Sunday, July 26, 2026

Apa Hanya Aku yang Aneh Sendiri?

Ciri Hati yang Berserah
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 26 Juli 2026

Berdandan? Baik siap hidup maupun siap mati, aku tidak suka berdandan. Hehehe... apa hanya aku yang aneh sendiri? Jelas tidak karena beberapa remaja muda juga seperti ini. Jika bisa dipermudah, kenapa harus mempersulit diri sendiri sih? Ketika ada undangan pesta dari keluarga kaya dan mereka rela merogoh koceknya untuk mendandaniku, ah ini merupakan berkat sekaligus salib.

Untunglah aku bukan Ester. Tak bisa kubayangkan jika tiap hari harus berdandan. Hal paling menyiksaku adalah saat harus memakai eyeliner dan fake eyelashes. Aduh, untung deh aku hanya rakyat jelata sehingga setiap hari tak wajib memakainya kemana-mana... hahaha...

Nah, karena tak suka berdandan, beberapa orang mengira usiaku masih dua bebek. Padahal, tahun ini usiaku sudah dua kursi. Sebenarnya sih merupakan suatu berkat terindah diberi karunia awet muda. Namun, hidup selalu seperti sekeping koin yang memiliki dua wujud. Di balik hal buruk, ada hal baik. Di balik hal baik, ada efek sampingnya.

Jika hanya ciwi-ciwi atau emak-emak yang salah paham dengan usiaku, tentu tak masalah. Namun, jika titi-titi yang salah paham dengan usiaku, wah ini bisa menjadi pertanda akan adanya perkara aneh bin ajaib.

Beberapa waktu lalu ada tetangga baru. Kami pun berkenalan. Dia menjabat tanganku erat-erat. Seumur hidupku jarang sekali ada orang yang berbuat hal ini. Biasanya jabat tangan seperti ini hanya diberikan oleh beberapa orang yang merasa berhutang budi atas kebaikanku.

Ketika dia menjabat tanganku, aku langsung teringat kepada kisah yang serupa. Sekalipun orang-orang itu tak bicara dan hanya menjabat tanganku, aku bisa merasakan ucapan terima kasihnya lewat gerakan dan bahasa tubuh mereka. Namun, kali ini seharusnya agak berbeda. Dia tidak mungkin berhutang budi kepadaku karena kami baru berkenalan.

Jika hal itu hanya untuk menunjukkan rasa percaya dirinya, jabat tangannya juga terasa berbeda. Aku pernah berjabat tangan dengan beberapa pendeta. Jabat tangan mereka juga erat dan mantap. Dari jabat tangan tersebut aku bisa merasakan kepercayaan diri mereka yang tinggi.

Jadi, sekalipun jabat tangannya sama-sama erat, rasanya tuh berbeda. Namun, perbedaan rasanya tuh tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Jabat tangan tidak hanya melibatkan tangan, tetapi juga kontak mata, gerak bibir, dan posisi tubuh. Jika kombinasinya sama, maknanya bisa sama. Jika kombinasinya sedikit berbeda, maknanya bisa berbeda. Aku sih lebih suka menjabat tangan orang lain, seperti kebanyakan orang yang biasa-biasa saja agar tidak meninggalkan kesan apapun… semoga saja ya.

Singkat cerita, pada suatu hari dari jarak lebih dari lima meter kudengar dia dan sesama titi sedang membahas tahun kelahiran mereka. Rata-rata mereka lahir pada tahun 1990-an. Lalu kudengar mereka mulai menyebut beberapa nama lain yang juga lahir pada tahun 1990-an. Nah, kudengar dia menyebut namaku lalu temannya menjawab, "Tidak termasuk. Bu Rully sudah tua." Hahaha... aku berpura-pura tidak mendengarnya dan tidak mau ikut campur. Toh kebenaran sudah diungkapkan.

Namun, agar makin meyakinkan dia, pada suatu kesempatan aku bersaksi kepadanya tentang mujizat Tuhan yang membawaku masuk Kristen dan batal baptis Katolik. Eh, ternyata dia Katolik sejak lahir. Lantas ketika dia menanyakan tempat kerjaku, kuundang dia untuk melihat profil Linkedin-ku. Nah, di sana dia bukan hanya bisa melihat riwayat pekerjaanku, dia juga bisa melihat riwayat pendidikanku.

Jika temannya hanya bisa mengatakan kepadanya bahwa aku sudah tua, dari Linkedin terlihat jelas perbedaan usianya tuh 15 tahun. Bahkan, sebenarnya berbeda 16 tahun karena pada tahun 1980-an aku tidak boleh masuk TK sebelum genap 5 tahun. Namun, pada tahun 1990-an umur 3-4 tahun pun boleh sekolah.

Nah, setelah hari itu, dia terkesan menjaga jarak dan pendiam. Sebagai spons emosi, aku bisa merasakan sepertinya dia ingin marah, tetapi tak tahu harus marah kepada siapa. Dia tidak mungkin marah kepadaku karena aku selalu berpenampilan polos apa adanya, tanpa riasan tebal untuk menutup kerutan, dan tanpa topeng atau masker. Itu semua menunjukkan bahwa aku tidak berniat memalsukan umurku.

1 Timotius 2:9-10 (TB) Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.

Masa dia mau memarahi dirinya sendiri karena telah salah menilai buku dari sampulnya? Jelas tidak mungkin juga karena pada dasarnya setiap orang tuh mencintai dirinya sendiri. Mau marah kepada Tuhan yang telah merias wajahku secara natural? Tidak mungkin juga toh karena Dia pasti tahu bahwa Tuhan berhak atas segalanya.

Maka dari itu, dia hanya bisa memendam kekesalannya. Namun, beberapa hari kemudian dia sudah mulai terlihat normal kembali. Mungkin dia sudah mendapat pencerahan ilahi... xixixi... Kuanggap jabat tangannya saat itu adalah ucapan terima kasih yang diberikan di depan.

KU TAK AKAN MENYERAH
Dalam s'gala perkara Tuhan punya rencana yang lebih besar dari semua yang terpikirkan. Apapun yang Kau perbuat tak ada maksud jahat s'bab itu kulakukan semua dengan-Mu Tuhan.
Chorus: Ku tak akan menyerah pada apapun juga sebelum kucoba semua yang kubisa tetapi ku berserah kepada kehendak-Mu. Hatiku percaya Tuhan punya rencana.
Ending: Hatiku percaya, Tuhan punya rencana. Hatiku percaya, Tuhan punya rencana.

Ciri Hati yang Berserah - Ps. Hendra Haryanto

Tongkat Emas untuk yang Berserah
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 26 Juli 2026

Tiga Ciri Hati yang Berserah:

1. Tenang dan Tidak Panik. Ketika terancam mati, Ester tenang dan berdoa. Dia berserah kepada Tuhan, "Jika harus mati, biarlah aku mati."

Setelah berpuasa dan siap mati, Ester berdandan. Jika kita mau mati, akankah kita masih berdandan? Namun, Ester tetap tenang dan berdandan dulu sebelum menghadap raja. Lantas raja mengulurkan tongkat emas kepadanya. Jadi, Ester tidak mati setelah berserah kepada Tuhan.

Jika kita mengalami krisis keuangan, apa tidak panik? Tenang dan berdoalah. Tuhan akan memeliharamu. Jika kita kehilangan pekerjaan, tetap tenang dan berdoa. Tuhan sanggup membuka jalan.

Taat kepada Tuhan itu seperti ini. Ketika kita sedang mengemudi lalu diminta belok kiri, kita pun belok kiri. Tidak taat berarti ketika diminta belok kiri, kita justru belok kanan. Ketika taat, kita masih mengetahui arahnya.

Sementara itu, berserah seperti diminta melepaskan setir. Kita tidak tahu hasil akhirnya, apakah akan menabrak, masuk jurang, atau selamat?  Namun, kita tidak perlu khawatir karena Tuhan yang akan memelihara kita. Bawa semua ketakutan kita kepada Tuhan.

Filipi 4:6 (TB) Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

2. Percaya kepada kehendak Tuhan dengan segenap hati. Seringkali kita ingin memaksa Tuhan untuk mengikuti rencana kita. Padahal, kita bukan Tuhan dan kita tidak akan sepintar Tuhan. Justru Tuhan serba tahu dan Dia memegang kendali atas hidup kita.

Amsal 3:5-6 (TB) Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Kita harus mengakuinya di setiap langkah kita sehingga ketika salah jalan, Tuhan bisa meluruskannya.

3. Menerima jawaban Tuhan. Jawaban Tuhan ada tiga macam.
* Ketika dijawab YA, tentu kita akan senang.
* Ketika dijawab TIDAK, tentu kita merasa sakit hati. Namun, jika kita masih percaya kepada-Nya, rasa sakit ini akan segera hilang dan kita kembali memuji-Nya.
* Hal yang paling tidak enak ketika dijawab TUNGGU. Pada momen seperti ini Tuhan mengajar kita untuk bersabar dan percaya dengan waktu-Nya.

Selanjutnya, mari kita renungkan isi koper kita. Apakah isinya sarat dengan kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, atau kemarahan? Serahkan kopermu kepada Yesus. Biarkan Dia memulihkanmu.

BERSERAH kepada YESUS
Bait 1: Berserah kepada Yesus, Tubuh, roh, dan jiwaku. Kukasihi, kupercaya, Kuikuti Dia t'rus.
Reff: Aku berserah, aku berserah pada Yesus, Juru Selamat, aku berserah.
Bait 2: Berserah kepada Yesus di kaki-Nya 'ku sujud. Nikmat dunia kutinggalkan. Tuhan, t'rima anak-Mu.
Bait 3: Berserah kepada Yesus 'ku jadi milik-Mu. B'rilah Roh-Mu meyakinkan bahwa Kau pun milikku.
Bait 4: Berserah kepada Yesus kuberikan diriku. B'ri kasih-Mu dan kuasa-Mu. Ya, berkati anak-Mu.
Bait 5: Berserah kepada Yesus, Kurasakan api-Nya. Kar'na s'lamat yang sempurna, Puji, puji nama-Nya.

Tongkat Emas untuk yang Berserah - Ps. Hendra Haryanto

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 26 Juli 2026

Jika kita akan pergi ke luar kota atau luar negeri dengan pesawat, salah satu hal yang akan kita lakukan adalah mempersiapkan koper. Jika perginya lama, kita akan menggunakan koper besar. Jika hanya pergi sehari, biasanya kita akan membawa koper kecil, kecuali di sana nanti mau membeli banyak oleh-oleh karena punya banyak uang.

Pada hari keberangkatan kita akan membawa koper itu dan menyimpannya di bagasi. Lalu koper yang tidak lebih dari tujuh kilogram akan kita simpan di kabin karena kita tidak boleh memangkunya atau meletakkannya di sebelah kaki. Semua yang naik pesawat seperti ini ya? "Apa hanya saya yang aneh sendiri?" Tanya pak Hendra.

Ester 4:16 (TB) "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati."

Mungkin kita semua telah membaca kitab Ester. Awalnya Raja Ahasyweros memiliki istri bernama Ratu Wasti. Karena kecantikannya, raja mengundang dia ke pestanya agar semua tamu bisa melihatnya. Namun, ratu Wasti menolak raja sehingga dia dibuang. Lantas raja mencari ratu baru dan terpilihlah Ester. Dia merupakan anak angkatnya Mordekhai atau keponakannya.

Sejak awal masuk istana Mordekhai melarang Ester memberitahukan kewarganegaraannya sebagai orang Yahudi. Sementara itu, Raja Ahasyweros memiliki Haman sebagai tangan kanannya. Haman ini sangat membenci Mordekhai, tetapi dia tidak mau jika hanya membunuh Mordekhai. Karena dia mengetahui bahwa Mordekhai adalah orang Yahudi, dia ingin membunuh semua orang Yahudi.

Ketika mendengar Haman mengeluarkan perintah untuk membunuh semua orang Yahudi, Mordekhai meminta Ester menghadap raja. Namun, Ester menolak karena jika menghadap raja tanpa dipanggil, dia bisa mati. Mordekhai memberitahunya bahwa sekalipun dia tinggal di istana, dia juga tidak akan luput dari rencana pembunuhan Haman karena dia juga Yahudi. Maka, Ester meminta Mordekhai dan seluruh bangsanya berpuasa untuknya sebelum dia menghadap raja. Dari sini dikenal puasa Ester.

Jadi, hanya untuk menghadap raja, Ester harus berpuasa karena ini taruhan nyawa. Pak Hendra bisa membayangkan jika dia berada di posisi Ester. “Untunglah saya bukan Ester,“ ujarnya. Bersyukurlah kita tidak perlu berpuasa ketika harus menghadap ketua CG. Kita pun tidak perlu berpuasa ketika akan menemui gembala kita.

Ester 5:2 (TB) Ketika raja melihat Ester, sang ratu, berdiri di pelataran, berkenanlah raja kepadanya, sehingga raja mengulurkan tongkat emas yang di tangannya ke arah Ester, lalu mendekatlah Ester dan menyentuh ujung tongkat itu.

Sunday, July 19, 2026

Waktunya Kembali Bergerak Maju - Ps. Caleb Natanielliem

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 19 Juli 2026

Jika kita mengasihi seseorang, tentu kita merayakan hari ulang tahunnya. Setiap orang perlu mengingat tanggal keramat pasangannya. Ketika merayakan ulang tahun gereja, kita bukan merayakan gedungnya, melainkan mempelainya.

Gereja adalah mempelai Kristus. Merayakan ulang tahun gereja berarti mempelai perempuan merayakan ulang tahun mempelai pria. Hari ini usia gereja telah 36 tahun. Ada banyak tantangan yang dihadapi hingga bisa bertahan sampai sekarang. Ada masa-masa tertentu dimana gereja tidak bisa merayakan ibadah dan rasanya ingin menyerah, tetapi karunia Tuhan memampukan gereja tetap melangkah maju.

Gereja merupakan rumah, tempat pemuridan, dan tempat misi Tuhan dikerjakan untuk melaksanakan amanat agung. Oleh karena itu, kita harus melangkah maju, seperti Kaleb bin Yefune.

Kaleb Lebih Mempercayai Tuhan Daripada Situasi Yang Dihadapinya.

Yosua 14:6 (TB) Bani Yehuda datang menghadap Yosua di Gilgal. Pada waktu itu berkatalah Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, kepadanya: "Engkau tahu firman yang diucapkan TUHAN kepada Musa, abdi Allah itu, tentang aku dan tentang engkau di Kadesh-Barnea.

Kaleb bin Yefune merupakan orang asing, yaitu orang Kenas. Orang Kenas merupakan keturunan Esau. Seharusnya janji Tuhan diberikan hanya kepada keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub. Meskipun awalnya Kaleb bukan orang Yahudi yang berhak menerima janji Tuhan, akhirnya dia ikut menerima janji tersebut.

Dia termasuk dua dari sepuluh pengintai tanah Kanaan yang memperkenan hati Tuhan. Dua belas orang melihat masalah yang sama, tetapi hanya dua orang yang melihat dari sudut pandang Tuhan. Sepuluh orang ketakutan saat melihat musuh, tetapi Yosua dan Kaleb tetap melangkah maju.

Kaleb Mengikuti Tuhan Dengan Sepenuh Hati.

Yosua 14:7 (TB) Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya.

Kaleb bin Yefune menerima janji Tuhan pada umur 40 tahun. Dia pun ikut hidup di padang gurun yang panas selama 40 tahunan. Namun, dia tetap setia mengikuti Tuhan sepenuh hati karena Tuhan telah terlebih dahulu setia kepadanya. Tuhan telah setia memelihara hidupnya. Sepenuh hati berarti hatinya dipenuhi dengan kesetiaan kepada Tuhan. Arti nama Kaleb adalah anjing, yang melambangkan kesetiaan.

Kaleb Tetap Berpegang Pada Janji Tuhan Yang Tidak Dibatasi Oleh Waktu.

Kaleb percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah gagal dalam menepati janji-Nya. Janji Tuhan tidak dibatasi oleh usia. Pada waktu yang tepat dia pun melangkah maju.

Yosua 14:10-11 (TB) Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.

Pada usia 85 tahun Kaleb menagih janji Tuhan. Seharusnya secara fisik kekuatannya sudah menurun. Mungkin jantungnya sudah tak sekuat dulu. Meskipun demikian, dia masih merasa sama kuatnya dengan umur 40 tahun. Ini karena kekuatan dari Tuhan.

Yosua 14:12 (TB) Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN."

Akhirnya dia pun memperoleh gunung yang dijanjikan Tuhan. Gunung ini bukan gunung biasa. Gunung ini dihuni oleh orang Enak – keturunan raksasa yang ditakuti oleh orang Israel. Di sinilah tempat tinggal para keturunan Goliat, yaitu semua raksasa yang besar. Inilah gunung yang diminta oleh Kaleb sejak umur 40 tahun.

Apapun tantangan yang kita hadapi saat ini, baik sakit penyakit maupun masalah pekerjaan, kita harus tetap melangkah maju. Tuhan memang tidak menjanjikan kemudahan, tetapi dia akan memampukan kita untuk mengatasi semua tantangan tersebut. Bersama Tuhan tidak ada yang mustahil. Sepanjang tahun ini kita akan mengalami Pentakosta setiap hari. Kita pun akan melakukan perkara besar bersama-Nya.

Michael Panjaitan pun sempat bersaksi di awal ibadah bahwa dia menikah pada tahun 2017. Saat itu dokter menyatakan bahwa dia tidak bisa memiliki anak. Namun, setiap hari dia dan pasangannya memperkatakan janji Tuhan. Kini mereka telah memiliki dua orang anak. Semuanya mungkin bagi Tuhan.

TUNTUNAN ILAHI
Verse 1: Bila Roh-Mu bekerja, Tak ada yang mampu menahannya. Pribadi yang agung nan mulia Tercurah 'tuk hati yang terbuka.
Verse 2: Bila Roh-Mu berkarya, Hati yang keras dilembutkan. Tak ada yang mampu hentikan Kuasa-Mu bekerja.
Chorus: Ini waktu-Mu Roh Kudus penuhi Setiap hati yang haus akan-Mu. Kulakukan perkara yang mustahil. Setiap hari bergerak dengan Tuntunan ilahi.

Sunday, July 12, 2026

Masalahku adalah Makananku

Roh Terobosan
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 12 Juli 2026

Ketika sedang berdiri memuji Tuhan, tiba-tiba kusadari beberapa wanita yang baru datang kekurangan tempat di baris yang sama denganku. Maka, aku menggeser tas dan jaketku ke kanan agar semuanya mendapat tempat duduk. Tak lama berselang pak Yusuf muncul untuk menyampaikan beberapa patah kata. Saat itulah kusadari bahwa tadinya roti dan anggur perjamuanku ada di kursi sebelah.

Ketika kugeser tasku, aku tidak melihatnya. Maka, aku berbalik dan melihat kursi sebelah yang sudah ditempati tas wanita lain. Roti dan anggurku sudah tak ada di sana. Ah, kemungkinan jatuh sewaktu kugeser tasku sehingga aku melihat ke arah lantai di antara kursi kami berdua, tetapi aku tetap tidak melihatnya. Jadi, aku kembali berdiri menghadap ke depan dan berhenti mencarinya.

Kemudian jemaat dipersilahkan duduk. Kupikir tak masalah jika aku harus mengikuti perjamuan tanpa roti dan anggur karena keduanya hanya simbolisme. Biarlah nanti orang lain beranggapan bahwa aku belum dibaptis sehingga tidak ikut makan roti dan minum anggur perjamuan.

Aku juga tidak akan menyalahkan para wanita yang ada di sebelah kiriku. Karena mereka datang terlambat dan aku harus bergeser untuk memberikan kursiku, aku kehilangan roti dan anggur perjamuan. Meskipun demikian, aku pun pernah terlambat seperti mereka dan hari ini pun aku terlambat sekitar semenit.

Ya, ini semua salahku karena terlalu percaya diri hingga tidak menyimpannya di dalam tas. Padahal, biasanya selalu kusimpan di dalam tas. Entah kenapa hari ini tidak terpikir olehku untuk menyimpannya. Aku yakin aku bisa memintanya kembali dari usher, tetapi aku tidak ingin repot-repot.

Kemudian aku melihat lagi ke lantai yang ada di sebelah kiri kursiku. Di bawah cahaya temaram lampu gereja, kulihat sebuah cup jelly kecil tertelungkup di sana. Lantas aku sedikit mencondongkan tubuh ke depan agar tangan kiriku bisa mengambilnya. Semula aku hanya meraba kaki kursi yang dingin, seperti besinya. Namun, aku yakin cup jelly tak jauh dari tanganku. Benar saja tak lama berselang tangan kiriku merasakan keberadaan cup kecil itu. Lalu aku segera mengangkatnya dan membaliknya.

Matius 9:28b (TB) "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?"

Di atas roti tertulis ayat tersebut. Lalu kujawab, "Ya, tolonglah aku yang tidak percaya ini." (karena kupikir ayat tersebut mengawali Markus 9:23... eh, ternyata beda cerita) Hehehe... selanjutnya kumakan, kuminum, dan kutelan roti dan anggur perjamuan yang nyaris hilang itu.

Ehm... aku masih tidak paham dengan rencana-Nya. Dia mau membuat kisah Hosea atau Yehuda? Mengapa aku berjumpa dengan dua orang seperti situasi mereka? Mengapa hari ini kata kuncinya tetap Hosea dan Yehuda? Hanya saja Hosea berubah menjadi Yosua. Oh, ada apa dengan mereka? Kisah apa yang sedang Tuhan tulis?

Keduanya akan membawa kesulitan tersendiri. Namun, Tuhan berkata, "Jangan takut dengan kesulitan karena kesulitan bukan untuk menghancurkanmu, melainkan menguatkanmu." Kamu siap menyongsong kesulitan? Lantas pada saat pendeta berkhotbah, aku dan wanita di sebelah kiriku hanya saling memandang sambil tersenyum karena kami merasa enggan berkata, "Masalahku adalah makananku."

Ah, yang benar saja, seharusnya wanita itu tidak perlu merasa bersalah atas jatuhnya roti dan anggurku karena aku tidak mengatakan apapun kepadanya. Aku tidak mempermasalahkannya. Seharusnya dia juga tidak menyadari jatuhnya roti dan anggur itu karena dia juga melihat bahwa aku telah memakannya, kecuali dia juga peka sepertiku.

Hehehe… masalahku adalah makananku. Padahal, biasanya terbalik loh. Biasanya makananku adalah masalahku, terutama jika makanannya pedas hingga menguras keringat, ingus, dan air mata karena tak tahan pedasnya... hahaha...

MENANTI JAWAB-MU
Engkau Tuhan tak pernah gagal. Engkau Tuhan tak pernah lalai. Setiap hari menanti janji-Mu. Ku tak lelah, menunggu jawab-Mu.
Chorus: Dalam kasih-Mu Kau membawaku naik. Dalam kuasa-Mu aku berlindung. Dalam kekudusan-Mu Kau membawaku menang. Berjalan dengan-Mu, kulewati semua.
Wo...  woo...
Ending: Oh hoo, ... Berjalan dengan-Mu, kulewati semua.

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.