Kamu Kenal Tetanggamu?
Catatan
Ibadah ke-1 Minggu 30 Agustus 2026
Tips dan
Trik untuk Mencegah Iri Hati di dalam Persaudaraan atau Keluarga (terutama buat anak sulung):
1. Gunakan
Hak Kesulungan untuk Mengutamakan Saudara. Jika selera saudara berbeda
dengan selera kita, mungkin jauh lebih mudah karena biasanya tidak akan
berebut. Namun, jika seleranya sama, biasakan mengalah hingga tak ada yang
dapat mengalahkanmu.
Contoh
sederhana: Setiap kali menerima makanan atau hadiah, mintalah saudara kita
untuk memilih terlebih dahulu. Biarkan mereka mengambil bagian yang terbaik,
seperti Abraham mengizinkan Lot untuk memilih lebih dulu.
Kejadian 13:8-9 (TB) Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah
kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan
para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka
untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka
aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri."
Jika kalian
membaca kelanjutan kisah Abraham dan Lot, kalian akan melihat bahwa Abraham
tidak rugi sekalipun hanya menerima sisa pilihan Lot. Hal yang sama juga bisa
kita alami karena bersama Tuhan tempat gersang pun bisa menjadi mata air yang
berkelimpahan.
Mazmur 84:6-8 (TB) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam
Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintasi lembah Baka, mereka
membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim
menyelubunginya dengan berkat. Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak
menghadap Allah di Sion.
2. Utamakan
Kewajiban di Atas Hak. Jika saudara kita hanya mau menerima hak sebagai anak, tanpa mau mengemban
kewajiban sebagai anak, terima saja kewajiban tersebut. Biarkan mereka
menikmati hak mereka karena anak sulung tuh senasib dengan Yusuf yang mendapat
kelebihan sebuah punggung gunung.
Kejadian 48:22 (TB) Dan sekarang aku memberikan kepadamu sebagai
kelebihanmu dari pada saudara-saudaramu, suatu punggung gunung yang kurebut
dengan pedang dan panahku dari tangan orang Amori."
Sebenarnya Yusuf bukan anak sulung, tetapi dia mau mengemban kewajiban sebagai anak sulung. Lantas Tuhan sendiri yang menyediakan semua yang dibutuhkannya hingga berkelimpahan. Hal yang sama juga bisa kita alami dengan caranya yang ajaib. Namun, kita harus berdoa dengan iman saat melihat jalan buntu atau diserang kekuatiran. Jika tidak, kita akan dikalahkan oleh iblis.
3. Yakinlah
Kekuatan Anak Sulung Lebih Besar Daripada Anak Lain. Tuhan tidak akan
memberikan tanggung jawab besar kepada anak yang lemah. Kekuatan ini bisa digunakan
untuk melindungi dan mengarahkan mereka yang lemah, termasuk mereka yang mudah
kuatir.
Roma 15:1-2 (TB) Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang
yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang
di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk
membangunnya.
4. Senantiasa
Bersyukur Dalam Segala Keadaan, baik atau tidak baik waktunya. Rasa syukur
membuat segala yang berat terasa ringan. Mujizat 5 roti dan 2 ikan pun diawali
dengan ucapan syukur. Kita bisa selalu bersyukur karena kita punya Tuhan yang
luar biasa. Jadi, tidak perlu membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan
saudara kita. Ojo dibanding-bandingke, nikmati wae. (Jangan
dibanding-bandingkan, nikmati saja.)
Kolose 3:14-15 (TB) Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih,
sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai
sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah
dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
Pada akhirnya, beberapa orang seringkali salah paham terhadapku. Mereka pikir akulah si bungsu, padahal akulah si sulung. Karena bedanya 14 tahun, mereka pun hanya bisa terpana dan nyaris tak percaya. Hahaha... maaf ya... siapa bilang si sulung harus terlihat lebih tua daripada si bungsu? Kewajiban boleh menumpuk di pundak si sulung, tetapi rasa syukur harus makin bertambah biar wajah tidak boros.
MUJIZAT dalam BERSYUKUR
Tangan
Tuhan tak kurang panjang untuk s’lalu menolong hidupku. Telinga-Nya tak kurang
tajam untuk mendengar seruan hatiku.
Ada mujizat dalam bersyukur. Engkau tempat perlindunganku, Tuhan. Imanku
tetap teguh dalam-Mu. Kumenang, kumenang bersama-Mu.
Haleluyah, Haleluyah, Haleluyah, Haleluyah. Haleluyah, Haleluyah,
Haleluyah, Haleluyah.







0 komentar:
Post a Comment