Sunday, September 20, 2026

Pahitnya Masa Lalu

Bebas dari Kepahitan
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 20 Sept 2026

Seorang rekan wanita tiba-tiba memberitahuku bahwa dia diminta oleh raja kecil untuk tidak bercerita macam-macam kepadaku.

Pikirku, "Untuk apa dia melakukannya? Sebelumnya dia bilang kepadaku bahwa dia tidak peduli dengan perkataan orang lain dan menganggap semua itu hanya angin lewat. Kok dia malah terkesan peduli dengan perkataanku? Lagipula tingkat percayaku kepadanya bukan ditentukan oleh perkataan orang lain, tetapi ini dipengaruhi oleh masa laluku yang belum dia ketahui."

Jika pak David sempat nakal karena mengalami kepahitan terhadap pendeta, semasa balita aku sudah puas berbuat kenakalan dan semasa remaja aku juga sudah puas menikmati kepahitan terhadap pria. Mungkin ini sebabnya masa remajaku diperpanjang dengan wajah awet muda… hahaha…

Dulu kupikir jika tak ada pria, aku tidak perlu terlahir di dunia ini dan bisa tetap bahagia di sorga sehingga tidak perlu ke asrama dalam keadaan tangan terluka. Beberapa luka bisa hilang tanpa bekas, tetapi luka satu ini masih berbekas hingga kini meskipun sudah tak sakit lagi. Namun, bekas luka ini adalah pengingat bagiku akan kebaikan Tuhan melalui suster asrama. Yesus pun punya bekas luka, tetapi karena kasih-Nya kepada kita.

Jika aku tidak tinggal di asrama, aku juga tidak perlu diisengi cowok dari asrama putra dan aku juga tidak perlu ribut dengannya hingga berakhir dengan salah satu mata yang bengkak. Namun, syukurlah luka ini tidak meninggalkan bekas.

Meskipun sudah sembuh dari kepahitan tersebut, tetap saja sulit untuk langsung percaya kepada cowok asing. Di dunia kerja seringkali kutemui pria-pria yang hidup dalam kepahitan, baik karena cinta ditolak maupun karena kehilangan orang terkasih yang diserang oleh penyakit mematikan.

Mereka bukan hanya suka marah sambil mengeluarkan kata-kata makian dan hinaan, mereka juga bisa membanting pintu, menggebrak meja, melempar HP, sandal, botol minum, dan sebagainya. Kepahitan bisa menyerang Kristen atau non-Kristen, baik tua maupun muda. Manifestasi kepahitan terburuk seringkali ditunjukkan oleh mereka yang punya harta dan tahta. Maka, semua ini terlihat begitu normal karena tak ada yang melawan mereka.

Namun, aku tetap berusaha waras dengan meyakinkan diriku bahwa merekalah yang sakit. Jadi, aku pun sering ribut dengan mereka sambil melindungi mereka yang tidak berani melawan. Lalu perlahan-lahan aku mulai berupaya memberi saran kepada orang-orang seperti itu untuk melepaskan diri dari kepahitannya. Namun, kesembuhannya tetap bergantung pada keputusan mereka sendiri.

Bahkan, pada suatu momen aku bisa tertawa ngakak ketika dimarahi atas kesalahan yang tidak kuperbuat. Padahal, sebelumnya aku tidak bisa menerimanya ketika menghadapi hal serupa. Lebih lucu lagi ketika aku bersalah dan siap dimarahi, eh malah disirami kasih dari sorga... hahaha... Mungkin inilah yang dirasakan oleh bunga teratai yang bertumbuh di kolam keruh. Kolamnya boleh keruh, tetapi kasih Tuhan membuat bunganya tetap indah.

Jadi, sekalipun raja kecil tampak baik dalam pengendalian emosinya, tetap saja aku tidak bisa langsung percaya. Logikaku tetap memerlukan bukti dan saksi untuk percaya kepadanya. Namun, imanku seringkali melampaui logikaku. Secara iman, kutahu Tuhan percaya kepadanya.

2 Korintus 5:7 (TB) — sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat —

Karena kupercaya kepada Tuhan, aku pun melangkah dengan iman. Karena iman tidak perlu bukti dan saksi, aku bisa bercerita atau bersaksi tentang banyak hal kepadanya.

2 Korintus 12:9b (TB) Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Jika Tuhan meminta kita bercerita atau bersaksi kepada orang asing, Dia sendiri ikut menyertai. Jadi, sekalipun secara logika aku belum tahu karakter yang ditampilkannya itu asli atau palsu, aku merasa aman untuk memperlihatkan kuasa Tuhan dalam kelemahanku.

Nah, aku suka kutipan si raja kecil di Instagramnya, "Great future doesn't require great past." (Masa depan yang gemilang tidak mensyaratkan masa lalu yang gemilang.) Hehehe… Tuhan kami sangat ahli dalam mengubah masa lalu yang pahit menjadi masa depan yang indah. 😇

Amsal 4:18 (TB) Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.

KEKUATAN HATIKU
Kuasa-Mu nyata di dalam kelemahanku. Kekuatan-Mu menopang seluruh hidupku. Darimana datang pertolonganku? Hanya Yesus pertolonganku.
Engkaulah sumber kekuatan hatiku, tempat persembunyianku. Engkau penolong di saat susahku, tempat perlindunganku. Kau menara dan perisai di hidupku.

Bebas dari Kepahitan - Pak David

Diselamatkan untuk Berdampak
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 20 Sept 2026

Salah satu jemaat yang pernah dibimbing pak Lukas pun bersaksi bahwa dulunya dia hidup dalam kepahitan terhadap pendeta. Pendeta tersebut telah menghancurkan keluarganya sehingga dia membenci semua pendeta, gereja, dan bahkan Tuhan sendiri.

Dia menikmati dugem, rokok, dan beberapa kenikmatan dosa lainnya. Lalu dia berpikir untuk menikah. Pikirnya, "Setelah menikah mungkin aku akan berhenti nakal". Namun, ternyata dia makin parah. Dia sering bertengkar dengan istrinya hingga berulang kali terucap kata, "Cerai".

Maka, istrinya meminta dia berkonsultasi dengan psikolog, tetapi tidak ada psikolog yang mau berbicara dengannya. Lalu istrinya meminta bantuan istri pak Lukas dan diarahkan ke pak Lukas. Padahal sebelumnya dia sudah berpesan agar tidak dicarikan psikolog yang dekat dengan pendeta. Jadi, dia sempat tidak mau menemui pak Lukas padahal sudah membuat janji dengannya.

Namun, akhirnya dia mau menemui pak Lukas dan menceritakan kepahitannya. Dia terkejut karena pak Lukas meminta maaf atas kesalahan hamba Tuhan yang menyakitinya, padahal orang itu bukan pak Lukas. Beberapa waktu kemudian dilakukan konseling berempat, yaitu pak Lukas dengan istrinya bersama pak David dengan istrinya. Saat itu mereka kembali bertengkar hebat.

Istri pak Lukas berkata kepada istri pak David, "Jika cara manusia tidak bisa, tetaplah mendoakan dia." Jadi, setiap hari istrinya mendoakan dia hingga pak David bertanya-tanya, "Untuk apa mendoakanku?" Suatu hari dia sakit hingga menelan pun sakit. Selama ini dia tidak tahu bahwa istrinya berdoa agar Tuhan tidak menyembuhkan dia hingga dia mau kembali kepada Tuhan.

Suatu hari dia ikut mendengarkan khotbah yang diputar oleh istrinya. Lalu dia bertanya siapa yang berkhotbah dan ternyata pak Lukas. Maka, tiba-tiba dia ingin menelepon pak Lukas.

Pak Lukas meminta dia ke gereja. Ketika dia mau ke gereja, sakitnya sembuh seketika. Lantas dia mulai bergabung di dalam CG (connect group) dan pelan-pelan terbebas dari ikatan dosa. Keterikatan dosa terakhir yang dia lepaskan adalah rokok. Selama setahun ini dia sudah tidak merokok.

Dulu ketika pak Lukas mengatakan bahwa dia mendapat favor (perkenanan) Tuhan, dia tidak percaya karena jika ini benar, mengapa Tuhan membuatnya jatuh miskin? Dulu dia berpikir bahwa untuk mendekati pendeta, dia harus beruang atau kaya. Namun, dia tidak menyangka bahwa pak Lukas mau menemuinya dan bahkan mentraktirnya makan.

Dia pun terkejut ketika pdt. Jusuf Soetanto berkata, "Kamu jangan nakal-nakal lagi." Dia kira pak Lukas menceritakan kenakalannya kepada pak Jusuf, ternyata tidak. Jadi, dia menjadi saksi nyata bahwa Tuhan bisa mengubah masa lalunya yang penuh kepahitan. Dulu dia hanya salesman, tetapi sekarang dia dipercaya untuk mengelola sebuah perusahaan. Jika tanpa Tuhan, hal ini tak mungkin terjadi.

BANGKITKAN AKU
Verse 1: Aku melangkah jalani hidup ini bersama dengan waktu yang terus melaju. Untuk apakah aku ada di sini Tuhan, kalau bukan untuk melayani-Mu.
Verse 2: Inilah aku di hadapan-Mu Tuhan bersama dengan segala yang kumiliki. Pakailah aku Tuhan sebagai alat-Mu, Menyelamatkan jiwa yang terhilang.
Chorus: Bangkitkan aku, Bangkitkan aku. Jadikan aku hamba-Mu yang setia. Bangkitkan aku, Bangkitkan aku. Jadikan aku hamba-Mu yang berkenan.

Pahitnya Masa Lalu

Diselamatkan untuk Berdampak - Ps. Lukas Wibisono

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 20 Sept 2026

Kita yakin bahwa kita sudah diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Maka, jika mati, kita pasti masuk sorga. Namun, jika sudah diselamatkan, mengapa kita masih ada di sini? Bukankah lebih enak hidup di sorga?

Efesus 2:10 (TB) Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Sejak awal Tuhan menciptakan kita untuk melakukan pekerjaan baik yang telah Dia siapkan. Ini sebabnya kita tidak langsung masuk sorga setelah diselamatkan. Kita harus menjalani hidup di dalam tujuan Tuhan. Apapun latar belakang kita, baik dalam hal kekayaan, pekerjaan, maupun status sosial, selama kita sudah diselamatkan, ada tujuan Tuhan yang harus kita kerjakan.

Tujuan atau panggilan ini bisa berbeda bagi tiap orang. Namun, tujuan Tuhan dalam hidup kita selalu untuk menjadi berkat bagi orang lain, bukan untuk menjadi kaya atau menikmati berkat untuk diri sendiri.

2 Samuel 5:12 (TB) Lalu tahulah Daud, bahwa TUHAN telah menegakkan dia sebagai raja atas Israel dan telah mengangkat martabat pemerintahannya oleh karena Israel, umat-Nya.

Daud berhasil merebut Yerusalem setelah diremehkan oleh orang Yebus. Daud sadar bahwa dia mendapat posisi karena Tuhan mau dia memberkati Israel – umat-Nya. Jika bisnis kita diberkati, Tuhan mau kita memberkati orang lain. Kita diberkati bukan hanya untuk leyeh-leyeh di pantai, tetapi untuk menjadi saluran berkat.

Setiap orang akan mendapat panggilan Tuhan secara spesifik, tetapi satu yang pasti adalah agar kita tidak hidup bagi diri sendiri. Namun, kita bisa memilih untuk menghidupi tujuan Tuhan atau tidak. Hal ini memerlukan kesadaran diri untuk memutuskannya. Jika kita memilih untuk hidup dalam tujuan Tuhan, kita akan menikmati berkat di dalamnya.

Tujuan Allah akan memberikan nilai diri kepada kita. Jati diri kita aman di dalam tujuan Tuhan. Sebuah HP diciptakan untuk menelepon, menonton film, berinternet, dan menikmati semua aplikasi yang ada di dalamnya. Jika HP ini jatuh lalu diinjak-injak, dimaki-maki, dan diludahi, tetapi masih berfungsi, tentu kita masih mau memakainya.

Jadi, jika kita merasa insecure dengan diri sendiri dan mudah terombang-ambing dengan perkataan orang lain, kemungkinan besar kita tidak memahami tujuan Tuhan bagi kita.

Di kantor gereja ada yang mengatakan bahwa pak Lukas mirip Hyun Bin, tetapi lainnya langsung berujar, "Yieeeek". Sepertinya dia lupa bahwa pak Lukas masih punya perasaan dan dia terkesan menghina. Namun, pak Lukas biasa saja karena dia secure di dalam Tuhan dan dia juga tidak tahu wajah Hyun Bin.

Sewaktu kecil pak Lukas insecure karena kedua saudaranya kurus dan atletis, sedangkan dia gemuk dan pendek. Ketika ada yang berkata kepada mamanya, "Nanti anak ini akan ganteng", pak Lukas merasa bahwa saat itu dirinya jelek. Karena hal itu, jika ada wanita yang mau menjadi istrinya, dia merasa bahwa hal itu adalah anugerah. Namun, setelah mengetahui tujuan Tuhan dalam hidupnya, dia menjadi secure.

Kejadian 1:28 (TB) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Ketika Tuhan memberkati manusia, inilah firman pertama untuk Adam dan Hawa. Cara mereka menggenapi tujuan Tuhan untuk bertambah banyak dan memenuhi bumi adalah melalui seks. Inilah alasan Tuhan memberikan kepuasan seks kepada mereka.

Namun, kepuasan seks ini hanya bisa dinikmati oleh mereka yang hidup sesuai tujuan Allah. Ada orang yang melakukan berbagai macam metode seks, tetapi tidak pernah puas. Ini karena seks bertujuan untuk memenuhi tujuan Tuhan, bukan untuk memuaskan nafsu.

Yohanes 4:34 (TB) Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Ada kepuasan sejati ketika kita hidup sesuai tujuan Tuhan. Jika belum tahu tujuan Tuhan atas hidupmu, bertanyalah kepada-Nya.

Bebas dari Kepahitan

Sunday, September 13, 2026

Berdamai dengan Si Sungkan

Jangan Sungkanan
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 13 Sept 2026

"Sebenarnya sih aku tidak mau mengakui ini, tetapi kata Bapa, "Pengakuan adalah awal dari pemulihan."

Yakobus 5:16a (TB) Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.

Jadi, kuakui kalau sebenarnya aku tuh kesal terhadapmu. Masa sudah kuminta list jauh-jauh hari supaya kamu bisa atur waktu karena kutahu kamu sibuk, tetapi sampai hari H masih belum ada tanda-tanda. Untung aku sudah biasa dengan perubahan rencana. Kutanya bawahanmu, tak sampai sehari sudah selesai.

Tadi list yang ini pun kutanyakan kepada anak buahmu yang lain pada jam sekian karena kamu tidak segera menjawabku padahal kulihat kamu online. Sekalipun status pesan dibaca atau belum dibaca di WA-mu tidak terlihat, status saat online tetap akan kulihat secara kebetulan pada saat kubuka WAmu.

Maka dari itu, aku sebal karena kamu selalu sungkanan. Seharusnya kamu bisa memberi instruksi ke bawahanmu untuk mengerjakan list yang kuminta jika kamu tidak sempat. Namun, tampaknya kamu juga sungkan minta tolong kepada mereka.

Kalau kamu mau menolak bantu orang lain, tinggal bilang terus terang saja secara baik-baik atau sambil tersenyum. Tidak akan ada yang tersinggung jika kamu menolak baik-baik daripada memberi alasan untuk menolak secara halus. Misalnya berkata:
* Sorry, tidak bisa, aku banyak pekerjaan. (Ini untuk menolak pekerjaan tertentu sehingga dari awal aku bisa minta tolong bawahanmu secara langsung. Aku pun tidak perlu menunggu lama, tetapi hanya diberi harapan palsu begini.) Tadi kamu juga menjawab, "sebentar", tetapi tampaknya inilah yang disebut sehari seperti seribu tahun.

* Sorry, aku tidak mau mengantarmu pulang karena aku mau langsung jalan lurus. (Ini untuk menolak antar pulang wanita. Kalau kamu memberi alasan yang tidak nyata dan kemudian alasanmu itu tidak terbukti, yang menerima alasanmu pasti jengkel lha.)

Nah, setelah kuakui semuanya, aku tidak kesal lagi terhadapmu 😄, tetapi moga-moga rasa kesalku tidak beralih kepadamu. Lain kali jangan sungkanan lha: kalau mau nolak, nolak aja daripada memberi harapan palsu. OKE?"

Tak lama berselang dia menjawab, "Iya maaf Bu, masih belum sempat. Aku baru bisa besok pagi. Banyak hal baru urgent harus diselesaikan." Lantas kutimpali, "Ya, tetapi kamu tidak pernah memberi info kalau tidak bisa... selalu menunggu kutanya dulu."

"PRIT".
Seketika terdengar sempritan dari sorga. Tiba-tiba aku teringat lagu jadul yang berjudul, "Pengampunan Adalah". Maka, aku segera menambahkan pesan, "Sudah, tidak apa-apa. Dengarkan lagu ini." Lantas lirik dan link lagunya segera kusertakan di dalam pesanku.

PENGAMPUNAN ADALAH ~ GMS Live
Dalam kegelapan hatiku tak hentinya anugerah-Mu. Engkaulah satu kasih sejati. Tuhan ajarku mengerti.
Diampuni itu sangat indah. Diampuni itu mulia. Yang Kau rindukan kubahagia. Kumau memb'ri yang kuterima.
Mengampuni itu kasih. Mengampuni itu indah. Damai sejahtera, sukacita tak terkata. Hati yang melimpah.
Mengampuni itu memb'ri. Mengampuni itu rela. Tak 'kan kutolak kerinduan-Mu ya Bapa, ampuni sesama.

Hahaha... kesaksian ini terlalu nyata. Kuberikan firman kepadanya sambil menghidupi firman tersebut. Biasanya aku bersaksi kepadanya dengan bercerita tentang kekesalanku kepada orang lain. Namun, saat itu aku malah membuat cerita bersamanya. Astaga... maunya kupendam kekesalanku hingga ke liang kubur, tetapi malah bersikap terbuka kepadanya. Ini karena kumau memberi yang kuterima.

Kisah Para Rasul 20:35 (TB) Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."

Dia susah menolak sedangkan aku susah menerima karena Paulus berkata seperti itu. Maka, jika kita menerima, kesannya kita kurang bahagia karena menerima seringkali membuat kita merasa berhutang budi. Namun, dulu sebuah postingan di Instagram seakan menegurku. Bunyinya, "Jangan hanya memberi! Belajarlah untuk menerima. Jangan halangi orang lain menjadi saluran berkat. Mereka juga berhak diberkati karena memberi."

Matius 10:41 (TB) Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.

Hehehe... menerima berkat sih boleh juga. Namun, aku tetap tidak bisa menerima jika ada yang salah. Kebanyakan koko yang kutegur, selalu tertular kekesalanku. Bahkan, ada yang minta dimaklumi sebagai pertanda bahwa dia tidak mau berubah. Om kecil itu agak berbeda. Dia masih mau mendengarkanku dan mau meminta maaf. Namun, kenapa rasa sungkannya masih diulangi lagi? Mungkin omelanku dianggapnya sebagai tanda sayang... wkwwkw...

Keesokan harinya kulihat dia tersenyum. Lalu kutes dengan mengajaknya ke suatu tempat. Dia pun langsung berkata, "Tidak" sambil tersenyum. Aku pun pergi sambil tersenyum. Semoga saja setelah kejadian ini dia tidak mengulangi rasa sungkannya lagi.

Kutahu dia takut aku marah. Namun, jika dia tetap sungkan, justru akan kuomeli lagi. Bahkan, jika dia masih tetap sungkan, aku akan minta Bapa menyingkapkan lebih banyak hal tersembunyi tentangnya, hal-hal yang belum kuketahui... xixixi...

Yeremia 33:3 (TB) Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.

Jangan Sungkanan

Batasan
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 13 Sept 2026

Ehm, akhir-akhir ini aku pun sedang kesal kepada om kecil yang sungkanan (suka tidak enak hati). Awalnya dia berkata kepadaku, "Aku tidak pernah menolak mereka yang mau menumpang di mobilku." Saat itu aku hanya membatin, "Itu salahmu. Kenapa tidak pernah menolak? Pantas saja kamu digosipkan dengan beberapa wanita bersuami."

Kalau pria tidak pernah menolak wanita yang ingin menikmati mobilnya, pasti dia akan terkesan playboy. Jika sudah menikah, pasti dia akan sering ribut dengan istrinya karena rasa sungkannya itu. Kemudian ada beberapa kejadian lain karena rasa sungkan itu. Maka, aku mulai menegurnya hingga beberapa kali. Kataku kepadanya:
* Berani katakan, "TIDAK".
* Ojo yo yo tok, (Jangan berkata, "Ya", "Ya" saja) kalau tahu itu salah, beritahu yang benar.

Pada kesempatan lain aku pun kembali menegurnya, "Kamu tidak bisa menyenangkan semua orang, kamu bukan pizza. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Tuhan pun tidak bisa. Contoh: Ada dua orang berdoa pada waktu yang sama di tempat yang sama. Yang satu minta hujan, yang satu minta tidak hujan. Nah, Tuhan cuma kabulkan salah satunya sehingga pasti ada yang tidak senang."

Nah, tiap kali selesai kuomeli, besoknya dia langsung berani menolak. Namun, pada peristiwa berbeda, dia akan mengulangi rasa sungkannya itu. Maka, beberapa hari lalu menjadi puncak kekesalanku.

Kutemukan bahwa dia bergabung dengan grup BMW E30 di Facebook (FB). Di sana dia dipanggil "Om" padahal usianya belum 30 tahun. Ini sudah biasa di medsos. Karena namaku yang maskulin, aku pun sering dipanggil "Pak" padahal aku tidak terlahir sebagai pria. Pemilik BMW pun diasumsikan sudah om-om, padahal ‘anak sultan’ atau salesman muda juga bisa.

Nah, di dalam grup itu dia menawarkan sparepart BMW dari Taiwan kepada anggota grup, tetapi tidak ada list (daftar) produknya. Beberapa orang meminta list-nya, tetapi dia minta DM (direct message). Teman kuliahku yang menerima jastip (jasa titip) camilan dari Korea, Jepang, atau negara lain selalu memberikan list produk.

Maka, pikirku, "List barang favoritnya saja tak bisa dibuat. Pasti dia juga belum membuat list yang kuminta. Mungkin dia memang tidak bisa membuat list. Kenapa dia tidak bilang sejak awal? Kenapa dia membuatku menunggu seperti orang bodoh? Percuma minta tanggung jawabnya. Lebih baik kukerjakan sendiri."

1 Korintus 1:27 (TB) Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

Ayatnya benar sih, tetapi tetap saja aku kesal kepadanya. Karena amat kesal, aku enggan berbicara dengannya. Kalau bicara, aku pasti marah. Jadi, kupikir lebih baik diam. Biasanya kalau kutegur, dia akan terlihat kesal, tetapi dia tidak membalas dan hanya mendengarkanku. Lalu beberapa waktu kemudian dia akan mengulanginya lagi.

Maka, aku akan capek sendiri jika terus mengomelinya. Namun, saat matahari terbenam tiba-tiba aku teringat pada suatu firman. Maka, aku terpaksa mengirim pesan kepadanya sekalipun tampak tidak masuk akal. Bagaimana jika dia tertular emosi negatifku? Namun, kuyakin Roh Kudus tak mungkin salah.

BUKTI KEBESARAN-MU
Tuhan Kau sempurna dalam rencana-Mu dan karya-Mu. Kuserahkan hidupku, murnikan dengan roh-Mu.
Hidupku menggenapi firman-Mu.
Tanda mujizat sertai tiap langkahku. Kau bersamaku, di dalamku. Jadi bukti kebesaran-Mu.

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.