Sunday, October 11, 2026

Tidak Mau Menikah

Manfaat Firman Tuhan
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 11 Okt 2026

Ketika seseorang berkata, "Saya tidak mau menikah", faktanya mereka justru menikah setelah bertemu jodohnya. Ada yang menikah dengan teman sekolahnya. Ada pula yang menikah dengan teman kerjanya.

Jika introvert mengatakan bahwa dia tidak mau menikah, seringkali ini berarti bahwa dia tidak mau dijodoh-jodohkan karena mereka lebih suka hubungan yang natural. Selain itu, mereka lebih suka menyimpan sendiri semua keinginan mereka dan tidak ingin orang lain memikirkan hal itu. Mereka ingin privasi tetap terjaga. Sayangnya, beberapa orang sok peduli dan sok mengerti padahal ada udang di balik batu.

“Dia kaya loh.”
“Emang kenapa kalau dia kaya?”
Jujur saja di dalam hatinya, mereka pasti berkata, “Ntar aku ikut kecipratan berkatnya karena aku yang menjodohkan.”

Sementara itu, ekstrovert cenderung lebih terbuka dengan perasaan mereka. "Katamu ingin menikah, kenapa tidak mau dikenal-kenalkan?" Tanyaku kepada seorang ekstrovert. Dia bilang, "Aku tidak suka dijodoh-jodohkan dan aku lebih suka perkenalan yang natural."

Lukas 6:45 (TB) Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya."

Kita sering mendengar bahwa perkataan mulut meluap dari hati. Namun, ada kalanya perkataan seseorang tak selalu sejalan dengan hatinya, terutama kalau introvert harus berhadapan dengan orang-orang kepo alias komentator. Biasanya hal ini terlihat dari perkataannya yang tidak sinkron dengan bahasa tubuh dan bahasa wajahnya. Bahkan, bisa juga tidak sinkron dengan perbuatannya. Jadi, dalam berinteraksi, kadang kala kita pun perlu menangkap pesan tersirat di balik perkataan tersurat.

Sementara itu, ketika seseorang berkata, "Saya mau menikah, sekalipun banyak kota telah disinggahi, hingga masuk ke liang lahat pun mereka belum tentu menemukan jodohnya." Semasa remaja aku sering menemani ortuku dan saudara-saudaranya ke beberapa kota. Kupikir kami akan berwisata, tetapi ternyata kami pergi ke sana karena ingin menjodohkan salah satu koko papa dengan salah satu wanita di luar sana.

Lumayan lha tiap menemaninya dalam proses perjodohan, aku selalu ditraktir bakso oleh adik papa. Enak, tidak enak, baksonya tetap kumakan karena lapar… wkwwkw… Tentu sambil menikmati indahnya pemandangan sekitar yang kehijau-hijauan. Sewaktu aku kecil, dia sering memanggilku, "keceng" (kurus) sehingga dia sering mentraktirku siobak gang djangkrik karena rukonya di Malang hanya beberapa langkah dari sana.

Setelah aku bekerja, dia berhenti memanggilku dengan nama itu. Hahaha... mungkin karena dia melihat bahwa aku tidak kurus lagi. Ketika dia tersenyum, aku tahu senyumnya tuh bukan pura-pura bahagia karena aku dapat menyerap emosi orang lain. Dia tetap bisa bahagia sekalipun tidak bertemu jodohnya.

Namun, ada kalanya dia juga bisa sedih atau marah. Ini wajar lha karena di dunia ini kita tidak mungkin bahagia sepanjang hari. Kita juga tidak mungkin sedih atau marah sepanjang hari. Setiap emosi ada masa kadaluarsanya. Sekalipun beberapa pintu telah dia masuki, tetap saja koko papa itu meninggal tanpa sempat bertemu jodohnya.

Amsal 19:21 (TB) Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.

Nah, dari perjalanannya mencari jodoh, aku pun menyimpulkan bahwa manusia hanya bisa berencana, tetapi takdir atau keputusan Tuhan yang terlaksana. Jodoh itu tak akan kemana-mana. Jadi, daripada capek-capek mendaki bukit dan lewati lembah, seperti Ninja Hattori, lebih baik diam saja di rumah... hahaha...

Kerjakan saja tugas panggilan kita dan tidak usah pergi dari kota ke kota demi mencari jodoh, kecuali kita dipanggil menjadi misionaris keliling. Browsing jodoh di media sosial pun bisa berakhir dengan love scam. Jadi, lebih baik berdoa dulu sebelum melangkah. Seringkali jodoh terbaik justru orang yang sejalan dengan panggilan kita, yaitu orang yang bisa membuat kita makin dekat dengan Tuhan. Jadi, tak usah ambil pusing dengan tuntutan orang lain untuk segera menikah.

TUHAN yang BESAR
Kuhidup kar’na percaya ‘Kau yang berjanji setia. Pengharapanku s’lalu ada di dalam-Mu.
Ku tidak akan menyerah meski dalam kesesakan. S’luruh hidupku dalam genggaman-Mu.
Aku punya Tuhan yang besar yang t’lah berjanji dan sanggup menggenapi.
Imanku bersepakat percaya kuasa-Nya. Kut’rima s’karang, kemenangan dari-Mu.

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.