Sunday, May 3, 2026

Renungan Akhir-akhir Ini

Rooted in The Word
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 3 Mei 2026

Aku berdiri di depan meja resepsionis sebuah kampus. Di dalam ruangan terlihat meja resepsionis yang elegan. Lampu ruangan pun terang benderang dengan cahaya putih yang cerah. Beberapa kursi tunggu tersedia di seberang resepsionis.

Beberapa pot tanaman juga tampak terlihat di beberapa sudut ruangan. Lantas seorang wanita muda dengan rambut hitam lurus berkata kepadaku dari balik meja resepsionis, "Hari ini papamu bisa diwisuda setelah dia menerima sesuatu dan menandatangani sertifikat ini." Namun, sesuatu yang dijanjikan itu belum diterima oleh papa.

Lantas wanita berseragam kemeja dan celana panjang navy itu sedang menunggu sesuatu dari petugas lain yang ada di belakangnya. Jadi, aku pergi keluar pintu. Di depan pintu kulihat taman yang indah dan jalanan paving yang bersih tertata. Kemudian kulihat gerbang besi bercat putih dengan ukiran indah melindungi seluruh isi taman dan kampus tersebut. Langit sudah gelap, tetapi beberapa cahaya lampu kuning menerangi kegelapan itu.

Gerbang itu terbuka dan kulihat beberapa orang masuk ke dalamnya, termasuk papa dan adiknya. Mereka tersenyum bahagia. Papa yang hampir 75 tahun terlihat kembali muda seperti masih berumur 40 tahun. Rambutnya yang memutih tampak kembali hitam. Tanpa bicara mereka berdua berjalan melewatiku dan masuk ke dalam ruang resepsionis.

Setelah terdiam sejenak, aku bergegas menyusul mereka kembali ke dalam. Petugas tadi berkata kepadaku, "Papamu telah menandatangani sertifikat wisuda ini." Seketika aku segera menarik kertas sertifikat berwarna kuning tersebut sambil berkata dengan keras, "Apa dia sudah menerima sesuatu itu? Jika belum, ini tidak sah. Seharusnya dia menerima itu dulu sebelum menandatangani ini."

Lantas petugas itu membalikkan badannya untuk berbicara dengan beberapa petugas lain yang wajib menyiapkan sesuatu itu. Sementara itu, dengan sudut mataku kulihat papa dan adiknya berada tak jauh dariku. Namun, karena terlalu lama menunggu petugas tadi, akhirnya aku keluar dari alam mimpi sambil membawa sertifikat wisuda papa. Ketika kubuka mata, kudapati tanganku kosong.

Apa sudah waktunya papa wisuda? Tanyaku dalam hati. Namun, Tuhan belum menepati janji keselamatan-Nya. Jika Tuhan mewisuda papa sebelum menepati janji-Nya, ini curang. Namun, Tuhan tidak mungkin melakukan kecurangan.

Sertifikat wisudanya juga sudah kusita dari petugas tadi. Jadi, pasti belum waktunya. Jika Tuhan bisa mengubah Saulus menjadi Paulus, seharusnya Dia juga bisa menyelamatkan papa karena papa tidak sekeras dan tidak sekejam Saulus. Dia pasti menepati janji-Nya.

JANJI-MU (GMS Live) ( youtu.be/-R66m76HwY8 )
Lebih dari para penjaga mengharap fajar pagi, segenap asaku dan relung hati berharap pada-Mu. Walau ku tak dapat melihat jalan-Mu, namun kumemilih ‘tuk percaya penuh pada-Mu Yesus.
Reff: Kupercaya akan janji-Mu. Tak sedetik pun aku ragu. Satu hal kutahu bahwa janji-Mu tak akan pernah lekang oleh waktu, pasti digenapi.
Bridge: Karena Kau yang berjanji adalah SETIA. Engkau yang lebih tahu...

Kami Tidak Mengerti

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.