Catatan
Ibadah ke-1 Minggu 9 Nov 2025
Matius 5:14-16 (TB) Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak
mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya
di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga
menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang
baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Ayat
tersebut mungkin sudah kita dengar sebanyak seratus kali. Hal ini menunjukkan identitas kita sebagai
Terang Dunia. Ini
bukan pilihan, tetapi identitas kita. Maka, tidak cukup jika kita hanya
menerangi diri sendiri atau keluarga sendiri.
Terang
kita harus bisa berdampak bukan hanya di Yudea dan Yerusalem, tetapi di seluruh
dunia. Maksudnya,
bukan di dunia yang luas, melainkan berdampak bagi lingkungan sekitar kita,
dimanapun kita ditempatkan, termasuk di marketplace.
Jika
pengusaha masih menggunakan banyak buku untuk memperkecil pajak atau melakukan
suap untuk melancarkan proyek, tentu saja dia tidak menjadi Terang. Seringkali pengusaha tidak suka
jika pak Paulus menyampaikan hal tersebut. Mereka berharap gereja bisa mengerti
kesulitan pengusaha. Padahal, firman Tuhan tidak bisa dikompromikan.
Jika terang Kristus tidak ada di dalam diri kita, kita
tidak akan bisa memancarkan terang.
Ada
dua jenis terang:
1. Internal Light: terang di dalam diri kita.
Terang ini tidak akan bisa padam, kecuali kita sendiri yang memadamkannya.
2. External Light: terang yang keluar dari dalam
diri kita. Ketika keadaan sekitar menjadi gelap lalu ada setitik terang,
sekalipun hanya seperti lilin kecil, orang-orang akan melihat terang tersebut. Terang
selalu mengalahkan kegelapan.
Cara
Menjadi Terang dengan Bertahan:
1. Uncompromise Principle. Kebanyakan orang Kristen tidak
kuat karena mereka belum memiliki prinsip yang tidak bisa dikompromikan. Agar
kuat, kita harus memiliki prinsip yang tidak dapat dikompromikan, seperti
Daniel. Ini bukan karena kita orang yang kaku, tetapi ada nilai-nilai yang
tidak boleh dikompromikan.
Daniel 1:8 (TB) Daniel berketetapan
untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang
biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia
tak usah menajiskan dirinya.
Bagi
kebanyakan orang, minum anggur adalah hal biasa, tetapi bagi Daniel hal itu
najis. Mengapa Daniel bisa memiliki prinsip seperti ini? Dia dibuang ke Babel
pada usia 17 tahun (setara dengan anak kelas 2 SMA). Namun, dia kuat karena selama
bertumbuh, dia telah menginternalisasi firman ke dalam hidupnya.







0 komentar:
Post a Comment