Membangun Komunikasi yang Baik
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 14
Juni 2026
Beberapa waktu lalu ada bos besar
bertanya, "Apa bos kecil sudah menaikkan gajimu?"
Jawabku, "Belum, dia tidak peduli dengan gaji. Hanya bos besar yang pernah
memberiku kenaikan gaji."
Tanyanya lagi, "Jika demikian, kamu anak siapa?"
"Anak Tuhan," jawabku.
Tuhan mengetahui bahwa aku tidak
pernah meminta kenaikan gaji bagi diriku sendiri. Sebagai penopang tulang
punggung keluarga, gaji pertamaku tidak cukup hingga aku seperti sapi perah.
Meskipun demikian, saat itu aku tidak pernah meminta kenaikan gaji dan tetap
bekerja sepenuh hati. Hanya Tuhan tempatku mengaduh… huhuhu…
Bahkan, ketika tempat tinggalku
terbakar dan aku membutuhkan uang lebih banyak, aku juga tidak meminta kenaikan
gaji dari bos atau atasan. Namun, Tuhan sendiri yang membuatku keluar dari sana
sehingga aku mendapat kenaikan gaji dan posisi di tempat lain.
Ketika aku sakit dan harus berobat
tiap bulan, aku juga tidak pernah meminta kenaikan gaji dari bos atau atasan.
Aku pun tetap bekerja sepenuh hati, bukan sepenuh gaji. Namun, tiba-tiba
atasanku bertanya, "Sekali berobat, kamu habis berapa? Tak lama berselang
gajiku dinaikkan sebesar biaya berobatku.
Aku pun tidak pernah meminta
kenaikan gaji, baik dari bos besar maupun bos kecil. Namun, suatu hari bos
besar tiba-tiba menjanjikan kenaikan gaji secara tertulis. Biasanya dia
hanya berjanji secara lisan dan tidak pernah ditepati hingga aku tidak
percaya kepadanya.
Lalu Tuhan memintaku untuk
memberitahu bos kecil perihal janji bos besar. Setelah itu bos besar baru
menepati janjinya. Jadi, jika dia bertanya, "Kamu anak siapa?" Tentu
saja kujawab, "Aku anak Tuhan" karena aku tidak pernah meminta kenaikan
gaji dari para bos, baik bos besar maupun bos kecil.
Jika mereka kuanggap sebagai
papaku, tentu aku tidak akan segan meminta dari mereka. Namun, aku tidak
pernah meminta dari mereka karena aku tahu bahwa hubunganku dengan mereka
hanyalah sebatas hubungan transaksional. Aku tidak bisa sepenuhnya percaya
dengan janji-janji lisan mereka yang sering tak terbukti. Bahkan, tiap kali aku
meminta bagi orang lain, sekalipun mereka mampu, mereka sering menolak
permintaanku dan mempersulitku. Jadi, mereka bukanlah bapaku.
Jika aku membutuhkan uang yang
tidak bisa diberikan oleh papa biologisku, aku pasti memintanya kepada Bapaku
di surga. Aku tidak akan segan meminta dari-Nya karena aku tahu Dia mampu dan
Dia benar-benar peduli denganku. Hubungan kami tidak bersifat transaksional,
tetapi keluarga, seperti yang dinyatakan oleh Yesus.
Matius 7:7-11 (TB)
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan
mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang
meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang
mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi
batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta
ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada
anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang
baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
Nah, Tuhan itulah yang akan
menggerakkan para bos atau atasan untuk menaikkan gajiku jika mereka bisa. Jika
mereka tidak bisa, tentu saja Tuhan akan cari orang lain yang bisa, terutama
jika aku memerlukannya.
Amsal 21:1 (TB) Hati
raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.
BAPA yang KEKAL
Kasih yang sempurna telah kut'rima
dari-Mu. Bukan kar'na kebaikanku, hanya oleh kasih karunia-Mu. Kau pulihkan
aku, layakkanku 'tuk dapat memanggil-Mu Bapa.
Reff: Kau b'ri yang kupinta. Saat kumencari kumendapatkan. Kuketuk
pintu-Mu dan Kau bukakan s'bab Kau Bapaku, Bapa yang kekal. Tak 'kan Kau
biarkan aku melangkah hanya sendirian. Kau selalu ada bagiku s'bab Kau
Bapaku, Bapa yang kekal.







0 komentar:
Post a Comment