Sunday, August 30, 2026

Kamu Kenal Tetanggamu?

Berdiri Teguh
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 30 Agustus 2026

Suatu hari tiba-tiba aku ingin tahu alamat raja kecil. Ketika kubaca alamatnya, aku merasa tidak asing. Seketika kubuka phone book. Benar saja. Rumahnya tak jauh dari rumah mantan bosku. Namun, setahuku dia tidak tinggal di sana. Jadi, kuputuskan untuk konfirmasi.

Tanyaku, "Kamu kenal tetanggamu yang tinggal di nomer sekian?" Lalu dia menanyakan namanya dan kusebutkan nama-namanya. Bahkan, fotonya pun kusertakan. Namun, dia mengatakan bahwa dia tidak pernah melihat mereka. Kataku kepadanya, "Mungkin kamu sudah lupa, kecuali kamu masih tinggal di sana."

Lantas kukirim pesan kepada temanku yang masih menjadi karyawan mantan bosku itu, "Ce, bos masih tinggal di sana atau sudah pindah? Temanku yang tinggal tak jauh darinya tidak pernah melihatnya. Pssst... jangan bilang dia loh kalau aku nanya-nanya." Cece itu tertawa lalu memberitahuku bahwa rumahnya sedang direnovasi sehingga untuk sementara waktu dia sewa apartemen.

Sementara itu, raja kecil berkata, "Nanti kutanyakan kepada orang rumah." Lalu dia menanyakan hubungan kami dan kujelaskan bahwa mereka adalah mantan bosku. Lantas kuminta dia untuk tidak memberitahu mereka perihal keberadaanku jika dia mengenalnya. Kataku kepadanya, "Apa rumahmu itu sudah dijual? Jika sudah lama dijual, mungkin sudah lupa."

Dia pun memberitahuku bahwa rumahnya belum dijual. Owh... kebetulan sekali. Tuhan mau buat apa lagi ini? Tak lama berselang dia memberitahuku bahwa omanya kenal dengan keluarga mantan bosku. Dia juga memberitahuku bahwa mantan bosku tidak sewa apartemen, tetapi sewa rumah kepada saudaranya di dekat jalan kembar.

Namun, mantan bosku juga tidak tahu jika dia menyewa rumah kepada saudaranya raja kecil karena rumahnya tidak menggunakan nama saudaranya. Hehehe... ketahuan bohongnya. Ternyata sampai sekarang gengsi mantan bos masih dipertahankan. Mungkin sewa rumah tuh memalukan dan jauh lebih keren jika sewa apartemen. Lantas kuberitahu cece tadi, "Ce, ternyata bosmu tidak sewa apartemen, tetapi sewa rumah di daerah sana pula."

Tanpa kuberitahu detailnya, dia pun hanya bisa tertawa. Kupikir cerita sudah selesai sampai di sini. Aku pun tidur nyenyak. Namun, pagi-pagi benar aku terbangun karena alam bawah sadarku mengingat jalan kembar. Nah, mantan bosku tuh kakak beradik yang hubungan persaudaraannya bagaikan saudara kembar Esau dan Yakub.

Maka dari itu, aku mengirim pesan lagi kepada raja kecil, "Kamu tahu kisah Esau dan Yakub? Jika belum, nanti bisa kamu baca di Kejadian 25-36. Ini contoh keluarga yang tidak patut ditiru. Nah, kisah tetanggamu itu mirip mereka. Beginilah sekilas kisahnya. Si sulung seperti Esau yang punya hak kesulungan, sedangkan si bungsu seperti Yakub yang ingin merebut hak kesulungan. Mereka saling iri."

Lantas kutambahkan pesan, "Selagi persaudaraan orang kaya diuji dengan harta, persaudaraan orang pas-pasan diuji dengan kekuatiran. Harta bisa membuat saudara menjadi serakah hingga halalkan segala cara. Kekuatiran bisa membuat saudara menjadi egois.

Namun, apapun ujiannya, bersama Tuhan kita pasti bisa menjadi lebih dari pemenang di sekolah kehidupan ini. 😄 aku sudah lama menang dengan ini. Hubungan kami sudah pulih. Jadi, kalau kamu punya masalah serupa, kamu pun bisa menang bersama Bapa di surga."

SEPANJANG HARI KUNIKMATI
Sepanjang hari kunikmati pertolongan dari Tuhan. Kurasakan kelimpahan berkat-Mu oh Tuhan.
S'gala jalan yang Kau tunjukkan membawa pada kehidupan. Kurasakan kasih Tuhan pulihkan jiwaku.
Kubersyukur s'bab Roh Kudus t'lah menuntun hidupku. Kucinta Kau Yesus Tuhan. Kucinta Kau Yesus Tuhan. Sungguh Kau s'galanya bagiku.

Ah, aku tidak tahu kenapa harus bersaksi kepadanya dan apa masalahnya. Hidupnya sih terlihat sempurna, tetapi mungkin di balik kesempurnaan itu ada luka yang tersembunyi. Biasanya aku hanya bersaksi kepada mereka yang lebih dulu curhat tentang masalah mereka (ekstrovert). Namun, kali ini berbeda. Aku justru bersaksi kepada sesama orang introvert.

Bagi kami, bercerita kepada orang asing bukanlah hal yang nyaman karena rasanya seperti kura-kura tak bercangkang. Kutanya hal umum perihal jumlah saudara dan posisinya sebagai sulung atau bungsu, dia tidak mau jawab. Alhasil, aku hanya bisa bersaksi sambil menebak-nebak masalahnya.

Meskipun demikian, aku tidak mau kepo. Jika dia tidak mau cerita, aku pun tidak akan memaksanya. Cukuplah dia mendengarkan ceritaku lalu merenungkannya siang dan malam. Hahaha... mungkin dia juga bingung bertemu introvert yang agak mirip ekstrovert. Jangankan dia. Aku juga heran... introvert kok begini? … wkwwk... "Mengapa ada banyak hal kebetulan untukku bersaksi kepadanya?"

KAMI DATANG PENUHI PANGGILAN-MU
Verse 1: Kami datang penuhi panggilan-Mu Tuhan dengan apa yang dapat kami b'rikan. Kami penuhi amanat agung-Mu menyelamatkan jiwa yang tersesat.
Verse 2: Kami datang penuhi panggilan-Mu Tuhan dengan apa yang dapat kami b'rikan. Kami penuhi amanat agung-Mu melayani yang lelah dan berbeban.
Chorus: Urapi kami Tuhan dengan kuasa Roh Suci. Berikan hati yang terbeban dan penuh Kasih Ilahi. Penuhi kami dengan kuasa dari tempat yang tertinggi dan teguhkan semua kesaksian.

Melawan Tipu Muslihat Iblis

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.