Sekalipun tidak menonton berita di media massa, kabar buruk datang tanpa henti. Hal-hal buruk pun tak bisa dihindari. Alhasil, rasa sakit setia menemani hari demi hari.
Polusi rokok beredar di sekitarku selama beberapa hari. Sekalipun sudah menghimbau beberapa pihak untuk peduli dengan orang lain yang tidak tahan bau rokok, mereka tetap saja tidak benar-benar peduli.Mereka memang tidak menyemburkan asap rokoknya ke wajahku, seperti anak dari bos pertamaku. Karena hal ini, kutinggalkan dia. Haruskah kutinggalkan mereka pula? Bagaimanapun jua mereka tetap meninggalkan bau tembakau yang menyesakkan jiwa dan raga.
Stres dengan keadaan ini, asam lambung naik-naik ke puncak tubuh. Alhasil, perut kembung hingga nyeri terasa sampai ke punggung. Tenggorokan pun mulai terasa tak nyaman. Entah karena iritasi asam lambung, iritasi asap rokok tak terlihat, atau tertular teman yang batuk.
Lantas kuberseru kepada Sang Pencipta. Maka, Dia berjanji untuk mengeluarkanku dari situasi tak nyaman tersebut.
KUPIKIRKAN SEMUA ITU (GMS Live)
Ketika kukhawatir, kalut di hatiku, kudatang pada-Mu nyatakan doa dan ucapan syukur.
Damai sejahtera yang melampaui segala akal akan mem'lihara hati dan pikiranku dalam Kristus Yesus.
Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil dan suci, semua yang manis, yang sedap didengar, semua kebajikan yang patut dipuji, kupikirkan semua itu.
Fiuh... ketika mendengar janji-Nya, seketika asam lambungku mulai menurun. Namun, pagi-pagi temanku mengirim pesan, "Aku punya mioma dan akan segera dioperasi dalam beberapa jam ke depan."
Lantas beberapa jam kemudian kukirim pesan kepadanya, "Apa sudah dipindah ke kamar rawat? Nomer berapa?" Eh, tengah malam mendadak aku terbangun karena tersengat rasa nyeri yang luar biasa di telinga kiri.
Saat kutelan ludah rasanya sedang kutelan sekumpulan duri. Sangat nyeri, sangat kering, dan sangat gatal seolah-olah padang pasir dengan landak berdurinya telah bermigrasi ke dalam tenggorokanku. Ini bait Roh Kudus atau bola dunia sih?
Setelah pernah kena TBC kelenjar getah bening, sakit tenggorokanku tak pernah ringan. Ah, kenapa sih tenggorokan ini harus minta perhatian lebih? Sekalipun dia tidak caper (cari perhatian), aku sadar kok kalau dia ada di balik leherku.
Lantas aku pun bertanya, "Tuhan, Kau tahu temanku akan dioperasi. Namun, mengapa Kau izinkan aku sakit pada saat seperti ini? Jadi, aku hanya bisa mengirim doa untuknya."
Keesokan pagi kulihat temanku menjawab pesanku, tetapi aku hanya bisa berkata, "Maaf, aku tidak bisa menjengukmu karena mendadak aku sakit tenggorokan dan perutku juga belum pulih sepenuhnya." Dia menjawab, "Tidak masalah... hehe..."Lantas kuambil beberapa senjata untuk mengusir semua musuh tak terlihat yang merasuki tubuhku. Aku pun mulai membersihkan berbagai hal, termasuk menghapus aplikasi dan pesan-pesan yang bisa memancing asam lambung keluar dari gua persembunyiannya.
Eh, keesokan paginya teman lain mengirim pesan, "Suamiku kecelakaan." Untunglah dia selamat dan hanya luka luar. Maka, sekitar tiga hari kemudian dia bisa rawat jalan, seperti temanku yang sudah dioperasi.
Namun, beberapa hari kemudian adik papa juga mengabarkan bahwa adik ipar papa terjatuh dan tulang rusuk di dadanya retak. Ah, semoga lekas sembuh. Ya Tuhan, sekalipun menghindari berita buruk di media sosial, deru perang tetap terdengar.
Maka, setelah berhari-hari bergelut dengan derita tiada henti hingga lesu, lemah, dan letih, kini kumengerti akan hal ini:
🌱 Dunia memang tidak selalu baik-baik saja, tetapi pikiranku tidak wajib jadi tempat penampungan semua kabar buruk. Sekarang, aku tetap peduli, tetapi aku memilih waras dulu sebelum peduli.
Kalau tidak bisa menjaga jarak fisik (social distancing) dari para penebar racun, lebih baik menutup hati dan pikiran dari mereka yang belum mampu kita hadapi.
Doa saja sudah cukup. Biar Tuhan yang turun tangan jika kita sudah angkat tangan. Ini semua demi kewarasan jiwa dan raga agar kita bisa tetap berkarya di tengah dunia yang tidak selalu baik-baik saja. Salam waras dari orang yang berusaha waras!








0 komentar:
Post a Comment