Sunday, April 26, 2026

Set Apart ~ Pdt. Leonardo Sjiamsuri

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 26 April 2026

Kedatangan Tuhan sudah makin dekat. Jika membaca Yehezkiel 37, kita melihat tulang-tulang kering dibangkitkan. Ini seperti melihat kebangkitan rohani di gereja. Namun, sebelum itu ada Yehezkiel 35-36 yang memperlihatkan penghukuman dan pemurnian dengan memberikan hati yang baru.

1 Petrus 4:17 (TB) Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?

Sebelum Tuhan datang kedua kalinya, Dia akan menghakimi umat-Nya terlebih dahulu. Dia akan memisahkan kambing dengan domba. Apakah kita siap dengan kedatangan-Nya yang kedua. Kita tidak siap dengan kedatangan-Nya yang pertama. Bagaimana kita siap menyambut kedatangan-Nya yang kedua?

Agar kita siap dengan kedatangan-Nya, saat ini Tuhan sedang memurnikan dan menguduskan kita. Pengudusan (sanctification) berarti dipisahkan dari dunia untuk memenuhi tujuan Tuhan. Ini seperti Tuhan yang mengeluarkan Lot dari Sodom untuk memisahkan dia dari dosa-dosa penduduk setempat.

Jika masih hidup sesuai gaya hidup dunia, berarti kita belum kudus. Jika kita masih mengejar uang sebanyak-banyaknya dengan merugikan orang lain, berarti kita masih sama dengan dunia.

Efesus 5:25-27 (TB) Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Ayat tersebut menggambarkan hubungan Gereja sebagai mempelai Kristus. Keselamatan adalah anugerah. Namun, kekudusan bukan hanya karya Roh Kudus, melainkan juga membutuhkan keterlibatan kita. Tanpa kekudusan, kita tidak bisa melihat Allah.

1 Tesalonika 3:13 (TB) Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.

Di dalam Kejadian 26-28 kita bisa membaca kisah Ishak. Ketika masa kelaparan, dia dilarang oleh Tuhan untuk pergi ke Mesir sehingga dia menetap di Gerar. Di sana dia menggali sumur hingga berbual-bual airnya. Ketika orang di sana melihatnya, mereka mengambilnya. Lalu Ishak menggali sumur lain dan airnya juga berbual-bual. Sumur ini pun direbut oleh orang lain. Begitu seterusnya hingga di Kejadian 28 orang-orang Filistin mengadakan perjanjian damai dengannya karena melihat dia diberkati oleh Tuhan.

Sebagai anak Tuhan, seharusnya kita pun hidup seperti Ishak, yaitu hidup bergantung kepada Tuhan. Maka, kita tidak perlu khawatir sekalipun ada yang merebut milik kita. Oleh karena itu, kita harus menjaga hati dengan baik. Di luar negeri kita melihat beberapa hamba Tuhan mulai berjatuhan. Rupanya mereka jatuh karena sudah kehilangan rasa takut akan Tuhan. Ketika melihat pelayanannya diberkati, mereka tidak lagi mengandalkan Tuhan, tetapi pelayanannya.

Kita pun bisa jatuh jika berhenti mengandalkan Tuhan. Beberapa orang awalnya bergantung kepada Tuhan. Namun, ketika uangnya sudah banyak, mereka mulai bergantung kepada uang. Ketika mulai pintar, mereka mulai bergantung kepada kepintarannya. Lambat laun mereka kehilangan rasa takut akan Tuhan.

Anak pak Leo pernah bertanya, "Apakah Samuel berteman dengan anak-anak imam Eli?" Tentu saja mereka berteman karena mereka tinggal bersama. Lalu anaknya bertanya lagi, "Jika demikian, mengapa Samuel tidak menjadi jahat seperti anak-anak imam Eli? Apa ini berarti anak muda bisa berteman dengan mereka yang jahat tanpa ikut menjadi jahat?"

Tentu saja bisa asalkan sejak kecil anak muda tersebut telah dididik dengan rasa takut akan Tuhan. Sejak kecil Samuel diserahkan oleh ibunya kepada Tuhan lewat pendidikan yang diberikan oleh imam Eli. Itulah yang dimaksud dipisahkan (set apart). Jadi, dipisahkan dari dunia bukan berarti hidup aneh dengan memakai pakaian khusus, seperti ajaran agama tertentu.

Dipisahkan berarti mempertahankan nilai-nilai kebenaran dan tidak mengikuti gaya hidup dunia. Dipisahkan berarti menjadi berbeda dalam hal nilai. Ketika diberkati, kita akan menggunakan hal ini untuk memuliakan Tuhan.

Bebek Kaleyo tidak pernah buka pada hari Minggu karena pemiliknya adalah anak Tuhan. Ketika dia mengajar di sekolah minggu, dia berharap semua anak hadir. Lalu Tuhan menegurnya karena kasir restorannya masih berbunyi pada hari Minggu. Sejak saat itu dia menutup restorannya tiap hari Minggu padahal restorannya selalu ramai.

Di luar negeri juga ada restoran anak Tuhan yang tutup tiap hari Minggu. Padahal restorannya selalu ramai. Dia juga melakukannya untuk tujuan Tuhan. Tuhan mencintai keadilan dan membenci kejahatan. Jika kita mengatakan bahwa kita mencintai kebenaran dan keadilan, tetapi hidup dalam kejahatan, berarti kita tidak serius dengan Tuhan.

Agar dapat hidup kudus, kita harus:
1. Bertobat dengan sungguh-sungguh.
2. Serius dan sepenuh hati untuk tujuan Tuhan.
3. Memiliki hati yang rendah hati, lurus, dan murni. Tanpa hati seperti ini, kita tidak bisa melihat Tuhan.

PULIHKAN AKU TUHAN
Verse 1: Pulihkan aku Tuhan dalam sisa hidupku ini. Segarkan jiwaku s'lalu oleh kuasa firman dan roh-Mu.
Verse 2: Ubah hatiku Tuhan untuk lebih mengasihi-Mu, Mengutamakan Kau Yesus lebih dari dunia ini.
Pre-Chorus: Yang kuingini Engkau saja. Tinggal dalam kehendak rencana-Mu. Pisahkan diriku dari dunia ini, Semakin kudamba kerajaan-Mu.
Chorus: Oh Tuhan Yesus kerinduan hatiku, Mutiara tak ternilai harta milikku. Keindahan-Mu memudarkan dunia, Di mataku Engkau termulia.

Menggali Sumur

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.