Renungan Hari Ke-20 dari buku 'Purpose Driven Life' ~ Rick Warren (Untuk Apa Aku Ada di Dunia Ini)
"Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18)
Dengan siapakah aku perlu memulihkan hubungan yang retak hari ini?
Awan Gelap di Desa Hati
Desa Hati merupakan suatu desa kecil yang dihuni oleh enam kurcaci, antara
lain kurcaci Coklat, kurcaci Kuning, kurcaci Pink, kurcaci Merah, kurcaci
Hitam, dan kurcaci Biru. Dari semula keenam penduduk desa ini telah membuat
kesepakatan tidak tertulis untuk mengembangkan Desa Hati: "Kurcaci
yang kuat wajib menopang kurcaci yang lemah dan tidak mencari keuntungan
sendiri." (Roma 15:1)
Maka, demi kemajuan Desa Hati, kurcaci Coklat dan kurcaci Kuning banting
tulang siang dan malam untuk mengelola ladang Desa Hati yang sempit. Namun,
sekeras apapun mereka berusaha, hasil ladang tersebut hanya cukup untuk makan
sehari-hari padahal masih banyak mimpi yang ingin mereka wujudkan di Desa Hati.
Oleh karena itu, kurcaci Pink, kurcaci Merah, dan kurcaci Hitam memutuskan
pergi mencari ladang baru di Desa Fana. Sementara itu kurcaci Biru tetap
tinggal di Desa Hati karena dia masih terlalu lemah untuk mengelola ladang desa
ataupun mencari ladang baru.
Awalnya semua berjalan dengan mulus. Ketiga kurcaci di Desa Fana berhasil
menemukan ladang baru dan mengelola ladang-ladang tersebut dengan memuaskan.
Bahkan, selain dikonsumsi sendiri, sebagian hasil ladang juga dapat mereka jual
untuk mengembangkan Desa Hati. Namun, tipu daya Desa Fana telah mempesonakan
hati mereka.
Alhasil, kurcaci Hitam sibuk mengejar mimpinya sendiri hingga hasil
ladangnya ludes tanpa sempat dinikmati oleh warga Desa Hati lainnya. Kurcaci
Merah juga amat terpesona dengan kenikmatan hasil ladangnya sehingga dia enggan
membaginya dengan warga Desa Hati lainnya. Namun, kurcaci Pink tak tega
mengabaikan warga Desa Hati lainnya sehingga dia tetap berbagi walaupun agak
berat hati karena dia merasa seperti sapi perah bagi desanya.
Suatu ketika datanglah awan gelap yang menaungi Desa Hati dan Desa Fana.
Akibat kehadiran awan ini, matahari enggan tersenyum dan bulan enggan terjaga
sehingga kegelapan mulai menyelimuti desa-desa. Karena tak mendapatkan siraman
energi mentari, peralatan kerja kurcaci Pink mengalami kerusakan parah dan
sulit diperbaiki sehingga dia terpaksa kembali ke Desa Hati dengan membawa
beberapa hasil ladang yang masih tersisa.
Lantas sehari-harinya kurcaci Pink hanya membantu kurcaci Coklat dan
kurcaci Kuning di ladang Desa Hati karena dia tak bisa memperbaiki alat
kerjanya dan juga tidak mungkin membeli alat kerja baru. Selang beberapa waktu
kemudian kurcaci Coklat juga jatuh sakit karena kelelahan sehingga tak bisa
bekerja lagi. Hal ini membuat kurcaci Merah mulai gusar dan pada suatu
kesempatan dia berkata kepada kurcaci Pink: "Kamu
itu kerjaƶ. Ojo males-malesan. Kurcaci coklat jadi sakit karena kamu nggak mau
mencari ladang baru. Dasar Parasit!"
Kurcaci Pink membalas: "Sapa
yang nggak mau kerja? Aku lho sudah bantu-bantu di ladang Desa Hati."
Balas kurcaci Merah: "Mana
cukup? Yo, kamu kerjao lagi. Cari ladang baru sana. Ojo ngrepoti warga lain
terus. Dasar Parasit! Kalau kamu nggak mau cari lagi, ya sudah. Terserah kamu!
Tapi ojo minta-minta aku. Dasar parasit, nggak isa mandiri."
Dengan kesal kurcaci Pink menjawab: "Siapa
yang mau minta-minta sama kamu? Tapi masa kamu keberatan kasih warga lain yang
masih lemah dan sakit? Dulu memang aku yang selalu kasih mereka. Sekarang
giliranmu berbagi. Jadi, syukuri apa yang ada. Kalau kamu serakah, emang nggak
akan pernah cukup. Lagipula apa kamu yakin sudah benar-benar tidak merepotkan
warga lain? Nyatanya gajah di pelupuk mata tak tampak tetapi kuman di seberang
lautan tampak dengan jelas. Kamu itu ya masih merepotkan warga lain dan juga
belum mandiri."
Jawab kurcaci Merah: "Kurcaci
Coklat yang sakit dan kurcaci Kuning pasti kukasih tapi aku nggak peduli sama
kurcaci Biru yang lemah. Kurcaci Hitam
juga harus dapat hasil dari ladangnya sendiri. Aku pun nggak akan kasih kamu.
Dasar parasit! Ngrepotin orang tok! Nggak usah pakai sok bersyukur segala! Aku
males ngomong sama kamu. Wes nggak usah ngomong sama aku lagi."
Dengan kesal kurcaci Pink menimpali: "Sama.
Aku juga males ngomong sama kamu."
Lantas kurcaci Pink segera berlari pergi menemui Bapa Surgawi dan berkata: "Bapa, dengarkan curhatku. Apa Bapa
tahu apa yang dikatakan oleh kurcaci Merah padaku? Dia mengatakan bahwa aku ini
parasit karena aku sudah tidak bisa mencari ladang baru yang berbuah banyak
padahal Bapa 'kan tahu betapa parahnya kerusakan alat kerjaku. Jadi, apa yang
harus kulakukan Bapa? Kalau Bapa mau, Bapa pasti bisa memperbaiki kerusakan
alat kerjaku? Tapi, apa Bapa mau?"
"Lalu benarkah aku parasit?
Bukankah Bapa telah menciptakan tumbuhan parasit? Bahkan, Bapa juga menciptakan
hewan parasit. Pastinya semua itu Bapa ciptakan dengan maksud dan tujuan
tertentu. Jadi, kini haruskah aku marah atau haruskah aku menangis? Apa yang
harus kulakukan Bapa?"
"Tampaknya kurcaci Merah akan
tega membiarkanku mati kelaparan seperti Lazarus tanpa peduli sedikit pun
(Lukas 16:19-31). Lalu apa yang akan Bapa lakukan terhadapnya? Ah, maafkanlah dia Bapa karena dia tidak
tahu apa yang dia katakan. Seandainya dia tahu, maka dia berdosa
terhadap-Mu. Jadi, anggaplah dia tidak tahu dan maafkanlah dia agar dia tidak
binasa seperti orang kaya dalam kisah Lazarus itu (Lukas 16:19-31). Tapi, kini
apa yang harus kulakukan Bapa?"
"Kenapa sich kurcaci egois itu
harus satu desa denganku? Apa yang harus kulakukan Bapa? Haruskah aku mengemis
ketika simpanan hasil usahaku habis? Bukankah itu akan mencoreng nama-Mu? Masa
seorang Bapa yang kaya membiarkan anak-Nya jadi pengemis?"
Lalu akankah Bapa membiarkanku mati kelaparan?
Lalu akankah Bapa membiarkanku mati kelaparan?
Lantas
Bapa menjawab: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan
hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula
akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting
dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Matius 6:25). Selain itu, Manusia hidup bukan
dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. (Matius
4:4).
Namun, kurcaci Pink tetap bertanya lagi: "Jadi, apa yang harus kulakukan dalam situasi seperti ini Bapa? Apa yang harus kulakukan? Katakan padaku, Bapa! Apa yang harus kulakukan? Tanpa-Mu apa yang bisa kulakukan? Tanpa-Mu apa yang bisa kuperbuat? Kini apa yang harus kulakukan, Bapa? Apa yang harus kulakukan? Apa? Jawab aku, Bapa! Jawab aku! Apa yang harus kulakukan?"
(http://youtu.be/6pi184HZJQY)
Betapaku mencintai Segala yang t'lah terjadi. Ku ‘tak
pernah sendiri Jalani hidup ini, Selalu menyertai.
Betapa kumenyadari Di dalam hidupku ini Kau s'lalu
memberi Rancangan terbaik Oleh karena kasih.
Reff:
Bapa sentuh hatiku, Ubah hidupku Menjadi yang baru Bagai emas yang murni Kau membentuk bejana hatiku. Bapa ajarku mengerti sebuah kasih yang selalu memberi Bagai air mengalir yang tiada pernah berhenti.
Bapa sentuh hatiku, Ubah hidupku Menjadi yang baru Bagai emas yang murni Kau membentuk bejana hatiku. Bapa ajarku mengerti sebuah kasih yang selalu memberi Bagai air mengalir yang tiada pernah berhenti.
TERIMA KASIH (album 'Kupercaya Mujizat')
ReplyDeleteSaat tak ada harapan Kau datang b'riku harapan
Yesus, Kau jawaban hidupku
Saat tak ada tujuan Kau datang tunjukkanku jalan
Tunjukkanku jalan
Terima kasih buat cinta-Mu yang tanpa batas
Kau berikan hidup-Mu jadikanku berharga
Terima kasih buat cinta-Mu yang tanpa batas
Kau berikan hidup-Mu jadikan aku indah
^.^...TERIMA KASIH...^.^