Catatan Ibadah ke-1 Minggu 23 Agustus 2026
Pak Gatut membaca sebuah kutipan
yang berbunyi, "Jika istri gembira, suami bahagia. Jika suami bahagia,
istri curiga." Bagaimana bisa ada kutipan seperti ini? Di dalam Tuhan
seharusnya tidak demikian.
Matius 18:23-24 (TB)
Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan
perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu,
dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
10.000 talenta = 192.300 tahun
upah pekerja. Siapa yang bisa hidup hingga 192 tahun? 192 tahun saja belum
bisa, apalagi 192.300 tahun. Keselamatan kita diberikan secara gratis bukan
karena murahan, tetapi karena kita tidak sanggup membayarnya, seperti hamba
yang berhutang 10.000 talenta itu.
Kita telah memilih jalan
keselamatan yang gratis. Pengorbanan Yesus dianggap seimbang dengan
dosa-dosa kita, padahal kita tidak layak menerimanya. Kita tidak akan mampu
membayarnya. Inilah kasih Agape yang Tuhan berikan.
William Barclay mengatakan bahwa Agape
adalah melakukan hal yang terbaik untuk orang yang kita kasihi. Jadi, agape
bukan hanya rencana untuk mengasihi, bukan pula sekadar perasaan atau emosi.
Agape adalah tindakan yang sudah dilakukan. Bahkan, jika harus berkorban nyawa,
hal ini tetap dilakukan.
Efesus 4:1 (TB) Sebab
itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya
hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan
itu.
Berpadanan dalam bahasa aslinya
menggunakan kata Axio, yang berarti seimbang. Jadi, setelah diselamatkan secara
gratis, seharusnya hidup kita seimbang dengan panggilan tersebut. Pada awal
pernikahan ketika suami melihat istri tersandung, suami akan menyalahkan batu
yang membuat istrinya tersandung. Namun, setelah 20 tahun menikah, suami akan
berkata, “Matamu Dimana?” Ini tidak benar. Kasih Agape harus tetap ada.
Efesus 4:2 (TB) Hendaklah
kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam
hal saling membantu.
Sebagai dosen termuda di sana dia
bertemu dengan murid tertua di sana, yaitu bu Esther. Singkat cerita, mereka
menikah. Usia mereka selisih 1,5 tahun. Pak Gatut menemukan potensi bu Esther
yang bisa berkhotbah. Jadi, dia membantunya menyiapkan bahan-bahan khotbah.
Ketika bu Esther mendapat
panggilan untuk berkhotbah, pak Gatut membantunya dalam pekerjaan di rumah agar
bu Esther bisa mempersiapkan diri dengan baik. Makin lama, bu Esther makin
banyak menerima panggilan khotbah. Setelah 3-4 tahun berkhotbah di suatu kampus,
giliran pak Gatut yang diundang ke sana.
Maka, dia memperkenalkan diri
sebagai suami bu Esther dan jika sulit mengingat namanya, dia tidak keberatan
untuk dipanggil pak Esther karena mereka lebih dulu mengenal bu Esther. Pak
Gatut senang karena bisa melakukan yang terbaik untuk orang yang dikasihinya.
Sementara itu, pak Gatut terkenal
sabar sedunia. Dia tidak mudah marah. Namun, hanya bu Esther yang mengetahui
dia benar-benar sabar atau tidak. Sabar itu mempunyai dua dimensi, yaitu
tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Nah, bu Esther menemukan bahwa pak Gatut masih menyimpan kesalahan orang lain. Maka, bu Esther
membantunya untuk membereskan hal ini.
Kini, pak Gatut bukan hanya tidak
cepat marah, tetapi juga tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ini karena bu
Esther mau melakukan yang terbaik untuk orang yang dikasihinya. Jadi,
pak Gatut dan bu Esther selalu berusaha memberikan kasih Agape dalam keluarga.







0 komentar:
Post a Comment