Sunday, May 3, 2026

Kami Tidak Mengerti

Renungan Akhir-akhir Ini
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 3 Mei 2026

Sabtu minggu lalu aku bertanya kepada IT, "Tumben belum pulang. Biasanya kamu selalu pulang tepat waktu." Dia menjawab sambil menunjuk layar monitor yang sedang diperbaikinya." Lantas tiba-tiba dia berkata, "Dulu rumahku di TPI, tak jauh dari rumahmu sekarang." Dia pindah dari sana karena mencari rumah yang lebih murah.

Seketika aku bersaksi, "Iya, di sana iuran rumahnya mahal. Dulu aku pernah tinggal di sana setelah rumahku terbakar sekitar akhir tahun 2007. Itu rumahnya ketua Konghucu. Kami dipinjami dan iurannya pun dibayar sendiri oleh mereka. Banyak mujizat kualami setelah kebakaran itu."

Lalu aku bercerita singkat tentang mujizat yang kami alami sambil bertanya, "Apa saat itu kamu juga melihat kebakarannya?" Dia mengatakan bahwa saat itu dia masih SMP dan dia hanya mendengar cerita itu dari ibunya. Kataku sambil tertawa, "Selama aku tinggal di sana selama sekitar dua bulan, aku juga belum pernah melihatmu."

Eh, saat malam tiba kulihat gedung belakang rumahku diliputi kegelapan pekat. Seketika kusadari ada yang tidak beres karena biasanya papa tidur sambil menyalakan lampu lorong. Lantas kutekan saklar lampu kamar mandi. Benar saja. Kegelapan tidak sirna. Aku bergegas ke tempat MCB. Kulihat tuasnya tidak turun, tetapi kupikir tuasnya kurang ke atas. Jadi, kudorong sedikit untuk memastikan posisi tuasnya benar-benar di atas.

Seketika timbul percikan bunga api sehingga secara spontan aku mundur selangkah. Bunga api merupakan salah satu bunga yang tak kusukai. Namun, sekalipun tak suka kepadanya, mataku tak mau berkedip menyaksikan kepergiannya. Kupandangi MCB itu sambil harap-harap cemas, "Semoga tidak ada api lanjutan yang keluar dari dalam MCB."

Nah, setelah 1-2 menit yang mencekam, aku pun merasa aman. Lalu pergi mengambil senter dan kembali ke tempat MCB. "Siapa di dalam sana?" Teriakku. Oh bukan, bukan seperti itu. Seketika aku berteriak, "Ma, kemarilah! MCB rusak. Lihatlah kotak MCB sedikit hangus dan sedikit terbuka. Besok kita harus panggil tukang."

Lantas mama melihatnya dan berkata, "Turunkan saja tuas MCBnya." Jawabku, "Tadi tuasnya sudah kunaikkan, tetapi malah keluar bunga api. Kalau mau, mama saja yang turunkan tuasnya." Mama juga tidak berani. Lantas kuminta ortu pindah ke kamar depan yang masih terang karena terhubung dengan MCB lain.

Mama berpesan, "Sering-seringlah kamu melihat MCBnya karena mungkin ada apinya." Jawabku, "Tidak ada. Kalau mau, mama aja yang tidur dekat MCB." Mama pun tidak mau dan hanya berkata lagi, "Nanti kalau ke kamar mandi, kamu lihat saja MCBnya." Kujawab ya, tetapi saat ke kamar mandi, aku lupa melihatnya lagi.

Di depan MCB kugantung selimut anti api (kata penjual) yang belum pernah kubuktikan kebenarannya dan tidak ingin kubuktikan, kecuali terpaksa. Ketika melihat bunga api, aku pun tidak bersiaga membuka selimut itu. Aku hanya bisa tertegun sambil harap-harap cemas seperti pada saat meteran listrik terbakar. Ah, kupikir aku hanya bisa menangani hal-hal yang kupahami.

Tadi siang aku baru saja bersaksi tentang mujizat Tuhan. Masa karena hal tersebut, iblis ingin membungkamku? Jika dia gagal mencuri, seringkali dia ingin membinasakan. Namun, kalau ada hal-hal di luar kendali, biarlah Tuhan yang mengambil alih. Aku yakin Dia ada di sini. Lalu aku tersenyum dalam kegelapan karena teringat lagu yang sangat tepat.

KIRI KANANKU ADA TUHAN
Kuselalu memandang Tuhan. Kuselalu memuji Dia. Kupercaya kepada Tuhan. Kuberpasrah kepada-Nya. Siang malam kuingat Tuhan kar'na Tuhan pelindungku. Dengan Dia ku takkan gentar menghadapi semua musuh.
Chorus: Kiri kananku ada Tuhan, sek'lilingku ada Tuhan. Dalam hidupku ada Tuhan, Yesus s'lalu bersamaku.

Yesaya 26:3 (TB) Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.

Kata papa, "Tidak usah panggil tukang. Aku bisa perbaiki sendiri semuanya." Kata mama, "Aku juga tahu kamu bisa perbaiki semuanya, tetapi ingat usia." Matanya sudah tak bisa melihat dengan jelas. Sering pula dia hilang keseimbangan. Maka, aku pun menimbrung percakapan mereka, "Sudah waktunya regenerasi. Biarkan yang muda yang beraksi. Panggil tukang saja."

Keesokan harinya semua tukang libur karena Minggu. Diam-diam papa melihat MCBnya. Untung dia tidak berusaha memperbaikinya dan hanya berkata, "MCBnya yang rusak." Lalu aku ke gereja dengan tenang. Senin beberapa tukang yang mau dimintai bantuan justru sedang ada pekerjaan di tempat lain. Selasa salah satu tukang bersedia datang pada malam hari setelah selesai bekerja di tempat lain.

Lantas malam itu dia melepas MCB untuk mengetahui kerusakannya. Wuih... bagian dalam MCB telah hangus sampai menghitam. Namun, dia tidak bisa langsung menggantinya karena tidak ada kotak MCB pengganti. Papa minta MCB 6A, tetapi di rumah hanya ada MCB 10A. Kata pak tukang, jika MCB terlalu besar, bahaya untuk dipasang karena jika terlalu panas, MCB tidak bisa jeglek (turun) dan bisa menimbulkan kebakaran.

Belum Ada Buku Panduannya

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.