Lantas aku teringat curahan hati temanku beberapa bulan silam perihal adik iparnya yang meminta bantuan keuangan darinya. Temanku ini ingin membantu tetapi tidak bisa membantu. Sebagai karyawan biasa, gajinya tidak cukup untuk membantu adik iparnya. Selain menghidupi dirinya, dia masih harus menghidupi suami dan mamanya yang tidak berpenghasilan.
Kemudian dia melanjutkan ceritanya sambil bertanya-tanya: "Ketika masih jaya, adik iparku telah meminjam sejumlah uang di bank untuk membelikan sebuah rumah bagi adik kandungnya. Nah, ketika adik iparku mulai bangkrut hingga kesulitan membayar biaya kontrak rumah, mengapa adik kandungnya tidak mau membantu? Mengapa adik iparku justru meminta bantuanku? Apa adik kandungnya sudah lupa jasa kakaknya itu?"
Hmmm... jika dia bertanya kepadaku, aku pun coba bertanya kepada Bapa di surga. Bapa, ketika kita harus memberi bantuan dengan penghasilan yang tetap itu-itu juga, siapa yang harus didahulukan? Keluarga baru atau keluarga lama? Jika mendahulukan keluarga baru, hubungan baik dengan keluarga lama bisa renggang. Jika mendahulukan keluarga lama, hubungan baik dengan keluarga baru juga bisa terancam.
Meskipun demikian, tak semua orang setuju dengan usul tersebut karena ada orang yang tak mampu mengendalikan perasaannya dan ada orang yang mengimani bahwa segalanya akan menjadi lebih baik setelah ada keluarga baru. Oh, hanya Tuhan yang tahu.
Jika ada yang mengatakan bahwa uang cepat habis jika sering berada di luar rumah, memang dia benar tetapi tidak sepenuhnya benar. Ada seorang pemuda yang amat jarang ke luar rumah. Karena bekerja dengan rajin sebagai karyawan, dia pun mempunyai sejumlah tabungan. Namun, tiba-tiba badai penipuan datang menggoncang rumahnya. Tak lama berselang badai api ikut menggoncang rumahnya. Beberapa tahun kemudian badai penyakit juga menggoncang rumahnya. Tak ketinggalan badai fitnah turut menjatuhkan dirinya.
Untuk menanggulangi dampak badai-badai tersebut, si pemuda menguras habis tabungannya sehingga dia tidak lagi memiliki tabungan hari depan. Dia pun amat jarang ke luar rumah agar bisa mencukupi kebutuhan orang tua dan adik-adiknya, terutama kebutuhan kesehatan dan pendidikan. Ketika adik-adiknya telah mampu menghasilkan sejumlah uang, mereka malah seringkali kesal atau marah jika diberitahu masalah keuangan keluarga lama karena mereka ingin fokus membahagiakan keluarga baru.
Hmmm... semua itu hanyalah secuil cerita di tengah samudra kehidupan. Jadi, benarkah bahwa harta merupakan berkat Tuhan yang paling murah? Jika ya, mengapa tidak semua orang merasakan kemudahannya? Mengapa beberapa orang yang menyebar harta justru bertambah miskin secara materi? Lalu apa ayat ini benar?
Mengapa ada kakak yang malah kesulitan membayar biaya kontrak rumahnya sendiri padahal dia sudah berbaik hati membelikan adiknya rumah tanpa mengabaikan keluarga baru? Mengapa ada kakak yang tidak bertambah kaya padahal dia telah bermurah hati kepada keluarga lamanya? Apa karena kakak tersebut terlalu mendahulukan keluarganya daripada dirinya sendiri sehingga terlalu hemat kepada dirinya sendiri? Entahlah.Amsal 11:24 Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.
Pastinya lebih berbahagia memberi daripada menerima. Ini sebabnya bunda Teresa tetap memberi dan memberi walaupun hal ini tidak membuatnya bertambah kaya secara materi. Pastinya orang yang menyebar harta semakin bertambah kaya secara rohani dan tidak mudah stres. ^_^
Ayub 8:21 Ia masih akan membuat mulutmu tertawa dan bibirmu bersorak-sorak.
Kau satu terkasih, Ku-lihat di sinar matamu tersimpan kekayaan batinmu. Di dalam senyummu Ku-dengar bahasa kalbu mengalun bening menggetarkan. Kini dirimu yang selalu bertahta di benak-Ku dan Aku 'kan mengiringi bersama di setiap langkahmu.
Percayalah hanya diri-Ku paling mengerti kegelisahan jiwamu kasih dan arti kata kecewamu. Kasih yakinlah hanya Aku yang paling memahami besar arti kejujuran diri indah sanubarimu kasih. PERCAYALAH...
0 komentar:
Post a Comment