Thursday, May 14, 2026

Kumenang Kumenang

Berbicara dengan Dinding
Catatan Ibadah Kenaikan Yesus, Kamis 14 Mei 2026

Oh Tuhan, aku sedang kesal. Aku ingin marah. Mengapa Kau pertemukanku dengan orang-orang seperti mereka? Aku tidak sanggup berurusan dengan mereka. Kumenang kumenang bersama Yesus Tuhan.

Ya Tuhan, aku sedang kesal. Kenapa diberi lagu seperti ini? Kumenang kumenang di dalam peperangan.

Ah, aku masih kesal. Kumenang kumenang atas segala setan. Iya, iya.. kumenang atas emosiku, tetapi nanti. Sekarang aku masih bete.

Aah... Kumenang kumenang bersama Yesus Tuhan. Kumenang kumenang di dalam peperangan. Kumenang kumenang atas segala setan. Haleluya haleluya kumenang.

Eh, di gereja lagunya sama pula. Kulihat sekelompok lansia membawa angklung. Seketika aku kembali ke masa TK. Di masa itulah aku bermain angklung bersama teman sekelas. Dulu aku hanya menggoyang angklung tanpa pernah memahami bahwa angklung bisa menciptakan musik yang indah.

Nah, tadi aku memperhatikan gerakan dirigen angklung. Hebat juga dia bisa hafal setiap isyarat tangan itu. Saat itulah aku menyadari bahwa permainan angklung bisa menjadi musik yang indah karena setiap pemain mengikuti isyarat tangan si dirigen.

Sekalipun goyangan angklungnya sama, tetapi nadanya bisa berbeda tergantung dari jenis angklung yang dipegang oleh setiap orang. Selain itu, ada dirigen yang mengatur waktu goyangan mereka. Jika diikuti, tentu saja akan tercipta musik yang indah.

Begitu pula dalam kehidupan ini. Kita seperti angklung yang diciptakan dengan nada atau karakter berbeda. Namun, kita disatukan dan diatur oleh Sang Dirigen Kehidupan. Jika kita semua mengikuti arahan Sang Dirigen, kita akan menjadi bagian dari musik kehidupan yang indah.

Dulu seorang anak berumur 4 tahun harus tinggal di asrama, jauh dari orang tua, dan tinggal di tempat asing bersama orang-orang asing dengan beragam karakternya. Bagi anak sekecil itu, rasanya tidak ada tempat untuk berlindung dari orang asing, terutama yang jahat.

Selain menjaga diri sendiri, dia harus menjaga adik perempuannya serta adik-adik asing yang baru dikenalnya, terutama dari kakak asrama yang jahat. Lalu setahun kemudian dia pun harus menjaga adik laki-lakinya pula, termasuk dari teman adiknya yang suka usil.

Ayub 6:11-12 (TB) Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar? Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga?

Bagaimana dia sanggup melakukannya? Pada mulanya dia dan adiknya menangis ketika menyadari bahwa mereka telah ditinggalkan di sana oleh orang tua mereka. Lalu suster memberi mereka permen dan seketika itu juga mereka tersenyum.

Bagi anak kecil, bahagia tuh sesederhana itu. Kuncinya: tidak berfokus kepada masalah, tetapi fokus kepada hal-hal yang menyenangkan. Masa kalah dari anak kecil? Hehehe... Pantas saja ketika aku kesal, Tuhan memberiku lagu kemenangan padahal emosi kesal dan menang tuh saling bertolak belakang. Coba aja nyanyikan lagu Kumenang pada saat lagi bete... hehehe... rasakan dan nikmati... xixixi...

Coba lihat bagian akhir video khotbah ini, lagu Kumenang dinyanyikan dengan iringan angklung. Ah, anak TK itu sudah tidak pernah bermain angklung lagi setelah lulus TK, tetapi hari ini dia menonton permainan angklung sambil tersenyum karena tak mungkin ini kebetulan. Pastilah ini bagian dari pengaturan ilahi Sang Dirigen Kehidupan. Siapa bilang angklung hanya permainan lansia? Anak TK pun bisa memainkannya karena mereka hanya perlu menggoyangnya sesuai isyarat dirigen.

KUMENANG
Kumenang kumenang bersama Yesus Tuhan. Kumenang kumenang di dalam peperangan. Kumenang kumenang atas segala setan. Haleluya haleluya kumenang.
Chorus: Haleluya Dia bangkit. Haleluya Dia Hidup. Haleluya Dia naik. Rohul Kudus Turun.

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.