Berproses dengan Roh Kudus
Catatan Ibadah
ke-1 Minggu 8 Februari 2026
Kata Herder,
"Besok semua karyawan bulanan harus libur lagi dan gaji dipotong seperti
karyawan harian, tetapi gaji saya tidak boleh dipotong karena saya warga
pendatang."
"Sebenarnya
Herder itu melakukan efisiensi atau membuat bom waktu?" Tanya
Merpati kepada Kerbau yang selalu memuji kehebatan Herder.
"Memotong
gaji karyawan bulanan secara sepihak bukanlah tindakan efisiensi, melainkan tindakan
premanisme yang disebut pemalakan atau pungutan liar secara paksa karena
tindakannya tidak sesuai dengan aturan ketenagakerjaan." Jelasnya pula.
Namun, Kerbau
tidak menanggapinya. Jika dia sudah yakin kepada seseorang, sekalipun
keyakinannya salah, tetap saja akan dia perjuangkan. Karena dia tidak mau
memercayai intuisi Merpati, dia akan selalu lambat menyadari kesalahannya.
Padahal, intuisi
selalu mendahului data. Intuisi tuh sudah bisa melihat hasil sebelum ada
data (tinggal mencari atau menunggu data), tetapi logika masih membutuhkan tren
data yang baru terbentuk minimal tiga bulan kemudian. Namun, percuma berdebat
dengan shio Kerbau. Bahkan, jika harus berdebat dengan dinding, Kerbau akan
menang. Meskipun demikian, Merpati selalu lebih dari pemenang... wkwwkw...
Ketika nasi sudah
menjadi bubur, biasanya:
* Kerbau akan berkata, "Mengapa tidak ada yang memberitahuku lebih
awal?"
* Merpati akan menjawab, "Aku sudah memberitahumu sedini mungkin. Inilah
bukti jejak digitalku pada percakapan kita. Sayangnya, kamu tidak mau
mendengarnya dan tetap membela para penjilat dengan menyatakan bahwa aku
hanya berasumsi."
Lalu seperti biasanya Kerbau akan terdiam 1000 bahasa. Inilah bukti bahwa logika selalu menang, tetapi intuisi bisa selalu lebih dari pemenang... wkwwkw... Intuisi yang akan tertawa paling akhir, tetapi dia jugalah yang paling geregetan sejak awal karena logika tidak bisa langsung paham.
Teriak Herder,
"Apa kamu tidak punya otak? Apa kamu tidak bisa berpikir?"
Kata intuisi, "Tanyakan pada hatimu apa itu pantas diucapkan oleh
seorang pemimpin?"
Jawab Kerbau, "Jangan melibatkan perasaan. Menurut data, Kolonel Sanders
bisa sukses dengan cara berkata-kata sekasar itu."
Begitulah shio
Kerbau, mereka akan menyajikan fakta sesuai versi mereka sendiri. Padahal, sukses
dengan cara dunia bukanlah kesuksesan sejati karena manusia adalah buatan
Tuhan yang diciptakan untuk melakukan perbuatan baik, bukan perbuatan kasar.
Seorang produsen
kursi ingin membuat kursi yang nyaman untuk diduduki. Suatu hari produsen itu mencoba
duduk di atas salah satu kursinya yang tampak mengkilap, tetapi jarinya berdarah
ketika menyentuh pegangan kursi tersebut. Rupanya kursi itu belum diamplas
(diproses) dengan baik sehingga masih ada kayu yang kasar. Sekalipun sukses di
mata, kursi ini sudah gagal memenuhi tujuan produsennya.
Manusia pun sama.
Sekalipun performanya tampak memukau mata, jika dia melukai sesama
(tidak berbuat baik), dia sudah gagal memenuhi tujuan Penciptanya.
Mazmur 57:4-5 (TB) Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan
menyelamatkan aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. Sela
Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya. Aku terbaring di
tengah-tengah singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana
tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam.
Karena kebijakan
Herder, tak ada lagi yang mau lembur. Merpati pun tidak mau lagi lembur seperti
dulu. Lagipula laporannya juga dimanipulasi oleh Herder. Jadi, untuk apa
capek-capek lembur agar laporan hasil manipulasi data Herder bisa disajikan
tepat waktu? Toh, kalau Merpati sampai sakit atau stres, resiko juga ditanggung
sendiri, bukan ditanggung Herder atau Kerbau.
Mazmur 57:7 (TB) Mereka memasang jaring terhadap langkah-langkahku,
ditundukkannya jiwaku, mereka menggali lobang di depanku, tetapi mereka
sendiri jatuh ke dalamnya. Sela
Ah, daripada
kesal dengan Herder dan Kerbau pendukungnya, Merpati pun memutuskan untuk
menghadiri undangan teman masa kecilnya di rumah duka. Kebetulan nomer
ruangannya juga sama dengan tanggal dan bulan lahirnya. Jadi, di dalam
perjalanan pulang, dia memikirkan hal itu sambil bertanya-tanya, "Mengapa
rasanya aku harus ke sana? Apa rencana-Mu Tuhan? Ah, aku tidak mengerti, tetapi
okelah aku akan ke sana."







0 komentar:
Post a Comment