Sunday, August 31, 2025

Google Translate Tak Selalu Beserta Kita

Your Flame in The Dark
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 31 Agustus 2025

Kemarin suara hatiku berkata, "Jangan ke gereja dulu."
Q: Kenapa? Aku tidak takut.
A: Iman itu berhikmat, tidak bodoh. Jika seseorang mengetahui di depannya ada bahaya, apakah dia akan berjalan terus menyongsong bahaya itu?
Q: Emangnya ada bahaya apa?
A: Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi di depan.
Q: Ya udah, aku tidak ke gereja dulu. Aku akan bersih-bersih karena sudah lama tak ada waktu untuk melakukannya. Kebersihan adalah bagian dari iman.

Lalu kunyanyikan lagu "Tak Pernah Habis Air Mataku" sekalipun aku tetap belum mengetahui bahayanya. Eh, beberapa jam kemudian aku merasakan gejolak di perutku. Rasanya seperti ada gunung berapi yang siap meletus. Oh, untunglah aku berada di rumah. Sekalipun toilet di rumahku tak sebagus hotel bintang lima, tetap saja itulah toilet terbaik yang paling nyaman buatku... wkwwkw...

Jika gejolak itu terjadi di jalan, aduh, ini bahaya yang mengerikan karena tak banyak orang mau berbaik hati meminjamkan toiletnya, termasuk aku yang takut membiarkan orang asing masuk ke dalam rumah. Jika gejolak itu terjadi di ruang ibadah, mana bisa konsen beribadah? Dulu pernah sih terpaksa survei kebersihan toilet gereja sebelum ibadah karena sebenarnya aku paling tidak suka menggunakan toilet umum.

Namun, kali ini aku makin menyadari bahwa kadang kala musuh terbesar kita bukanlah hal-hal yang berada di luar diri kita. Kadang kala musuh terbesar kita justru ada di dalam diri kita sendiri... xixixi... Emang perutku ini cukup sensitif dengan berbagai hal, seperti perasaan, jenis makanan tertentu, perubahan suhu, perubahan energi, atau perubahan hormon. Jadi, sebisa mungkin aku harus selalu tenang dalam segala hal agar perutku juga damai.

Namun, tiap kali mau menyampaikan sesuatu kepada orang asing, seketika perutku langsung mules ketika mulai membayangkan percakapan dalam bahasa asing. Aku berusaha menghafal kata-kata yang harus kuucapkan, tetapi saat gugup, seringkali mau berkata A, malah terucap B. Contoh: Aku mau meminjam mobil kepada seseorang dalam bahasa Cina.

Eh, bukannya mengucapkan kata 'meminjam mobil', aku malah mengucapkan kata 'mengendarai mobil'. Aduh, jika ingat momen seperti begini ini, perutku mules ketika mau berbicara kepada orang asing. Jadi, sebisa mungkin ya menghindari orang asing.

Nah, suatu hari aku keluar dari toilet lalu mencuci tangan di wastafel dengan lega karena perutku tak lagi mules. Eh, tiba-tiba pintu toilet sebelah terbuka dan yang keluar dari toilet itu adalah pria Taiwan. Wah, ini kebetulan atau lagi dikerjai Tuhan ya? Dia pasti mengetahui keinginanku, tetapi kenapa Dia membiarkan ada momen seperti ini?

Aduh, aku tidak bawa ponsel pula sehingga Google Translate tidak besertaku ke toilet. Pria itu pun mengajakku bicara dalam bahasa Inggris. Karena gunung berapi di perutku sudah meletus dan aku tidak pintar main drama, tidak mungkin aku berpura-pura sakit perut lagi.

Jadilah kami berbicara di depan toilet tersebut dalam bahasa Inggris yang sama-sama terbatas. Setelah aku selesai mencuci tangan, aku mulai bergerak ke luar area toilet karena aneh rasanya berbicara persis di depan toilet pria dan wanita. Maka, pembicaraan mulai bergeser di luar area toilet, tetapi tetap belum jauh dari toilet. Ketika dia tidak memahami kata-kata yang kuucapkan, aku pun berusaha mencari kata-kata lain yang bermakna sama. Pada akhirnya kami pun bisa sama-sama mengerti pesan yang ingin kami sampaikan. Fiuh, ternyata bisa juga.

Untunglah hari ini perutku mules di rumah, bukan di kantor, gereja, atau jalan raya. Perut mules tuh benar-benar bahaya yang tidak bisa diprediksi waktunya secara tepat. Namun, untunglah Tuhan serba tahu dan menjauhkanku dari momen berbahaya itu... hahaha... Namun, penggunaan bahasa asing tetap harus kuhadapi... hiks... semoga perutku kuat.

TAK PERNAH HABIS AIR MATAKU
Apa yang telah kulihat membuat hidupku mengerti. Rancangan kebaikan-Mu Tuhan di dalam hidupku.
Saat aku berjalan dalam rencana-Mu Tuhan, Kau mengajariku untuk mengerti kehendak-Mu Tuhan.
Tak pernah habis air mataku melihat kebaikan-Mu Bapa. Aku percaya Kau memulihkanku di dalam hidupku.
Tak pernah habis air mataku melihat kebaikan-Mu Tuhan. Aku percaya saat Kau bertindak, mujizat-Mu nyata.

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.