Sunday, July 26, 2026

Apa Hanya Aku yang Aneh Sendiri?

Ciri Hati yang Berserah
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 26 Juli 2026

Berdandan? Baik siap hidup maupun siap mati, aku tidak suka berdandan. Hehehe... apa hanya aku yang aneh sendiri? Jelas tidak karena beberapa remaja muda juga seperti ini. Jika bisa dipermudah, kenapa harus mempersulit diri sendiri sih? Ketika ada undangan pesta dari keluarga kaya dan mereka rela merogoh koceknya untuk mendandaniku, ah ini merupakan berkat sekaligus salib.

Untunglah aku bukan Ester. Tak bisa kubayangkan jika tiap hari harus berdandan. Hal paling menyiksaku adalah saat harus memakai eyeliner dan fake eyelashes. Aduh, untung deh aku hanya rakyat jelata sehingga setiap hari tak wajib memakainya kemana-mana... hahaha...

Nah, karena tak suka berdandan, beberapa orang mengira usiaku masih dua bebek. Padahal, tahun ini usiaku sudah dua kursi. Sebenarnya sih merupakan suatu berkat terindah diberi karunia awet muda. Namun, hidup selalu seperti sekeping koin yang memiliki dua wujud. Di balik hal buruk, ada hal baik. Di balik hal baik, ada efek sampingnya.

Jika hanya ciwi-ciwi atau emak-emak yang salah paham dengan usiaku, tentu tak masalah. Namun, jika titi-titi yang salah paham dengan usiaku, wah ini bisa menjadi pertanda akan adanya perkara aneh bin ajaib.

Beberapa waktu lalu ada tetangga baru. Kami pun berkenalan. Dia menjabat tanganku erat-erat. Seumur hidupku jarang sekali ada orang yang berbuat hal ini. Biasanya jabat tangan seperti ini hanya diberikan oleh beberapa orang yang merasa berhutang budi atas kebaikanku.

Ketika dia menjabat tanganku, aku langsung teringat kepada kisah yang serupa. Sekalipun orang-orang itu tak bicara dan hanya menjabat tanganku, aku bisa merasakan ucapan terima kasihnya lewat gerakan dan bahasa tubuh mereka. Namun, kali ini seharusnya agak berbeda. Dia tidak mungkin berhutang budi kepadaku karena kami baru berkenalan.

Jika hal itu hanya untuk menunjukkan rasa percaya dirinya, jabat tangannya juga terasa berbeda. Aku pernah berjabat tangan dengan beberapa pendeta. Jabat tangan mereka juga erat dan mantap. Dari jabat tangan tersebut aku bisa merasakan kepercayaan diri mereka yang tinggi.

Jadi, sekalipun jabat tangannya sama-sama erat, rasanya tuh berbeda. Namun, perbedaan rasanya tuh tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Jabat tangan tidak hanya melibatkan tangan, tetapi juga kontak mata, gerak bibir, dan posisi tubuh. Jika kombinasinya sama, maknanya bisa sama. Jika kombinasinya sedikit berbeda, maknanya bisa berbeda. Aku sih lebih suka menjabat tangan orang lain, seperti kebanyakan orang yang biasa-biasa saja agar tidak meninggalkan kesan apapun… semoga saja ya.

Singkat cerita, pada suatu hari dari jarak lebih dari lima meter kudengar dia dan sesama titi sedang membahas tahun kelahiran mereka. Rata-rata mereka lahir pada tahun 1990-an. Lalu kudengar mereka mulai menyebut beberapa nama lain yang juga lahir pada tahun 1990-an. Nah, kudengar dia menyebut namaku lalu temannya menjawab, "Tidak termasuk. Bu Rully sudah tua." Hahaha... aku berpura-pura tidak mendengarnya dan tidak mau ikut campur. Toh kebenaran sudah diungkapkan.

Namun, agar makin meyakinkan dia, pada suatu kesempatan aku bersaksi kepadanya tentang mujizat Tuhan yang membawaku masuk Kristen dan batal baptis Katolik. Eh, ternyata dia Katolik sejak lahir. Lantas ketika dia menanyakan tempat kerjaku, kuundang dia untuk melihat profil Linkedin-ku. Nah, di sana dia bukan hanya bisa melihat riwayat pekerjaanku, dia juga bisa melihat riwayat pendidikanku.

Jika temannya hanya bisa mengatakan kepadanya bahwa aku sudah tua, dari Linkedin terlihat jelas perbedaan usianya tuh 15 tahun. Bahkan, sebenarnya berbeda 16 tahun karena pada tahun 1980-an aku tidak boleh masuk TK sebelum genap 5 tahun. Namun, pada tahun 1990-an umur 3-4 tahun pun boleh sekolah.

Nah, setelah hari itu, dia terkesan menjaga jarak dan pendiam. Sebagai spons emosi, aku bisa merasakan sepertinya dia ingin marah, tetapi tak tahu harus marah kepada siapa. Dia tidak mungkin marah kepadaku karena aku selalu berpenampilan polos apa adanya, tanpa riasan tebal untuk menutup kerutan, dan tanpa topeng atau masker. Itu semua menunjukkan bahwa aku tidak berniat memalsukan umurku.

1 Timotius 2:9-10 (TB) Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.

Masa dia mau memarahi dirinya sendiri karena telah salah menilai buku dari sampulnya? Jelas tidak mungkin juga karena pada dasarnya setiap orang tuh mencintai dirinya sendiri. Mau marah kepada Tuhan yang telah merias wajahku secara natural? Tidak mungkin juga toh karena Dia pasti tahu bahwa Tuhan berhak atas segalanya.

Maka dari itu, dia hanya bisa memendam kekesalannya. Namun, beberapa hari kemudian dia sudah mulai terlihat normal kembali. Mungkin dia sudah mendapat pencerahan ilahi... xixixi... Kuanggap jabat tangannya saat itu adalah ucapan terima kasih yang diberikan di depan.

KU TAK AKAN MENYERAH
Dalam s'gala perkara Tuhan punya rencana yang lebih besar dari semua yang terpikirkan. Apapun yang Kau perbuat tak ada maksud jahat s'bab itu kulakukan semua dengan-Mu Tuhan.
Chorus: Ku tak akan menyerah pada apapun juga sebelum kucoba semua yang kubisa tetapi ku berserah kepada kehendak-Mu. Hatiku percaya Tuhan punya rencana.
Ending: Hatiku percaya, Tuhan punya rencana. Hatiku percaya, Tuhan punya rencana.

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.