Sunday, May 31, 2026

Menjadi Saksi Kristus - Ps. Johan Lumoindong

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 31 Mei 2026

Kisah Para Rasul 1:8 (TB) Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Ketika melihat bangku-bangku kosong di gereja, seharusnya kita menyadari panggilan Tuhan untuk bersaksi bagi-Nya. Kita tidak perlu berkata kepada setiap tetangga, "Bertobatlah!" karena kita bisa diusir. Namun, kita bisa melakukannya dengan mengajak anak atau saudara ke gereja.

Kisah Para Rasul 1:1 (TB) Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus,

Buku pertama yang ditulis oleh Lukas adalah kitab Lukas. Kisah Para Rasul merupakan buku kedua yang ditulis oleh Lukas. Teofilus dikenal sebagai sahabat Lukas - seorang Romawi yang mengikuti Yesus. Jadi, Lukas mengingatkan Teofilus untuk tidak melupakan segala sesuatu tentang Yesus. Inilah kesaksian yang harus kita bagikan. Banyak orang bisa bersaksi di gereja, tetapi Tuhan mencari orang-orang yang mau bersaksi, baik di dalam maupun di luar gereja.

Menghormati orang tua merupakan salah satu perintah Allah yang harus ditaati dan tidak ada kata kecuali. Ayah pak Johan sangat kasar. Dia sering memukul ibunya dan dirinya sehingga sewaktu kecil dia sering kabur dari rumah. Namun, ibunya tidak pernah melawannya dan melarang semua anaknya untuk melawan ayahnya. Sekalipun tujuh anak setuju jika ibunya menceraikan ayahnya, ibunya tidak mau karena dialah yang telah memilihnya sebagai suami.

Dia justru berkata, "Jika ibu bercerai darinya, ibu akan menjadi mantan istrinya, tetapi kalian akan tetap menjadi anak-anaknya. Hormatilah ayahmu." Lantas ibunya mengingatkan pak Johan untuk fokus kepada kebaikan ayahnya. "Dulu siapa yang mengantar jemputmu ke sekolah dengan berganti-ganti mobil? Bukankah itu ayahmu?"

Ketika pak Johan dipukuli ayahnya hingga babak belur, ibunya hanya meminta dia menahannya. Setelah itu pak Johan berlari ke kamar dan menangis. Lalu ibunya membaluri dia dengan minyak dan mengingatkan dia untuk tetap menghormati ayahnya karena yang jahat bukan ayahnya, tetapi iblis.

Namun, hal itu tidak mudah karena setiap hari yang dilihat adalah ayahnya, bukan iblis. Mungkin ayahnya kecewa karena dia pernah kaya. Namun, ketika jatuh, tak ada teman yang mau menolongnya. Lalu dia lampiaskan kekesalannya itu kepada istri dan anak-anaknya.

Apapun alasannya, pak Johan pun bertekad untuk tumbuh besar agar bisa membalasnya sehingga dia mau makan banyak. Di meja makan ibunya bertanya, "Apa kamu kecewa?" Pak Johan menjawab, "Ibu tidak tahu rasanya." Ibunya segera mengingatkan pak Johan tentang bekas-bekas luka di tubuhnya sambil berkata, "Ibu juga merasakannya, tetapi jangan kecewa."

Mungkin di Indonesia hanya ada tiga orang yang mau berbuat seperti ini. Satu di Jakarta, satu di Surabaya, dan satunya mungkin berada di kota besar lainnya. Ketika pak Johan dewasa, ayahnya terkena stroke sebelah kiri. Ini seperti tiba waktunya untuk pembalasan. Dia bertanya kepadanya yang sedang duduk di kursi roda, "Ibu dimana?" Karena stroke, ayahnya tidak bisa berbicara dengan jelas. Jadi, pak Johan berkata, "Bicaramu tidak jelas."

Saksi Kristus

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.