Sunday, August 23, 2026

Kasih dalam Keluarga - Pdt. Gatut Budiyono

Terang dalam Keluarga
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 23 Agustus 2026

Efesus 5:1-2 (TB) Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Penurut = peniru. Pak Gatut melihat anak keduanya sering menarik-narik celana ke atas. Rupanya dia meniru kebiasaan pak Gatut yang tidak disadarinya. Anak-anak suka meniru orang tuanya. Nah, Tuhan mau kita pun meniru-Nya, seperti anak-anak yang suka meniru orang tua. Namun, dalam hal ini kita harus meniru Tuhan hingga makin serupa dengan Kristus.

Anak-anak pak Gatut masuk sekolah Kristen yang bagus, yaitu Charis. Di sini tiap hari mereka harus membuat daily devotion. Ini berarti tiap hari mereka harus membaca Alkitab. Namun, ada yang kurang. Mereka harus belajar berdoa. Jadi, tiap malam pak Gatut, bu Esther, dan kedua anaknya saling bergandengan tangan untuk berdoa bersama secara bergantian lalu ditutup dengan doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris.

Ketika putrinya kuliah di Bali, dia bersaksi bahwa dia senang di sana. Namun, dia merindukan momen doa bersama tersebut. Lantas dia menjadi dokter dan juga terpilih menjadi diaken termuda. Diaken lain berumur 50 tahunan, tetapi dia baru berumur 30 tahunan.

Ketika hamil anak pertama, tensi bu Esther mencapai 190 dan pak Gatut diminta untuk memilih antara anak atau istri. Pak Gatut berkata kepada dokter, "Saya ini pendeta sehingga saya pilih keduanya." Dokter mengatakan bahwa hal itu mustahil karena ada yang meninggal ketika melahirkan dalam tensi tinggi. Namun, pak Gatut dan ayahnya berdoa puasa hingga malam. Lantas pak Gatut tertidur jam 10 malam karena kelelahan.

Sekitar jam 1 pagi dia dibangunkan oleh dokter yang memakai sandal jepit dan diberitahu bahwa anaknya telah lahir. Tensi bu Esther telah normal menjadi 110 sebelum dia melahirkan. Karena bangun tidur, pak Gatut mengira dia masih bermimpi. Kemudian dia sadar bahwa hal itu bukan mimpi.

Bayinya hanya 1,8 kg. Dia kecil-kecil cabai rawit. Walaupun terlahir kecil, dia jarang sakit sekalipun sering membuka baju. Namun, pada masa awal bayi ini susah makan. Sekali makan, bu Esther harus menyuapinya selama 3 jam. Jadi, 9 jam sehari dia harus memberinya makan. Lambat laun putrinya sudah bisa makan sendiri. Namun, proses menyuapi putrinya telah melatih kesabaran bu Esther.

Kemudian pak Gatut dan bu Esther juga melayani penjara, termasuk Nusa Kambangan. Ketika pergi ke Nusa Kambangan, mereka bertemu dua anak dari pasangan Nigeria - Indonesia. Kedua anak ini diajak oleh ibunya ke sebuah warung di sana lalu ditinggalkan. Maka, keduanya dititipkan ke pak Gatut.

Ternyata keduanya sangat nakal. Anak cowok 5 tahun dan anak cewek 7 tahun. Banyak barang dipecahkan oleh mereka. Mereka juga suka lompat-lompat di atas kasur. Bahkan, mereka juga buang air kecil dan air besar di atasnya. Putra dan putri pak Gatut yang masih kelas 6 SD dan SMP pun berdiskusi lalu mendatangi pak Gatut. Mereka bertanya, "Papa pilih kami atau mereka?" Sebagai orang Kristen, pak Gatut menjelaskan secara baik-baik.

"Dulu kita semua seperti mereka di hadapan Tuhan. Namun, Tuhan mau mengasihi kita. Apa kalian juga mau mengasihi mereka seperti Tuhan mengasihi kalian?" Akhirnya mereka mau. Lalu mereka berdoa berenam. Setiap orang yang melihat kenakalan kedua anak itu akan bertanya, "Mengapa pak Gatut mau menerima anak-anak yang lebih nakal daripada setan?" Seolah-olah mereka pernah melihat kenakalan setan.

Namun, setelah 9 bulan, kedua anak nakal tadi mulai berubah menjadi jinak. Sekitar setahun kemudian tiba-tiba ibunya mencari mereka kembali. Pak Gatut pun mengembalikan mereka. Mungkin kedua anak tadi memang sengaja dipertemukan dengan keluarga pak Gatut untuk dibenahi dulu. Semoga mereka tidak ada masalah dengan keluarganya dan di kemudian hari mereka pun bisa mengubah keluarganya.

IMAN YANG MENGALAHKAN DUNIA
Sekalipun kumemiliki iman sekecil biji sesawi, namun kukenal yang kusembah, Tuhan yang besar di atas segalanya. Chorus: Kupercaya laut dapat menjadi jalan. Kupercaya badai pun dapat Kau redakan. Kupercaya gunung pun dapat kupindahkan dengan kuasa iman yang mengalahkan dunia.

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.