Dimuliakan
Catatan
Ibadah ke-1 Minggu 30 Nov 2025
Beberapa bulan lalu seseorang berkata, "Nilai yang kuanut adalah inklusif dan penerimaan, tanggung jawab, dan integritas (menepati janji)." Benarkah demikian? Mari kita lihat indikator perilakunya.
1. Inklusif dan Penerimaan:
* Mendengarkan dengan aktif saat orang lain berbicara tanpa memotong.
* Menghargai pendapat berbeda, tidak bersikap defensif.
* Menerima kritik dengan sikap terbuka dan memperbaikinya.
* Tidak menghakimi secara cepat; mempertimbangkan konteks sebelum menilai.
* Menunjukkan empati terhadap sesama.
* Bersikap netral dan objektif dalam konflik internal.
Faktanya, dia berbicara tanpa hati. Dengan mudah dia menilai orang lain sebelum
mengetahui situasi sebenarnya karena dia hanya mau mendengarkan hal-hal yang
enak di telinganya saja. Selain itu, dia tidak bisa netral dan pasti membela
orang-orang yang bermuka dua. Hehehe... mirip bos Carlos Kaires tadi ya...
2. Tanggung Jawab:
* Mengakui kesalahan sendiri tanpa menyalahkan orang lain.
* Mengambil inisiatif saat ada masalah, bukan menunggu instruksi.
* Menuntaskan tugas tepat waktu meskipun ada hambatan.
* Menyiapkan rencana cadangan bila risiko muncul.
* Mengkomunikasikan kemajuan secara proaktif.
* Siap membantu sesama ketika melihat beban tidak seimbang.
* Menjaga kualitas sesuai standar yang telah disepakati.
Jika standar gagal dicapai oleh warga pribumi, dia tidak bisa menerimanya dan menyalahkan mereka. Namun, jika standar gagal dicapai oleh warga pendatang, dia mengatakan bahwa orang itu masih beradaptasi dan harap diterima. Ini sih rasis dan tidak bertanggung jawab, bukan inklusif dan penerimaan.
3. Integritas (Menepati
Janji):
* Menepati janji sesuai waktu dan kualitas yang telah disampaikan.
* Berbicara jujur walaupun situasi sulit.
* Konsisten antara kata-kata dan tindakan.
* Menghindari alasan berlebihan — fokus pada penyelesaian.
* Tidak membuat janji yang tidak realistis.
* Memberikan update jika kondisi berubah, bukan menunggu ditanya.
* Mendokumentasikan komitmen agar mudah dievaluasi.
Faktanya, perkataan dan tindakannya tidak
pernah sinkron dengan alasan, "Kamu salah paham. Fakta yang kau lihat tak
sesuai dengan yang seharusnya."
Jika ada yang mengatakan bahwa usiaku masih sekitar 20 tahunan (seperti anak
kuliah), ini benar jika aku berkata, "Fakta yang kau lihat tak sesuai keadaan sebenarnya dan aku punya bukti KTP atau akta
kelahiran. Bahkan, saksi hidup dari teman masa kecilku." Namun, aku belum menemukan bukti dan saksi yang membenarkan perkataannya itu.
Masa harus percaya kepadanya? Syusyah syekali.
Janji-janjinya juga tidak pernah terealisasi dengan alasan menunggu waktu yang tepat. Kalau tidak bisa menepati janji,
bukankah lebih baik tidak membuat janji? Kenapa harus memberikan harapan palsu?
Apa kepalsuan memang lebih indah daripada kenyataan? Biarlah dia hidup dalam
drama saja.
Aku sih lebih suka realita. Sekalipun realita tak seindah surga, ada Tuhan di dalamnya. Namun, Tuhan tak selalu ada dalam
drama. Lha masa harus menanti kejujuran dan mengharap kepastian dari orang yang
suka drama? Capek deh.







0 komentar:
Post a Comment