Sunday, May 10, 2026

Kamu Bangun Jam Berapa?

The Divine Frequency
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 10 Mei 2026

Dhuar.
Aku tetap bekerja di depan laptop.

DHUAR.
Aku langsung berdiri dan menoleh ke kanan sambil berkata, "Kenapa ledakannya makin parah?" Kulihat di dalam ruang kerja itu hanya ada aku dan seorang bawahan cowok yang tetap duduk diam di kursinya sambil melihat ke arahku. Dia tidak melakukan apapun.

Aku pun terjaga dari tidurku, tetapi mataku tetap terpejam. Kudengarkan suara-suara di luar. Tampak tenang. Tidak ada kegaduhan. Sepertinya aman dan hanya mimpi. Apakah akan terjadi ledakan kebangunan rohani yang besar dan dahsyat?

Kubuka mata dan kulihat masih jam 5 pagi. Hari itu hari Kamis, 7 Mei 2026. Aku tidak mendengar bunyi alarmku karena belum waktunya berbunyi. Karena tidur larut malam, aku berpikir untuk bangun agak siang. Namun, sepertinya aku sengaja dibangunkan oleh Roh dengan suara ledakan yang super dahsyat. Karena sudah beberapa hari ini susah bangun pagi, aku pun tidak sempat membaca Alkitab.

Matius 26:41 (BIMK): "Berjaga-jagalah, dan berdoalah supaya kalian jangan mengalami cobaan. Memang rohmu mau melakukan yang benar tetapi kalian tidak sanggup, karena tabiat manusiamu lemah."

Ah, tubuh ini lemah karena masih perlu tidur, tetapi Roh benar-benar kuat. Entah apa sumber ledakannya hingga bunyinya super nyaring. Untung aku cukup tenang dalam hadirat Tuhan sehingga tidak langsung lari, tetapi berpikir dulu. Jika rohku lemah, mungkin aku akan langsung jatuh dari tempat tidur karena berusaha lari, padahal hanya karena mimpi.

Cowok di dalam mimpiku adalah salah satu sosok yang telah terinfeksi virus Ratu Drama. Karena hal ini, aku bertambah sibuk dan lelah. Anak muda yang seperti dia bukan hanya satu pula. Cewek pun bisa berulah yang sama. Seperti tergambar dalam mimpiku, cowok itu tidak bekerja sungguh-sungguh dan hanya menunggu jam pulang. Ah, dia cocok menjadi anaknya Ratu Drama.

Rasanya capek sekali berurusan dengan para pelaku drama seperti mereka. Kemudian aku teringat lagu "Bangkit dan bersinar bagi-Mu, serukan nama-Mu atas kemenanganku." Maka, sambil bangkit dari tempat tidur, aku bergumam, "Iya, aku sudah menang. Virusnya sudah kutangani." Lalu hari itu aku membaca Alkitab lebih banyak daripada hari-hari sebelumnya karena bangun sejam lebih awal daripada biasanya.

TERANGI DUNIA ~ GMS Live
Woo, o, o, wo, o, ow (x3). Woo, o, o, wo, o, ow (x3).
Bangkit, kumau bangkit bagi-Mu. Bersinar dan memuliakan-Mu. Maju, kumau maju bagi-Mu. Berjalan dengan kuat imanku.
Pre Chorus: Kumau hidup jadi terang-Mu. Terangi dunia di sek'lilingku.
Chorus: Bangkit dan bersinar bagi-Mu. Serukan nama-Mu atas kemenanganku. Maju dan tinggikan nama-Mu. Saksikan kemenangan. Nyatakan Kaulah Tuhan di hidupku. Woo, o, o, wo, o, ow (x3)

Di tempat kerjaku masalah gaji tidak bersifat personal, tetapi publik. Pada awalnya semua orang Indonesia terkejut dengan sistem ini, tetapi lama-lama terbiasa. Jadi, semua orang langsung mengetahui ketika gaji seseorang dinaikkan. Sayangnya, setelah cowok itu mendapat kenaikan gaji karena pura-pura lembur di depan pimpinan, dia justru menurunkan kualitas kerjanya dengan cara pura-pura sibuk. Jadi, banyak orang membicarakan dia.

Aku pun menyadari hal yang sama dan telah berulang kali mengingatkannya, tetapi dia tidak berubah. Dulu rajin ketika hanya memiliki satu keahlian. Namun, setelah kuajari keahlian baru, dia merasa sudah bisa semuanya.

>> Baru pintar sedikit, dia sudah ngelunjak. <<
Ini menggambarkan situasi di mana seseorang merasa sombong, bertingkah seenaknya, atau melampaui batas setelah mendapatkan sedikit pengetahuan atau pencapaian baru. Fenomena ini sering dikaitkan dengan Dunning-Kruger effect, yaitu kondisi psikologis di mana seseorang merasa lebih pintar atau mampu daripada sebenarnya karena pengetahuan mereka masih terbatas, sehingga tidak menyadari ketidakmampuannya sendiri.

Dia pikir posisinya tak bisa digantikan sehingga dia masih berani meminta tambahan reward lagi ketika diminta belajar hal baru lagi. Padahal, dia mendapat kenaikan gaji karena drama yang memancing kasih karunia, bukan karena hasil kerjanya sangat memuaskan. Bahkan, dia pelupa. Selain itu, aku sudah pernah memberitahunya bahwa ilmu itu mahal. Seharusnya dia bersyukur jika diberi kesempatan untuk belajar hal baru karena kuliah saja bayar.

Nah, di tempat kerja kita bisa belajar dan dibayar. Kok bisa dia malah malas setelah diberi kenaikan gaji? Kok bisa malah minta gaji di depan sebelum belajar hal baru lagi? Sungguh tidak tahu bersyukur. Maka, aku terpaksa memberinya surat peringatan pula karena tidak mengerjakan tugas. Lalu dia bertanya, "Tugas apa yang tidak kukerjakan?" Aku pun menyebutkannya satu per satu. Dia hanya menjawab, "Oh iya ya" dan diulang hingga tiga kali.

Amsal 6:6 (TSI) Hai orang malas, semut-semut pun lebih baik daripadamu! Perhatikanlah cara hidup mereka dan belajarlah menjadi bijak!

Mungkin dia berpikir bahwa aku tidak bisa mengawasinya selama delapan jam kerja karena tidak duduk di sebelahnya. Jadi, aku tidak akan tahu kelakuannya. Namun, informasi gaji yang serba terbuka dan transparan seringkali cukup membantu.

Mereka yang rajin tidak akan tinggal diam jika melihat seseorang tiba-tiba malas, terutama setelah gajinya dinaikkan karena drama picisan. Para pelaku drama pasti menjadi bahan pergunjingan karena sifat tidak tahu malunya itu. Jadi, pengawasan sosial amat berguna untuk memantau para pemalas. Mereka selalu mendapat sanksi sosial ketika berulah sok sial.

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.