Menjadi Saksi Kristus
Catatan Ibadah
ke-1 Minggu 31 Mei 2026
Lalu ayahnya
mengatakan bahwa dia akan memukulnya. "Ayo berdiri dan pukul aku,"
kata pak Johan. Kemudian ibunya muncul dan pak Johan diminta oleh ibunya untuk
meminta maaf kepada ayahnya jika ingin menjadi hamba Tuhan.
Akhirnya pak
Johan meminta maaf kepadanya. Karena tubuh kanan ayahnya tidak stroke, dia
masih bisa memukuli pak Johan. Lalu kerah bajunya ditarik dan dia dipeluk oleh
ayahnya yang juga meminta maaf. Mereka pun ribut lagi karena sama-sama berkata,
"Aku yang salah." Dua tahun kemudian ayahnya meninggal. Saat itu
ayahnya merasa beruntung karena dikasihi oleh istri dan ketujuh anaknya.
Selain
menghormati orang tua, kita juga harus mengingat mereka yang telah berbuat baik
kepada kita. Dalam pernikahan pak Johan juga pernah
ribut dengan istri hingga istrinya membanting pintu. Mungkin dia ingin membanting pak Johan. Namun, mereka tidak pernah ribut lebih dari sejam. Dia
akan melihat waktunya dan dia akan bertindak sebelum sejam. Kata istrinya, “Kamu
selalu baik kepada orang lain, tetapi tidak kepadaku.” Lalu pak Johan
memeluknya dan masalah selesai.
Jika dia
berkhotbah sebelum menyelesaikan masalahnya, anak atau istrinya bisa berkata,
"Boong. Boong. Boong." Jadi, berkhotbah di depan keluarga adalah hal
yang sulit karena mereka mengenal kita dengan baik.
Ketika ribut
dengan istri, tidak ada kopi, tidak ada nasi goreng, tidak ada bakmie goreng.
Dia meminta Tuhan untuk mengirimkan semua itu. Namun, Tuhan justru meminta dia
berbaikan dulu dengan istrinya. Jadi, dia melakukannya karena yang penting
bukan siapa yang benar, tetapi yang penting masalah selesai.
Ada seorang
wanita yang mengirimkan makanan karena dia buka restoran dan harus tutup. Agar
makanannya tidak basi, mereka diminta untuk menjadi tester. Karena tester
makanan sangat banyak, mereka pun berbagi dengan sopir dan pembantu, serta
keluarga besar. Pegawai mereka pun mengira jika mereka kaya padahal mereka
tidak tahu situasi sebenarnya disebabkan oleh orang yang takut makanannya basi.
Jadi, ketika kita
dipilih untuk menjadi hamba Tuhan, ada penyediaan yang Tuhan berikan.
Anak pak Johan pun mengikuti jejaknya sebagai hamba Tuhan. Sekitar jam 1 pagi
dia mengetuk pintu kamar orang tuanya dan berkata, "Saya dipanggil
Tuhan." Jawab pak Johan, "Saya tengking roh kematian."
"Bukan Pa.
Saya dipanggil untuk menjadi hamba Tuhan," ujar anaknya lagi. Maka, pak
Johan berkata, "Jangan lihat papa sekarang. Jika kamu melihat keadaan papa
40 tahun lalu, mungkin kamu tidak ingin menjadi hamba Tuhan." Jawab
anaknya, "Tidak Pa. Tuhan memang memanggilku. Tangan-Nya melambai-lambai.
Saya siap dikirim ke daerah perbatasan atau Papua atau kota pinggiran."
Agar yakin bahwa
hal itu memang panggilan Tuhan, pak Johan meminta dia kuliah di universitas
yang terkenal paling sulit di Silo. Ternyata Silo ada di Gaza. Istrinya tidak
setuju karena hal itu sama dengan mengantar anaknya ke kematian. Lantas anaknya
diminta mendaftar kuliah di Amerika. Jika dia bisa masuk sana, artinya dia
memang dipanggil untuk menjadi hamba Tuhan. Ternyata dia berhasil masuk.
TUHAN yang BESAR
Kuhidup kar’na percaya. Kau
yang berjanji setia. Pengharapanku s’lalu ada di dalam-Mu. Ku tidak akan
menyerah meski dalam kesesakan. S’luruh hidupku dalam genggaman-Mu. Aku
punya Tuhan yang besar yang t’lah berjanji dan sanggup menggenapi. Imanku
bersepakat percaya kuasa-Nya. Kut’rima s’karang, kemenangan dari-Mu.







0 komentar:
Post a Comment