Sunday, November 2, 2025

Melesat Bukan Meleset ~ Gina Dharmawan

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 2 November 2025

Sat set. Ini yang sering kita inginkan. 59 hari lagi kita akan menyongsong tahun baru. Biasanya tiap awal tahun kita akan membuat komitmen. Komitmen di awal itu bagus, tetapi akankah kita mewujudkannya sampai akhir. Mungkin ada kalanya kita meleset. Sekarang belum terlambat untuk memperbaikinya agar bisa melesat.

Pagi ini kita membahas tentang melesat, bukan meleset. Nanti sore akan dibahas tentang kenyang, bukan kekenyangan. Baik kenyang, maupun kekenyangan, sama-sama diberkati oleh Tuhan. Namun, perbedaannya adalah produktivitas.

Orang kekenyangan seringkali tidak produktif dan mengambil hak orang lain. Kita melakukan perpuluhan bukan karena Tuhan membutuhkan uang kita. Namun, kita melakukannya agar tidak sampai kekenyangan. Di dalam berkat yang kita terima ada bagian milik orang lain.

Gembala bu Gina mengatakan bahwa jika kita menanam pohon, kita berhak untuk memakan buahnya. Namun, sebaiknya kita tidak memakannya sendiri, tetapi juga membagikannya kepada orang lain dan menanamnya lagi. Jika tidak, kita akan kekenyangan.

Pengkhotbah 7:8 (TB) Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati.

Akhir suatu hal lebih baik, bukan berarti yang awal itu buruk. Awalnya sudah baik, tetapi akhirnya akan lebih baik. Seharusnya kata sabar menggunakan banyak huruf a sehingga diucapkan sabaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar.

Kita harus sabar terhadap:

1. Jawaban doa. Ini iman. Jika Tuhan datang, adakah dia mendapati iman di bumi? Kita hidup karena percaya, bukan karena melihat fakta. Sekalipun doa belum dijawab, kita tetap harus percaya bahwa Tuhan akan menjawab doa kita pada waktu yang tepat.

2. Orang lain. Ini hormat. Sabar tidak diperlukan untuk menghadapi orang yang baik. Namun, ketika harus menghadapi orang yang menyebalkan, kita perlu sabar. Kesabaran ini hanya bisa dibentuk lewat orang lain yang menyebalkan.

Amsal 27:17 (TB) Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

3. Keluarga. Ini cinta. Masih adakah cinta? Jika masih ada, berarti kita siap untuk melesat bersama Tuhan. Sebelum melesat dengan cepat, anak panah akan ditarik mundur ke belakang. Pada masa seperti ini kita bisa melakukan review atau penilaian.

Jika kita menggunakan jasa taksi online atau pesan makanan online lalu servisnya memuaskan, kita akan memberinya bintang 5. Bahkan, bintang 6, jika ada, tetapi adanya hanya sampai bintang 5. Namun, kita tidak berbicara tentang taksi atau makanan. Kita melesat jika kita melakukan agenda Tuhan, bukan agenda kita. Sekalipun bisnis sukses, jika kesuksesan ini hanya untuk diri sendiri, ini bukan melesat, tetapi meleset.

Jika ada orang berulang tahun, seringkali kita bernyanyi, "Panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia..." Orang yang panjang umur belum tentu mulia. Orang yang mulia akan memberi dampak positif kepada orang lain. Orang yang mulia akan berbuah lebat hingga buahnya bisa dinikmati oleh diri sendiri dan orang lain.

Bukan Meleset

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.