Kuasa yang Menyertai dalam Karunia
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 25 Okt 2026
Tahun lalu seorang wanita Indonesia keturunan Cina berkata,
"Aku ingin tahu pria Cina itu sudah menikah atau belum. Jika dia sudah
menikah, aku akan berhenti mengharapkannya dan melanjutkan hidupku." Aku
pun meminta dia menanyakannya daripada menunggunya tanpa kejelasan. Lalu dia
menghubungi pria itu melalui media sosialnya, tetapi tidak dijawab. Dia pun
sudah kehilangan nomer kontaknya karena dulu dia pernah memblokirnya.
Ketika kulihat media sosialnya, aku langsung yakin
beribu-ribu persen jika cowok itu sangat sangat sangat suangat introvert.
Alhasil, AI pun tidak tahu apapun tentangnya. Sekalipun AI kuminta
melacak link media sosialnya, tak ada tulisan atau video atau teman yang bisa
menjelaskan statusnya.
Wanita itu mengatakan bahwa dia merasa bersalah karena dulu
selalu menghindarinya. Padahal, saat itu pria tersebut selalu baik dan bermurah
hati kepadanya. Jadi, dia ingin menebus rasa bersalah karena dulu telah
mengabaikannya.
Namun, kenapa wanita itu baru memikirkannya sekarang
(setelah kandungannya diangkat karena miom)? Dulu ketika masih sehat, dia malah
mengabaikan pria itu. Sekarang dia juga tidak tahu apakah pria itu mau menerima
keadaannya.
>> Penyesalan selalu datang terlambat.
Seringkali penyesalan terbesar terjadi bukan karena kegagalan, melainkan ketika
seseorang tidak pernah mencoba. Jika gagal, seseorang sudah mengetahui
kesalahannya dan bisa mencari cara lain untuk memperbaikinya. Namun, jika
tidak pernah mencoba, di dalam pikirannya akan terus terngiang
pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya, "Bagaimana jika
dulu aku menerimanya?", "Bagaimana jika sekarang dia masih
menungguku?" "Bagaimana jika ..."<<
Nah, tahun lalu dia sudah kuminta melupakannya. Eh, tahun
ini dia masih saja meminta saran terkait masalah yang sama. Curhatnya pun masih
sama persis seperti tahun lalu. Masalahnya juga tetap sama. Bahkan,
keputusannya tetap sama, "Andaikata pria itu mau bersamanya, dia tidak mau
tinggal di Cina.” Dulu pria itu tidak mau tinggal di Indonesia. Kemungkinan
besar juga sama seperti itu sampai sekarang.
"Lalu untuk apa kamu masih menunggunya? Kamu ini
pemegang remote hidupmu. Kamu sendiri yang tentukan arahmu." Kataku
kepadanya. Lantas dia bertanya lagi, "Bagaimana jika nanti dia
kembali ketika aku sudah melupakannya?"
Lantas dia meminta saran lagi terkait langkah pertama yang harus diambilnya. Sekali lagi kusarankan, "Anggaplah pria itu tidak pernah ada." Namun, sekali lagi aku tidak yakin bahwa dia akan mengikuti saranku. Dia mengatakan bahwa teman-temannya akan mengadakan reuni di Beijing sekitar empat tahun lagi. Maka, dia berpikir bahwa dia masih bisa bertemu lagi dengan pria itu empat tahun ke depan.
Ah, semoga dia mencari teman curhat lain. Percuma dia
meminta saranku jika dia tidak mau melakukannya. Daripada menunggu pria tidak
jelas begitu, kuminta dia mengerjakan tugasnya dan tetap melayani di gereja. Syarat
minimal jodoh tuh harus benar-benar terlihat sebagai manusia nyata di masa kini,
bukan sekadar nyata di masa lalu dan sudah menjadi bayangan di masa kini.
Jika di masa kini status pria itu tidak jelas, kabarnya
tidak jelas, lalu komunikasi dan interaksi sosial sudah tidak ada selama lebih
dari tiga tahun, untuk apa masih menunggu empat tahun lagi? Iya, kalau dulu
pernah berjanji sehidup semati. Namun, janji itu pun tak pernah terucap.
Buang-buang waktu saja memikirkan pria seperti itu. Lebih
baik memikirkan orang-orang yang benar-benar nyata kehadirannya di sekitar
kita. Hargai mereka sebelum mereka pun menghilang dari hidupmu. Tak usah
terpaku pada masa lalu sebaik apapun itu.
MENGIKUTI-MU
Tak ada ketakutan di dalam hidup ini
setelah aku mengenal-Mu. Tak ada keraguan di dalam hati ini 'tuk tinggalkan
masa laluku.
Dan mengikuti-Mu di s'panjang hidupku. Tak 'kan berpaling, kar'na aku tahu
Kau sangat berharga dalam hidupku. Pengorbanan-Mu Yesus
s'lamatkanku.
Dan mengiring-Mu sampai akhir hidupku. Kumau setia dan mengasihi-Mu, oh
Yesus Tuhanku. Dunia tak bisa palingkanku dari-Mu.
Semua yang benar, suci, dan mulia, yang 'kan selalu di benakku. Semua
perintah-Mu dan ketetapan-Mu kutaati dan kulakukan.
I will follow you, every single day. I want more of you. I will follow you,
never turn away Coz you are My Jesus.











