Catatan Ibadah ke-1 Minggu 3 Agustus 2025
Perhatikan sebuah gelas yang penuh berisi
air. Jika disenggol sedikit, pasti ada airnya yang tumpah. Bahasa Ibrani
(kocak)nya adalah senggol bacok. Hidup kita seharusnya tidak hanya
dipenuhi oleh realita karena kita juga harus mempunyai rencana.
Jika tidak punya rencana untuk hari esok,
kita tidak akan bersemangat menjalani hidup. Namun, jika hidup kita sudah penuh
dengan realita dan rencana kita sendiri, seperti gelas berisi air tadi, kita
akan mudah goyang ketika disenggol. Agar tahan badai, kita harus menyisakan
ruang kosong untuk Tuhan.
Perhatikan gelas yang tidak terlalu penuh
air. Ketika disenggol sedikit, masih ada margin untuk mencegah airnya tumpah.
Demikian pula hidup kita. Berikan ruang kosong bagi Tuhan agar hidup kita tidak
mudah goyang.
1 Raja-raja 17:4
(TB) Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah
Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana."
Rencana kita belum tentu sejalan dengan
rencana Tuhan. Seringkali rencana Tuhan di luar pikiran kita. Tuhan memberi
makan Elia dengan bantuan burung gagak dan sungai. Hal ini berhasil hingga
suatu hari sungainya kering.
1 Raja-raja 17:9
(TB) "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan
diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk
memberi engkau makan."
Lantas Tuhan meminta Elia untuk menemui seorang janda yang akan memberinya makan. Jika Tuhan memerintahkan hal ini, tentu kita berpikir bahwa janda tersebut memiliki makanan.
1 Raja-raja 17:12
(TB) Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup,
sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam
tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang
mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya
bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati."
Faktanya, janda itu hanya memiliki sedikit
makanan dan makanan itu merupakan makanan terakhirnya. Namun, Elia memilih
untuk tetap percaya kepada Tuhan.
1 Raja-raja 17:13
(TB) Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah,
buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong
roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat
bagimu dan bagi anakmu.
Jika kita harus memilih untuk berjalan di
atas jembatan kayu yang tipis atau jembatan kaca tebal yang sangat bening
hingga tak terlihat bentuknya, mana yang akan kita pilih? Kemungkinan besar
kita akan memilih jembatan kayu karena dapat dilihat secara nyata. Beriman itu
seperti berjalan di atas jembatan kaca yang tebal itu.
1 Raja-raja 17:14
(TB) Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu
tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai
pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi."
Tuhan meminta kita beriman seperti anak
kecil. Ketika harus melewati jembatan kaca, kemungkinan besar anak kecil akan
berlari riang gembira di atasnya. Namun, kita yang dewasa, mungkin akan
berjalan perlahan sambil berpegangan karena takut. Namun, baik beringsut
perlahan maupun berlari cepat, keduanya akan sama-sama membawa kita sampai ke
seberang jembatan. Jadi, iman sekecil biji sesawi pun akan berguna bagi kita.







0 komentar:
Post a Comment