Catatan Ibadah ke-1 Minggu 08 Maret 2020
Takut akan Tuhan
seringkali membuat orang ketakutan sehingga kita ganti dengan kata 'serius
dengan Tuhan' sesuai kitab Maleakhi.
Maleakhi 1:2a "Aku mengasihi kamu," firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?"
Setelah bangsa Yahudi
kembali dari pembuangannya di Babel, di sana sempat terjadi kebangunan rohani
dengan kemunculan Yeremia dan Ezra. Namun, hal ini tidak berlangsung lama
karena Israel kembali berbuat dosa. Pada masa inilah kitab Maleakhi ditulis. Kitab
tersebut diawali dengan firman Tuhan yang berkata: "Aku mengasihi kamu". Perkataan tersebut penting karena
kitab ini ditulis dengan kata-kata yang keras. Perkataan selanjutnya yang
membuat nabi pusing. Tiap kali dikatakan bahwa Tuhan mengasihimu, mereka terus
bertanya: "Mana buktinya?"
(Dengan cara bagaimana Tuhan mengasihi kami?)
Maleakhi mengajar kita untuk serius dengan Tuhan
dalam hal: ibadah dan pelayanan, rumah tangga.
IBADAH
Maleakhi 1:6 Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"
Jika pak Sukirno melihat
jemaat membuka ponsel, dia berasumsi bahwa mereka sedang membaca Alkitab. Jika
mereka menulis sesuatu, berarti mereka sedang mencatat khotbah. Namun, jika
mereka menggerakkan jarinya ke atas dan ke bawah, berarti mereka sedang membuka
Instagram dan ini sama halnya dengan mempersembahkan korban yang cacat.
Seriuslah dengan Tuhan.
1 Timotius 4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.
Pak Sukirno belajar
pentingnya ibadah kepada anaknya ketika dia masih berumur 10 tahun. Kala itu
mereka di luar negeri dan dijemput dengan mobil ketika akan ke gereja. Mobilnya
mobil sedan sehingga hanya cukup untuk 5 orang sehingga kedua anak pak Sukirno
diminta tinggal di rumah saja karena mobil tidak muat. Di Indonesia anak kecil
bisa tetap ikut naik, tetapi di sana tidak bisa. Jumlah penumpang harus sesuai
kapasitasnya.
Nah, sepulangnya dari
gereja pak Sukirno disambut wajah cembetut salah satu anaknya. Dia berkata: "Ini
hari Minggu mengapa aku tidak beribadah?" Pak Sukirno menjawab: "Mobilnya tadi tidak muat."
Anaknya berkata: "Mengapa tidak naik
taxi saja?" Dari sini pak Sukirno belajar pentingnya ibadah di hari
Minggu. Orang yang paling sehat karena rajin berolahraga pun tetap akan
meninggal. Namun, ibadah itu banyak gunanya.
Menurut penelitian, jika
seorang wanita beribadah tiap minggu, resiko kematiannya menurun sekitar 33%.
Jika selain beribadah pada hari Minggu, juga ikut ibadah MS Women dan ikut CG
(beribadah 3 kali seminggu), resiko kematiannya jauh berkurang lagi. Iman yang kuat dapat membantu proses
penyembuhan depresi, membuat sukacita, menyehatkan tubuh, dan membuat panjang
umur. Maka dari itu, sekalipun agak kurang enak badan, sebaiknya tetap
beribadah.
0 komentar:
Post a Comment