Sunday, September 28, 2025

Menanti Oase

Susah Lihat Orang Senang, Senang Lihat Orang Susah
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 28 Sept 2025

Di tengah padang pasir yang luas, malam dingin dan siang terik, hiduplah sekelompok hewan: Singa tua yang egois, anak Singa yang pandai bersilat kata, Unta muda yang sabar, para Kelinci Gurun yang lincah, dan Burung Pipit yang suka bernyanyi. Setiap hari mereka hanya bisa minum sedikit air dari sumur kecil yang hampir kering. Lalu Pipit bertanya kepada Unta yang ahli di bidangnya, "Apa kau kenal pembuat oase dengan harga terjangkau?"

Lantas Unta memperkenalkan Rubah kepada Pipit karena dia telah lama mengenalnya sebagai pembuat Oase. Maka, tak lama berselang, datanglah Rubah cerdik dengan langkah percaya diri. Ia tampak berbeda—bulu oranye berkilau diterpa matahari. “Teman-teman!” seru Rubah lantang. “Aku tahu tempat rahasia… sebuah oase megah! Airnya mengalir tanpa henti, pohon kurmanya sarat buah, dan kalian tak perlu susah payah lagi mencari makan.”

Mata Pipit berbinar. “Benarkah, Rubah? Kami sudah lama bermimpi tentang itu.” Rubah mengangguk mantap. “Tentu saja benar. Aku bisa memimpin kalian ke sana. Tapi… perjalanan jauh dan berat. Aku butuh bekal. Serahkan saja air dan makananmu padaku. Aku yang akan membawanya, biar perjalanan kita lancar.”

Anak singa berkicau pelan, ragu-ragu. “Tapi… bagaimana kalau oase itu tidak ada?” Rubah tertawa kecil. “Haha, Singa kecil… masa aku berbohong? Percayalah, aku hanya ingin membantu. Aku akan tunjukkan video oase itu kepadamu.

Karena haus dan penuh harapan, akhirnya mereka menyerahkan semua bekal setelah anak Singa melihat videonya yang meyakinkan. Singa tua pun memberikan beberapa kantung airnya, Kelinci menyerahkan biji-bijian, dan Pipit memberikan buah kecil yang dia simpan. Mereka berangkat, mengikuti Rubah menembus panas terik. Langkah demi langkah, pasir terasa makin membakar telapak kaki.

Beberapa bulan kemudian dari kejauhan tampak kilauan hijau. Ada pohon, ada air, bahkan terdengar seolah gemericik. “Itu dia!” seru Rubah sambil menunjuk. “Oase yang kujanjikan!” Para kelinci meloncat kegirangan, Pipit terbang rendah karena lelah, tetapi tetap bersiul riang, dan Singa kecil tersenyum lega. Namun, makin dekat mereka berjalan… bayangan itu makin kabur.

Ketika makin mendekati tujuan, oase itu justru lenyap dalam sekejap mata. Lantas yang terlihat hanyalah pasir kosong yang berkilau panas. Oase itu hanyalah fatamorgana. Para kelinci terduduk lemas. “Tidak… tidak ada air….”

Seketika sayap Pipit merah membara dan dia berkata kepada Rubah, "Aku memberimu kesempatan kedua. Jujurlah: sebenarnya kamu bisa membuat oase atau tidak. Jika bisa, mari buat kesepakatan baru bahwa kamu akan mengembalikan semua bekal yang telah kami berikan jika nanti kamu tidak bisa menyelesaikan proyek secara tepat waktu. Jika tidak bisa, jujurlah dan kembalikan semua bekal pemberian Singa tua sekarang juga. Jika kamu tidak jujur, kerugiannya akan makin besar."

"Tidak bisa. Aku tidak mau mengembalikan semua bekal yang telah diberikan kepadaku. Aku akan serahkan masalah ini kepada pengacaraku. Aku bisa melanjutkan proyek ini, tetapi akan kutunjukkan oase kecil saja. Jika mau oase yang megah, beri saya bekal lebih banyak lagi. Aku ini sudah baik sama kamu." Ujar Rubah.

Mazmur 11:2 (TB) Sebab, lihat orang fasik melentur busurnya, mereka memasang anak panahnya pada tali busur, untuk memanah orang yang tulus hati di tempat gelap.

Jawab Pipit, "Aku juga sudah baik sama kamu." (tetapi sampai sekarang kamu tetap memilih berbohong. Ternyata dari awal kebaikanmu hanyalah modus. Setidaknya kebaikanku tulus.)

Mazmur 11:7 (TB) Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya.

MASA PENANTIAN - Franky Kuncoro
Verse: Masa penantian, masa yang indah. Walau tak mudah, namun kumau bersabar. Bersama Tuhan semua ‘kan indah. Bila ku ‘tak mampu, Tuhan ‘kan mampukan. Kuasanya sempurna, Mampukan ku dapat bertahan. Bersama Tuhan semua ‘kan indah.
Chorus: Ku ‘kan tetap menabur dalam masa penantian. Walau penuh air mata, namun ku tak'kan menyerah. Perjuanganku ‘kan jadi tuaian indah. Tuhan memampukan, aku pasti menang.
Ending: Tuhan memampukan... Tuhan memampukan… Tuhan memampukan Aku pasti menang.

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.