Keluarga Tak Sempurna
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 21
Juni 2026
Kemudian kutanyakan nama gereja
mereka setelah tante itu menyebut nama Yesus ketika bercerita tentang gendam.
Putranya langsung menjawab, "GMS rooftop" dan mamanya berkata,
"Dia melayani di sana." Seketika mamaku langsung berkata,
"Gerejamu juga GMS." Jawabku, "Beda. Aku ikut yang pusat, bukan rooftop."
Ah, sekalipun mereka mengaku dari
GMS rooftop, tetap saja aku harus waspada terhadap mereka. Aku masuk GMS
tuh lewat jalan salib via dolorosa dan mereka yang membuatku pikul salib
kebanyakan pindah ke GMS hitam, termasuk GMS rooftop.
Anak-anak tante itu khawatir
menikah dengan orang yang salah. Jika mendapatkan pasangan yang tepat, bisa
seperti surga. Namun, jika salah memilih pasangan, bisa seperti neraka.
Katanya, "anak zaman sekarang memilih tinggal di panti jompo saat tua nanti,
yang penting ikut Tuhan."
Aku tertawa dalam hati karena aku
pun pernah ditanya oleh lansia lain, "Jika tidak menikah, saat tua ikut siapa?" Jawabku, "ikut Tuhan." Ketika muda, ikut Tuhan. Ketika
tua, masa ikut anak? Seharusnya tetap ikut Tuhan toh karena lagunya "Sekali Yesus, selamanya Yesus."
Jadi, jangan menikah dengan
harapan punya anak yang mau menemani di hari tua. Tidak semua anak, seperti
Yusuf yang mau bersama orang tuanya hingga mereka lansia. Berharap tuh
kepada Tuhan saja karena semua yang terbaik datang dari Tuhan.
Lantas putranya mengutarakan
kekhawatirannya jika menikah dengan wanita pesolek. Hahaha... lagi-lagi aku
harus menahan tawa. Mengenali wanita pesolek tuh jauh lebih mudah daripada
mengenali iblis bertampang malaikat yang sering mencari mangsa di gereja. No
comment ah...
Lantas tante itu menanyakan gajiku
lalu berkata, "Gaji segitu masa cukup? Apa kamu bisa menabung? Apa kamu
tidak beli baju?" Jawabku, "Cukup dan aku bisa menabung. Aku juga
jarang beli baju. Jika baju tidak rusak, untuk apa beli? Beli seperlunya
saja."
Hehehe... dia tak tahu bahwa aku
punya jaket dan celana jeans yang kubeli saat SMP. Hingga kini masih bisa
kupakai walau berat badanku sudah melebihi masa remaja itu. Walau tak bermerk,
awetnya tuh melebihi baju bermerk terkenal.
Bahkan, sekalipun jarang beli
baju, keluarga kami sering menjadi penyalur baju bekas. Beberapa orang sering
memberi kami baju. Karena kami tidak bisa memakai semuanya, kami berikan pula
kepada juru parkir, sepupu, dan gereja terdekat. Jadi, Tuhan telah memberi kami
baju lebih dari cukup.
Berkat Tuhan selalu cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Namun, tak akan pernah cukup untuk memenuhi gaya
hidup. Hiburan tak harus mahal di mall. Hiburan bisa didapat di rumah. Beberapa
saat kemudian kami pun berpisah. Mereka pulang lebih dulu.







0 komentar:
Post a Comment