Sunday, November 16, 2025

Sebuah Panggilan Telepon

Panggilan Tuhan
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 16 Nov 2025

"Hanya kamu yang berani menegurnya," celetuk seseorang. Ya, mau gimana lagi? Yunior berharap ada banyak orang yang berani menegurnya, tetapi mereka justru lebih suka menjilatnya, padahal dia tuh tak semanis permen. Aneh, apa enaknya menjilat dia? 🤔Manis kagak. Asem iya. Pahit iyo. Pedas pula. Permen asem dan permen jahe lebih enak daripada dirinya yang selalu berbicara dan bertindak tanpa peduli rasa. Padahal, manusia itu diberi hati supaya bisa memberi rasa yang menyenangkan pada kehidupan ini. Namun, kemana rasa itu pergi? 😮‍💨

Sebenarnya Yunior juga enggan menegurnya. Dia ingin berhenti mengirim pesan kepadanya. Katanya kepada sekutunya yang juga lelah mengirim pesan kepadanya, "Ya, kita sudah mengetik sampai panjang (dalam Bahasa Indonesia), menerjemahkannya dulu (dalam Bahasa Mandarin dengan chat gpt), memastikan hasil terjemahannya (dengan Google dan DeepL agar maknanya tidak berubah) lalu dijawabnya dengan cuek."

Mungkin rasanya seperti rujak gobet dicampur pare dan pete... bikin bete. Namun, tiba-tiba Yunior mendapat sebuah panggilan telepon dari seorang rekan. Dia berkata, "Di sini ada Senior. Dia mau kembali berjuang dengan kita. Tolong tanyakan kepada Mr. Kulpait, "Apakah dia mau menerimanya kembali?" Papanya mau menerimanya kembali, tetapi pada posisi yang lebih rendah daripada dulu. Sayang sekali jika kemampuannya tidak dimaksimalkan."

"Loh, katanya Bapak tidak mau berjuang? Kok sekarang mau kembali lagi?" Tanya Yunior. Jawab Senior, "Kalau ada dukungan, bisa lha diperjuangkan. Semua bergantung pada dukungannya." Maka, Yunior langsung penasaran dengan kelanjutan mimpi yang Tuhan berikan pada bulan Valentine tahun lalu.

Ah, karena penasaran dengan kelanjutan mimpi, Yunior terpaksa bertanya lagi kepada Mr. Kulpait. Lantas dia menjawab, "Kemungkinan besar Senior tidak bisa diberi posisi yang sama lagi oleh Papa karena loyalitasnya diragukan. Bagaimana jika dia masih menunggang keledai sambil mencari-cari kuda lain lagi? Hal ini sulit diterima karena budaya Taiwan sangat dipengaruhi oleh budaya Jepang." Jadi, dia juga berkata, "Aku akan menontonnya saja."

Oh, mengapa Tuhan tidak menceritakan semuanya hingga akhir cerita? Ada orang yang tidak ingin mengetahui ending sebuah film sebelum menonton sendiri filmnya karena menurutnya tidak seru jika langsung mengetahui akhir kisah. Sebaliknya, kalau mau menonton film, Yunior tidak mau menjadi orang pertama yang menontonnya karena dia tidak mau membuang waktu dan energi untuk menonton film yang berakhir sedih.

Kalau ada cuplikan film di Instagram, dia suka membaca komentarnya. Beberapa orang pasti akan bertanya, "Bagaimana endingnya?" Jika endingnya bahagia dan serialnya sedikit, bolehlah ditonton jika jalan ceritanya juga menarik. Namun, jika endingnya sedih, jumlah serialnya terlalu banyak, atau filmnya masih on-going, beberapa orang enggan menontonnya.

Jika ada cuplikan film Jepang, pasti ada yang bertanya, "Siapa yang akan jadi ubi?" Rupanya kebanyakan film Jepang berakhir sedih karena selalu ada yang meninggal. Mungkinkah orang Jepang sulit memimpikan kebahagiaan hingga film-filmnya harus berakhir duka? Nah, jika budaya Taiwan sangat dipengaruhi oleh budaya Jepang, apakah orang Taiwan juga sulit memimpikan akhir kisah yang bahagia?

Lantas Yunior berkata, "Kalian mengharapkan loyalitas, tetapi pada saat yang sama kalian justru tidak menghargai loyalitas. Lihat saja faktanya demikian: ....... Jika memang menghargai loyalitas, seharusnya hal-hal ini yang dilakukan: ......." Ah, bagaimana mungkin mereka mengharapkan buah mangga dengan menanam biji cabai? Rumput liar bisa tumbuh tanpa disirami dan dipupuk, tetapi pohon mangga harus dirawat lha.

Jawab Mr. Kulpait, "Saran yang kamu berikan adalah hal-hal yang akan kulakukan untuk mereka yang baik! Kapan saya bisa menerapkannya? Saya menunggu kesempatan yang tepat..." Ah, masa dia mau menunggu hingga semuanya layu dan menghilang? Maka, Yunior pun berkisah.

=== Sinyalnya Terputus-putus ===
"Saya ingin membantu, tetapi saya menunggu 'momen yang tepat'. Momen yang tepat itu berlalu begitu saja, seperti butuh internet tetapi sinyalnya buruk. Ternyata,
kebaikan seharusnya 'dikirim segera', bukan 'disimpan sebagai draf'." ---
"Terkadang kita menunggu momen yang tepat untuk berbuat baik, tetapi sebenarnya,
momen yang tepat muncul saat kita mulai bertindak. Perbuatan baik bukan tentang besarnya, tetapi tentang ketulusan tindakan tersebut." ===

Hehehe... Mr. Kulpait tak mampu berkata-kata. Ah, daripada menonton film Jepang yang berakhir sedih dan cerita Taiwan yang mungkin hampir sama sedihnya, lebih baik menjadi tokoh dalam filmnya Tuhan sehingga bisa mengubah jalan cerita sesuai akhir yang diinginkan.

~ Di dalam Tuhan pasti happy ending. Jika belum happy, pasti belum ending. ~

I AM MOANA ( youtu.be/HEiSF8HpyDg )
Gramma Tala: I know a girl from an island. She stands apart from the crowd. She loves the sea and her people. She makes her whole family proud. Sometimes the world seems against you. The journey may leave a scar. But scars can heal and reveal just where you are. The people you love will change you. The things you have learned will guide you And nothing on Earth can silence. The quiet voice still inside you. And when that voice starts to whisper, "Moana, you've come so far. Moana, listen, Do you know who you are?"

Moana: Who am I? I am the girl who loves my island. I'm the girl who loves the sea. It calls me. I am the daughter of the village chief. We are descended from voyagers, Who found their way across the world. They call me. I've delivered us to where we are. I have journeyed farther. I am everything I've learned and more, Still it calls me. And the call isn't out there at all. It's inside me. It's like the tide, always falling and rising. I will carry you here in my heart, You'll remind me. That come what may, I know the way. I am Moana!

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.