Mendengarkan Khotbah
Catatan Ibadah
ke-1 Minggu 8 Maret 2026
Lalu kudengar
video khotbah bu Debby di YouTube tentang kopi untuk Tuhan yang tadi juga
diceritakan di gereja. Karena sedang kesal dengan orang-orang Taiwan
manipulatif, aku hanya membatin, "Tuhan tidak mungkin memintaku untuk
membantu pemalas yang manipulatif karena Tuhan rajin dan jujur."
Maka, beberapa
hari kemudian aku menulis di grup orang Taiwan itu dengan huruf mandarin,
"Mulai tanggal sekian tugas tersebut akan ditangani oleh tim manipulator
sendiri. Terima kasih." Lalu aku langsung meninggalkan grup tersebut tanpa
menunggu tanggapan mereka.
Sebelumnya aku
sudah berkata kepada anak Pak Tani dalam huruf mandarin yang dibantu oleh AI,
“* Dulu kamu marah ketika ditipu oleh orang Indonesia, tetapi sekarang malah
memuji-muji orang yang sebangsa denganmu padahal dia tuh gurunya penipu dari
Indonesia itu.
* Dulu kamu bilang akan berbuat A jika terjadi A, tetapi kamu justru berbuat
sebaliknya. Kamu sungguh tidak manusiawi.
* Aku tidak memahami jalan pikiranmu. Mengapa kamu melakukan semua itu? Apa
kamu memang rasis dan diskriminatif? Apa kamu ingin menghalalkan segala cara
untuk memenangkan persaingan? Apa kamu ingin lari dari kenyataan? Apapun
alasanmu, mengapa kamu harus melibatkanku?”
Namun, dia tidak menanggapiku dan hanya meneruskan semua pesanku kepada guru si penipu. Lantas gurunya penipu membagikan pesanku pula kepada semua anggota tim pendukungnya. Ah, jika begitu, aku juga tidak akan bertanya lagi. Diam tak selalu emas. Jika dia diam, berarti dia tidak dapat menyangkal pernyataanku karena memang benar begitu.
Jadi, kuputuskan
sendiri untuk meninggalkan tugas-tugas tak bermutu itu. Cukuplah kusampaikan
pemberitahuan kepada mereka. Terserah saja jika mereka mau menyulap angka-angka
itu. Mau 5 jadi 4 atau berapa pun, terserah. Aku tidak mau tahu lagi karena
sudah berulang kali aku membersihkan lahannya dari penipu. Namun, berulang kali
pula dia membawa penipu baru. Memang dia cocoknya ditipu karena dia juga
berjiwa penipu.
Beberapa penipu
yang telah keluar dari lahannya, antara lain:
* Wanita Indonesia yang memalsukan tanda tangan pimpinan dan didukung preman
setempat. Setelah wanita ini dikeluarkan, preman pelindungnya juga mati kena
serangan darah tinggi.
* Pria Cina yang manis di depannya dan membuat banyak orang susah di
belakangnya. Akhirnya dia dikeluarkan karena dianggap tidak sopan kepada
atasan. Padahal, sebenarnya dia dikeluarkan karena hasil laboratorium
menyatakan bahwa ada tumor di dalam paru-parunya. Karena pelit, mereka tidak
akan mau membiayai pengobatannya.
* Pria Indonesia yang malas, tetapi pintar berdiplomasi. Akhirnya dia
dikeluarkan karena ada preman setempat yang melaporkan dia. Ah, kalau preman
yang bicara, barulah anak Pak Tani mau mendengarkan.
* Pria Indonesia yang malas, tetapi pintar mempromosikan diri dan melayani di
gereja besar. Akhirnya putus kontrak dengan alasan efisiensi.
* Pria Indonesia yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan proyek dan
rajin ke gereja untuk menemukan mangsa baru. Akhirnya mengalami kesulitan arus
kas dan putus kontak dengannya karena kerugian diikhlaskan.
* Pria Indonesia yang malas, tetapi pintar bahasa Mandarin, rajin melayani di
gereja kecil, dan ahli dalam playing victim. Akhirnya kabur sendiri
karena overthinking dan dikejar penagih hutang.
Eh, sekarang
malah bawa pria penipu dari Taiwan. Siapa yang tidak bosan jika diberi
persoalan yang sama secara berulang-ulang? Kenapa ada orang yang tidak pernah
belajar dari kesalahannya? Bete toh. Siapa yang tidak bosan mengurusi penipu?
Anak Pak Tani tuh suka memberi masalah, tetapi tidak pernah memberikan solusi. Dari
dulu dia selalu lempar batu lalu sembunyi tangan. Dia memang cocoknya ditipu
terus dan tidak akan pernah cocok denganku.







0 komentar:
Post a Comment