Orang Antusias
Catatan
Ibadah ke-1 Minggu 23 Nov 2025
"Musang…
apa kamu tidak bisa menyelesaikannya sendiri? Kenapa harus meminta bantuan
kepada anak Rusa?" Teriak seorang Anjing rabies di depan puluhan hewan
lainnya lalu diam menunggu jawabannya. Karena tak suka dengan gaya bicara
Anjing dan jawaban Musang, seketika Rusa bangkit berdiri dan menyela teriakan
Anjing rabies itu untuk berbicara kepada Musang yang berada di samping anak Rusa.
"Maaf
ya, saya sedang berbicara dengan mereka. Maaf ya..." Ujar Anjing rabies. Maka,
Rusa menatapnya sambil berpikir, “Tidak seharusnya kamu berbicara dengan anak
Rusa tanpa melaluiku. Aku tidak akan membiarkan kalian memanfaatkan dia.” Namun, Rusa menahan perkataannya
dan meninggalkan mereka sambil tetap mengamati situasi.
Lantas
Anjing rabies berteriak
lagi kepada
Musang agar didengar semua penghuni Gurun, "Jangan ulangi lagi hal seperti
ini. Kamu mau
saya mendapat masalah?" Ah, selalu seperti itu. Beraninya hanya kepada mereka yang mudah
dimanfaatkan atau ditindas. Sekalipun Singa memberinya posisi tertinggi di
Gurun, pekerjaan Anjing hanyalah merokok, menggonggong, dan menggigit
hewan-hewan yang harus dijaganya lewat teriakan-teriakan maut yang melukai hati mereka.
Namun, di
depan Singa Gurun dan anaknya, si Anjing akan mengibas-ibaskan ekornya untuk menunjukkan
hal-hal baik yang telah dilakukannya. Padahal, semua hal baik tersebut tidak
dikerjakan olehnya. Dia hanya teriak sana, teriak sini, dan teriak dimana-mana untuk meminta hewan-hewan lain
menyelesaikan semua masalahnya. Maka, Rusa hanya membatin, "Kenapa tidak
bertanya kepadaku? Tentu saja aku mau memberimu masalah karena pemimpin hebat akan
teruji lewat masalah... wkwkw... Lagipula salah satu tugas pemimpin memang menyelesaikan
masalah."
Mazmur 31:20-21 (TB) Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang
takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu, di
hadapan manusia! Engkau menyembunyikan mereka dalam naungan wajah-Mu terhadap
persekongkolan orang-orang; Engkau melindungi mereka dalam pondok terhadap
perbantahan lidah.
Setelah
puas berteriak
dan memastikan Musang bersedia menyelesaikan masalahnya, Anjing rabies pergi. Untung
dia tidak lagi memanfaatkan anak Rusa. Jika tidak, Rusa akan turun tangan lagi.
Lantas Rusa berkata kepada Babi, "Anjing menggonggong, tidak akan
menggigit."
Jawab
Babi, "Anjing yang berbahaya adalah Anjing rabies." Hahaha...
“Seharusnya aku juga menjadi anakmu,” ujar Babi bercanda.
“Kamu sudah memiliki dua emak dan satu bapak. Nanti tak tambah satu bapak lagi.”
Jawab Rusa bercanda pula. “Hahaha… iya, tambahkan yang banyak.” Timpal Babi.
Payah.
Seharusnya pemimpin memberi solusi dan mengarahkan bawahan. Jika belum bisa, ya
belajar. Namun, jika
pemimpin hanya bisa berteriak, memaki, dan menakut-nakuti bawahan, tidak heran jika bawahannya
mengalami demotivasi dan mudah tersulut emosi pula. Alhasil, berkat pun menjauh
dan kutuk mulai menghampiri. Bukankah sakit hati tuh lebih sulit disembuhkan
daripada sakit fisik?
Sayangnya,
anak Singa Gurun pun terlanjur jatuh hati dengan kepalsuan Anjing rabies
sehingga tahi anjing pun terasa nikmat seperti coklat. Anak Singa Gurun tak mau
mendengar penderitaan hewan-hewan lain dan malah berkata, "Saya lebih suka
bekerja dengan mereka yang bijaksana, yaitu mereka yang tidak mempedulikan
perkataan-perkataan kasar seperti itu."
"Hah,
bagaimana mungkin dia menganggap Anjing gila sebagai Anjing bijak?" Tanya
Rusa kepada Kasuari. Mereka semua hanya bisa geleng-geleng kepala. Lantas Rusa
tersadar bahwa anak Singa Gurun mungkin juga sama sakitnya dengan Anjing
rabies. Mungkin mereka setipe karena kita cenderung mendukung mereka yang satu
frekuensi dengan kita.
Amsal 28:11 (TB) Orang kaya menganggap dirinya bijak, tetapi orang miskin yang
berpengertian mengenal dia.
Ciri-ciri
si Bijak:
1. Mampu
mendengarkan orang lain (siap mendengar sebelum berbicara).
2. Berpikir
matang sebelum berbicara.
3. Dapat
mengendalikan emosi, tidak dikuasai oleh impuls (dorongan bertindak tanpa
pertimbangan matang).
4. Belajar dari
kegagalan dan pengalaman.
5. Mampu
membedakan apa yang harus dikatakan dan apa yang tidak perlu dikatakan.
6. Siap mengakui
kesalahan dan memperbaikinya.
7. Berpikir jauh
ke depan, mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.
8. Rendah hati,
tidak sombong.
9. Menghargai
perbedaan orang lain.
10. Tetap tenang
dan berpikir jernih di saat-saat sulit.
Nah, kesepuluh
ciri tersebut tidak dimiliki oleh Anjing rabies. Lalu dia bijak darimana?







0 komentar:
Post a Comment