Sunday, August 16, 2026

Saling Membantu

Hidup yang Berkenan
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 16 Agustus 2026

Efesus 4:2 (TB) Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

Kata 'saling membantu' terdengar indah, tetapi prakteknya tak bisa langsung seindah itu. Bulan ini aku dan raja kecil terpaksa saling membantu. Walaupun sebenarnya kami sempat sama-sama kesal, kami tak bisa menghindarinya. Dalam kekesalanku, aku hanya bisa berdoa.

Anak: "Bapa, masa raja kecil itu Kau bilang sudah dewasa? Apa Kau tidak salah? Dia masih sangat imut. Aku sudah sering bertemu bos dan anak bos yang menua tanpa pernah dewasa. Mana mungkin anak seimut itu bisa lebih dewasa daripada mereka? Lihatlah tiap kali kuminta bantuannya, dia akan menjawab, "Siap", tetapi setelah itu dia tidak pernah memberiku umpan balik, kecuali kutanya lagi. Masa itu dewasa?"

Beberapa waktu lalu kuminta raja kecil menyampaikan pesanku kepada orang asing dalam bahasa asing yang dia kuasai. Eh, dia hanya tersenyum, seperti tersipu malu. Loh, apa aku salah bicara? Ada apa dengannya? Apa arti senyumnya? Ya, tidak, atau bagaimana sih? Bukankah satu senyuman bisa berjuta makna? Mungkin artinya "Ya" sehingga kutunggu kabarnya.

Lalu dua hari kemudian aku bermimpi engkongku. Dia sudah lama meninggal sehingga di dalam mimpiku dia hanya tersenyum menatapku. Ketika terbangun, aku langsung sadar, "Arti senyum raja kecil adalah "Tidak", tetapi dia tidak berani menolakku secara langsung."

Semasa hidupnya engkong tuh dewasa. Jika aku dan adik-adikku ribut dengan emak karena rebutan acara televisi, engkong yang menengahi. Jika ada anak cucu yang sakit, engkong selalu memberi perhatian. Jadi, kami merasa kehilangan ketika engkong tiada.

Sementara itu, kami kasihan dengan emak karena dia menua tanpa pernah dewasa hingga akhir hidupnya. Nah, jika engkong muncul di dalam mimpiku dan hanya tersenyum, pasti bukan karena dia enggan membantuku, tetapi dia tidak bisa membantuku. Dunia kami sudah jauh berbeda.

Maka, aku segera mengirim pesan kepada raja kecil untuk konfirmasi. Ternyata benar. Dia belum melakukan yang kuminta. Lantas kukatakan kepadanya, "Ya sudah, tidak perlu membantuku. Aku akan meminta bantuan orang lain."

Ketika meminta bantuan serupa lagi, dia juga memberikan jawaban yang menggantung. Karena mulai kesal, aku berkata kepadanya, "Tolong pastikan. Dia mau yang lama atau yang baru? Kalau dia ragu dengan yang baru, mungkin tetap mau yang lama. Minta jawaban yang pasti. Jangan digantung seperti ini."

Eh, lagi-lagi dia hanya tersenyum. Aduh. Walaupun senyumnya jauh lebih indah dan hidup daripada lukisan Monalisa, aku ini bukan pengagum lukisan. Saat ini aku membutuhkan jawaban pasti dari pangeran di negeri seberang dan bukan senyumnya.

Karena marah, akhirnya aku memiliki energi ekstra untuk mengerjakannya sendiri. Daripada energi kemarahan disalurkan untuk merusak, lebih baik kusalurkan untuk bekerja. Makin marah, aku makin kuat kerja berjam-jam... wkwwk... Biasanya aku hanya berkata kepadanya, "Tidak perlu kamu bantu, aku kerjakan sendiri." Namun, kadang kala kukerjakan sendiri tanpa memberitahunya terlebih dulu.

Setelah aku mendapat jawaban pasti, kuberitahu dia, "Pangeran di negeri seberang mengatakan bahwa dia telah meminta asistennya untuk mengambil keputusan. Jadi, tolong kamu bertanya kepada asistennya." Seperti biasa, dia menjawab, "Siap", tetapi aku tidak diberi umpan balik lagi.

Kejadian semacam itu terulang hingga beberapa kali. Ketika meminta bantuannya lagi dan dijawab, "Siap" lagi, aku kirimkan gambar tiga pose dengan kata, "Bersedia", "Siap", "Ya". Lalu tanyaku, "Kamu masih berada di pose siap ini?" Dia menjawab, "Sudah kusampaikan." Karena tak percaya, aku bertanya lagi, "Boleh?" Dia online, tetapi tidak menjawabku sehingga aku curiga dia bohong.

Keesokan harinya dia baru menjawabku. Karena kesal, aku ingin berpura-pura dibohongi olehnya. Aku tidak menjawabnya lagi. Tegur Bapa, "Hanya karena hal itu kamu enggan bicara dengannya? Komunikasikan isi hati dan pikiranmu kepadanya. Jangan disimpan sendiri. Lihatlah dia lebih dewasa emosi daripada kamu."

Jawab anak: "Hehehe... benar juga sih. Sekalipun nada suaranya juga terdengar kesal, dia tetap berusaha baik." Mungkin dia kesal karena aku meminta bantuannya lalu membatalkan sepihak. Aku datang dan pergi sesuka hatiku karena aku memang paling tidak suka ketidakjelasan sikapnya.

Maka, aku berkata kepadanya, "Ya, aku baru diberitahu oleh temanmu. Kamu baru menyampaikan pesanku hari ini toh? Ini sebabnya kemarin kamu tidak bisa menjawabku." Dia hanya menjawab singkat, "Tidak, sudah kusampaikan kemarin." (Tanpa penjelasan lain.)

Sebab Itu Aku Menasihatkan

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.