Sunday, November 2, 2025

Pikirin Sendiri

Tindakan Mulia
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 2 November 2025

Ketika si jago merah merenggut rumahku, beberapa pengikut Budha justru berlomba-lomba untuk memberkati seisi rumahku hingga pulih kembali. Bahkan, beberapa biksu Taoisme sesekali datang ke rumahku untuk mengajak ortu ke vihara. Jika ortu mau, mereka pun menawarkan diri untuk membayar biaya transportasinya. Jadi, tidak mungkin Budha mengajarkan umatnya untuk berkata, “yang penting gue dewe” hingga tak peduli masalah orang lain dan terus menerus minta dikasihani.

Ketika mengetahui kebenaran, seharusnya hal itu dibagikan dan tidak disimpan sendiri. Jika diri sendiri belum bisa melakukannya, kenapa harus menghalangi orang lain mengetahuinya? Siapa tahu mereka justru bisa melakukannya lebih baik daripada kita.

Nah, beberapa hari lalu terjadi hal lucu yang menjengkelkan bagi beberapa pekerja Taiwan. Ceritanya, pekerja Taiwan ingin makan nasi goreng, tetapi pembantunya malah menghidangkan nasi dan mie goreng. Hehehe...

Dari situ ada ilustrasi seperti ini: “Seseorang memberi kita resep rahasia nasi goreng yang super enak. Eh, ketika kita mempraktekkannya, justru gagal terus karena masak terlalu lama hingga nasinya gosong atau terlalu sebentar hingga nasi masih basah. Lalu kita bagikan resep itu ke tetangga sebelah, eh, ternyata nasi gorengnya jadi lezat sekali.

Bagaimana kita tahu jika nasi gorengnya lezat? Tentu saja karena dia memberikan nasi goreng buatannya kepada kita sebagai ungkapan terima kasih karena telah diberi resep. Bahkan, dia juga mau mengajari kita cara memasak nasi goreng dengan benar sehingga pengetahuan kita bukan hanya sebatas teori. Practice makes perfect... wkwkww...

Jadi, ngapain sih untuk membagikan kebenaran harus nunggu kita bisa melakukannya sendiri dengan sempurna? Masa nunggu jadi orang kaya atau semiskin Lazarus, baru boleh berbagi kisah tentang orang kaya dan orang miskin? Orang kaya tuh emang suka sebel kalau ditegur oleh orang yang belum sekaya dirinya. Padahal, rasa kaya tuh bersumber dari hati loh... bukan jumlah harta. Iya apa iya? Pasti iya, kalau dijawab dengan iman.

Ah, pria itu betul-betul menyebalkan, tetapi entah mengapa setelah mengomeli dia, justru aku ingin tertawa. Bagaimana mungkin tidak tertawa? Selagi aku masih kesal kepadanya, Roh Penghibur malah kasih firman untuk dibagikan kepadanya. Jadi, sambil mengomeli dia, kubagikan pula firman kepadanya. Bukankah firman tuh seperti pedang bermata dua? Jadi, firman yang kuterima bukan hanya untukku, tetapi juga untuknya… hahaha…

2 Timotius 4:2 (TB) Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

Namun, jika aku sudah sangat marah, aku pasti memasuki mode hening hemat energi. Ini artinya aku akan memblokir semua akses komunikasi dari dan ke orang itu. Ini kulakukan kepada penipu Kristen yang tetap bersikukuh untuk melanjutkan penipuannya, alih-alih mengakui perbuatannya.

Dulu aku pun melakukan hal yang sama kepada pria itu ketika sangat marah kepadanya. Namun, dia malah memintaku untuk menenangkan diri dulu. Dengan kesal aku hanya bisa bertanya, “Kenapa kamu berbeda dari orang lain? Kenapa kemarahanmu bisa langsung turun ketika aku marah? Seharusnya kamu langsung menyetujui permintaanku untuk mengakhiri kontrak kerjasama. Kenapa kamu tidak melakukannya?” Eh, dia tidak mau menjawabnya. Oh, dalamnya laut bisa diukur, tetapi dalamnya hati, siapa tahu?

Jika belum terlalu marah, aku sih masih bisa peduli dengan cara mengomeli orang yang membuatku kesal. Ya, sekalian juga minta klarifikasi kepadanya sambil ngomel, "Menurut opiniku, kamu sperti ini. Opiniku didukung fakta seperti ini. Jadi, apa opiniku sebuah fakta?"

Eh, dia hanya menjawab, "Kamu selalu salah paham terhadapku." (Tanpa penjelasan.) Makin sebel nggak? Kalau begini terus, lama-lama hubungan kami bisa seperti never ending stories ala Tom and Jerry karena melakukan rekonsiliasi hati tak semudah melakukan rekonsiliasi bank. Wew... sebenarnya dia tuh maunya apa sih?

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.