Saksi Kristus
Catatan Ibadah
ke-1 Minggu 31 Mei 2026
"Ternyata
mamaku masih dendam terhadapku. Aku mendengar dia bercerita kepada sepupuku
tentang perkataanku beberapa waktu lalu." Ucap seseorang.
"Mungkin
kata-katamu memang menyakitkan dia." Ujarku.
Jawabnya,
"Dia mengusirku dari rumah karena kubilang aku tidak cocok dengannya
dan lebih cocok dengan papaku. Masa orang tua sampai mengusir anaknya? Padahal,
aku sudah berbaik hati menjaga dan merawatnya."
Jawabku,
"Salahmu sendiri. Kenapa kamu harus mengatakan hal itu kepadanya? Semua
ibu di dunia ini pasti akan tersinggung jika anaknya mengatakan hal itu. Jika
tidak percaya, silahkan saja bertanya kepada ibu-ibu lain."
Ujarku pula,
"Dia telah merawatmu sebagai ibu tunggal sejak papamu meninggal. Kamu
pikir menjadi ibu tunggal itu mudah? Sebaik-baiknya kamu, kamu tidak akan
pernah bisa membalas kebaikannya. Lagipula papamu telah lama tiada. Kenapa
masih membanding-bandingkan mereka? Harusnya kamu hargai yang masih
hidup."
Kataku kesal
karena curhatnya mengganggu acara liburanku, "Jika kamu bertukar posisi
dengan cecemu, aku yakin kamu pun akan melakukan hal yang sama. Cecemu harus
merawat tiga anak kembar dan suaminya. Seharusnya kamu bersyukur karena diberi
kesempatan lebih banyak untuk berbakti kepada mamamu."
Lanjutku, "Jika kamu masih mengungkit-ungkit kebaikanmu terhadap mamamu, artinya kamu tidak ikhlas merawatnya. Lebih baik kamu tinggalin saja dia daripada terpaksa merawatnya hingga merasa dikorbankan dan iri kepada cecemu yang tidak bisa merawatnya." Ah, sebagai anak, kenapa dia bisa perhitungan begitu? Mungkin karena dia anak bungsu yang biasa dimanja.
Aku pernah
membaca cerita tentang surat yang ditulis oleh seorang terpidana mati kepada
ibunya. Di dalam surat itu si terpidana mati menulis bahwa seharusnya ibunya
yang dihukum mati. Dia mengingatkan ibunya bahwa sejak kecil ibunya selalu
membela dan melindunginya tiap kali dia melakukan kesalahan. Karena hal ini,
dia terus menerus melakukan kesalahan dan makin lama makin jahat.
Surat itu ada
benarnya agar orang tua tidak terlalu memanjakan anak hingga membelanya tiap
kali salah. Namun, pria itu seharusnya juga belajar dari sumber-sumber lain
sehingga tidak hanya menyalahkan ibunya atas semua kejahatan yang dilakukannya.
>> Memberikan
semangkok nasi akan menciptakan hutang budi, tetapi memberikan sekarung beras
akan menciptakan musuh. <<
Kemudian aku
berkata kepadanya, "Kata tidak cocok seharusnya hanya diucapkan jika kamu
memang ingin diusir karena kata-kata tersebut selalu kujadikan alasan untuk
mengundurkan diri dari pekerjaan." Sejak saat itu aku berusaha mengurangi
intensitas percakapan dengannya agar dia punya waktu untuk introspeksi diri. Percuma
dia curhat jika tujuannya hanya untuk mencari orang yang mau membenarkan dirinya.
Namun, di
kemudian hari aku bertemu bos aneh yang tidak bisa dihadapi dengan kata kunci 'tidak
cocok'. Karena keanehannya, aku pun penasaran seperti villain yang
berhadapan dengan Kang Robin dalam film Wonderfools, "Siapa kamu? (Kenapa
mantraku tidak mempan?"
1 Korintus 1:27 (TB) Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih
Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi
dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,
Terkadang Tuhan
memang memilih orang yang bodoh seperti Kang Robin untuk memalukan orang
berhikmat. Dia tidak menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan orang
yang berniat jahat terhadapnya. Namun, Tuhan tidak mau kita tetap bodoh
sehingga kita harus menambah pengetahuan. Jangan sampai kebajikan kita justru
membuat orang lain makin jahat.







0 komentar:
Post a Comment