Sunday, January 11, 2026

Aku Bukan Pemarah

Transformed by the Holy Spirit
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 11 Jan 2026

"Tadi aku ikut rapat. Kalau kuhitung-hitung, Sersan Cruel telah menggebrak meja lebih dari sepuluh kali. Sepertinya dia ingin pamer kuasa. Ketika gebrakan pertama, aku terkejut dan spontan mengumpatnya dengan boso Suroboyo. Namun, dia hanya menatapku dan melanjutkan kemarahannya. Apa yang dia mau?" Curhat seorang wanita kepada Bakung - rekannya.

Bakung menjawab, "Dia tuh minta dipanggilkan dokter jiwa. Apa HSE (Health, Safety, and Environment) tidak termasuk menangani kesehatan jiwa? Kenapa anak bosmu suka orang seperti itu? Mungkin dia juga memiliki gangguan jiwa. Jika aku ada di posisimu, aku akan meninggalkan ruangan."

Kata radio SS, banyak perusahaan masih mengabaikan K3L (Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan) sekalipun ini penting. Ah, andaikata pengusaha juga diwajibkan psikotes sebelum mendapatkan izin usaha, mungkin akan ada banyak pengusaha ilegal.

Lantas pada suatu malam Bakung bermimpi melihat seekor bayi naga merah kecil tertidur lelap di dalam sebuah kotak sepatu. Bakung pun menyadari bahwa bayi naga merah itu merupakan bagian dari jiwanya. "Aku bukan pemarah, tetapi aku bisa lebih marah daripada si pemarah."

Jika dia berada di posisi wanita itu dan tidak meninggalkan ruangan lalu harus menyaksikan atraksi kemarahan demi kemarahan dari pimpinan yang hanya mau pamer kuasa, bayi naga kecil itu pasti terbangun. Jika dia bangun, Bakung bukan hanya sanggup menggebrak meja, dia juga akan membanting kursi dan barang-barang yang ada di sana. Bahkan, jika tidak ada orang di sekitar meja, dia bisa menjungkirbalikkan meja tersebut.

Seperti kata pepatah, "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari." Artinya, jika pemimpin edan, bawahannya bisa lebih edan.

Amsal 22:24-25 (TB) Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri.

Maka, tiap kali Bakung harus berhadapan dengan pimpinan yang mengidap sakit jiwa, dia kembali mengikuti saran kepala sekolah SD-nya. Dia akan jaga jarak dari pimpinan tersebut, baik dengan cara resign atau kabur. Jika tidak, Bakung pun bisa terjerat oleh kemarahannya sendiri.

Dari kecil Bakung suka membantu teman-temannya yang di-bully. Maka, suatu hari dia yang di-bully hingga salah satu matanya bengkak dan tidak ada yang membantunya. Nah, karena melihat orang kuat suka menyalahgunakan kekuatannya, dia pun berdoa agar bisa menjadi kuat sehingga bisa melindungi orang lemah.

Keluaran 21:24-25 (TB) mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.

Jadi, Bakung sempat ingin membalas pembully karena di Perjanjian Lama ada tertulis seperti itu. Sayangnya, Perjanjian Baru telah menghapus Perjanjian Lama.

Matius 5:39 (TB) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

"Enak saja. Aku tidak akan membiarkan dia menyakitiku lebih lagi." Ujar Bakung saat itu. Maka, suster kepala sekolahnya saat itu memberi solusi, "Mulai sekarang kalian berdua tidak usah saling bicara dan tidak usah saling bertegur sapa." Usul tersebut dipandang baik oleh Bakung.

Sekalipun tidak ada dalam Alkitab, usul tersebut terdengar lebih baik daripada mengikuti isi Alkitab untuk memberikan pipi kirinya. Namun, ketika beranjak dewasa, dia menyadari bahwa firman tertulis tersebut bermakna simbolis dan tidak bisa diartikan secara harafiah. Maknanya: jangan membalas karena pembalasan bukanlah hak kita.

Roma 12:19 (TB) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

Ah, sayangnya dunia pendidikan juga kurang mengajarkan cara mengelola amarah. Alhasil, di Sumatra ada anak kelas 6 SD yang membunuh ibu kandungnya dengan 26 tusukan. Menurutku, anak itu adalah korban yang bertransformasi menjadi pelaku setelah sekian purnama dia pendam amarahnya. Dia sering dimarahi ibunya dan juga melihat ibunya memarahi kakaknya. Mungkin kemarahan ibunya cenderung kasar lalu dengan semena-mena ibunya juga menghapus permainannya tanpa memberinya pengertian.

Sekalipun niatnya baik, jika caranya salah, hasilnya juga bisa salah. Mungkin ayahnya juga tidak pernah mengajarinya cara merespon kemarahan ibunya. Eh, malah ditinggal selingkuh olehnya. Maka, anak itu belajar dari media online yang penuh kekerasan lalu diam-diam dia melampiaskan amarah dengan cara-cara kasar yang diajarkan di dunia maya.

Mazmur 71:4-5 (TB) Ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik, dari cengkeraman orang-orang lalim dan kejam. Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH.

Ah, untunglah dulu Bakung tinggal di asrama sehingga dia tidak sering mendengar kemarahan papanya. Di asrama Bakung juga tidak bisa menonton film atau berita kekerasan. Bahkan, tiap hari Bakung diajar berdoa dan dibacakan firman Tuhan. Alhasil, nasib anak di Sumatra itu tak perlu dialami olehnya sekalipun dia juga punya papa pemarah, tetapi tidak segila Sersan Cruel.

TERIMA KASIH YESUS
Yang dulu tak ku mengerti, s'karang Kau buat mengerti. Kau singkapkan mataku dengan kasih-Mu.
Yang tak pernah kupikirkan sungguh Kau t'lah sediakan. Kau curahkan berkat-Mu limpah dalam hidupku.
T'rima kasih Yesus, t'rima kasih Yesus. Kub'ri syukur hanya bagi-Mu ya Allahku, ya Tuhanku. T'rima kasih Yesus, t'rima kasih Yesus. Kub'ri syukur hanya bagi-Mu, t'rima kasih Yesus.

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.