Sunday, September 13, 2026

Batasan - Ps. Jeffrey Rachmat

Catatan Ibadah ke-1 Minggu 13 Sept 2026

Banyak kekacauan terjadi bukan karena kita kurang kasih atau kurang iman. Namun, kekacauan terjadi karena kita tidak tahu kapan harus berkata "Ya" dan kapan harus berkata "Tidak".

Kejadian 4:7 (TB) Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."

Siapa yang tidak marah jika pagar rumahnya digeser tetangga? Tentu kita akan marah karena pagar itu adalah batasan kita. Nah, seringkali dosa mengintip di balik pintu hati kita. Pintu ini adalah batasan bagi kita agar tidak jatuh ke dalam dosa.

Tugas kita adalah menjaga hati kita sendiri. Kita tidak bisa menjaga hati pasangan kita karena ini tugas dia sendiri. Kita juga harus menjaga pikiran kita. Jika kita tidak membuat batasan, kita mudah berbuat dosa. Kita tidak boleh menjadi orang yang sungkan (tidak enak hati). Orang Barat lebih terus terang, tetapi orang Timur seringkali sungkan. Padahal, kapasitas manusia terbatas. Kita tidak mungkin membantu setiap orang.

Jika kita memaksakan diri untuk membantu setiap orang, kita bisa burnout dan tidak punya waktu untuk hal-hal yang penting bagi kita. Sekalipun kita melayani banyak orang, orang yang kita layani juga bisa ikut menyalahkan kita. “Salahnya sendiri kenapa mau melayani.” Jadi, kita harus tetap membuat batasan.

Batasan bukan untuk menghancurkan kebebasan kita, tetapi untuk mendefinisikan kebebasan dan nilai kita. Kita perlu menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai kita. Kita menolak bukan karena kurang kasih, tetapi kita perlu mengutamakan hal lain yang lebih penting.

Mengapa ada orang yang susah menolak? Kemungkinan besar karena rasa takut. Mereka takut dibilang sombong, takut dibilang tidak punya kasih, atau takut dimarahi karena sudah punya asumsi sendiri. Padahal, asumsi kita belum tentu benar. Jika orang yang kita tolak sudah dewasa, tentu dia akan mengerti. Orang yang kita tolak juga belum tentu marah. Jika kita menerima hal yang seharusnya kita tolak, seringkali hal ini justru berakhir dengan penyesalan.

Di pintu kamarnya anak pak Jeffrey memasang tulisan, "Ketuk dulu sebelum membuka pintu." Sekalipun pak Jeffrey yang membeli rumahnya, dia tetap menghormati batasan yang diberikan oleh anaknya.

Wahyu 3:20 (TB) Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.

Yesus pun menghargai batasan kita. Pintu berfungsi untuk menghalangi seseorang masuk. Jadi, jika kita tidak mengizinkan Tuhan masuk ke dalam hati kita, Dia pun tidak akan memaksa masuk. Namun, sebaiknya kita segera mengundang-Nya masuk agar Dia membersihkan dosa-dosa yang ada di hati kita.

Kita harus bisa membedakan antara hurt (luka) dengan harm (bahaya). Kita mengizinkan anak kita disuntik. Sekalipun dia meronta-ronta dan menangis, kita akan memeganginya agar dia bisa disuntik. Ini menyakitkan, tetapi tidak berbahaya. Jika berbahaya, kita harus menolaknya. Kita harus punya alarm ketika hati kita dalam bahaya. Kita harus punya alarm yang mengingatkan kita untuk berkata, "TIDAK" ketika ada hal yang melewati batasan kita.

Batasan membantu kita untuk mengutamakan hal yang penting. Kita menolak suatu undangan karena kita sudah berjanji untuk memenuhi undangan yang lain. Kita menolak pergi dengan teman karena sudah berjanji untuk menemani istri.

Matius 5:37 (TB) Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

MENDENGAR SUARA-MU
Di hadirat-Mu ku bersujud menikmati kehadiran-Mu. Kubuka hati saat ini 'tuk mendengar suara-Mu.
Chorus: Firman-Mu Tuhan ya sungguh benar menerangi jalanku. Firman-Mu Tuhan membentuk hidupku. Kubersyukur pada-Mu.

 Jangan Sungkanan

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.