Keluarga yang Diberkati
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 21
Juni 2026
"Ini boleh dibersihkan?"
Tanya seorang pelayan kepada seorang tante yang sedang duduk di kursi roda. Dia
langsung menjawab dengan nada tersinggung, "Ini makanan yang mau saya bawa
pulang." Seketika pelayan pria di food court Galaxy Mall itu pergi.
Ah, seketika aku menyesal sudah
setuju dengan mama untuk pindah ke meja makannya yang besar karena di meja itu
hanya ada dia saja. Aku berpura-pura tidak mendengar dan melihatnya. Namun,
mama justru melihat ke arahnya. Maka, tante itu menjelaskan kepada mama perihal
ucapannya kepada pelayan. Lalu dia bertanya, "Kalian kakak adik atau mama
anak? Wajah kalian mirip." Dengan terpaksa aku melihat ke arahnya dan
menjawab, "Mama anak."
Tak lama berselang putranya
kembali ke meja makan kami. Tante itu memberitahu kami bahwa suaminya telah meninggal empat tahun lalu, anak pertamanya
perempuan dan anak keduanya laki-laki. Katanya, "Aku punya putri di
Taiwan. Usianya sekitar 34 tahun dan sampai sekarang belum menikah. Dia suka
berpetualang. Tahun depan maunya ke Australia. Aku selalu menangis tiap kali
mengantarnya ke bandara."
"Wah, bosku juga orang
Taiwan," ujarku.
"Kalau begitu, boleh minta nomer WAmu ya? Siapa tahu anakku mau bekerja di
tempatmu sehingga tak perlu kembali ke Taiwan."
"Kerjaku di Mojokerto. Jauh dari rumahku dan tentu lebih jauh lagi jika ke
(Graha Family) Surabaya."
"Oo... sewaktu kecil aku tinggal di asrama Probolinggo sejak usia 4 - 12 tahun, memeku sejak usia 3 tahun (hingga 15 tahun, titiku pun 3-6 tahun di asrama putri dan dilanjutkan 7-12 tahun di asrama putra)."
"Wah, aku sih tidak tega berpisah dengan anak-anakku. Lebih baik mereka susah bersamaku daripada berpisah. Tapi, beruntung sekali anakmu ini mau peduli dengan orang tuanya padahal dulu dimasukkan asrama."
Batinku, "Masa aku harus
balas dendam? Sejak kecil aku merasa hampir senasib dengan Yusuf, tetapi
menurutku dia jauh lebih menderita dariku karena sampai dijual sebagai budak.
Namun, Yusuf tidak membalas saudara-saudaranya. Jika Yusuf yang lebih malang
dariku bisa begitu, kenapa aku harus membalas orang tuaku?"
Kejadian 50:20 (TB) Memang
kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah
mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi
sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.
Lantas dia mengingatkan putranya
lagi untuk meminta nomer WAku. Dengan berat hati kuberikan nomerku kepada
putranya dan kutanya balik, "Berapa nomermu?" Kulihat dia mengetik
nomer HPku di dalam pesan WA yang akan dikirimnya lalu dia menjawab,
"Nanti mamaku yang akan menghubungimu."
Hehehe... aku berusaha menahan
tawa. Kataku dalam hati, "Aku pun tidak tertarik untuk menghubungimu. Aku
tidak tertarik untuk berbincang dengan orang asing. Dasar titi. Jika kau tahu
nomerku, sudah sewajarnya aku juga tahu nomermu supaya aku bisa mengenali
pengirim pesan. Ya, jangan salahkan aku jika nanti aku tidak mengenali pesan
kalian."
Setelah itu tante tersebut
menanyakan usia kami dan usia adik-adikku. Seketika dia terperangah menatapku
dan berkata, "Kamu terlihat jauh lebih muda dari usiamu."
Hehehe... aku sudah biasa mendengarnya sehingga aku tersenyum saja sambil berkata dalam hati, "Belum tahu dia rambut ini baru kusemir. Namun, tanpa semir pun masih ada pria yang 12 tahun lebih muda dariku sempat terkecoh dengan usiaku. Dia kira aku lebih muda darinya. Untung aku tidak pernah berniat memalsukan umurku, kecuali sedang iseng kepada sesama gender."






0 komentar:
Post a Comment