Jangan Sungkanan
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 13 Sept 2026
"Sebenarnya sih aku tidak mau mengakui ini, tetapi kata
Bapa, "Pengakuan adalah awal dari pemulihan."
Yakobus 5:16a (TB) Karena
itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu
sembuh.
Jadi, kuakui kalau sebenarnya aku tuh kesal terhadapmu. Masa
sudah kuminta list jauh-jauh hari supaya kamu bisa atur waktu karena
kutahu kamu sibuk, tetapi sampai hari H masih belum ada tanda-tanda. Untung aku
sudah biasa dengan perubahan rencana. Kutanya bawahanmu, tak sampai sehari
sudah selesai.
Tadi list yang ini pun kutanyakan kepada anak buahmu
yang lain pada jam sekian karena kamu tidak segera menjawabku padahal kulihat
kamu online. Sekalipun status pesan dibaca atau belum dibaca di WA-mu tidak
terlihat, status saat online tetap akan kulihat secara kebetulan pada saat
kubuka WAmu.
Maka dari itu, aku sebal karena kamu selalu sungkanan.
Seharusnya kamu bisa memberi instruksi ke bawahanmu untuk mengerjakan list
yang kuminta jika kamu tidak sempat. Namun, tampaknya kamu juga sungkan
minta tolong kepada mereka.
Kalau kamu mau menolak bantu orang lain, tinggal bilang terus terang saja secara baik-baik atau sambil tersenyum. Tidak akan ada yang tersinggung jika kamu menolak baik-baik daripada memberi alasan untuk menolak secara halus. Misalnya berkata:
* Sorry, tidak bisa, aku banyak pekerjaan. (Ini untuk menolak pekerjaan tertentu sehingga dari awal aku bisa minta tolong bawahanmu secara langsung. Aku pun tidak perlu menunggu lama, tetapi hanya diberi harapan palsu begini.) Tadi kamu juga menjawab, "sebentar", tetapi tampaknya inilah yang disebut sehari seperti seribu tahun.
* Sorry, aku tidak mau mengantarmu pulang karena aku
mau langsung jalan lurus. (Ini untuk menolak antar pulang wanita. Kalau kamu
memberi alasan yang tidak nyata dan kemudian alasanmu itu tidak terbukti, yang
menerima alasanmu pasti jengkel lha.)
Nah, setelah kuakui semuanya, aku tidak kesal lagi
terhadapmu 😄, tetapi moga-moga rasa kesalku tidak
beralih kepadamu. Lain kali jangan sungkanan lha: kalau mau nolak, nolak
aja daripada memberi harapan palsu. OKE?"
Tak lama berselang dia menjawab, "Iya maaf Bu, masih
belum sempat. Aku baru bisa besok pagi. Banyak hal baru urgent harus
diselesaikan." Lantas kutimpali, "Ya, tetapi kamu tidak pernah
memberi info kalau tidak bisa... selalu menunggu kutanya dulu."
"PRIT".
Seketika terdengar sempritan dari sorga. Tiba-tiba aku teringat lagu jadul yang
berjudul, "Pengampunan Adalah". Maka, aku segera menambahkan pesan,
"Sudah, tidak apa-apa. Dengarkan lagu ini." Lantas lirik dan link
lagunya segera kusertakan di dalam pesanku.
PENGAMPUNAN ADALAH ~ GMS Live
Dalam kegelapan hatiku tak hentinya anugerah-Mu. Engkaulah satu kasih
sejati. Tuhan ajarku mengerti.
Diampuni itu sangat indah. Diampuni itu mulia. Yang Kau rindukan kubahagia.
Kumau memb'ri yang kuterima.
Mengampuni itu kasih. Mengampuni itu indah. Damai sejahtera, sukacita tak
terkata. Hati yang melimpah.
Mengampuni itu memb'ri. Mengampuni itu rela. Tak 'kan kutolak kerinduan-Mu
ya Bapa, ampuni sesama.
Hahaha... kesaksian ini terlalu nyata. Kuberikan firman
kepadanya sambil menghidupi firman tersebut. Biasanya aku bersaksi kepadanya
dengan bercerita tentang kekesalanku kepada orang lain. Namun, saat itu aku
malah membuat cerita bersamanya. Astaga... maunya kupendam kekesalanku hingga
ke liang kubur, tetapi malah bersikap terbuka kepadanya. Ini karena kumau
memberi yang kuterima.
Kisah Para Rasul
20:35 (TB) Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa
dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus
mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah
lebih berbahagia memberi dari pada menerima."
Dia susah menolak sedangkan aku susah menerima karena Paulus
berkata seperti itu. Maka, jika kita menerima, kesannya kita kurang bahagia
karena menerima seringkali membuat kita merasa berhutang budi. Namun, dulu
sebuah postingan di Instagram seakan menegurku. Bunyinya, "Jangan hanya
memberi! Belajarlah untuk menerima. Jangan halangi orang lain menjadi saluran
berkat. Mereka juga berhak diberkati karena memberi."
Matius 10:41 (TB) Barangsiapa
menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan
barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah
orang benar.
Hehehe... menerima berkat sih boleh juga. Namun, aku tetap
tidak bisa menerima jika ada yang salah. Kebanyakan koko yang kutegur, selalu
tertular kekesalanku. Bahkan, ada yang minta dimaklumi sebagai pertanda bahwa
dia tidak mau berubah. Om kecil itu agak berbeda. Dia masih mau mendengarkanku
dan mau meminta maaf. Namun, kenapa rasa sungkannya masih diulangi lagi?
Mungkin omelanku dianggapnya sebagai tanda sayang... wkwwkw...
Keesokan harinya kulihat dia tersenyum. Lalu kutes dengan
mengajaknya ke suatu tempat. Dia pun langsung berkata, "Tidak" sambil
tersenyum. Aku pun pergi sambil tersenyum. Semoga saja setelah kejadian ini dia
tidak mengulangi rasa sungkannya lagi.
Kutahu dia takut aku marah. Namun, jika dia tetap sungkan,
justru akan kuomeli lagi. Bahkan, jika dia masih tetap sungkan, aku akan
minta Bapa menyingkapkan lebih banyak hal tersembunyi tentangnya, hal-hal yang
belum kuketahui... xixixi...
Yeremia 33:3 (TB) Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.







0 komentar:
Post a Comment