Berproses Bersama Roh Kudus
Catatan Ibadah
ke-1 Minggu 8 Februari 2026
Ciri-ciri Buah
Roh:
1. Buah selalu mencerminkan karakter pohonnya.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Buah apel ada di pohon apel. Buah jeruk
ada di pohon jeruk. Nah, agar kita bisa menghasilkan buah Roh, kita harus
melekat kepada Roh Kudus.
2. Buah selalu bisa dilihat. Ketika pohon berbuah, banyak orang bisa
melihatnya. Buah selalu menarik perhatian untuk dipetik.
3. Buah bisa dinikmati oleh orang lain. Jika kita melekat kepada Roh
Kudus, buah karakter kita akan manis. Makin manis, makin banyak orang yang
menikmatinya.
Anak bungsu bu
Levi berusia 18 tahun. Sementara menunggu sekolah lanjutan dimulai, dia menjadi
asisten guru bagi anak berkebutuhan khusus. Suatu hari guru utama harus
mendampingi salah satu anak berkebutuhan khusus di kelas umum. Maka, secara
mendadak dia harus menjadi guru utama.
Sesuai dugaannya,
ada anak yang langsung membuat kekacauan karena mengetahui bahwa di kelas tidak
ada guru utama yang biasanya. Maka, anak bu Levi berdoa agar bisa sabar
menghadapinya. Jika tidak, dia akan mengusirnya keluar kelas. Nah, setelah
berdoa dia memiliki kekuatan untuk menghadapi anak tersebut. Dia pelototi anak
itu dan minta dia duduk. Seketika anak itu menurut.
Saudara bu Levi
juga mengalami proses. Dia terlihat sehat dan aktif. Dia dipercaya oleh banyak
pemilik hotel. Dia sering diminta bepergian kemana-mana. Namun, suatu hari dia
terkena penyakit kanker.
Bahkan,
keluarganya pun ikut berproses. Semula dia dan suaminya aktif melayani banyak
pasangan sehingga banyak pasangan batal bercerai. Namun, setelah 20 tahun
pernikahan, bu Levi diuji. Tiba-tiba suaminya menganut nilai-nilai lain
dan berteman dengan orang-orang yang mendukung nilai tersebut. Dia tidak bisa
dinasihati lagi.
Suaminya memiliki
luka masa lalu karena fatherless. Sekalipun lukanya sudah sembuh, tetapi
iblis tidak tinggal diam dan mencari cara untuk menariknya kembali. Karena
pernikahan mereka bisa menjadi berkat, iblis ingin menghancurkannya.
Biasanya mereka
selalu berdua kemanapun pergi. Biasanya mereka sangat mesra. Namun, karena
perubahan nilai suaminya, banyak orang mengira mereka sudah bercerai. Sekalipun
air mata harus tercurah, ketika dia dimarahi suami, dia memilih untuk tetap
mengampuni suaminya. Lantas Tuhan mengutus orang tua rohaninya untuk
mendoakan dan menguatkannya.
Tiap hari dia dan
anak-anaknya akan berkumpul bersama untuk berdoa. Bu Levi mengajar anak-anaknya
untuk tetap mengasihi papanya sehingga mereka tidak sampai kepahitan. Pada
akhirnya mereka menang dan menjadi lebih dari pemenang.
PENOLONG HIDUPKU
Saat kudalam kesesakan, yang
kuharap hanya Kau, Tuhan. Saat badai hidup menerpa, masih ada Tuhan bagiku.
Saat semua jalan tertutup, tiada yang sanggup menolong. Saat air mata
tercurah, masih ada Tuhan bagiku.
Penolongku hanyalah diri-Mu. Penghiburku hanya Engkau, Bapaku. Selalu
menyertai hidupku, Kau Bapaku yang setia.







0 komentar:
Post a Comment