Sunday, May 31, 2026

Saksi Kristus - Ps. Johan Lumoindong

Menjadi Saksi Kristus
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 31 Mei 2026

Lalu ayahnya mengatakan bahwa dia akan memukulnya. "Ayo berdiri dan pukul aku," kata pak Johan. Kemudian ibunya muncul dan pak Johan diminta oleh ibunya untuk meminta maaf kepada ayahnya jika ingin menjadi hamba Tuhan.

Akhirnya pak Johan meminta maaf kepadanya. Karena tubuh kanan ayahnya tidak stroke, dia masih bisa memukuli pak Johan. Lalu kerah bajunya ditarik dan dia dipeluk oleh ayahnya yang juga meminta maaf. Mereka pun ribut lagi karena sama-sama berkata, "Aku yang salah." Dua tahun kemudian ayahnya meninggal. Saat itu ayahnya merasa beruntung karena dikasihi oleh istri dan ketujuh anaknya.

Selain menghormati orang tua, kita juga harus mengingat mereka yang telah berbuat baik kepada kita. Dalam pernikahan pak Johan juga pernah ribut dengan istri hingga istrinya membanting pintu. Mungkin dia ingin membanting pak Johan. Namun, mereka tidak pernah ribut lebih dari sejam. Dia akan melihat waktunya dan dia akan bertindak sebelum sejam. Kata istrinya, “Kamu selalu baik kepada orang lain, tetapi tidak kepadaku.” Lalu pak Johan memeluknya dan masalah selesai.

Jika dia berkhotbah sebelum menyelesaikan masalahnya, anak atau istrinya bisa berkata, "Boong. Boong. Boong." Jadi, berkhotbah di depan keluarga adalah hal yang sulit karena mereka mengenal kita dengan baik.

Ketika ribut dengan istri, tidak ada kopi, tidak ada nasi goreng, tidak ada bakmie goreng. Dia meminta Tuhan untuk mengirimkan semua itu. Namun, Tuhan justru meminta dia berbaikan dulu dengan istrinya. Jadi, dia melakukannya karena yang penting bukan siapa yang benar, tetapi yang penting masalah selesai.

Pak Johan terkena covid dua kali, yaitu sekitar tahun 2020 dan 2023. Saat itu uangnya pernah tersisa Rp250.000,- sehingga dia serahkan kepada istrinya - ras terkuat di dunia. Mereka pun mengadakan worship bersama di Instagram. Keajaiban terjadi pada saat itu. Ada banyak orang mengirimkan makanan dan obat-obatan.

Ada seorang wanita yang mengirimkan makanan karena dia buka restoran dan harus tutup. Agar makanannya tidak basi, mereka diminta untuk menjadi tester. Karena tester makanan sangat banyak, mereka pun berbagi dengan sopir dan pembantu, serta keluarga besar. Pegawai mereka pun mengira jika mereka kaya padahal mereka tidak tahu situasi sebenarnya disebabkan oleh orang yang takut makanannya basi.

Jadi, ketika kita dipilih untuk menjadi hamba Tuhan, ada penyediaan yang Tuhan berikan. Anak pak Johan pun mengikuti jejaknya sebagai hamba Tuhan. Sekitar jam 1 pagi dia mengetuk pintu kamar orang tuanya dan berkata, "Saya dipanggil Tuhan." Jawab pak Johan, "Saya tengking roh kematian."

"Bukan Pa. Saya dipanggil untuk menjadi hamba Tuhan," ujar anaknya lagi. Maka, pak Johan berkata, "Jangan lihat papa sekarang. Jika kamu melihat keadaan papa 40 tahun lalu, mungkin kamu tidak ingin menjadi hamba Tuhan." Jawab anaknya, "Tidak Pa. Tuhan memang memanggilku. Tangan-Nya melambai-lambai. Saya siap dikirim ke daerah perbatasan atau Papua atau kota pinggiran."

Agar yakin bahwa hal itu memang panggilan Tuhan, pak Johan meminta dia kuliah di universitas yang terkenal paling sulit di Silo. Ternyata Silo ada di Gaza. Istrinya tidak setuju karena hal itu sama dengan mengantar anaknya ke kematian. Lantas anaknya diminta mendaftar kuliah di Amerika. Jika dia bisa masuk sana, artinya dia memang dipanggil untuk menjadi hamba Tuhan. Ternyata dia berhasil masuk.

TUHAN yang BESAR
Kuhidup kar’na percaya. Kau yang berjanji setia. Pengharapanku s’lalu ada di dalam-Mu. Ku tidak akan menyerah meski dalam kesesakan. S’luruh hidupku dalam genggaman-Mu. Aku punya Tuhan yang besar yang t’lah berjanji dan sanggup menggenapi. Imanku bersepakat percaya kuasa-Nya. Kut’rima s’karang, kemenangan dari-Mu.

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.