Melesat
Catatan
Ibadah ke-1 Minggu 2 November 2025
"Beberapa
waktu ada orang datang ke pabrik. Dari jauh dia terlihat seperti teman
kuliahku. Eh, ketika kudekati, dia langsung bertanya kepadaku, "Kok kamu
bisa nyasar ke pabrik ini?" Aduh, malu aku. Tiap kali reuni dengan
sesama almamater, aku tidak mau membahas pekerjaanku karena malu sekali. Semuanya bekerja di
perusahaan-perusahaan yang terkenal bagus. Di sini aku malah dipandang sebelah
mata oleh pimpinan." Curhat seorang wanita muslim.
Jawabku,
"Buat apa malu? Katakan saja kepada temanmu itu bahwa kamu sedang mengumpulkan harta di
surga melalui
pabrik itu dengan cara membantu orang-orang yang tidak jelas. Kamu sedang
menjadi terang untuk menerangi kegelapan yang ada di sana." Hehehe... ini
tugas mulia yang tidak banyak peminatnya.
Lukas 10:2-3 (TB) Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja
sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia
mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku
mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
NYALAKAN API-MU
Verse
1: Jiwa bebas terlepas. Kuasa maut t'lah terhempas. Nama Yesus pemenang. Nama
Yesus jawaban.
Verse
2: Langkah takkan berhenti. Berlari sampai akhir. S'rukan tinggi
Nama-Nya. S'rukan ajaib Nama-Nya.
Pre
Chorus: Roh Kudus membakar setiap kami. Naikan pujian mujizat terjadi.
Chorus:
Mengalir kuasa-Mu. Nyalakan api-Mu. Kunyanyi oeo oo eo o... oeo oo. Tercurah
kuasa-Mu. Nyalakan api-Mu. Kunyanyi oeo oo eo o... oeo oo. Keajaiban terjadi.
Bridge:
Oeo oo eo o... oeo oo eo o...x4
Seorang wanita Kristen membagikan Lukas 16:19-31 tentang kisah orang kaya dan Lazarus yang miskin kepada pria Budha. Lalu pria itu berkata, "Baik Budha, Katolik, maupun Kristen, salah satu kesamaan terbesar adalah bahwa setelah mendengar kebenaran yang mendalam, objek pemeriksaan diri adalah diri sendiri, bukan orang lain. Dalam terminologi Budha, ini disebut "meditasi wawasan."
Lanjutnya,
"Kita berusaha untuk mempelajari pikiran dan tindakan para bijak. Dari
peniruan hingga internalisasi, menjadikannya bagian dari diri kita sendiri. Misalnya, dalam berkomunikasi
dengan orang lain, kita dapat memiliki dasar welas asih, yang menjadi
dasar kebijaksanaan."
Lantas
wanita Kristen itu menimpali, "Semua ajaran agama tidak hanya untuk diri sendiri. Agama seharusnya tidak
mengajarkan orang untuk menjadi egois. Selain untuk memperbaiki diri sendiri,
agama juga seharusnya mengingatkan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Misalnya:
jika kita melihat seseorang menuju jurang kehancuran, apakah kita akan berdiam
diri saja? Jika ya, itu berarti kita egois, dan Tuhan tidak akan memberkati
orang yang egois."
Sambungnya,
"Tentu saja, kita harus memiliki belas kasih.
Yakobus 2:13 (TB): "Karena barangsiapa tidak memiliki belas kasihan, ia akan
dihakimi tanpa belas kasihan, tetapi belas kasihan akan menang atas
penghakiman."
Namun,
kita tidak boleh menyalahgunakan belas kasihan orang lain. Harus ada hubungan
yang seimbang dan saling menguntungkan antara kedua belah pihak."
Ehm...
selama ini belum pernah kudengar ada pemuka agama yang berkata, "Psst...
aku mengetahui kebenaran, renungkanlah hal ini untuk dirimu sendiri lalu
jadikanlah kebenaran ini sebagai bagian dari dirimu sendiri. Jangan
sampai orang lain tahu tentang kebenaran ini ya... Cukuplah kamu berbelaskasih
kepada orang lain." Tidak cukup Bro.
Ada yang
seperti itu? Tidak ada. Jika ada, berarti sesat. Perkataan pria Budha itu
terdengar bagus. Sayangnya, dia belum bisa sebaik perkataannya. Lalu dia
berharap orang lain berbelas kasih kepadanya. Siapa yang mau berbelaskasih kepada orang yang egois
terus menerus?
Nyaris tak ada.







0 komentar:
Post a Comment