamu, kamu tidak akan pernah bisa membalas kebaikannya. Lagipula papamu telah lama tiada. Kenapa masih membanding-bandingkan mereka? Harusnya kamu hargai yang masih hidup."

Kataku kesal karena curhatnya mengganggu acara liburanku, "Jika kamu bertukar posisi dengan cecemu, aku yakin kamu pun akan melakukan hal yang sama. Cecemu harus merawat tiga anak kembar dan suaminya. Seharusnya kamu bersyukur karena diberi kesempatan lebih banyak untuk berbakti kepada mamamu."

Lanjutku, "Jika kamu masih mengungkit-ungkit kebaikanmu terhadap mamamu, artinya kamu tidak ikhlas merawatnya. Lebih baik kamu tinggalin saja dia daripada terpaksa merawatnya hingga merasa dikorbankan dan iri kepada cecemu yang tidak bisa merawatnya." Ah, sebagai anak, kenapa dia bisa perhitungan begitu? Mungkin karena dia anak bungsu yang biasa dimanja.

Aku pernah membaca cerita tentang surat yang ditulis oleh seorang terpidana mati kepada ibunya. Di dalam surat itu si terpidana mati menulis bahwa seharusnya ibunya yang dihukum mati. Dia mengingatkan ibunya bahwa sejak kecil ibunya selalu membela dan melindunginya tiap kali dia melakukan kesalahan. Karena hal ini, dia terus menerus melakukan kesalahan dan makin lama makin jahat.

Surat itu ada benarnya agar orang tua tidak terlalu memanjakan anak hingga membelanya tiap kali salah. Namun, pria itu seharusnya juga belajar dari sumber-sumber lain sehingga tidak hanya menyalahkan ibunya atas semua kejahatan yang dilakukannya.

>> Memberikan semangkok nasi akan menciptakan hutang budi, tetapi memberikan sekarung beras akan menciptakan musuh. <<

Kemudian aku berkata kepadanya, "Kata tidak cocok seharusnya hanya diucapkan jika kamu memang ingin diusir karena kata-kata tersebut selalu kujadikan alasan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan." Sejak saat itu aku berusaha mengurangi intensitas percakapan dengannya agar dia punya waktu untuk introspeksi diri. Percuma dia curhat jika tujuannya hanya untuk mencari orang yang mau membenarkan dirinya.

Namun, di kemudian hari aku bertemu bos aneh yang tidak bisa dihadapi dengan kata kunci 'tidak cocok'. Karena keanehannya, aku pun penasaran seperti villain yang berhadapan dengan Kang Robin dalam film Wonderfools, "Siapa kamu? (Kenapa mantraku tidak mempan?"

1 Korintus 1:27 (TB) Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

Terkadang Tuhan memang memilih orang yang bodoh seperti Kang Robin untuk memalukan orang berhikmat. Dia tidak menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan orang yang berniat jahat terhadapnya. Namun, Tuhan tidak mau kita tetap bodoh sehingga kita harus menambah pengetahuan. Jangan sampai kebajikan kita justru membuat orang lain makin jahat.

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.