Sunday, August 23, 2026

Kasih Agape - Pdt. Gatut Budiyono

Kasih dalam Keluarga
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 23 Agustus 2026

Pak Gatut ingin banyak orang melihat Kristus di dalam keluarganya. Hal ini pula yang membuat beberapa pembantunya menjadi Kristen. Padahal, awalnya ada pembantu yang anti kekristenan. Namun, karena dia suka mendengar lagu-lagu Kristen, dia pun mengikutinya hingga akhirnya dibaptis Kristen.

Sekalipun pak Gatut bukan berasal dari keluarga Kristen, jika dihitung-hitung, kini telah ada 150 orang dari keluarganya yang telah menjadi Kristen. Jika sesama anggota keluarga saling mengasihi, keluarga di Bumi akan seperti di Surga. Sebelum Tuhan menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus saling mengasihi dengan kasih Agape. Karena timbal balik kasih antara subjek dan objek terasa nikmat, akhirnya mereka menciptakan manusia serupa dan segambar dengan mereka.

Iblis ingin menghancurkan banyak keluarga, termasuk keluarga Kristen. Namun, dia tidak berhasil jika keluarga memiliki kasih agape. Suami melakukan yang terbaik untuk istri. Istri melakukan yang terbaik untuk suami. Orang tua melakukan yang terbaik untuk anak. Anak pun melakukan yang terbaik untuk orang tua. Tuan melakukan yang terbaik untuk hamba. Hamba juga melakukan yang terbaik untuk tuannya. Maka, di Bumi bagaikan di Surga.

Efesus 5:33 (TB) Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Kasih Agape dalam keluarga seharusnya:
* Suami mengasihi istri.

Efesus 5:25 (TB) Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

* Istri tunduk atau hormat kepada suami.

Efesus 5:22 (TB) Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,

* Orang tua mendidik anak. (tidak membangkitkan amarah mereka)

Efesus 6:4 (TB) Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

* Anak mentaati orang tua.

Efesus 6:1 (TB) Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.

* Tuan tidak mengancam bawahan.

Efesus 6:9 (TB) Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

* Bawahan melakukan yang terbaik untuk kepentingan tuannya.

Efesus 6:5 (TB) Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus,

Dulu pak Gatut pernah melakukan kesalahan. Dia pernah marah ketika putrinya berbohong. Jadi, dia mengoleskan sambal kepadanya. Ketika menyadari kesalahan ini, pak Gatut berulang kali meminta maaf kepada anaknya hingga anaknya berkata, "Cukup. Saya sudah belajar mengampuni. Sekalipun aku tahu tindakan papa salah, aku sudah memaafkan."

Berapa kali kita harus mengampuni? Kebanyakan orang Yahudi sama seperti kita yang hanya mau mengampuni sampai 3 kali. Jadi, dengan bangga Petrus berkata, "7 kali". Dia kira Yesus akan memuji prestasinya, tetapi ternyata Yesus menjawab bukan 7 kali. Yesus mau kita mengampuni sebanyak 70 kali 7 kali. Ini bukan 490 kali, tetapi unlimited.

TERLALU BESAR
Telah kulihat bukti kasih-Mu. Kau menderita, gantikanku. Dengan darah-Mu, Kau s'lamatkanku. Kini kuhidup menyenangkan-Mu.
Reff: Terlalu besar Kasih-Mu Bapa. Pengorbanan yang Kau b'rikan bagiku. Terlalu mahal darah-Mu Yesus, tercurah untuk menebus hidupku.
Hidup yang Kau b'rikan bagiku s'lamatkan dan pulihkanku lebih dari segalanya...

Kasih dalam Keluarga - Pdt. Gatut Budiyono

Terang dalam Keluarga
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 23 Agustus 2026

Efesus 5:1-2 (TB) Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Penurut = peniru. Pak Gatut melihat anak keduanya sering menarik-narik celana ke atas. Rupanya dia meniru kebiasaan pak Gatut yang tidak disadarinya. Anak-anak suka meniru orang tuanya. Nah, Tuhan mau kita pun meniru-Nya, seperti anak-anak yang suka meniru orang tua. Namun, dalam hal ini kita harus meniru Tuhan hingga makin serupa dengan Kristus.

Anak-anak pak Gatut masuk sekolah Kristen yang bagus, yaitu Charis. Di sini tiap hari mereka harus membuat daily devotion. Ini berarti tiap hari mereka harus membaca Alkitab. Namun, ada yang kurang. Mereka harus belajar berdoa. Jadi, tiap malam pak Gatut, bu Esther, dan kedua anaknya saling bergandengan tangan untuk berdoa bersama secara bergantian lalu ditutup dengan doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris.

Ketika putrinya kuliah di Bali, dia bersaksi bahwa dia senang di sana. Namun, dia merindukan momen doa bersama tersebut. Lantas dia menjadi dokter dan juga terpilih menjadi diaken termuda. Diaken lain berumur 50 tahunan, tetapi dia baru berumur 30 tahunan.

Ketika hamil anak pertama, tensi bu Esther mencapai 190 dan pak Gatut diminta untuk memilih antara anak atau istri. Pak Gatut berkata kepada dokter, "Saya ini pendeta sehingga saya pilih keduanya." Dokter mengatakan bahwa hal itu mustahil karena ada yang meninggal ketika melahirkan dalam tensi tinggi. Namun, pak Gatut dan ayahnya berdoa puasa hingga malam. Lantas pak Gatut tertidur jam 10 malam karena kelelahan.

Sekitar jam 1 pagi dia dibangunkan oleh dokter yang memakai sandal jepit dan diberitahu bahwa anaknya telah lahir. Tensi bu Esther telah normal menjadi 110 sebelum dia melahirkan. Karena bangun tidur, pak Gatut mengira dia masih bermimpi. Kemudian dia sadar bahwa hal itu bukan mimpi.

Bayinya hanya 1,8 kg. Dia kecil-kecil cabai rawit. Walaupun terlahir kecil, dia jarang sakit sekalipun sering membuka baju. Namun, pada masa awal bayi ini susah makan. Sekali makan, bu Esther harus menyuapinya selama 3 jam. Jadi, 9 jam sehari dia harus memberinya makan. Lambat laun putrinya sudah bisa makan sendiri. Namun, proses menyuapi putrinya telah melatih kesabaran bu Esther.

Kemudian pak Gatut dan bu Esther juga melayani penjara, termasuk Nusa Kambangan. Ketika pergi ke Nusa Kambangan, mereka bertemu dua anak dari pasangan Nigeria - Indonesia. Kedua anak ini diajak oleh ibunya ke sebuah warung di sana lalu ditinggalkan. Maka, keduanya dititipkan ke pak Gatut.

Ternyata keduanya sangat nakal. Anak cowok 5 tahun dan anak cewek 7 tahun. Banyak barang dipecahkan oleh mereka. Mereka juga suka lompat-lompat di atas kasur. Bahkan, mereka juga buang air kecil dan air besar di atasnya. Putra dan putri pak Gatut yang masih kelas 6 SD dan SMP pun berdiskusi lalu mendatangi pak Gatut. Mereka bertanya, "Papa pilih kami atau mereka?" Sebagai orang Kristen, pak Gatut menjelaskan secara baik-baik.

"Dulu kita semua seperti mereka di hadapan Tuhan. Namun, Tuhan mau mengasihi kita. Apa kalian juga mau mengasihi mereka seperti Tuhan mengasihi kalian?" Akhirnya mereka mau. Lalu mereka berdoa berenam. Setiap orang yang melihat kenakalan kedua anak itu akan bertanya, "Mengapa pak Gatut mau menerima anak-anak yang lebih nakal daripada setan?" Seolah-olah mereka pernah melihat kenakalan setan.

Namun, setelah 9 bulan, kedua anak nakal tadi mulai berubah menjadi jinak. Sekitar setahun kemudian tiba-tiba ibunya mencari mereka kembali. Pak Gatut pun mengembalikan mereka. Mungkin kedua anak tadi memang sengaja dipertemukan dengan keluarga pak Gatut untuk dibenahi dulu. Semoga mereka tidak ada masalah dengan keluarganya dan di kemudian hari mereka pun bisa mengubah keluarganya.

IMAN YANG MENGALAHKAN DUNIA
Sekalipun kumemiliki iman sekecil biji sesawi, namun kukenal yang kusembah, Tuhan yang besar di atas segalanya. Chorus: Kupercaya laut dapat menjadi jalan. Kupercaya badai pun dapat Kau redakan. Kupercaya gunung pun dapat kupindahkan dengan kuasa iman yang mengalahkan dunia.

Terang dalam Keluarga - Pdt. Gatut Budiyono

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 23 Agustus 2026

Pak Gatut membaca sebuah kutipan yang berbunyi, "Jika istri gembira, suami bahagia. Jika suami bahagia, istri curiga." Bagaimana bisa ada kutipan seperti ini? Di dalam Tuhan seharusnya tidak demikian.

Matius 18:23-24 (TB) Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

10.000 talenta = 192.300 tahun upah pekerja. Siapa yang bisa hidup hingga 192 tahun? 192 tahun saja belum bisa, apalagi 192.300 tahun. Keselamatan kita diberikan secara gratis bukan karena murahan, tetapi karena kita tidak sanggup membayarnya, seperti hamba yang berhutang 10.000 talenta itu.

Kita telah memilih jalan keselamatan yang gratis. Pengorbanan Yesus dianggap seimbang dengan dosa-dosa kita, padahal kita tidak layak menerimanya. Kita tidak akan mampu membayarnya. Inilah kasih Agape yang Tuhan berikan.

William Barclay mengatakan bahwa Agape adalah melakukan hal yang terbaik untuk orang yang kita kasihi. Jadi, agape bukan hanya rencana untuk mengasihi, bukan pula sekadar perasaan atau emosi. Agape adalah tindakan yang sudah dilakukan. Bahkan, jika harus berkorban nyawa, hal ini tetap dilakukan.

Efesus 4:1 (TB) Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

Berpadanan dalam bahasa aslinya menggunakan kata Axio, yang berarti seimbang. Jadi, setelah diselamatkan secara gratis, seharusnya hidup kita seimbang dengan panggilan tersebut. Pada awal pernikahan ketika suami melihat istri tersandung, suami akan menyalahkan batu yang membuat istrinya tersandung. Namun, setelah 20 tahun menikah, suami akan berkata, “Matamu Dimana?” Ini tidak benar. Kasih Agape harus tetap ada.

Efesus 4:2 (TB) Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

Kita diminta untuk rendah hati, lemah lembut, sabar, dan menunjukkan kasih (saling membantu). Pak Gatut pernah diminta untuk mengajar di sekolah teologi. Awalnya dia keberatan karena tempat tersebut dikelilingi dinding sehingga tidak bisa berinteraksi dengan dunia luar. Namun, akhirnya dia taat ke sana.

Sebagai dosen termuda di sana dia bertemu dengan murid tertua di sana, yaitu bu Esther. Singkat cerita, mereka menikah. Usia mereka selisih 1,5 tahun. Pak Gatut menemukan potensi bu Esther yang bisa berkhotbah. Jadi, dia membantunya menyiapkan bahan-bahan khotbah.

Ketika bu Esther mendapat panggilan untuk berkhotbah, pak Gatut membantunya dalam pekerjaan di rumah agar bu Esther bisa mempersiapkan diri dengan baik. Makin lama, bu Esther makin banyak menerima panggilan khotbah. Setelah 3-4 tahun berkhotbah di suatu kampus, giliran pak Gatut yang diundang ke sana.

Maka, dia memperkenalkan diri sebagai suami bu Esther dan jika sulit mengingat namanya, dia tidak keberatan untuk dipanggil pak Esther karena mereka lebih dulu mengenal bu Esther. Pak Gatut senang karena bisa melakukan yang terbaik untuk orang yang dikasihinya.

Sementara itu, pak Gatut terkenal sabar sedunia. Dia tidak mudah marah. Namun, hanya bu Esther yang mengetahui dia benar-benar sabar atau tidak. Sabar itu mempunyai dua dimensi, yaitu tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Nah, bu Esther menemukan bahwa pak Gatut masih menyimpan kesalahan orang lain. Maka, bu Esther membantunya untuk membereskan hal ini.

Kini, pak Gatut bukan hanya tidak cepat marah, tetapi juga tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ini karena bu Esther mau melakukan yang terbaik untuk orang yang dikasihinya. Jadi, pak Gatut dan bu Esther selalu berusaha memberikan kasih Agape dalam keluarga.

Kasih dalam Keluarga

Tuesday, August 18, 2026

Perubahan Rencana

Pada suatu sore yang cerah sekelompok anjing berkumpul bersama di sebuah gudang beraroma tembakau. Karena tak tahan dengan aromanya, Golden Retriever terpaksa menjadi satu-satunya anggota yang mengenakan masker. Tentu hal ini tak masalah baginya karena dia sudah terbiasa menjadi berbeda atau aneh.

Dia bukan hanya terlalu peka dalam mencium aroma tembakau, dia juga peka dalam menyerap emosi yang ada di sekitarnya. Namun, dia tidak mau mengutarakannya. Saat itu semua anjing telah menempati semua kursi yang tersedia. Lalu datanglah si jantan Cane Corso dan dia melihat bahwa satu-satunya kursi yang tersisa adalah di samping kanan Golden Retriever.

Maka, Cane mulai mengatur ulang posisi duduk semua anjing, kecuali posisi Golden dan Shih Tzu. Mereka berdua sudah sering menentang Cane yang suka mengintimidasi anjing-anjing lemah sehingga Cane tidak mau mengusik mereka.

Golden juga tak mau ambil pusing. Dia tidak mau melihat pengaturannya. Dia berpura-pura sibuk sendiri. Dia berpura-pura tidak mendengar dan tidak tahu menahu tentang semua kebisingan gerakan yang tak perlu itu. Cane lebih banyak menggunakan isyarat tangan untuk mengatur posisi mereka. Dengan sudut matanya Golden melihat bahwa Cane sibuk tunjuk sana sini dan semua anjing yang dikode olehnya segera berpindah posisi.

Poodle kesayangannya pun harus pindah posisi. Dia diminta olehnya untuk duduk di samping kanan Golden. "Dasar tidak peka," pikir Golden. Namun, dia diam saja dan berlagak tak peduli padahal dia tahu Poodle grogi jika harus berada di dekatnya. Poodle tahu bahwa Golden bisa berubah menjadi Doberman jika sedang marah.

Meskipun demikian, mau tak mau Poodle menuruti Cane karena dia lebih segan kepada Cane daripada Golden. Namun, ketika Poodle melihat kursi kosong di samping kanan Cane, dia segera pindah lagi ke samping Cane. Ah, lagi-lagi Cane memintanya untuk kembali duduk di samping kanan Golden.

Dengan kemampuannya menyerap emosi, Golden bisa merasakan kebingungan si jantan Poodle. Namun, Golden justru memasang muka sedatar dinding alias tanpa ekspresi padahal hatinya tertawa geli. "Aneh-aneh saja sih Cane ini. Apa dia ingin Poodle mengawasiku? Salah penempatan lha."

Lantas dia merasakan kegelisahan Poodle yang ada di samping kanannya. Rasanya dia sedang menoleh ke arahnya. Benar saja. Beberapa detik kemudian Poodle bertanya kepadanya, "Bisakah kita bertukar tempat duduk?" Tanpa bicara, Golden langsung berdiri dari kursinya sehingga mereka bisa bertukar posisi.

Di tengah-tengah acara Poodle pun mulai berpindah-pindah posisi. Dia merasa tak nyaman berada di antara dua anjing betina (Golden dan Shih Tzu) yang pernah menentang Cane. Maka, dia mulai menyusup di antara Golden dan si jantan Border Collie untuk berbicara dengan Border dan Golden.

Beberapa menit kemudian dia sudah pindah ke samping kanan si jantan Cane lagi. Selanjutnya, acara pertemuan hari itu berjalan dengan lancar karena Cane sibuk berbincang dengan Poodle. Dia pun tidak banyak melibatkan diri dengan anjing-anjing lain sehingga suasana tetap aman terkendali.

Nah, ketika gelap mulai menyapa, tiba-tiba Merpati berkata kepada Golden, "Bersaksilah kepada Poodle tentang perpindahan kursi". Seketika Golden menjawab, "Ah, hahaha... yang benar saja. Mengapa tidak bilang dari tadi sih?"

Amsal 16:9 (TB) Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.

Meskipun begitu, Golden tak mampu menolak permintaan Merpati yang telah begitu baik kepadanya. Sekalipun harus malu, sekalipun takut, sekalipun tak nyaman, sekalipun tak sesuai dengan kepribadiannya, dia akan berusaha mewujudkan permintaan Merpati. Jadi, dia mulai mengirim pesan kepada Poodle.

"Akhir-akhir ini rasanya ada hal-hal yang serba tidak masuk akal. Padahal, sudah kubilang kepada Merpati kalau aku masih suka yang normal dan serba masuk akal.

Tadi masuk akal sih sewaktu Cane tidak mau duduk di sebelahku karena kami emang bagaikan musuh bebuyutan sejak kasus manipulasinya kubongkar.

Tapi, tiba-tiba jadi tidak masuk akal karena Cane berlagak seperti wali kelasku yang suka mengatur tempat duduk orang lain.

Dulu aku sampai dihukum guruku itu cuma gara-gara pindah tempat duduk. 😄"

Lantas Golden dan Merpati tertawa geli. Kata Golden, "Sia-sialah aku berlagak jaim tadi. Sekarang malah membongkar kemampuan rahasiaku dalam menyerap emosinya... hahaha... Bikin malu saja." Namun, tak masalah bagi Golden karena dia sudah terbiasa memasang wajah sedatar dinding… wkwkw…

OLEH DARAH ANAK DOMBA
Sekarang t'lah tiba kes'lamatan dan kuasa dan pem'rintahan Allah kita. Kuasa Dia yang diurapi-Nya kar'na t'lah dilemparkan-Nya para pendakwa kita.
Chorus: Oleh darah anak domba, oleh kesaksian kita iblis dikalahkan. Kuasanya dihancurkan oleh darah Anak Domba.

Golden masih ingat bahwa Poodle pernah jatuh sakit ketika harus pulang malam. Bahkan, ketika Golden meminta Poodle membantunya dalam hal-hal kecil, Poodle juga tidak bisa menuntaskannya. Jadi, sekalipun Golden sudah terbiasa menghadapi hal-hal yang tidak masuk akal, dia tidak mau melibatkan Poodle. Jika Poodle terlihat berteman baik dengan Golden, mungkin saja Cane, si jantan Rottweiler, dan beberapa serigala betina akan menekannya.

Nah, Poodle belum tentu sanggup menghadapi tekanan tersebut. Ketika tekanan itu datang, kemungkinan besar Poodle akan menyalahkan Golden, seperti kebanyakan anjing kecil lainnya. Jadi, untuk saat ini, lebih baik Poodle tetap menjadi anak kesayangan si galak Cane… hehehe…

Yesaya 26:3 (TB) Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.

Sunday, August 16, 2026

Sebab Itu Aku Menasihatkan

Saling Membantu
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 16 Agustus 2026

Fiuh... sudahlah, tak penting dia sampaikan kemarin atau hari ini, yang penting sudah disampaikan olehnya. Namun, aku enggan meminta bantuannya lagi dan enggan bicara dengannya lagi. Eh, bangun tidur aku diberi lagu oleh Roh Kudus.

SETIA DAN BERKENAN (Living Worship ft. Sidney Mohede)
Bapa kudatang dengan penuh kerinduan. Kunaikan syukur atas kebaikan-Mu. Segala yang kuperlu Kau sediakan bagiku. Kini saatnya kuberikan yang terbaik bagi-Mu.
Chorus: Ini aku, Tuhan. Kubawa hidupku s'bagai persembahan yang kudus dan berkenan pada-Mu. Pakailah hidupku sesuai rencana-Mu yang indah. Kumau setia, berkenan pada-Mu.
Bridge: Kumau hidup dalam rencana-Mu. Seumur hidupku menyenangkan-Mu.

Sepanjang hari lagu tersebut terus kusenandungkan di dalam hati hingga kekesalanku hilang. Dia punya kekurangan. Aku pun punya kekurangan. Aku tidak sempurna. Mana mungkin menuntutnya sempurna? Jika aku mau meminta bantuannya, aku hanya perlu aktif meminta umpan balik darinya.

Aku juga memberitahu dia untuk tidak segan menjawab, "Tidak". Aku tidak mau melihat senyuman arwah lagi. Lebih baik dia menjawab, "Tidak" daripada tersenyum sebagai isyarat penolakan. Lalu aku mulai memanggilnya lagi dan meminta bantuannya lagi. Kali ini dia langsung menjawab, "Tidak mau." Hehehe... beginilah salah satu ciri murid yang pintar. Sekali kuajari, langsung bisa dia praktekkan. Good.

Kemudian ada kejadian lain lagi dan kuminta penjelasannya. "Kudengar kamu beberapa kali dekat dengan istri orang lain. Ada apa denganmu?" Dia menjawab, "Aku tidak ada apa-apa. Saat itu kami bertiga. Kami sedang bersama temanku lainnya. Aku tidak bisa mengontrol mulut orang lain. Aku anggap hal itu sebagai angin lewat. Aku juga tidak peduli dengan opini seperti itu, tetapi aku begini dan begitu."

Kataku, "temanmu tuh bestimu. Dia bisa membantumu menutupi hal itu." Namun, dia berkata, "Tidak ada yang perlu ditutupi." Wah, cara jawabnya cukup dewasa. Hahaha... aku pernah belajar cuek sehingga aku tahu dia masih ada kepedulian. Jika dia benar-benar tidak peduli, dia pasti tidak menjelaskan apapun."

Ketika aku digosipkan hamil, aku benar-benar tidak peduli sehingga aku tidak mau menjelaskan apapun. Pikirku, "Orang yang mengenalku tidak perlu penjelasan. Orang yang tidak mengenalku juga tidak akan percaya sekalipun kujelaskan." Namun, pada saat itu Tuhan justru mengajariku untuk berperang. Aku pun bangkit pada hari ketiga dan menjadi lebih dari pemenang.

Beberapa tahun kemudian beberapa pelaku tersebut menghubungiku kembali. Namun, aku hanya bertanya, "Maaf, siapa ya? Aku tidak ingat kalian." Kejujuran itu mahal dan tidak pantas diberikan kepada mereka yang tidak menyukai kejujuran.

Karena raja kecil masih agak peduli dengan opiniku, aku masih bisa memberi nasihat singkat, "Kalau memang tidak ada apa-apa, ya berhati-hatilah agar kamu tidak terpengaruh oleh pergaulan yang serba bebas. Jangan sampai kamu dimanfaatkan oleh mereka pula."

Galatia 6:10 (TB) Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Beberapa hari lalu mobilku nyaris mengalami tabrakan lagi hingga tiga kali. Eh, kemarin juga nyaris menabrak lagi. Jeritan ngeri pun sempat tak terhindarkan. Ah, iblis selalu merancangkan kecelakaan. Namun, seingatku telah puluhan kali Tuhan meluputkanku dari kecelakaan, musibah, dan sakit penyakit.

Aku tidak tahu cara pengawal Tuhan bekerja sehingga iblis sering gagal mencelakaiku. Namun, kutahu selama masih ada kesempatan hidup, aku harus menghalangi rencana iblis dan bersaksi bagi Tuhan. Setidaknya aku tidak akan membiarkan iblis menang dengan mudah.

Mazmur 118:17 (TB) Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.

Selama ini aku belum pernah berhasil memenangkan jiwa atau minimal bawa orang ke gereja. Ditinjau dari hasil kerjaku, seharusnya aku bukan ancaman bagi kerajaan kegelapan. Bahkan, sesama orang Kristen ingin menghalangiku hidup dalam kebenaran dengan menyebutku naif, aneh, dan suka ikut campur urusan orang lain karena mereka juga tidak suka kutegur dan kunasihati. Mereka lebih suka cara hidup dunia.

Orang Budha pun heran dan berkata, "Kupikir kamu hanya menerapkan nilai-nilaimu untuk dirimu sendiri, tetapi kamu juga menerapkannya untuk orang lain." Loh, itu bukan nilai-nilai pribadiku. Jika aku ingin orang lain menjadi warga Kerajaan Allah, tentu saja aku akan menyampaikan nilai-nilai yang harus diikuti selama hidup di dalamnya. Jika mereka memang tidak mau menjadi warga Kerajaan Allah, aku juga tidak memaksa karena setiap orang punya kehendak bebas.

Namun, kenapa rasanya aku terus menerus ditarget oleh Kerajaan kegelapan? Nyaris celaka kok bolak balik sih?

1 Petrus 4:12-13 (TB) Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.

Karena iblis tidak meremehkanku, aku juga tidak akan meremehkannya. Aku telah meminta bantuan teman non-Kristen untuk mengawasi raja kecil. Jika dia memang tidak salah bergaul, tentu saja dia tidak keberatan jika diawasi. Namun, semoga dia tidak sadar jika nanti diawasi karena iblis juga mengintainya.

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.