Sunday, June 28, 2026

Aturan Tidak Jelas

Hidden Gem in The Family
Catatan Ibadah ke-1 Minggu, 28 Juni 2026

Ketika berlibur di Bali, kami berniat mencoba permainan ATV. Namun, harganya terlalu mahal. Maka, kami baru bisa mencoba permainan ini ketika berada di Bandung. Di sini instrukturnya menyampaikan petunjuk penggunaan ATV. Katanya kepadaku secara singkat, "Gagang setirnya tinggal diputar ke depan. Kanan gas, kiri rem."

Seketika aku langsung tancap gas dan meninggalkan memeku yang merasa terhalang oleh bebatuan di sepanjang jalan. Namun, bagiku bebatuan itu bukanlah halangan yang merintangi selama jalan di depanku masih lurus. Kemudian aku mulai berbelok ke kiri. Pada setengah perjalanan ini kulihat dinding kawat berada di depanku. Namun, tampaknya kali ini agak susah buatku untuk berbelok ke kiri lagi dalam kecepatan terkini.

Kucoba menekan rem tanpa melepas gas, tetapi remnya seperti tak berfungsi. Belakangan kuketahui dari titiku kalau gas harus dilepas jika mau mengerem. Ketika sadar ada bahaya mengintai di depan, biasanya orang lain akan berteriak. Namun, secara spontan kulepaskan pegangan tanganku dari kedua setir ATV sambil membatin, "Ya Tuhan, sepertinya aku akan menabrak."

Amsal 3:6 (TB) Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Bruak. Kutrabrak tumpukan ban di dekat pagar kawat. Seketika penjaga permainan ATV menghampiriku dan menanyakan keadaanku. Dengan tersenyum aku turun dari ATV dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Lalu dia membantuku untuk memutar ATV berat itu agar kembali ke jalan yang benar.

Tak lupa penjaga pagar ATV berpesan, "Gasnya jangan ditekan terus. Gas sekali. Kalau sudah jalan, dilepas saja." Ooo... kenapa aku tidak diberitahu dari awal oleh si instruktur? Lantas kuikuti saran penjaga itu dan permainanku menjadi lebih aman.

Memeku berkata, "Setiranmu itu mengerikan. Bisa-bisanya kamu langsung tancap gas. Pantas nabrak." Dia pun tidak mau lagi bermain ATV karena melihat resikonya padahal sewaktu di Bali dialah yang sangat ingin bermain ATV dan yakin aman.

Namun, di Bali aku justru menolak permainan ATV karena medannya melewati sungai. Ah, menyetir motor tak bisa. Berenang pun tak bisa. Lebih baik lupakan ATV. Jatuh di darat masih mudah ditolong, tetapi jika ditambah jatuh ke air, penolongnya akan kewalahan.

Nah, di Bandung memeku kembali ingin naik ATV. Ketika kulihat medannya hanya tanah kering dan jaraknya tidak terlalu panjang, aku pun setuju untuk mencobanya pula. Eh, siapa sangka memeku jadi enggan bermain ATV lagi setelah melihat permainan pertamaku yang memacu adrenalin itu.

Banyak hal di dunia ini ada aturannya. Bermain pun ada aturannya. Jika aturan ini tidak diikuti dengan benar, permainan pun bisa berubah menjadi petaka, terutama jika pengamannya (baik orang maupun alat) kurang diperhatikan.

Kemudian keponakan perempuanku memberitahu bahwa dari awal dia sudah diberi penjelasan lengkap oleh instrukturnya. Tanyaku heran, "Lha, kenapa hanya aku yang tidak dijelaskan dengan detail?"

Jawab titiku, "Mungkin kamu dianggap sudah bisa menyetir motor. Gas dan remnya seperti motor matic. Kalau di Bali, kamu pasti sudah jatuh karena medannya lebih berbahaya." Wah, padahal aku tidak bisa menyetir motor loh. Tak terbayang deh kalau sampai ditimpa ATV dan terkena knalpot. Untung saat menabrak pagar, ATVnya tidak jatuh sehingga aku tidak ikut jatuh.

Namun, kasihan keponakan laki-lakiku yang dibonceng papanya. Kakinya malah terkena knalpot padahal dia tidak jatuh. Dari awal dia sudah diberitahu agar tidak menyentuh area knalpot, tetapi karena keasyikan, jadi lupa deh. Ah, ternyata ATV memang cukup berbahaya bagi yang tidak bisa menyetir motor, seperti yang dikatakan oleh temanku.

Di dalam keluarga beberapa orang tua juga seringkali bersikap seperti instruktur ATV. Mereka tidak selalu memberikan aturan yang jelas karena mereka berasumsi anaknya sudah diajari detailnya di sekolah atau tempat kursus. Ini sebabnya ada beberapa anak yang melakukan tabrak lari karena mabuk. Nah, ketika anaknya salah langkah, mereka baru menyadari bahwa anaknya kurang memahami aturan berlalu lintas. Misalnya: dilarang menyetir dalam keadaan mabuk atau mengantuk.

Ada pula keluarga yang memberikan aturan sepihak, yaitu untuk anaknya saja. Anak dilarang merokok, tetapi bapaknya sendiri malah merokok. Ada pula bapak yang melarang anaknya berbohong, tetapi dia sendiri justru sering memberikan janji palsu kepada anak dan selalu membela orang-orang tidak jujur. Bagaimana anak bisa mengikuti aturan seperti ini?

Yonadab bin Rekhab tentulah memberikan aturan yang jelas (bukan dengan asumsi) dan disertai teladan. Bahkan, dia juga memberitahu dampak ketaatannya kepada keturunannya. Jadi, tidak heran jika keturunannya tetap menghormati dan menaatinya.

MENGIKUTI-MU
Tak ada ketakutan di dalam hidup ini setelah aku mengenal-Mu. Tak ada keraguan di dalam hati ini 'tuk tinggalkan masa laluku.
Dan mengikuti-Mu di s'panjang hidupku. Tak 'kan berpaling, kar'na aku tahu Kau sangat berharga dalam hidupku. Pengorbanan-Mu Yesus s'lamatkanku.
Dan mengiring-Mu sampai akhir hidupku. Kumau setia dan mengasihi-Mu, oh Yesus Tuhanku. Dunia tak bisa palingkanku dari-Mu.
Semua yang benar, suci, dan mulia, yang 'kan selalu di benakku.
Semua perintah-Mu dan ketetapan-Mu kutaati dan kulakukan. I will follow you, every single day. I want more of you. I will follow you, never turn away. Coz you are My Jesus.

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.